Kagungan Dalem

Bedhaya Tirta Hayuningrat

156 | Selasa, 31 Desember 2019 admin

Bedhaya Tirta Hayuningrat merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Tari ini diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). Tirta berarti air, sementara Hayuningrat berarti keselamatan dunia. Kedua makna tersebut dimanifestasikan dalam filosofi Lenggahing Harjuna, sebuah pemaknaan tentang diri sebagai manusia.

Bedhaya Tirta Hayuningrat dipertunjukkan pertama kali pada tahun 2016 dalam resepsi peringatan ulang tahun ke-70 Sri Sultan Hamengku Buwono X, sekaligus kenaikan takhta ke-27.  Bedhaya ini menggunakan iringan utama Gendhing Udan Arum Laras Pelog Pathet Nem dan kendhangan Gandrung-Gandrung.


Makna Bedhaya Tirta Hayuningrat

Bedhaya Tirta Hayuningrat bercerita tentang sosok Arjuna, lambang ksatria sejati, yang menyimpan tiga unsur tirta (air). Tirta Martani melambangkan sumber kehidupan manusia yang dapat menggerakkan semua unsur air yang bergerak dalam tubuh manusia. Tirta Kamandanu melambangkan air benih manusia yang terjadi karena hubungan antara pria dan wanita. Sedang Tirta Perwitasari merupakan penyatuan antara Tirta Martani dan Tirta Kamandanu yang bila berada dalam tubuh manusia akan menumbuhkan kekuatan, kewaspadaan, dan kewibawaan dalam hidup.

Di sisi lain, keberadaan tokoh Arjuna dengan kelima isterinya memiliki makna tersendiri. Setiap istri Arjuna menjadi perlambang dari sifat ksatria.

  1. Dewi Sumbadra merupakan simbol pencerahan dan kekuatan. Dengan pencerahan dan kekuatan, Arjuna mampu menumbuhkan sifat waspada dan kekuatan lahir maupun batin. Sumbadra diibaratkan keris Pulanggeni
  2. Dewi Larasati merupakan simbol penyatuan cipta, rasa, dan karsa dalam keselarasan hidup. Larasati diibaratkan pusaka Sarotama yang selalu dapat menyelesaikan masalah. 
  3. Dewi Srikandhi merupakan simbol kebaikan, keluhuran, dan kebenaran. Kekuatan kebenaran diibaratkan pusaka Ardadhedhali yang menjaga keselamatan. 
  4. Bidadari Dresnala merupakan simbol kecerdasan, kekuatan, dan penguasaan batin yang dilambangkan dalam pusaka Lar Ngatap. Pusaka ini berarti kehati-hatian, waspada, dan ketidakraguan di dalam segala hal. 
  5. Bidadari Supraba merupakan simbol kewibawaan dan karisma yang menimbulkan penghormatan, cinta, dan rasa patuh. Supraba dilambangkan sebagai pusaka pamungkas, panah Pasopati, simbol kesempurnaan ilmu dan kenyataan sesungguhnya. 


Tata Rakit Bedhaya Tirta Hayuningrat

Bedhaya Tirta Hayuningrat dibawakan oleh sembilan orang penari putri. Kesembilan penari dalam bedhaya ini berkaitan dengan konsep babahan hawa sanga yang merujuk pada sembilan lubang dalam diri manusia, sekaligus perwujudan dari bagian tubuh manusia. Sembilan penari tersebut menempati posisi sebagai (1) Endel, (2) Batak, (3) Jangga, (4) Dhadha, (5) Bunthil, (6) Apit Ngajeng, (7) Apit Wingking, (8) Endhel Wedalan Ngajeng, dan (9) Endhel Wedalan Wingking. Pagelaran Bedhaya Tirta Hayuningrat tersebut dapat dikatakan istimewa karena empat dari sembilan penari yang membawakannya adalah Putri Dalem, yaitu GKR Mangkubumi sebagai Jangga, GKR Condrokirono sebagai Endhel, GKR Hayu sebagai Dhadha, dan GKR Bendara sebagai Bunthil.

Di dalam pagelaran Bedhaya Tirta Hayuningrat terdapat empat kali rakit gelar dalam satu tarian. Setiap rakit gelar menggambaran sosok Arjuna yang dikaitkan dengan tiga tirta. Rakit gelar pertama menggambarkan sosok Arjuna yang dikenal sakti memohon izin kepada saudara Pandawa agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Rakit gelar kedua menggambarkan ketiga tirta, yaitu Tirta Martani, Tirta Kamandanu, dan Tirta Perwitasari. Rakit gelar ketiga menggambarkan ketiga tirta dan kelima istri Arjuna yang telah dinikahinya selama perjalanan hidup. 


Rakit gelar keempat menggambarkan bahwa semua unsur telah manjing (masuk) dalam tubuh Arjuna. Pada rakit gelar keempat, pola lantai kedelapan penari berada mengelilingi sosok Arjuna yang berdiri di tengah. Pada fase ini, Arjuna digambarkan telah menguasai seluruh ilmu hidup dengan dikelilingi dua lapisan. Lapisan pertama menggambarkan tiga tirta, sedangkan lapisan kedua adalah penggambaran lima istri Arjuna. Rakit ini bermakna bahwa semua keinginan manusia akan terwujud dengan izin Yang Maha Kuasa, sekaligus menggambarkan letak manunggaling kawula Gusti dan sangkan paraning dumadi.


Busana Penari Bedhaya Tirta Hayuningrat

Kain kampuh yang digunakan dalam tari Bedhaya Tirta Hayuningrat bermotif Semen Satria Jagad. Kata semen berasal dari kata semi yang berarti tunas, tumbuhan, atau sulur. Ragam hias semen selalu didominasi unsur tumbuhan dan sulur yang mengelilingi motif utama. Motif batik semen yang digunakan dalam tari Bedhaya Tirta Hayuningrat mengandung unsur:

  1. Pohon Hayati yang melambangkan kesuburan.
  2. Takhta dan pusaka yang melambangkan seorang pemimpin mempunyai kedudukan dan kekuasaan.
  3. Melati yang melambangkan pemimpin yang baik dan tanpa pamrih.
  4. Padi yang melambangkan kesejahteraan masyarakat.
  5. Lidah api yang melambangkan kekuatan dan semangat.
  6. Binatang air yang mencerminan seorang pemimpin harus mengerti situasi dan kondisi masyarakat.
  7. Huk Purbandaru yang mencerminkan segala anugerah berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
  8. Flora dan fauna yang melambangkan dalam hidup terdapat hewan dan tumbuhan yang harus dijaga.
  9. Meru yang melambangkan tanah, bumi, gunung, air, dan alam yang menjadi unsur kehidupan.
  10. Garuda yang melambangkan pemimpin yang tangguh, tanggap dan gagah berani.
  11. Binatang darat yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan pemimpin yang tidak terlepas dari anugerah Tuhan.
  12. Ombak dan angin yang melambangkan seorang pemimpin harus kuat dan sigap melaksanakan tugasnya dengan menahan godaan.
  13. Wahyu tumurun yang melambangkan seorang pemimpin yang selalu mendapat petunjuk dan perlindungan Tuhan.
  14. Binatang udara yang melambangkan dunia atas, bahwa pemimpin selalu mementingkan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi.
  15. Candi atau bangunan yang melambangkan pemimpin mempunyai tempat untuk melaksanakan tugasnya dan selalu beribadah kepada Tuhan.


Secara keseluruhan, motif Semen Satria Jagad melambangkan bahwa pemimpin harus mempunyai jiwa dan watak satria untuk dapat memimpin jagad (wilayahnya) dengan baik dan bijaksana. Selain kain kampuh, busana Bedhaya Tirta Hayuningrat juga dilengkapi dengan kain jarik bermotif bangun tulak. Motif ini mengandung maksud menolak segala mara bahaya, penyakit, dan gangguan sehingga pemakainya menjadi orang yang senantiasa sehat lahir batin. Busana tarian ini juga menggunakan sampur motif cindhe yang melambangkan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan sungguh akan mendapatkan kebahagiaan, keberuntungan, dan karunia tak terhingga dari Tuhan








Daftar Pustaka:
Astuti, Budi dan Wuryastuto, Anna R., 2012. Bedhaya Sumreg Keraton Yogyakarta’ dalam Jurnal Resital, volume 13, nomor 1, hal. 45-64
Booklet ‘Yasan Dalem Bedhaya Tirta Hayuningrat’ dalam acara resepsi perayaan ulang tahun Sultan Hamengku Bawono ka 10, yang ke-70 tahun dan peringatan kenaikan tahta yang ke-27 tahun. Yogyakarta, 7 Mei 2016.
Hughes, Felicia-Freeland. 2009. Komunitas yang Mewujud,Tradisi Tari dan Perubahan di Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Prajapangrawit, R.Ng. 1990. Wedhapradangga: Serat Sujarah Utawi Riwayating Gamelan (Serat Saking Gotek) Jilid I-IV. Surakarta: STSI Surakarta dan The Ford Foundation.
Suharti, Theresia. 2017. Bedhaya Semang Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Reaktualisasi Sebuah Tari Pusaka. Yogyakarta: PT. Kanisius.
Supriyanto. 2015. ‘Sang Amurwabumi sebagai Simbol Legitimasi Sultan Hamengku Buwana X’ dalam Jurnal Gelar, volume 13, nomor 1, hal. 65-79. 

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN