Kagungan Dalem

Bedhaya Mintaraga

1265 | Sabtu, 10 April 2021 admin

Bedhaya Mintaraga merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Tari ini diilhami Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sri Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). Mintaraga adalah nama yang disandang tokoh pewayangan Raden Harjuna, saat sedang bertapa di Gua Indrakila. Penyematan gelar Mintaraga kepada Raden Harjuna tidak lepas dari mesu budi, yang bermakna usaha mengendalikan hawa nafsu jasmani maupun rohani. 

Bedhaya Mintaraga dipertunjukkan pertama kali pada Sabtu, 10 April 2021 sebagai resepsi peringatan kenaikan takhta ke-32 (4 windu) dan ulang tahun ke-75 Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 berdasarkan tahun Masehi. Bedhaya ini menggunakan iringan utama Gendhing Danasmara Laras Slendro Pathet Sanga.


Begawan Mintaraga

Kisah Mintaraga berasal dari cuplikan epos Mahabharata. Alkisah, Raden Harjuna berjuluk Begawan Mintaraga atau Begawan Ciptaning tengah bertapa di Gua Indrakila, Gunung Mahameru. Tapa brata ini bertujuan untuk memenuhi darma kesatria, agar unggul dalam berperang dan melindungi rakyatnya. Saat menjalani tapa brata, Raden Harjuna diuji dengan berbagai macam godaan; bujuk rayu tujuh bidadari, Batara Indra dalam rupa brahmana, Murkha dalam jelmaan babi hutan, dan Batara Guru dalam rupa Kirata sang pemburu.

Raden Harjuna tetap teguh pendirian dan berhasil mengatasi segala ujian. Para dewa menerima pertapaannya dan Batara Guru menganugerahinya panah sakti Pasopati. Dengan senjata inilah Raden Harjuna dapat membinasakan Prabu Niwatakawaca yang telah berbuat kekacauan di Kahyangan karena gagal mempersunting Batari Supraba. Raden Harjuna menikahi Batari Supraba dan dinobatkan sebagai raja kahyangan bergelar Prabu Kiriti atau Prabu Kaliti.


Lambang Kesatria Sejati 

Bedhaya Mintaraga melambangkan kesatria sejati berpendirian teguh. Kehadiran delapan istri Raden Harjuna beserta pusaka masing-masing menyimbolkan sifat-sifat kesatria.

  1. Dewi Sumbodro menyimbolkan keteguhan darma kesatria. Setiap langkah dan tindakannya diperhitungkan dengan cermat dan tidak menyimpang dari jalan kebenaran. Sumbodro juga bermakna cahaya penerang kalbu, penuntun hati manusia menuju jalan lurus yang dirahmati Tuhan. Karakter Sumbodro ini mewujud dalam pusaka keris Pulanggeni, yang menumbuhkan daya ingat dan sifat waspada.
  2. Dewi Larasati menyimbolkan penyatuan cipta, rasa dan karsa agar hidup menjadi selaras, sehingga terlaksana apa yang dijangkau. Larasati juga bermakna pakarti pancaindra yang selaras dengan hati nurani, serta dilandasi dengan ukuran skala prioritas. Karakter Larasati ini mewujud dalam pusaka panah Sarotama, yang berarti selamat dan sentosa serta mendapat keutamaan hidup.
  3. Dewi Srikandi menyimbolkan watak manusia, setiap perbuatan dan tindakan selalu dilandasi rasa kemanusiaan serta keadilan. Srikandi juga bermakna manusia sejati dengan kekuatan kebenaran yang lurus dan utama. Kebenarannya mewujud dalam pusaka Ardadhedali, yang kebijakannya selalu terukur dan terkendali.
  4. Dewi Lestari menyimbolkan kekuatan manusia yang memahami kehidupan di dunia dan akhirat. Kekuatan ini disimbolkan oleh pusaka keris Kalamisani, yang berarti terlepas dari bahaya atau masalah dan terjaga hak dalam hidupnya.
  5. Dewi Palupi menyimbolkan perilaku dan ucapan yang benar, serta keadilan dan kebijaksanaan. Palupi menjadi teladan, pelindung dan pengayom rakyat serta para kesatria. Palupi juga bermakna cinta kasih tanpa pandang bulu. Daya cinta kasih ini mewujud dalam pusaka keris Kalanadah, yang berarti ketulusan dan keikhlasan akan menghapus kedengkian dan membuahkan kebahagiaan.
  6. Dewi Manuhara menyimbolkan keteguhan hati dan semua sifat unggul. Manuhara juga bermakna kesadaran akan nilai kemanusiaan, yang disimbolkan oleh pusaka panah Agnirastra. Senjata ini membawa pesan bahwa keberadaban dan kesucian jiwa manusia akan melenyapkan nafsu hewani dan mengalahkan angkara murka.
  7. Bidadari Drestanala menyimbolkan ketajaman dan kewaspadaan mata batin. Drestanala juga bermakna kesadaran akan nilai ketuhanan yang tinggi, dilambangkan dalam pusaka Lar Ngantap. Pusaka ini berarti lurus, suci, dan pemahaman akan segala rahasia kehidupan.
  8. Bidadari Supraba menyimbolkan manusia sempurna yang mampu menyingkap rahasia kesejatian manusia dan alam semesta. Pernikahan Bidadari Supraba dengan Raden Harjuna menggambarkan kuasa dan keluhuran yang telah meliputi seluruh raga manusia. Supraba dilambangkan sebagai senjata pemungkas, panah Pasopati, yang berarti kemampuan manusia untuk mengatur alam, dekat dengan Yang Maha Kuasa, dan terwujudnya cita-cita yang didamba.


Penokohan, Tata Rakit dan Ragam Gerak

Bedhaya Mintaraga dibawakan oleh sembilan penari putri dengan diiringi empat dhudhuk yang membawakan properti berupa jemparing (panah). Kesembilan penari dalam bedhaya ini berkaitan dengan citra babahan hawa sanga yang merujuk pada sembilan lubang dalam diri manusia dan anatomi tubuhnya. Dalam satu rakit, kesembilan penari Bedhaya Mintaraga menempati posisi sebagai:

  1. Endhel, simbol hati (kehendak), diperankan oleh Sumbrodo,
  2. Batak, simbol kepala (pikiran), diperankan oleh Larasati,
  3. Jangga atau penggulu, simbol leher, diperankan oleh Raden Harjuna,
  4. Dhadha, simbol dada, diperankan oleh Srikandi,
  5. Bunthil, simbol pantat, diperankan oleh Lestari,
  6. Apit Ngajeng, simbol tangan kanan, diperankan oleh Palupi,
  7. Apit Wingking, simbol tangan kiri, diperankan oleh Manuhara,
  8. Endhel Wedalan Ngajeng, simbol kaki kanan, diperankan oleh Drestanala,
  9. Endhel Wedalan Wingking, simbol kaki kiri, diperankan oleh Supraba.

Dalam pagelaran Bedhaya Mintaraga terdapat sembilan kali rakit gelar dalam satu tarian. Rakit gelar pertama hingga kedelapan menggambarkan sosok Raden Harjuna menerima senjata pusaka perlambang sifat kesatria dari masing-masing istri. Rakit kesembilan atau rakit gelar jumenengan menggambarkan Raden Harjuna mencapai kesempurnaan sebagai kesatria sejati dan dinobatkan sebagai pemimpin kesatria yang dipilih oleh Yang Maha Kuasa untuk mengemban tugas menjadikan bumi ini berkah bagi seluruh manusia. Dalam adegan ini, Raden Harjuna yang diperankan penari jangga berada di depan sebagai pemimpin, sementara kedelapan penari lain melakonkan para istri berjajar di belakang.

Secara umum ragam gerak pokok yang ada dalam Bedhaya Mintaraga antara lain Sembahan Sila, Sembahan Jengkeng, Usap Asta, Ngundhuh Sekar, Lampah Semang, Impang Ngewer Udhet, Nyathok Udhet maju mundur, Kicat Mandhe Udhet, Tawing, Gudhawa Asta Minggah, Nggurdho, Jengkeng, dan Bangomate. 


Iringan Musik

Iringan gendhing Bedhaya Mintaraga memiliki Laras Slendro Pathet Sanga. Komposisi gendhing diawali dengan Lagon Wetah, lalu disambung Gati Retnadi, Kawin Sekar Nrangbaya, pembacaan Kandha, Bawa Swara Sekar Ageng Dhadhap Mantep, Gendhing Danasmara, Ladrang Dana Wikara, Bawa Swara Sekar Tengahan Hagnirastra, Ketawang Palguna (Kemanakan), Ayak-ayak Srepegan, Monggang, Ketawang Mandrawa, Lagon Pagagan, dan diakhiri dengan Gati Surendra serta Lagon Jugag.

Untuk mengiring lampah kapang-kapang (masuk dan keluarnya penari), pagelaran Bedhaya Mintaraga menggunakan Gendhing Gati baru berlaras Slendro Sanga, yakni Ladrang Gati Retnadi (kapang-kapang maju) dan Ladrang Gati Surendra (kapang-kapang mundur). Gendhing-gendhing tersebut ditabuh dari gamelan Kanjeng Kiai Surak. Kanjeng Kiai Surak merupakan salah satu gamelan berlaras slendro tertua yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta. 

Selain itu, instrumen kemanak juga digunakan untuk mengiringi inti atau rakit gelar bedhaya. Sebagian besar gendhing merupakan jalinan lagu dan syair ciptaan baru. Keikutsertaan Lebdaswara (pelantun tembang putra) dalam beberapa bagian vokal juga mewarnai pertunjukan Bedhaya Mintaraga.


Tata Rias dan Busana 

Penari Bedhaya Mintaraga mengenakan tata rias dan busana seperti yang dikenakan oleh pengantin putri gaya Yogyakarta. Riasannya bergaya paes ageng berprada emas dengan sanggul gelung bokor berbentuk jeruk saajar sebagai tata rambut. Busana yang dikenakan berupa kain kampuh, cindhe sutra, sondher cindhe, dan dilengkapi buntal. Aksesorisnya menggunakan perhiasan Raja Keputren, berupa cunduk menthul, sisir pethat, risolin, ceplok jebehan sritaman, centhung, sumping ron, subang, kalung sungsun, kelat bahu, gelang kana, dan slepe.

Setiap penari Bedhaya Mintaraga mengenakan kain kampuh dengan unsur motif yang berbeda, menyesuaikan karakter tokoh yang dibawakan.

  1. Dewi Sumbrodo memakai kampuh bermotif bunga Melati dan keris Pulanggeni. Bunga putih bersih dan harum ini melambangkan kesucian dan kesetiaan. Keris Pulanggeni yang digunakan sebagai senjata memberantas keburukan menyiratkan pesan bahwa manusia harus menjadi pribadi yang tegar, kuat dan tegas dalam menghadapi masalah hidup.
  2. Dewi Larasati memakai kampuh bermotif bunga Tanjung dan panah Sarotama. Larasati tidak berasal dari keluarga terpandang, namun kemampuannya berolah panah tidak diragukan. Hal ini bermakna bahwa manusia memiliki martabat yang sama, apa pun latar belakang dan status sosialnya. Bunga Tanjung menebarkan aroma harum, walau jarang digunakan dalam ritual atau upacara tertentu. Manusia unggul memiliki kemampuan lebih bila menekuni perilaku terpuji dan sifat sabar. 
  3. Dewi Srikandi memakai kampuh bermotif bunga Soka dan panah Ardadhedali. Srikandi melambangkan pemimpin garda depan yang tangguh dan penuh semangat. Ibarat bunga Soka yang merah menyala dan bergerombol, pemimpin juga harus memberikan perlindungan serta pengayoman lahir dan batin untuk rakyatnya. 
  4. Dewi Lestari memakai kampuh bermotif bunga Kenanga dan keris Kalamisani. Bunga Kenanga beraroma yang wangi dan memiliki banyak manfaat. Ibarat keris Kalamisani cukup sekali hunus untuk memberantas angkara murka, manusia harus mengambil keputusan dengan tegas dan tepat.
  5. Dewi Palupi memakai kampuh bermotif bunga Menur dan keris Kalanadah. Bunga Menur berwarna putih bersih, besar dan harum, melambangkan hati yang jujur dan cita-cita yang besar. Manusia diharapkan mampu menjadi pengayom dan menampung aspirasi. Setinggi apa pun kedudukannya, seorang manusia menjadi wadah aman rahasia keluarganya.
  6. Dewi Manuhara memakai kampuh bermotif bunga Kanthil dan panah Agnirastra. Bunga Kanthil melambangkan pesona (kemanthil). Ibarat seorang endang (anak pertapa) yang tengah bermeditasi dalam kesunyian, pesonanya muncul dari perbuatan bajik dan lenyapnya amarah.
  7. Bidadari Drestanala memakai kampuh bermotif bunga Cempaka dan keris Lar Ngantap. Bidadari Drestanala merupakan putri dari Batara Brama. Hal ini melambangkan manusia setinggi apapun pangkat dan derajat, hendaknya selalu ingat akan tanggung jawab dan kewajibannya kepada Yang Maha Kuasa. Kesadaran ini akan membuahkan pengalaman batin yang memberi rasa tenteram serta kedamaian di sekitarnya.
  8. Bidadari Supraba memakai kampuh bermotif bunga Wijaya Kusuma dan panah Pasopati. Bidadari Supraba melambangkan keteguhan hati dan prinsip. Manusia harus berani mengatakan mana yang baik dan buruk demi mencapai keseimbangan serta ketenteraman dunia. Ini merupakan pengejawantahan falsafah manunggaling kawula Gusti
  9. Begawan Mintaraga memakai kampuh bermotif campuran delapan bunga dan senjata para istri. Kampuh ini merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 dengan latar warna putih dan hitam. Latar putih melambangkan dunia atas, sedangkan latar hitam melambangkan dunia bawah. Hal ini menggambarkan dua sisi yang selalu seiring di dunia; putih dan hitam, atas dan bawah, siang dan malam. Dua hal yang seolah bertentangan itu sesungguhnya menjadi satu kesatuan yang disebut Loro-loroning Atunggal. Seorang pemimpin yang telah mengamalkan hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama) secara benar, dapat menjadi wakil Yang Maha Kuasa untuk menjaga ketenteraman dunia, manunggaling kawula Gusti


Raden Harjuna adalah gambaran ‘Lelananging Jagat’ sosok kesatria terpilih dan ‘Lancuring Jagat’ sosok kesatria terpuji. Istri-istri dan pusaka-pusaka sakti yang dimiliki Raden Harjuna merupakan gambaran betapa tinggi dan luas ilmu yang telah dikuasai. Sifat-sifat yang melekat padanya dapat menjadi teladan bagi seluruh rakyat.

Dalam pertunjukan perdana Bedhaya Mintaraga yang digelar pada Sabtu, 10 April 2021, terdapat dua rakit (kelompok) yang menari secara bersamaan pada pukul 20.00 WIB. Rakit pertama dipersembahkan di hadapan Sri Sultan di Kagungan Dalem Bangsal Kencana dengan menggunakan busana kampuh. Rakit kedua menggunakan busana rompen berhias jamang serta bulu kasuari digelar di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti dengan mendengarkan suara rekaman gamelan (relay) dari Bangsal Kencana. Pementasan rakit pertama digelar tertutup. Namun, rakit kedua disiarkan secara langsung untuk publik melalui kanal Youtube Kraton Jogja


DAFTAR PUSTAKA
Catatan Ageman Kampuh Bedhaya Mintaraga HB X 
Dewan Ahli Yayasan Siswa Beksa Ngayogyakarta Hadiningrat. 1981. Kawruh Joged Mataram . Yogyakarta: Yayasan Siswa Kalangan Beksa
MW Susilomadyo. 2021. Kagungan Dalem Serat Pasindhen Bedhaya Mintaraga. Yogyakarta: KHP Kridhomardowo Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Kagungan Dalem Lampah-Lampah Beksa Bedhaya Mintaraga, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat
Serat Lenggahing Harjuno, Seratan Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10
Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 30 Maret 2021
Wawancara dengan Nyi KRT Dwijosasmintomurti pada 30 Maret 2021
Wawancara dengan Nyi KRT Pujaningsih pada 31 Maret 2021





Related Articles

TATA PEMERINTAHAN