Ragam

Nyi Raden Wedana Probo Sekardhatu, Abdi Dalem Tepas Pariwisata yang Mencintai Budaya Jawa

1567 | Selasa, 29 Oktober 2019 admin

Sebagai lembaga budaya Jawa, keraton Yogyakarta tak putus menjalankan adat dan tradisi. Seiring perkembangan zaman, modernitas tak ditolak; justru dirangkul. Nyi Raden Wedana Probo Sekardhatu merupakan salah satu Abdi Dalem muda yang menyadari perkembangan teknologi harus diikuti dan dimanfaatkan untuk pengembangan budaya.  Bekerja di tepas Pariwisata, ia menangani banyak urusan yang kurang bisa ditangani oleh Abdi Dalem sepuh, terutama terkait administrasi berbasis komputer dan internet. 


Keluarga Abdi Dalem

Keraton sudah selayaknya rumah bagi Raden Ayu Dinar Rooswijayanti, demikian nama asli perempuan berpembawaan lembut ini. Kakeknya adalah putra Sri Sultan HB VIII dan adik Sri Sultan HB IX. Neneknya penari keraton. Ayah, ibu, dan beberapa kerabatnya juga bertugas sebagai Abdi Dalem.  

“Waktu (aku) kecil, eyang putri sering mengajak (aku ke keraton). Aku selalu diajak bicara dalam bahasa krama alus. (Bekerja) di sini seperti pindah rumah saja.” Sewaktu belia Dinar, demikian ia biasa dipanggil sering terlibat dalam pertunjukan tari dan peragaan busana tradisional di keraton.

Namun ia tak berencana mengikuti jejak keluarga. Ia bekerja di bank dan beberapa perusahaan lain setelah lulus dari jurusan komunikasi, Universitas Atma Jaya.  “(Tapi) passionku bukan di situ.” 

Tahun 2012 ibunya meninggal dan ia ditawari untuk mengisi posisi sang bunda sebagai hartakan (bendahara) di tepas yang mengurusi pariwisata keraton ini. Seperti mendapat panggilan jiwa, Dinar yang memang menyukai seni tradisi langsung menyambutnya. Meski pekerjaannya banyak, melelahkan, dan nyaris tak mengenal libur, ia merasa betah. 

“Di sini (dan di bank), aku sama-sama pegang uang, namun rasanya lebih dekat (dengan hal-hal yang kucintai).”


Bahasa Jawa itu Keren

Dinar memiliki kecintaan besar pada bahasa Jawa. Ia mengikuti berbagai kegiatan seni berbasis bahasa Jawa, seperti teater, geguritan, sandiwara radio dan film. 

“Aku penginnya anak muda itu tahu, kenal, dan merasa bahwa bahasa Jawa itu juga keren,” tutur Dinar. “Kalau aku pentas, aku posting (di medsos), sehingga orang-orang jadi tahu.” Dinar berharap itu bisa menjadi sumbangsihnya terhadap kelestarian budaya. 

Kalau mau menghancurkan suatu bangsa, hancurkan bukunya; demikian Dinar mengutip pujangga Milan Kundera. “Buku itu kan sastra. Kita punya aksara Jawa. Jepang, China punya aksara sendiri dan bertahan dengan hurufnya, kenapa kita nggak?” 

Setelah bekerja di keraton, kecintaan Dinar terhadap adat istiadat Jawa semakin besar. Di antara padatnya kegiatan, ia menyempatkan nyekar ke makam-makam lelubur, seperti Kotagede dan Imogiri. “Aku banyak berubah, menjadi lebih sering ke makam. Aku merasa sudah banyak dikasih (oleh leluhur). Aku mengabdi di sini (keraton) pun banyak dapat berkah. Sekarang aku lebih menghargai, lebih merawat, lebih eman. Ternyata kita kaya banget ya.”

Di dalam keraton, hal yang paling menyentuh baginya adalah ketulusan Abdi Dalem sepuh. “Mereka ikhlas, tidak mengejar uang. Zaman sekarang kan sulit banget ya mencari yang kayak gitu ya. Nrima, legawa.” 

Ia menempatkan ayahnya, KRT Danukusuma, Penghageng KHP Purayakara, sebagai teladan. Meski sudah lanjut usia, beliau tetap bersemangat ke keraton setiap hari. Sang ayah pula yang mengajarinya belajar nrima, “Tak perlu mengeluh, nanti ada jalannya, pasti.” Demikian Dinar mengulang nasihat sang ayah yang berusaha ia terapkan meski menurutnya, “Susah lho nrima itu.” 

Bagi Dinar Abdi Dalem sepuh adalah bukti bahwa kita hanya memetik apa yang kita tanam, “Seperti (kata) Ranggawarsita, rejeki itu tidak bisa ditiru. Sak Sakbekjane-bakjane wong beja, isih beja wong sing eling lan waspada. (Di keraton) aku merasakan banget dan selalu dielingke.” 


Mimpi tentang Kemajuan Keraton

Perempuan berputri satu ini patut berbangga menyaksikan semakin banyak anak muda seperti dirinya yang tertarik mempelajari budaya. “Sekarang banyak anak muda belajar menari. Itu prestis bagi mereka; bisa menari di keraton.” Saat bertugas di luar ia mendapati banyak komentar positif mengenai keraton Yogyakarta. 

Namun, ia masih berharap reputasi keraton makin berkibar sehingga lebih banyak lagi yang datang untuk belajar macapat, gamelan, dan seni tradisi lainnya. 

“Pasti bisa kalau kita mau menghargai budaya sendiri,” ujarnya optimistis. 


TATA PEMERINTAHAN