Info Terkini

Dua Tahun Berhenti Akibat Pandemi, Keraton Yogyakarta Kembali Gelar Wayangan Bedhol Songsong

177 | Jumat, 13 Mei 2022 admin

Pandemi Covid-19 melanda berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia selama dua tahun terakhir. Sejak itu pula beragam agenda dan Hajad Dalem di Keraton Yogyakarta terpaksa harus dimodifikasi sedemikian rupa, digelar sederhana, atau bahkan ditiadakan. Salah satu agenda yang ditiadakan adalah Bedhol Songsong bulan Sawal yang merupakan rangkaian dari Hajad Dalem Ngabekten. Tahun 2022 ini, Bedhol Songsong kembali digelar di keraton.

“Setelah dua tahun vakum karena pandemi, pada Sawal tahun Alip 1955, bertepatan dengan Mei 2022, Hajad Dalem Ngabekten kembali digelar di Keraton Yogyakarta dengan protokol kesehatan yang ketat dan terbatas. Oleh karena itu, Bedhol Songsong yang merupakan rangkaian dari Ngabekten juga bisa kembali digelar. Sehingga, setelah dua tahun tidak ada pergelaran ringgit wacucal sedalu natas (wayang kulit semalam suntuk) di keraton, tahun ini bisa kembali diselenggarakan,” ungkap KPH Notonegoro, Penghageng KHP Kridhamardawa.

Bedhol Songsong sejatinya merupakan prosesi mencabut (bedhol) payung (songsong) sebagai penanda berakhirnya rangkaian Hajad Dalem Garebeg dan Ngabekten. Dalam sejarahnya, payung yang dimaksud dalam Bedhol Songsong merupakan payung-payung yang dimiliki para pejabat administratif Sultan dari luar keraton. Para pejabat di luar keraton ini, harus melakukan pisowanan (menghadap Sultan) saat rangkaian upacara Garebeg dan Ngabekten. Kedatangan para pejabat ini ditandai dengan menancapkan payung-payung milik mereka sebagai penanda kehadiran di halaman istana.


Peristiwa bedhol songsong atau mencabut payung sebagai penanda kepulangan para pejabat dari luar keraton ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian Hajad Dalem Garebeg dan Ngabekten. Meski praktik berkemah dan menancapkan payung di halaman keraton tak lagi dilaksanakan oleh para pejabat keraton, namun penyajian pertunjukan wayang kulit sepanjang malam sebagai penanda ritual penutupan Garebeg terus berlanjut.

Pada bulan Sawal tahun Alip 1955 kali ini, Hajad Dalem Garebeg dengan gunungan yang diarak dari keraton hingga Kagungan Dalem Masjid Gedhe memang masih belum bisa terlaksana karena situasi pandemi. Namun Hajad Dalem Ngabekten telah digelar dengan protokol kesehatan dan dilaksanakan dengan pembatasan yang ketat. Sehingga, terdapat pisowanan dari para Abdi Dalem berpangkat Bupati, yang berarti bedhol songsong dapat digelar.

Bedhol Songsong: Pagelaran Ringgit Wacucal Sedalu Natas dengan Lampahan (lakon) Sayembara Slagahima digelar pada 1 Sawal Alip 1955 yang bertepatan dengan Selasa (03/05). Pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang MJ Cermo Gupito ini disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kraton Jogja dari Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti mulai pukul 21.00 WIB hingga Rabu (04/05) pukul 04.00 WIB.

Lampahan Sayembara Slagahima menceritakan putri keraton negara Slagahima menjadi pusat perhatian para raja yang hendak mempersuntingnya melalui sayembara. Putra Prabu Wimonadewa berjumlah 30 orang dipimpin oleh Raden Bima Kurda menjadi benteng negara Slagahima. Siapa yang berhasil mengalahkannya, ialah yang pantas meminang Dewi Kuntul Wilanten, putri raja negara Slagahima.


Para raja negara seberang yang mengikuti sayembara mampu dikalahkan oleh putra Slagahima. Hingga para Pandawa maju dalam sayembara tersebut. Awalnya beberapa keluarga Pandawa sempat terkalahkan, tetapi keberuntungan berpihak. Atas restu para dewa dan kegigihan mereka akhirnya Pandawa berhasil memenangkan sayembara. Mulai saat itu Dewi Kuntul Wilanten bersinggah di negara Ngamarta dan Prabu Wimonadewa beserta putra-putra Slagahima mengikutinya. Mereka bergabung untuk mengayom sekaligus menambah kekuatan negara Ngamarta yang saat itu belum lama dibangun.

“Dengan kembali digelarnya Bedhol Songsong sebagai pergelaran wayang kulit semalam suntuk di Keraton Yogyakarta, harapannya bisa mengobati kerinduan para pecinta pertunjukan wayang kulit atas sajian pementasan wayang kulit gagrag (gaya) Ngayogyakarta, khususnya dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat,” tutup KPH Notonegoro.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN