Info Terkini

Labuhan Ageng Tahun Wawu 1953

484 | Senin, 30 Maret 2020 admin

Kegiatan terakhir yang menandai rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem adalah upacara labuhan. Tahun ini labuhan digelar di empat tempat, yakni Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Hutan Dlepih. Selain diadakan pada tahun Dal, Labuhan Ageng di empat lokasi juga digelar pada tahun Wawu, yang bertepatan dengan tahun peringatan penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Prosesi labuhan diawali dengan pemberangkatan ubarampe ke tempat labuhan yang dipimpin oleh KPH Purbodingrat, KPH Notonegoro dan KPH Yudonegoro di Bangsal Sri Manganti pada Rabu Kliwon, 30 Rejeb atau 25 Maret 2020 pukul 08.00 WIB.


Labuhan Parangkusumo

Pelaksanaan labuhan diawali di Pantai Parangkusumo pada Rabu (25/03). Sebelumnya ubarampe Labuhan Parangkusumo diserahkan oleh Utusan Dalem, KRT Wijaya Pamungkas, kepada Juru Kunci Cepuri Parangkusumo, Mas Panewu Surakso Jaladri di Kantor Kecamatan Kretek, Bantul. Ubarampe selanjutnya dibawa ke kompleks Cepuri Parangkusumo untuk dicek kembali kelengkapannya dan kemudian didoakan. Pada Labuhan Ageng di Parangkusumo terdapat tambahan ubarampe berupa songsong gilap (payung) yang turut disertakan. Jelang pukul 10.45 WIB, ubarampe labuhan dibawa ke bibir pantai dan kemudian dilabuh ke Samudra Hindia.


Labuhan Dlepih

Sementara itu, prosesi labuhan juga berlangsung di Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Rombongan abdi dalem yang bertugas tiba di Dlepih sekitar pukul 10.30 WIB. Prosesi diawali dengan penyerahan ubarampe labuhan oleh Utusan Dalem, KRT Wiraguna, kepada Juru Kunci Petilasan Dlepih, Mas Bekel Surakso Warih Moyo. Terkait situasi saat ini, prosesi serah terima tidak dihadiri pejabat setempat. Prosesi labuhan dilaksanakan di Selo Payung, Kahyangan, Dlepih dan dipimpin oleh Juru Kunci. Prosesi berakhir sekitar pukul 11.30 WIB, dengan pembagian sesaji labuhan berupa nasi gurih dan lauk ingkung kepada yang hadir untuk disantap bersama.


Labuhan Lawu

Prosesi Labuhan Lawu dimulai pada Rabu (25/03) sekitar pukul 10.00 WIB dengan penyerahan ubarampe labuhan oleh Utusan Dalem, KRT Rinta Iswara, kepada Camat Tawangmangu, Rusdiyanto, S.Sos., M.Hum., di kediaman Juru Kunci Petilasan Lawu. Malam harinya selepas Maghrib dilakukan prosesi Sugengan Labuhan Lawu di kediaman Juru Kunci, Mas Bekel Surakso Himawan.

Keesokan harinya, pada Kamis (26/03) sekitar pukul 07.00 WIB seluruh ubarampe dibawa menuju Cemoro Kandang yang berjarak kurang lebih 4 km dan waktu tempuh sekitar 1 jam dari kediaman Juru Kunci. Tepat pukul 08.00 WIB prosesi labuhan dilaksanakan dan dipimpin oleh juru kunci. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Labuhan Lawu tahun ini tidak digelar di Hargo Dalem. Hal ini disebabkan karena cuaca buruk di puncak Gunung Lawu dan suhu dingin dibawah rata-rata. Juga menyusul adanya wabah pandemi covid-19, demi kebaikan bersama, dinas setempat merekomendasi agar labuhan kali ini tidak diadakan di Hargo Dalem melainkan di gerbang Cemoro Kandang. Sebagai penutup prosesi Labuhan Lawu, pada Jumat pagi (27/03) dilaksanakan prosesi lorodan ubarampe. Ubarampe labuhan tahun sebelumnya digantikan dengan ubarampe labuhan tahun ini.


Labuhan Merapi

Setelah diberangkatkan bersama-sama dari Bangsal Sri Manganti Keraton Yogyakarta, ubarampe untuk Labuhan Merapi diserahkan kepada pemerintah daerah Sleman di Kecamatan Depok pada hari Rabu (25/3) pukul 09.00 WIB. Oleh Camat Depok beserta jajaran, rombongan dari Keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh KRT Widyobayukusumo diantarkan menuju ke Kecamatan Cangkringan. Di kecamatan Cangkringan, ubarampe diserahkan kepada juru kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksa Harga atau biasa dikenal dengan sebutan Mas Asih. Selepas zuhur, seluruh ubarampe termasuk “kambil watangan” atau pelana kuda yang wajib disertakan dalam Labuhan Ageng dibawa menuju bekas kediaman juru kunci Merapi di Desa Kinahrejo.


Untuk mengantisipasi penyebaran covid-19, tahun ini tidak diadakan pesta rakyat menyambut Labuhan Merapi. Bahkan sejak dari Kecamatan Depok hingga Kinahrejo, Kepolisian beserta Tim SAR DIY membantu mengatur agar semua kursi berjarak satu sama lain dan menyemprotkan cairan sanitizer kepada setiap peserta labuhan. Sebagai ganti dari acara pesta rakyat, Rabu malam digelar tahlil dan doa bersama dengan beberapa masyarakat Kinahrejo. Kamis pagi (26/3) mulai pukul 06:00, seluruh ubarampe dibawa berjalan kaki menuju tempat bernama Sri Manganti di jalur pendakian khusus Labuhan di Gunung Merapi. Acara berlangsung khidmat dan diakhiri dengan pembagian nasi berkat kepada sejumlah orang yang mengikuti Labuhan.

Upacara Labuhan digelar sebagai wujud menghargai, menghormati, merenungi, serta menapak tilas perjuangan leluhur pendahulu Keraton Yogyakarta. Selain itu, hal ini juga dilakukan sebagai upaya memelihara keserasian, keselarasan, dan keseimbangan alam serta lingkungan hidup. Hal ini merupakan salah satu perwujudan tugas Sultan, Hamemayu Hayuning Bawono.




TATA PEMERINTAHAN