Kagungan Dalem

Srimpi Rangga Janur

685 | Selasa, 16 Juli 2019 admin Penari Srimpi Rangga Janur Dalam Rekonstruksi Tari Srimpi Rangga Janur  Tahun 2014

Penari Srimpi Rangga Janur Dalam Rekonstruksi Tari Srimpi Rangga Janur Tahun 2014

Srimpi Rangga Janur adalah salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Sultan Agung (1613-1645). Srimpi Rangga Janur dibawakan dengan anggun oleh empat penari putri dengan diiringi empat penari dhudhuk yang membawakan perlengkapan berupa jebeng atau tameng. Jebeng yang digunakan berwarna hitam dengan hiasan bulu merak bergambar tokoh wayang. Dua buah jebeng mewakili Dewi Srikandhi dan dua buah jebeng mewakili Dewi Larasati.

Tari yang memiliki durasi sekitar 60 menit ini mengambil cuplikan kisah Mahabharata yang bercerita tentang Dewi Srikandhi dari Negara Cempalaarja bertarung melawan Dewi Larasati putri Raja Mandrasena dari Magada. Pertarungan yang berlangsung sengit tersebut berakhir imbang, keduanya sama-sama kuat. Selain menggunakan jebeng, para penari juga menggunakan senjata berupa keris saat adegan yang menggambarkan peperangan.

Musik Pengiring Srimpi Rangga Janur

Srimpi Rangga Janur mengambil nama dari gendhing pengiringnya, Gendhing Ketawang Rangga Janur. Srimpi Rangga Janur memiliki iringan khusus yang disebut Tabuh Ngarep. Tabuh ngarep merujuk pada gamelan yang dibunyikan hanya pada bagian depan gendhing saja. Gamelan yang digunakan saat tabuh ngarep adalah gender, rebab, slenthem, kethuk, kenong, gambang, dan kendang. Selanjutnya digunakanlah lirik vokal sebagai pengiring.

Selain itu terdapat instrumen khas pada Srimpi Rangga Janur yang tidak digunakan pada Srimpi lainnya, yaitu instrumen kemanak. Kemanak hanya mengeluarkan dua macam bunyi, ning dan nong. Instrumen ini mampu menciptakan suasana yang tenang dan agung.

Naskah Tari Srimpi Rangga Janur

Naskah tari Srimpi Rangga Janur merupakan peninggalan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921). Versi lain naskah tari ini juga termuat dalam naskah Serat Kandha Bedhaya Utawi Srimpi yang ditulis pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Kedua naskah tersebut dimiliki oleh KHP Kridamardhawa Karaton Ngayogyakarta.

Srimpi Rangga Janur yang dibawakan pada masa kini mengacu pada naskah yang berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Naskah tersebut memiliki kondisi yang lebih baik sehingga dapat dibaca secara lengkap, berbeda dari naskah sebelumnya yang telah mengalami kerusakan.

Riasan paes ageng dengan busana rompi beludru.

Tata Busana dan Rias Srimpi Rangga Janur

Tata busana dan riasan penari Srimpi Rangga Janur awalnya mengacu pada busana paes ageng seperti yang diterapkan pada pengantin putri lengkap dengan gelung bokor, paes prada, ron, dan cunduk mentul. Adapun busana yang sering digunakan berupa baju rompi beludru dengan sulam bordir keemasan, ditambah dengan aksesoris berupa kelat bahu, sabuk, dan sinjang pola seredan. Riasan yang diterapkan menggunakan rias jaitan. Sedangkan penari dhudhuk juga dirias dan diberi busana yang senada ditambah dengan gelung rejo.

Rekonstruksi Srimpi Rangga Janur

Pada 23 Mei 2014 di Pendapa Ndalem Tejokusuman, Taman Budaya Yogyakarta bekerja sama dengan MG Sugiyarti yang didukung oleh para empu tari merekontruksi sekaligus mendokumentasikan Srimpi Rangga Janur. Rekonstruksi ini bertujuan untuk melestarikan khazanah budaya keraton yang lama tidak ditampilkan sekaligus menjadi bahan kajian atau referensi bagi masyarakat akademik yang menggeluti bidang seni pertunjukan. Pada 4 Oktober 2017, Srimpi Rangga Janur dimasukkan dalam daftar Warisan Budaya Tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Srimpi Rangga Janur semula dipentaskan hanya pada saat-saat tertentu untuk kalangan terbatas. Sekarang tari ini menjadi lebih terbuka. Masyarakat dapat menikmati kewibawaan, aliran, dan keseimbangan gerak yang dibawakan Srimpi Rangga Janur. Ditambah lagi alunan kemanak yang mampu menyihir penikmat tari ini untuk masuk ke dalam ruang meditatif yang tenang dan damai.

Srimpi Rangga Janur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.


Daftar Pustaka:
Lindsay, Jennifer. 1994. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia


Related Articles

TATA PEMERINTAHAN