Kagungan Dalem

Srimpi Teja

1288 | Jumat, 10 Januari 2020 admin

Srimpi Sekar Teja atau lebih dikenal dengan nama Srimpi Teja merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Srimpi Teja pada awalnya merupakan pengembangan dari Srimpi Cina yang muncul pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Srimpi Teja dibawakan dengan anggun oleh empat penari putri dengan diiringi empat penari dhudhuk.

Srimpi Teja mengambil cuplikan kisah dari Serat Menak. Tarian ini bercerita tentang Dewi Rengganis dari Pertapaan Argapura berperang melawan Dewi Widaninggar, putri Cina dari Negeri Tartaripura. Dewi Widaninggar hendak membalas kematian saudarinya yaitu Dewi Adaninggar. Oleh karena itu tarian ini juga dikenal sebagai Srimpi Rengganis mengsah Widaninggar.


Dalam pertunjukannya Srimpi Teja menampilkan tokoh Dewi Rengganis dan Dewi Widaninggar. Tokoh tersebut diwujudkan dalam penari srimpi namun berbeda dalam ragam gerak, tata busana, dan tata rias. Sedangkan penari dhudhuk dibawakan oleh penari kanak-kanak dan bertugas membawa properti tari berupa jebeng atau tameng. Jebeng ini akan diserahkan kepada penari srimpi menjelang adegan peperangan. Jebeng yang digunakan berwarna hitam dengan hiasan bulu merak bergambar tokoh wayang. 

Naskah Tari Srimpi Teja

Catatan mengenai Srimpi Teja dimuat dalam Pratelan Beksa Srimpi Rengganis mengsah Dewi Widaninggar, Serat Kagungan Dalem Bedhaya Srimpi dengan kode BS 10 dan Serat Pasindhen Bedhaya Utawi Srimpi dengan kode BS 14. Naskah-naskah tersebut memuat teks sindhenan (lirik vokal) dan kandha (narasi cerita). Saat ini naskah-naskah tersebut menjadi koleksi Perpustakaan KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta.


Musik Pengiring Srimpi Teja

Sebagaimana tari srimpi pada umumnya, Srimpi Teja mengambil nama dari gendhing pokok pengiringnya yaitu Gendhing Teja Laras Slendro Pathet Manyura. Adapun urutan gendhing yang dibawakan adalah Lagon Slendro Pathet Manyura, Gendhing Lipursari Laras Slendro Pathet Manyura, Gendhing Teja Laras Slendro Pathet Manyura, Ayak-ayak Laras Slendro Pathet Manyura, Lagon Laras Slendro Pathet Manyura, Gendhing Gonjangseret Laras Slendro Pathet Manyura.

Terdapat beberapa ciri khas dalam Srimpi Teja yakni penggunaan gendhing berbentuk ladrang sebagai iringan musik, sedangkan srimpi lain identik diiringi gendhing wetah. Selain itu digunakan pula instrumen khas yang tidak biasa digunakan pada srimpi lainnya, yaitu instrumen kempul.

Ragam Gerak Srimpi Teja

Srimpi Teja dibawakan dalam ragam gerak antara lain sembahan, pucang kanginan, nggrudha, ngenceng encot, ngendherek, ngusap suryan, kicat erek alihan nyangkol udhet, ngundhuh sekar, ulap-ulap nyathok udhet, sojah, lampah sekar, dan kicat tawing. Ragam gerak tersebut ditarikan saat gedhing utama (gendhing Teja) dimainkan.


Srimpi Teja juga memiliki ragam gerak khusus yang tidak dimiliki tari srimpi pada umumnya, yaitu gerak sojah putri Cina dan tawing njimpit sampur. Gerak sojah merupakan gerak khusus pada putri Cina (Dewi Widaninggar) yakni mengangkat tangan seperti sedang bersembahyang. Sedangkan tawing jimpit sampur merupakan gerak nggrudha yang diawali dengan mengangkat tangan tawing kanan, lalu pada waktu melakukan gerak kicat erek alihan nyangkol udhet, nyangkol udhetnya diganti dengan tawing njimpit sampur.

Tata Busana dan Tata Rias Penari Srimpi Teja 

Terdapat tiga macam tata busana dan rias dalam Srimpi Teja yaitu penari Dewi Rengganis, penari Dewi Widaninggar (putri Cina) dan penari dhuduk. Penari Dewi Rengganis menggunakan kain bermotif parang gurdha dan baju rompi beludru dengan sulam bordir keemasan. Aksesoris pada kepala menggunakan jamang dengan hiasan bulu burung kasuari, sumping ron, subang, cundhuk mentul, jungkat, dan sanggul gelung sinyong yang diberi ceplok jebehan serta pelik. Selain itu juga menggunakan sampur cindhe, slepe, kalung sungsun, kelat bahu, dan senjata keris. Riasan yang diterapkan menggunakan rias jahitan dengan hiasan tempelan godheg

Penari Dewi Widaninggar (putri Cina) menggunakan busana meliputi kain motif cindhe, baju lengan panjang krah tegak, sampur cindhe, memakai mahkota pupuk berupa kain yang disulam dan diberi hiasan manik-manik atau koin emas, cundhuk mentul serta sanggul. Selain itu juga menggunakan hiasan berupa slempang, rimong, gelang, subang, gelang kaki, cincin, senjata cundrik, slepe, dan kelat bahu. Rias wajah dibuat cantik dengan penegasan garis pada mata untuk memberi kesan sipit.

Penari dhuduk menggunakan kain bermotif parang, baju bludiran tanpa lengan, sampur gendala giri, slepe, gelang, kalung sungsun, cincin, kelat bahu. Hiasan pada kepala menggunakan sanggul gelung rejo dengan tambahan irisan daun pandan, cundhuk mentul, jungkat, ceplok, subang dan sumping ron. Rias wajah penari dhudhuk dibuat senada dengan rias pengantin.

Telaah Srimpi Teja

Srimpi Teja tercatat pernah dipentaskan sebagai rangkaian seremonial saat Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1921-1939) tengah Tedhak Loji atau kunjungan balasan ke Rumah Gubernur Yogyakarta yang kini menjadi Gedung Agung. Kemudian Srimpi Teja dipentaskan kembali pada 1954 dan direkontruksi tahun 1985 serta 2011 dalam versi cekak (singkat). Pada 15 Agustus 2019, Srimpi Teja telah dimasukkan dalam Daftar Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Srimpi Teja mengilhami sebuah nilai luhur bahwa perbedaan budaya seharusnya disikapi dengan saling menghormati. Tidak ada tokoh yang kalah atau menang, keduanya memilih berdamai. Melalui pementasan tari srimpi, Keraton Yogyakarta menghendaki agar masyarakat yang menyaksikan dapat mengambil nilai kebajikan dan nilai ketuhanan.



Daftar Pustaka
Arif E. Suprihono. 1995. Tari Srimpi: Ekspresi Budaya Para Bangsawan Jawa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Lindsay. 1994. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 2. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Listyarini AT. 1987. Studi Analisis Koreografis  Tari Srimpi Teja Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Tugas Akhir Program Studi Sastra Tari Jurusan Seni Tari Fakultas Kesenian Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Wawancara M Ry Murtiharini pada 3 Januari 2020
Wawancara MW Susilomadyo pada 2 Januari 2020
Wawancara RM Pramutomo pada 9 Januari 2020

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN