Info Terkini

Penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X

429 | Kamis, 05 September 2019 admin

Sri Sultan Hamengku Buwono X dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa bidang Pendidikan Karakter Berbasis Budaya oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Kamis (5/9). Gelar kehormatan tersebut diberikan karena konsistensi Ngarsa Dalem menjaga karakter kebangsaan dengan menerapkan budaya sebagai induk kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Sebelum ini, Sultan pernah menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan (2009), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2011), Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (2013), Melikšah University, Turki (2013), Universitas Tun Hussein Onn, Malaysia (2013), dan University of Tasmania, Australia (2015). Penganugerahan gelar ketujuh ini bertepatan dengan Peringatan Ke-74 tahun Amanat 5 September 1945. Hari ketika Sri Sultan HB IX bersama KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan Amanat yang menyatakan bahwa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman menjadi bagian dari NKRI dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta. 


Pemberian Gelar Doktor Honoris Causa ini diusulkan oleh dua orang promotor yakni Profesor Suminto A. Suyuti, Guru Besar bidang Bahasa dan Sastra serta Profesor Sugiyono, Guru Besar bidang Manajemen Pendidikan. 

Menurut Rektor UNY Sutrisna Wibawa, Sultan dinilai memiliki perhatian lebih dalam mengumandangkan nilai pendidikan karakter berbasis budaya melalui berbagai kebijakan, pidato, dan peraturan gubernur. Selain itu, salah satu pertimbangan pemberian gelar kehormatan ini juga berkaitan dengan jabatan Sultan sebagai Gubernur yang memiliki fungsi membuat kebijakan dan mengelola pemerintahan. 

Sebelum prosesi penganugerahan, Sultan menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Budaya”. Beliau menuturkan bahwa modal awal dan utama pendidikan khas ke-Jogja-an berangkat dari realitas kebudayaan yang hidup (living culture) dan berkembang dari dulu, kini, dan nanti.  Hal tersebut didukung sinergi tiga aktor utama yakni Kraton/Kaprajan, Kampus, dan Kampung (3K).

Sultan menambahkan bahwa landasan ideal pendidikan khas ke-Jogja-an adalah “Hamemayu Hayuning Bawana” dan “Sangkan Paraning Dumadi”. Filosofi tersebut sesuai dengan makna asas pendidikan sepanjang hayat (long life education). Kedua nilai harmoni yang  senantiasa harus selalu dijaga. 

Ngarsa Dalem berharap “Pendidikan Karakter Berbasis Budaya” membuka kemungkinan Indonesia bukan hanya menjadi sekadar “Macan Asia”, tetapi “Garuda Dunia” yang mampu melanglang jagat kemajuan bangsa-bangsa lain.


TATA PEMERINTAHAN