Kagungan Dalem

Tari Klasik Bedhaya Semang di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

242 | Rabu, 18 Mei 2016 admin Jumlah angka Sembilan dalam pandangan filsafat Jawa adalah jumlah bilangan terbesar dan merupakan simbol dari keseluruhan jumlah lubang yang terdapat pada tubuh manusia.

Jumlah angka Sembilan dalam pandangan filsafat Jawa adalah jumlah bilangan terbesar dan merupakan simbol dari keseluruhan jumlah lubang yang terdapat pada tubuh manusia.

Tari klasik Bedhaya Semang adalah satu jenis Tari Bedhaya yang menempati hirarki tertinggi di Keraton Yogyakarta hingga disebut sebagai beksa pusaka (tari pusaka). Tari Bedhaya Semang ditarikan oleh sembilan orang penari. Jumlah angka Sembilan dalam pandangan filsafat Jawa adalah jumlah bilangan terbesar dan merupakan simbol dari keseluruhan jumlah lubang yang terdapat pada tubuh manusia. Hal ini terkait dengan filosofi ‘babahan hawasanga’ yang mengandung arti untuk memberikan tuntunan hidup menuju jati diri yang positif. Nama Bedhaya Semang sendiri lahir juga karena dorongan gejala politik yang besar, sehingga memunculkan kata semang yang mengandung arti sumelang, was-was, atau khawatir.

Diyakini bahwa Tari Bedhaya Semang, pada awalnya merupakan tarian yang dipersembahkan oleh Kangjeng Ratu Kidul kepada Sultan Agung (1613—1645). Tarian yang indah ini kemudian diberi nama oleh Sultan Agung dan direkonstruksi di istana untuk dipertunjukkan secara turun temurun sebagai pertunjukan kebesaran raja Mataram Islam.  Selain itu juga berarti sebagai tanda dukungan dari Kangjeng Ratu Kidul terhadap kelanggengan raja-raja Mataram.

Sejak diciptakan pertama kali pada zaman Mataram Islam, tari ini diboyong ke Kesultanan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, disusun dalam bentuk manuskrip oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II, berhenti dipentaskan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VII, kemudian mulai direkonstruksi kembali pada era Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10.

Terdapat beberapa aspek estetis yang dapat dinikmati dan dimaknai dalam Tari Bedhaya Semang, yakni aspek wiraga, wirama dan wirasa yang tidak terpisahkan. Wiraga atau gerakan dari tari Bedhaya Semang sangat halus dan simbolis. Tari Bedhaya Semang ditarikan selama empat jam. Gerak tari Bedhaya Semang secara garis besar terdiri dari sikap kepala, lengan, tangan, badan, dan tungkai kaki secara harmonis. Gerakan-gerakan dari Bedhaya Semang menjadi gerak induk dari semua tari Bedhaya dan Srimpi di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Wirama adalah aspek bunyi atau iringan musik serta lagu. Tari Bedhaya Semang diiringi  gamelan dengan lagu atau gendhing utama Semang Pisowanan. Dalam orkestrasi gamelan untuk Bedhaya Semang, terdapat instrumen yang unik dan khas yaitu Kemanak. Adapun lirik yang dilagukan baik tersurat maupun tersirat dalam sindhènan Bedhaya Semang sarat akan makna dan ajaran yang luhur. Apabila gerak penari Bedhaya Semang dipertunjukkan terpadu dengan sindhènan dan iringannya, seakan dapat membawa ke era berabad-abad lalu yang gaib dan jauh dari keramaian saat ini. Oleh karena itu keseluruhan pergelaran Tari Bedhaya Semang merupakan sebuah kearifan dan pusaka warisan yang tak ternilai harganya.

Di sisi lain, Wirasa adalah aspek batiniah yang menghidupkan wujud tarian.  Dalam Bedhaya Semang, ruang pementasan menjadi penting dan mempengaruhi penjiwaan penari.  Pola lantai tarian utamanya menyesuaikan arsitektur Bangsal Kencana. Busana yang dikenakan merupakan dodot atau kampuh disertai rias paès ageng memantulkan karakter yang gemerlap namun tetap anggun dan sakral.  Penari Bedhaya Semang juga menggunakan properti pistol yang menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. Selain itu, Bedhaya Semang menjadi simbol puncak romantisme pertemuan Kangjeng Ratu Kidul dengan Raja Mataram.

Seluruh rangkaian pertunjukan tari Bedhaya merupakan peristiwa yang sakral atau suci. Ada rangkaian upacara-upacara kecil yang sangat religius, baik sejak dimulainya latihan, gladi bersih, hingga penyelenggaraan pergelarannya. Selalu ada sesajen atau laku ritual oleh para penari dan pendukungnya demi keselamatan dan kelancaran acara.

Pada saat dipentaskan, kadang kala ada beberapa penari atau penonton dapat merasakan kehadiran penari lain di luar kesembilan penari Bedhaya. Diyakini, yang hadir merupakan roh yang memberikan ruh kepenarian. Kehadiran roh tersebut merupakan tanda kehadiran tokoh mitologis Kangjeng Ratu Kidul bersama utusannya. Di sisi lain hal ini juga bisa diartikan sebagai masih berlangsungnya dukungan yang kuat dari Kangjeng Ratu Kidul kepada Trah Mataram, khususnya melalui pementasan Bedhaya Semang.

Jenis tari-tari Bedhaya bukanlah tari pertunjukan yang bersifat hiburan semata. Mitos mengenai hubungan Kangjeng Ratu Kidul dan Kesultanan yang termanifestasikan dalam bentuk tari-tari Bedhaya menjadi penting untuk menjaga keselarasan antara raja, istana dan pemerintahannya, dengan makro kosmos atau jagad raya.  Di sisi lain mitos pertemuan asmara antara Sultan dan Ratu Kidul dalam Bedhaya Semang juga bisa diasumsikan sebagai simbol kesuburan.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN