Ragam

KRT Jayaningrat, Garda Terdepan Syiar Agama dan Budaya

1190 | Selasa, 28 Januari 2020 admin

Sebagai kerajaan Islam, Keraton Yogyakarta memiliki banyak masjid yang tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk memelihara pusaka-pusaka tersebut, dibutuhkan tim dan manajemen khusus. 

KRT Jayaningrat, Penghageng Kawedanan Ageng Pengulon, merupakan pucuk pimpinan yang menangani urusan masjid, makam, dan petilasan milik keraton. Tercatat lebih dari 100 masjid dan 150 makam berstatus sebagai Kagungan Dalem yang masih lestari hingga kini. 

“Saya tanggal 27 Desember kemarin diangkat sebagai Penghageng Pengulon. Mungkin penghageng paling muda, tapi tugasnya paling berat karena mengurus keagamaan. Ruang lingkupnya sangat luas, sampai luar Jogja, termasuk upacara labuhan, itu tugas Pengulon,” jelasnya. Kanjeng Jaya, demikian ia biasa dipanggil, mengibaratkan Kawedanan Pengulon sebagai kementerian agama keraton yang tidak hanya merawat peninggalan fisik namun juga mengelola kegiatan keagamaan, khususnya yang berlangsung di luar cepuri keraton. 

Kanjeng Jaya merupakan putra Alm. GBPH Jayakusuma, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang sangat lekat dengan syiar Islam bernafas Jawa, modern, dan toleran. “Saya masuk Abdi Dalem dulu disuruh bapak. Bapak menjelaskan selagi masih muda harus mengenal kebudayaan.” Menyadari susahnya regenerasi di keraton, sang rama memang meminta ketiga anaknya membaktikan diri sebagai Abdi Dalem

Mulai mengabdi tahun 2007, pria berputri satu ini mengawali tugas di Panitrapura. Setelah itu ia menjabat carik di Rantamharto, sebuah unit yang mengurusi harta pribadi keluarga Sultan. Tahun 2014 beberapa kegiatan keagamaan yang selama ini dipegang oleh Panitrapura dikembalikan ke Pengulon dan karena dianggap memahami bidang tersebut, Kanjeng Jaya dialihkan ke sana. 


Menjaga Tempat-Tempat Suci Kagungan Dalem

“(Tugas kami) menjaga dan menata (masjid) agar tidak kehilangan titik lampah-nya karena cukup banyak masjid yang beralih fungsi atau kepemilikan. Ada Masjid Kagungan Dalem yang menjadi milik yayasan atau kelompok tertentu. Tugas kita mengembalikan Masjid Kagungan Dalem seperti semula.” 

Kawedanan Pengulon terbagi menjadi empat bagian; kemesjidan (masjid), pasarean (makam), pengkajian, dan tata laksana (operasional). Lingkup kerjanya memang kompleks dan besar, namun jumlah kanca-nya belum mencukupi. “Total Abdi Dalem Kemesjidan sekitar 300-an, pasarean hampir 400. Masih ada petilasan tanpa juru kunci.” 

Masjid, makam, dan petilasan harus dijaga dua puluh jam sehari. Itulah mengapa dibutuhkan petugas dua atau tiga shift. 

Kegiatan pengkajian sangat padat. Acara-acara rutin tergelar nyaris sepanjang tahun. Ada pengajian yang digelar setiap selapan hari atau 35 hari sekali misalnya Pengajian Ahad Ponan, Jumat Legi, dan Selasa Wage. Ada pula pembelajaran kitab bukhoren (hadis-hadis sahih Bukhari), salat tasbih, muqodaman, maulidan, sema’an Al-Qur’an, dan manaqiban. Semuanya diselenggarakan di Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Setiap acara lazim dihadiri lima ratus hingga seribu orang dari berbagai kalangan umum, pesantren dan jemaah pengajian. Agenda besar dan Hajad Dalem yang digelar setiap tahun seperti Hadeging Nagari (peringatan berdirinya keraton), labuhan, Maulid Nabi, dan Isra’ Mi’raj juga menjadi tanggung jawab Kawedanan Pengulon.

Pengabdian Total untuk Keraton

Begitu ditunjuk sebagai penghageng, Kanjeng Jaya menyadari tanggung jawabnya begitu besar. Setelah berdiskusi, ia mempercayakan semua urusan rumah kepada sang istri karena tugasnya di keraton praktis menyita waktunya dari pagi hingga malam. Ia mengaku ingin fokus pada keraton karena di situlah ia mendapat ‘feel’. 

“Saya ini (bekerja) dari subuh hingga malam nggak ada capeknya kalau untuk ngurusi keraton. Rasanya  fresh terus,” tuturnya.  Sebelum menjadi penghageng, ia berwiraswasta dan aktif di sejumlah organisasi, namun kini ia siap melepas semuanya. 

Pria yang tinggal tak jauh dari keraton ini memetik buah pengorbanannya mendampingi ayahnya. Kuliah di jurusan Manajemen Ekonomi UII ia tinggalkan saat sang rama sakit dan memintanya mengantar beliau ke mana saja.  Dulu menggerutu, kini ia menyadari pengalaman itu memberinya bekal wawasan sejarah dan pengetahuan. Namun, ia tetap rendah hati, “Saya sendiri masih belajar karena tiap Sultan yang bertakhta selalu memiliki paugeran atau pranatan yang berbeda.”

Pesan dari ayahanda pun ia pegang teguh, “Dulu sebelum bapak meninggal sempat pesan, (agar saya) siap menjadi bumper Ngarso Dalem.”

Amanat penting ia titipkan pada generasi muda, “Jangan lupa akar budaya kita. Budayalah yang membentuk moral kita. (Jangan sampai) Jogja hilang kebudayaan Jawanya. Kearifan lokal harus kita jaga.”


TATA PEMERINTAHAN