Kagungan Dalem

Perangkat Minum Teh Upacara Ngabekten

2345 | Selasa, 14 Mei 2019 admin Sultan saat Upacara Ngabekten di Bangsal Kencana.

Sultan saat Upacara Ngabekten di Bangsal Kencana.

Menjelang bulan Sawal menurut perhitungan kalender Jawa, kegiatan di Patehan terlihat lebih sibuk dari hari-hari biasa. Para Abdi Dalem Patehan sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan dalam upacara Ngabekten atau yang biasa dikenal dengan upacara Sungkeman. Beberapa peralatan seperti, nampan, teko, cangkir, cawan, dan sendok mulai dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Termasuk juga sebuah kotak kayu yang berisi satu set rampadan (perlengkapan minum) teh khusus Ngabekten untuk Sultan .

Setelah dikeluarkan dari tempat penyimpanan, seluruh alat-alat minum teh ini dibersihkan. Sesuai aturan, sebelum disimpan maupun ketika diambil kembali untuk dipakai, seluruh alat harus dicuci terlebih dahulu.

Aturan Pemakaian Peralatan Minum Teh Ngabekten

Perlengkapan minum teh Ngabekten di Keraton Yogyakarta disiapkan sesuai pranatan atau aturan sehingga Sultan, kerabat, Abdi Dalem, maupun tamu undangan yang hadir menggunakan peralatan minum yang berbeda-beda.

Dalam buku yang menjadi pegangan Abdi Dalem Patehan tertulis secara rinci aturan pemakaian perlengkapan minum teh untuk Ngabekten. Ketentuannya adalah sebagai berikut:

Sultan
Untuk Ngabekten pagi di hari pertama, satu set rampadan khusus untuk Sultan terdiri atas, nampan perak, satu set teko dari perak dengan motif bunga, set cangkir keramik warna merah muda dengan gambar wajah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dan sendok emas.

Untuk Ngabekten Mirunggan, pada hari kedua malam ada sedikit perbedaan. Seluruh perlengkapan sama kecuali satu set teko, yang digunakan adalah teko perak polos tanpa motif. Perbedaan ini bukanlah hal yang wajib, hanya berdasar pertimbangan berat rampadan dan kekuatan Abdi Dalem yang bertugas membawa.

Rampadan untuk Sultan saat Ngabekten Kakung Hageng di hari pertama.

Permaisuri
Nampan emas, teko keramik motif bunga dengan gagang emas, set cangkir berwarna merah muda dengan gambar wajah permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dan sendok emas.

KGPAA Pakualam
Nampan perak, teko keramik motif bunga dengan gagang perak, set cangkir berwarna merah muda, dan sendok perak.

Putra Dalem (putra-putri Sultan)
Sebelum dan sesudah menikah, perlengkapan minum Putra Dalem memiliki perbedaan. Saat belum menikah dan masih bergelar Gusti, perlengkapan minumnya terdiri atas nampan perak, teko keramik motif bunga dengan gagang perak, set cangkir berwarna merah muda, dan sendok perak. Ketika sudah menikah dan bergelar Kanjeng Gusti, maka perlengkapan minumnya menjadi, nampan emas, teko motif bunga dengan gagang emas, set cangkir warna merah muda, dan sendok emas.

Saudara Sultan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya
Nampan perak beralas marmer, teko keramik putih polos dengan gagang perak, set cangkir warna merah muda, dan sendok perak.

Saudari Sultan bergelar Gusti Bendara Raden Ayu
Nampan perak, teko keramik putih polos dengan gagang perak, set cangkir warna merah muda, dan sendok perak.

Garwa Pangeran (Istri saudara Sultan)
Nampan perak, teko keramik putih polos dengan gagang perak, set cangkir warna kuning, dan sendok perak

Saudara Sultan bergelar Gusti Bendara Pangeran Harya
Set cangkir berwarna merah muda dan sendok perak. Tanpa rampadan.

Putra Mantu dan Putra Pakualam
Set cangkir warna putih dengan motif garis dan sendok perak. Tanpa rampadan.

Wayah Dalem (Cucu Sultan)
Set cangkir warna biru dan sendok perak. Tanpa rampadan.

Rampadan untuk Wayah Dalem saat Ngabekten

Abdi Dalem berpangkat Bupati
Zaman dahulu, bupati memakai set cangkir warna putih polos dan sendok perak. Sekarang masih digunakan jika jumlah yang hadir mencukupi. Pada sekitar tahun 1990, diproduksi cangkir baru untuk bupati yaitu set cangkir putih tanpa tutup dengan lambang Keraton Yogyakarta. Cangkir ini digunakan juga untuk semua golongan Abdi Dalem termasuk wedana, pengulon, dan juru kunci.

Aturan pemakaian rampadan ini tidak mengikat. Perubahan bisa dilakukan tergantung pada siapa saja yang hadir dan ketersediaan perlengkapan.

Perlengkapan minum teh Ngabekten yang digunakan hingga sekarang ini sebagian besar adalah peninggalan dari era Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Hampir seluruh peralatan minum teh ini berasal dari luar negeri, seperti Jerman, Perancis, dan Belanda. Bahkan beberapa diantaranya merupakan perusahaan-perusahaan milik keluarga seniman perak yang cukup mahsyur pada zamannya.

Pembuatan Teh Ngabekten

Setelah air yang dimasak di ceret tembaga mendidih, air diambil untuk dipindahkan ke ceret khusus untuk Sultan. Untuk menjaga suhu air, ceret tersebut tetap dipanaskan di atas bara namun tidak dikipasi agar asap tidak masuk dan mengakibatkan air minum berbau sangit. Proses peracikan tidak berbeda dengan pembuatan teh sehari-hari di Patehan. Namun, pada Ngabekten teh untuk Sultan akan diseduh di teko khusus berwarna merah muda dengan gambar menara.

Penyaji Teh Ngabekten

Setelah minuman dibuat dan dipersiapkan oleh Abdi Dalem Patehan, minuman dibawa ruang upacara dan disajikan oleh Abdi Dalem kelompok khusus yang dikenal sebagai Kanca Sewidak. Kelompok ini terdiri atas para Abdi Dalem dari Kawedanan Puraraksa, yaitu bagian pengamanan keraton. Khusus untuk Sultan, penyajinya harus mengenakan samir dan minimal berpangkat bupati. Meskipun namanya sewidak, yang berarti 60, namun jumlahnya disesuaikan kebutuhan tamu yang hadir.

Untuk Ngabekten Mirunggan di malam hari kedua, minuman disajikan oleh Abdi Dalem Kanca Kaji. Sama dengan hari pertama, Abdi Dalem yang menyajikan minuman untuk sultan adalah yang pangkatnya paling tinggi.

Penyajian minuman dalam perlengkapan yang kaya ragam ini merupakan salah satu esensi baku dari sebuah upacara kerajaan. Perbedaan ini menjadi wujud pengakuan dan penghormatan terhadap hirarki yang ada sekaligus menjadi sarana pengenalan diri bagi kedudukan tersebut. Bahwa kerabat, Abdi Dalem tertentu, ataupun tamu undangan, bisa dikenali dari alat minum yang digunakan.

Abdi Dalem Kanca Sewidak menyajikan teh untuk Sultan.



Daftar Pustaka:
Wawancara dengan Mas Riya Reso Dinomo dan Mas Lurah Reso Sumitro pada 3 Mei 2017
Wawancara dengan KRT Danu Kusuma pada 19 Mei 2017
Wawancara dengan Mas Riya Reso Dinomo pada 25 Mei 2017
Wawancara dengan KRT Rintaiswara 19 Juni 2017

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN