Kagungan Dalem

Raden Saleh dan Lukisan Potret Keluarga Kasultanan Yogyakarta

2729 | Selasa, 17 Desember 2019 admin

Seorang pribumi Jawa dari paruh pertama abad ke-19 bernama Raden Saleh Sjarif Boestaman, telah memperlihatkan bakat yang mengagumkan dalam bidang seni menggambar di usia yang terbilang muda. Kelak di kemudian hari, ia membuat beberapa lukisan potret bagi Sultan Yogyakarta. Lukisan-lukisan cat minyak ini kemudian menjadi bagian dari koleksi dari Museum Lukisan Keraton Yogyakarta yang dapat dinikmati oleh masyarakat umum. 

Talenta dan kepiawaian melukis yang ditunjukkan Raden Saleh semenjak belia telah memikat hati seorang pelukis Eropa yang tengah bekerja di Jawa, Antonie Auguste Joseph Paijen. Ia kemudian berinisiatif untuk mendidik langsung putra angkat Bupati Terboyo tersebut. Tidak hanya itu, di kemudian hari, Paijen menjadi salah satu sosok yang memberi rekomendasi kuat bagi Raden Saleh muda untuk mendapatkan beasiswa belajar dari pemerintah Belanda.


Selama di Eropa, Raden Saleh tumbuh menjadi pribadi yang mampu mendayagunakan eksistensi diri serta kemampuannya. Ia menjadi orang Jawa pertama yang menaklukan teknik seni lukis modern dengan cat dan kanvas. Tidak hanya bakat yang semakin terasah, ia juga dikenal pandai berkomunikasi dan bersosialisasi. Ia cukup dikenal di kalangan elit dan tumbuh menjadi sosialita yang tampil eksentrik  dengan kulit sawo matang, berkumis, memengenakan udheng, ikat kepala Jawa, serta pakaian perpaduan Jawa-Eropa hasil rancangan pribadi. 

Setelah kembali dari penjelajahannya di Eropa, pada pertengahan tahun 1860-an Raden Saleh melakukan sebuah perjalanan kesenian di Pulau Jawa. Salah satu wilayah yang dikunjungi olehnya adalah Kesultanan Yogyakarta. Pada masa itulah ia mulai menjalin hubungan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, termasuk dengan Patih Danurejo V, serta  beberapa bangsawan Yogyakarta.

Setelah lawatan keseniannya selesai, Raden Saleh kembali ke Batavia. Namun demikian, pada 1867 Raden Saleh kembali ke Yogyakarta dan menetap selama sekitar dua tahun. Raden Saleh kemudian menikahi Raden Ayu Danudirdja yang merupakan saudara sepupu Sultan. Ibu dari istri Raden Saleh, ibu Sang Sultan dan Patih memiliki ayah yang sama, namun dari ibu berbeda.


Selama tinggal di Yogyakarta inilah Raden Saleh membuat lukisan foto Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan beberapa anggota keluarganya. Hingga saat ini lukisan potret tersebut masih disimpan oleh  keraton. Sejak sekitar tahun 1969 karya Raden Saleh ini terpajang indah di dalam kompleks Ksatriyan dan dapat dinikmati oleh para pengunjung yang datang ke Keraton Yogyakarta.

Beberapa karya Raden Saleh di ruangan tersebut menampilkan lukisan potret Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan kedua permaisuri secara terpisah. Lukisan potret Sri Sultan Hamengku Buwono VI menampakkan Sultan tengah berdiri tegap mengenakan pakaian militer berwarna biru – putih dengan atribut lengkap. Sebilah pedang tergenggam di tangan kirinya dengan bagian mata pedang menghadap ke bawah. Sementara tangan kanannya tampak diletakkan di atas selembar peta. 

Gusti Kanjeng Ratu Hamengku Buwono, yang merupakan putri dari Susuhan Paku Buwono VIII dari Surakarta dilukis dalam posisi duduk di atas sebuah kursi dengan badan dan kaki serong ke arah kiri. Permaisuri yang sebelum menikah dikenal dengan nama GKR Kencono ini mengenakan atasan kebaya lengkap dengan asesoris, kain jarik bermotif parang, dan  rambut bergelung. Tangan kanan berada di pangkuan sedang tangan kiri digantungkan di atas meja.

Gusti Kanjeng Ratu Hageng atau juga dikenal sebagai GKR Sultan, permaisuri Sultan yang merupakan putri Kiai dan Nyai Hageng Prawirorejoso dari dukuh Payak ini juga dilukis pada pose duduk. Beliau duduk  di atas sebuah kursi dengan posisi serong ke arah kanan. Balutan busana yang dikenakan adalah kebaya panjang lengkap dengan asesoris, memakai kain jarik bermotif ceplok, dan rambut bergelung. Kedua tangan diletakkan di atas pangkuan dengan tangan kanan berada di atas pergelangan tangan kiri. Berdasarkan catatan, lukisan potret GKR Hageng dilukis pada 1868.


Sebagaimana lukisan-lukisan potretnya yang lain, lukisan potret keluarga Kesultanan Yogyakarta karya Raden Saleh mampu memperlihatkan ekspresi dan  raut wajah dari model sebagaimana adanya.  Sorot mata, garis-garis wajah, warna kulit, serta proporsi masing-masing sosok dapat tertangkap dengan baik dan tergambarkan sesuai dengan kenyataan yang ada. Bahkan konon, karena Raden Saleh juga memiliki ingatan yang kuat, Sultan dan Kedua Garwa Padmi tidak perlu berada dalam posisi tersebut selama proses dilukis.

Sebagai pelukis yang dikenal memiliki teknis realisme prima, Raden Saleh memang mampu menghadirkan objek dalam gambar seperti nyata. Lukisan bertema potret yang ia buat untuk Keraton Yogyakarta memperlihatkan kompetensinya dalam menangkap karakter objek lukis dengan kuat. Dengan pendekatan cahaya yang tajam, Raden Saleh menghadirkan detil-detil kostum dengan teliti, juga memperlihatkan warna dan volume kulit mendekati aslinya.  

Selain kualitas artistik lukisan yang sangat mengagumkan, lukisan karya Raden Saleh juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Oleh karena itu, koleksi lukisan Raden Saleh yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta tak hanya merupakan harta bagi keraton, namun juga memiliki nilai besar dalam sejarah seni lukis Indonesia. 




Daftar Pustaka:
Cox, Matthew J. 2015. The Javanes Self in Portraiture from 1880-1955. Disertasi pada University of Sidney https://ses.library.usyd.edu.au/bitstream/2123/16310/2/2017_Matthew_Cox_Thesis.pdf diunduh 16 Agustus 2018
Harsja W. Bachtiar; Peter B. R. Carey; Onghokham. 2009. Raden Saleh : Anak Belanda, Mooi Indië & Nasionalisme. Jakarta : Komunitas Bambu. 
Wawancara Dr. Suwarno Wisetrotomo pada Agustus 2018
Wawancara Ibu Amiroel pada Agustus 2018
Wawancara Ibu Amiroel pada September 2018

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN