Kagungan Dalem

Pranakan, Busana Abdi Dalem Jaler

447 | Selasa, 24 Desember 2019 admin

Pengangge (busana) Abdi Dalem merupakan busana adat yang dikenakan para Abdi Dalem dalam melaksanakan tugas di Keraton Yogyakarta. Salah satu busana dinas harian yang dikenakan para Abdi Dalem jaler (Pria) adalah busana pranakan. Pakaian bercorak lurik berwarna biru gelap ini wajib dipakai para Abdi Dalem jaler selama menjalankan tugas, baik di dalam keraton, maupun di luar keraton.


Pengertian Pranakan

Busana pranakan ditetapkan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Busana yang dibuat untuk para kerabat dan Abdi Dalem ini konon terinspirasi dari baju kurung yang dikenakan para santri putri di Banten pada pertengahan abad-19 saat Sultan berkunjung ke daerah tersebut. Pranakan memiliki potongan bagian depan yang berhenti di ulu hati serta belahan di bagian lengan yang mempermudah singsing saat akan wudhu. Terdapat 6 kancing di leher depan yang dikaitkan dengan keenam rukun iman dan 5 kancing di setiap ujung lengan yang dikaitkankan dengan kelima rukun Islam.


Keberadaan mondolan menjadi ciri khas udheng Yogyakarta

Secara bahasa, pranakan memiliki pengertian “rahim” atau “kandungan”. Penggunaan baju pranakan menyiratkan makna bahwa Abdi Dalem telah dipersaudarakan dalam keluarga besar Keraton Yogyakarta. Makna pranakan juga terlihat dari cara pemakaiannya yang sama dengan penggunaan kaus pada masa kini, membuat penggunanya tampak seperti bayi hendak keluar dari kandungan ibu. Baju dimasukkan terlebih dahulu ke bagian atas kepala atau dislobokke, persis seperti posisi kepala bayi ketika keluar dari rahim.

Bahan yang digunakan untuk membuat baju pranakan berupa kain lurik berwarna biru tua dan hitam dengan kombinasi corak garis berjumlah tiga dan empat atau disebut telupat, akronim dari telu-papat. Kata telupat sebagai nama pola lurik dikaitkan dengan ungkapan “kewulu minangka prepat”, artinya para Abdi Dalem itu dipersaudarakan dengan sesama serta didekatkan dan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta. Corak telupat ini diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Angka tiga dan empat dalam corak telupat jika dijumlahkan menjadi tujuh. Bagi masyarakat Jawa, hitungan dan angka tujuh merupakan angka keberuntungan yang melambangkan kehidupan dan kemakmuran. Angka tujuh atau yang disebut “pitu” bermakna pitulungan, yaitu pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Kelengkapan Busana Pranakan

Ketika mengenakan baju pranakan, ada peraturan mengenai kelengkapan yang wajib dipenuhi. Sebagai penutup kepala, Abdi Dalem jaler mengenakan udheng/dhestar/blangkon dengan  gagrak atau model khas Yogyakarta. Salah satu ciri khas udheng Yogyakarta adalah keberadaan mondolan, yaitu bagian belakang sebelah bawah udheng yang menonjol karena menutup gelung rambut. Udheng dikenakan dari depan kepala ke belakang agar mampu menarik rambut dan tidak menyisakannya sehelai pun di bagian dahi atau depan wajah.


Nyamping, sinjang, bebed, atau jarik yang dikenakan bercorak batik gagrak yogyakarta

Kelengkapan selanjutnyanya adalah kain yang digunakan sebagai penutup badan bagian bawah, disebut nyamping, sinjang, bebed, atau jarit. Kain nyamping yang dikenakan bercorak batik gagrak Yogyakarta di luar motif larangan. Kain dibebat pada pinggang dari kanan ke kiri. Sebelum dikenakan, nyamping harus diwiron engkol terlebih dahulu, yaitu wiru (lipatan) kain yang membentuk zigzag. Arah wiron engkol ujung paling bawah harus menunjuk ke arah kiri. Selain wiron engkol ada pula wiron pengasih yang berada di bagian dalam. Tambahan wiru ini  berfungsi untuk melindungi saat Abdi Dalem jaler berada di posisi  jongkok atau duduk.

Kelengkapan ageman Abdi Dalem selanjutnya adalah lapisan penutup pinggang yang terdiri dari tiga bagian yang dipakai secara berurutan. Yang pertama adalah setagen, yaitu kain pengikat jarik yang dililit melingkari perut, kemudian lonthong atau kain polos yang mengelilingi dan menutup setagen, dan yang terakhir kamus, sabuk dengan kepala pengait yang disebut timang.


Samir menjadi tanda bahwa Abdi Dalem yang bersangkutan sedang menjalankan tugas dari Sultan

Selain itu juga ada kelengkapan yang bersifat atribut, yaitu berupa keris dan samir. Keris baru dikenakan oleh Abdi Dalem jaler dengan pangkat Bekel ke atas dengan cara diselipkan pada kain pinggang bagian belakang. Samir merupakan kain atau pita penanda yang dikalungkan di leher hingga dada. Pemakaian samir menjadi tanda bahwa  Abdi Dalem yang bersangkutan tengah melaksanakan tugas dari Sultan. Jika tidak digunakan, samir senantiasa diselipkan di bagian pinggang sebelah kanan. 

Sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) hingga saat ini penggunaan busana pranakan masih bertahan dengan baik di Keraton Yogyakarta. Pelestarian tradisi ini bukan hanya sebatas dalam bentuk fisik, namun juga makna yang terkandung dalam pakaian pranakan. Sebagaimana maknanya, rasa aman dan tenteram saat berada dalam pranakan menjadi simbol harapan terciptanya hubungan yang nyaman dan damai antara Sultan dan rakyatnya, sehingga tercipta Manunggaling Kawula lan Gusti.  


Dhestar atau blangkon yang dikenakan oleh Abdi Dalem jaler



Lapisan penutup pinggang yang terdiri dari setagen, lonthong, kamus dan ditambah atribut berupa keris


Daftar Pustaka:
Ayu Lukita Tiana, Maskun, dan Wakidi. 2013. Analisis Makna Blangkon Pola Yogyakarta. Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. Vol.1, No.5, hal 25-36.
Mari Condronegoro, dkk. 2014. Busana Adat dan Tata Rias Tradisional Gaya Yogyakarta. Yogyakarta : Kabanaran.
Suprayitno & Ariesta, I., 2014. Makna Simbolik di Balik Kain Lurik Solo-Yogyakarta. Jurnal Humaniora. Vol.5, No.2, hal 842-851.
Hasil Wawancara KRT Wasesa Winata pada 2017.
Hasil Wawancara Mas Riya Rahardjo Guritno pada September 2018.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN