Ragam

Mas Riyo Dwijo Suwarno, Panji Prajurit yang Menjunjung Budaya

541 | Senin, 02 Desember 2019 admin

Mengabdi sejak 1989, Mas Riyo Dwijo Suwarno merupakan salah satu Abdi Dalem tertua yang masih aktif, bahkan bersemangat mengemban tugasnya. Pria bernama asli Dalidjo ini menjabat panji satu (pemimpin pasukan tertinggi) bergada prajurit Nyutra

Di era sebelumnya, Bergada Nyutra merupakan pengawal pribadi Sultan. Pasukan ini sempat nonaktif, kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1970an. Sebagai pengawal, sosok Mas Riyo Dwijo Suwarno banyak ikut tertangkap kamera media pada saat penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana X 1989. 


Menjadi panji tak membuat pria asal Piyungan ini tinggi hati. Ia tetap berpembawaan sederhana, tenang, serta humoris.  

Awalnya, Pak Dal, demikian ia biasa dipanggil, diajak bergabung oleh temannya sesama guru SD yang sudah lebih dahulu menjadi prajurit keraton. Pak Dal pun tertarik dan mengirimkan surat permohonan. 

“Selang bebarapa hari saya dikasih tahu permohonan saya diterima. (Lalu) setiap Minggu sore saya datang ke keraton untuk latihan; cara jalan kaki, membawa senjata, membawa tombak. Sejak awal, saya (ditempatkan) di bergada Nyutro sampai sekarang. Sudah tiga puluh delapan tahun.”

Awalnya ia ditugaskan untuk membawa tombak, kemudian naik ke posisi pembawa bedil (senapan) lalu sersan towok (pembawa tameng dan tombak). Melalui proses demokratis seluruh anggota, ia terpilih menjadi panji dua lalu panji satu. 


Guru sekaligus Pelaku Budaya

Begitu lulus dari Sekolah Pendidikan Guru 1966, Pak Dal langsung bekerja menjadi pendidik hingga pensiun. Awalnya ia ditempatkan di SD Candirejo, Semin, Gunungkidul, yang berjarak sekitar 53 kilometer dari rumahnya. Walhasil, ia tinggal di sana dan pulang seminggu sekali. Ia berpindah-pindah tempat tugas dan di akhir masa kariernya, ia menjabat kepala sekolah di SD Indrakila, Bantul. 

“Saya dipanggil oleh Rama Bupati Bantul, Idham Samawi waktu itu, ke (kantor) kabupaten. ‘Pak Dalidjo, kamu saya pindah ke SD Indrakila’. Nggih sendika dhawuh, jawab saya.” 

Sendika dhawuh rupanya sudah menjadi nilai bagi Pak Dal. Ia menerima dan menjalankan tugas yang diberikan semesta sebaik-baiknya. Pensiun pun tak membuatnya berlenggang kangkung. Ia tekun memelihara tiga petak sawahnya. Secara rutin ia bermain badminton dengan sesama pensiunan guru. Di lingkungan tempat tinggalnya, ia aktif menjadi pengurus RT serta berkesenian dalam grup musik ‘Ronda Tek-Tek’ di kampungnya. 

Dengan segala kesibukan itu, ia nyaris tak pernah absen dari kewajibannya di keprajuritan. 

“Utamanya saya ingin menjadi pelestari dan pelaku budaya Jawa,” jelasnya terkait motivasi bergabung dengan bergada. Konsisten nguri-uri kebudayan di kampung, ia juga mengelola latihan ketoprak dan saat ini sedang merevitalisasi belik (mata air) yang ditengarai sebagai petilasan bersejarah. 


Panji Bergada

Sebagai panji satu, Pak Dal bertanggung jawab atas administrasi kegiatan bergada. Dengan rajin ia melengkapi daftar hadir serta memastikan semua geladi berjalan lancar. Begitu menghayati perannya, Pak Dal sampai menanti-nantikan dhawuh bila lama tak mendapat tugas. 

“Saya mengharapkan, kalau pas tidak ada jadwal, mbok ya ada tugas lain,” tuturnya tulus. 

Mengawal piala raja ia sebutkan sebagai salah satu dhawuh yang mengesankan. Piala raja ini diserahkan pada lomba-lomba yang memperebutkan piala Sri Sultan, seperti lomba kicau perkutut. Berkaitan dengan kiprahnya di keprajuritan, maanfaat yang ia dapatkan adalah memiliki banyak teman. “Sayangnya tidak semua saya hapal namanya. Semua prajurit keraton kurang lebih 500 orang, tak lebih dari separo yang (saya) hapal.” 


Berkah Keraton 

“Kata orangtua saya, sebarapa pun (jumlahnya), apa pun wujudnya, bila itu pemberian dari keraton harus disyukuri,” kata Pak Dal. Bila ia membawa pulang makanan dari keraton, maka semua anggota keluarga dipastikan ikut menikmati meski hanya satu gigitan. 

Ia merasakan ada berkah karena bekerja di istana, “Bila ada masalah yang menimpa keluarga, (itu) dapat diselesaikan dengan baik. Pikiran tidak nglambrang ke sana ke mari. Tenang.” 

Boleh jadi ketenangan batin serta kelincahan fisik menjadi kunci kesehatan Pak Dal yang masih tetap energik pada usia lanjut. 

Ia bercita-cita terus mengabdikan diri selama masih mampu. “Saya ingin keraton tetap lestari karena semua itu ada kaitannya dengan kehidupan kawula Ngayogyakarta. Bahkan warga di luar Jogja.” 

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN