Image page cover

Derap Tegap Pandhawa Kurdha Turut Meriahkan Hari Tari Dunia 2026

Pada Rabu (29/04) lalu, perhelatan akbar atas perayaan keindahan, keberagaman, serta kemegahan sejarah tari di seluruh dunia kembali dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun ini, Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Kridamardawa turut ambil bagian pada gelaran Festival Perayaan Seni Tari Tradisional Yogyakarta, Jogja Joged 2026. Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, Jogja Joged dilaksanakan di Pendapa Widhi Widhana SMK Negeri 1 Kasihan. Pada kesempatan kali ini, Beksan Pandhawa Kurda menjadi sajian yang dipilih oleh Keraton Yogyakarta untuk ditampilkan dalam rangka meriahkan Hari Tari Dunia 2026.

Mulai pukul 18.30 WIB, para hadirin yang hendak merayakan seni tari sedunia di Kota Pelajar hari itu mulai berdatangan. Kursi-kursi berbalut kain putih mengisi bagian tengah pendapa, satu set gamelan lengkap sudah tertata apik di bagian belakang pendapa, lengkap tempat duduk dan meja yang di dekorasi di sayap samping kanan pendapa yang dipergunakan untuk sesi gelar wicara. Acara malam itu diawali dengan penampilan meriah Jogja Gumregah sebagai tarian ikonik acara Jogja Joged yang telah dilaksanakan beberapa tahun belakangan ini. 

01 01 Small

Beksan Pandhawa Kurda mengisahkan perjalanan para Pandhawa ketika dibuang di hutan selama 12 tahun karena kalah bermain dadu melawan Patih Sengkuni. Setelah menghabiskan 12 tahun di hutan, Pandhawa menjalani tahun ke-13 dengan menyamar di Kerajaan Wiratha. Yudhistira menjadi menjadi pendeta, Bima menjadi juru masak, Arjuna menjadi guru tari putri (Brinjalena/Wrihanala), serta Nakula dan Sadewa mengurus kuda dan ternak. Babak pembuangan para Pandhawa di Nusantara dituangkan dalam lakon Pandhawa Dhadhu atau Pandhawa Dibuang. 

02 02 Small

Tarian ini mengusung konsep koreografi yang dibawakan oleh lima penari. Konsep ini disebut gangsalan atau panca matayan. Kelimanya berperan sebagai Pandhawa yang mempunyai karakter berbeda-beda, namun saat tiba kisah penyamarannya, karakter mereka berubah. Perubahan karakter ini didukung oleh perubahan ragam gerak. Tokoh Yudhistira, Arjuna, Nakula, dan Sadewa yang pada awalnya impur halus berubah menjadi impur gagah. Sementara Bima yang berkarakter kambeng menjadi kinantang gagah. Pada gelaran Hari Tari Dunia 2026, Beksan Pandhawa Kurda pertama kali dipentaskan di luar keraton dan menjadi pementasan kedua sejak ditampilkan sebagai sajian Uyon-Uyon Hadiluhung pada 4 Agustus 2025.

Penampilan Beksan Pandhawa Kurda dari Keraton Yogyakarta menjadi sajian kedua acara malam itu. Riuh tepuk tangan memenuhi Pendapa Widhi Widhana ketika Pandhawa Kurda selesai ditampilkan. Keikutsertaan Keraton Yogyakarta pada acara Hari Tari Dunia yang diselenggarakan oleh Jogja Joged juga diikuti oleh Kadipaten Pakualaman dengan menyajikan Bedhaya Renyep. Sinergi yang dibawa antara Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, dengan berbagai institusi seni di Yogyakarta ini menjadi sebuah bentuk pelestarian kesenian yang dibalut dalam kemeriahan Hari Tari Dunia pada tahun ini. 

04 04 Small

Hal ini diungkapkan pula oleh MB Harismatoyo selaku Pimpinan Produksi dari Beksan Pandhawa Kurda. Ia mengungkapkan, “Saya pribadi menyampaikan rasa bangga dan syukur atas kesempatan luar biasa untuk bisa turut menjadi bagian dalam event Jogja Joged pada perayaan Hari Tari Dunia 2026. Beksan Pandhawa Kurda hadir bukan hanya sebagai bentuk seni, namun juga sebagai simbol kepahlawanan, kebijaksanaan, dan keteguhan karakter. Semoga Jogja Joged tidak hanya menjadi ruang bersama namun bisa menjadi muara bagi seluruh seniman tari dalam rangka melestarikan, mengembangkan, dan menumbuhkan nilai-nilai budaya yang luhur.”

 05 05 Small