Ragam

GKR Maduretno, Putri Tengah Yang Dekat Dengan Sang Ayah

1605 | Selasa, 12 Mei 2020 admin

Bernama kecil Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi, putri ketiga Sultan Hamengku Buwono X ini mendapat gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno setelah menikah dengan Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat. Saat ini beliau menjabat Penghageng ll Kawedanan Hageng Punakawan Parasraya Budaya dan Penghageng Tepas Danartapura

GKR Maduretno sangat dekat dengan sang ayah. Semasa kecil, Gusti Madu, begitu beliau saat ini sering disapa, mempunyai hobby memasak bersama Ngarsa Dalem. Tiap akhir pekan mereka membuat pastel, kastengel, atau roti isi. Ngarsa Dalem menguleni sendiri adonan sementara si putri kecil membantu. Mungkin pengalaman itulah yang menumbuhkan kecintaannya pada bidang kuliner yang di kemudian hari beliau tekuni secara serius. Setelah menamatkan pendidikan SMA di Indooroopilly State High School Brisbane, beliau kemudian mempelajari bidang perhotelan di TAFE Brisbane, lalu mengambil jurusan Food and Beverages di Holmesglen Glen Waverly Campus, Melbourne, Australia. 


Putri Tomboi

Sebelum tinggal di keraton, Gusti Maduretno yang sebelumnya juga disapa Jeng Dewi ini sempat merasakan tinggal di kompleks perumahan pabrik gula Madukismo. Selayaknya bocah pada masa itu, beliau senang bermain dengan anak-anak tetangga; pasaran, petak umpet, dan gobak sodor. Uniknya sang putri juga menikmati permainan yang lazimnya dimainkan anak laki-laki seperti layang-layang. Ya, beliau mengakui berkepribadian tomboy. “Dulu sering ditantangin tetangga yang laki-laki karena hanya saya anak perempuan yang memakai sepeda laki-laki,” kenangnya. 

Begitu Sri Sultan bertakhta dan keluarganya masuk istana, Jeng Dewi mengaku mulai kehilangan tetangga meski tidak kehilangan sahabat. “Teman-teman SD saya cukup banyak yang sering main dan menginap di keraton.” 

Selain bersepeda, Jeng Dewi juga gemar berenang. Para putri Sultan biasa berenang bersama di akhir pekan. “Jadi kelas 2 atau 3 SD saya sudah bisa berenang semua gaya kecuali gaya kupu-kupu. Kami semua dari kecil sudah berani berenang di kolam dua meter. Kalau naik sepeda, dari TK saya sudah bisa naik sepeda roda dua.” Sewaktu masuk SD beliau meminta sepeda laki-laki dan menolak sepeda model perempuan dengan keranjang. Jeng Dewi pun pernah bersepeda jarak jauh dari keraton hingga gua Selarong. 


Hidup Mandiri

GKR Maduretno memandang Sultan Hamengku Buwono X sebagai pribadi yang berwibawa, rendah hati sekaligus berkharisma. Walaupun demikian, sebagai seorang ayah tetap asyik untuk diajak bercanda dan bertukar pikiran. Momen-momen manis yang tak pernah Gusti Madu lupakan adalah jogging bersama sang ayah lalu minta digendong dalam perjalanan pulang, bermain layang-layang berdua, dan naik ke lantai dua Gedong Jene demi menonton terjun payung yang mendarat di Alun-Alun Utara Keraton. “Kami berdua manjat, lompat dari jendela, demi bisa menonton walau dari jauh.” 

Meski berstatus sebagai putri raja, Gusti Madu dan saudara-saudaranya tidak pernah mendapat perlakuan istimewa. “Bapak tegas. Kalau anaknya salah ya salah. Di sekolah pun (bila) salah ya disetrap,” tuturnya dalam wawancara dengan salah satu stasiun TV.

Ngarsa Dalem juga kadang mengetuk pintu kamar putri-putrinya untuk sekadar mengecek keberadaan mereka, kemudian berbincang mengenai aktivitas mereka di depan kamar atau di ruang makan. 

Para putri selalu didorong untuk hidup mandiri, salah satunya dengan disekolahkan di luar negeri. Sewaktu kuliah, GKR Maduretno bekerja di restoran kampus yang menyediakan makan siang dan makan malam. Sehabis memasak beliau bertugas sebagai waitress. “Kalau ada buffet harus (berjaga) di depan. Jadi mandiri. Selesai pun harus ngepel.” Walhasil, beliau terbiasa untuk selalu menjaga kebersihan, tanpa terlalu tergantung pada orang lain. 


Bersyukur dan Berbuat Baik

Perempuan yang turut aktif dalam organisasi Karang Taruna DIY ini mengaku tak mudah menjadi putri keraton. Sedikit kesalahan bisa membuat mereka banyak menerima komplain. Namun demikian, Gusti Madu tak pernah menyesal terlahir sebagai putri sultan. Hal ini selalu disyukuri. GKR Maduretno memegang teguh pesan dari Ngarsa Dalem untuk berbuat baik pada siapa pun, tak memandang bulu dalam memilih teman dan selalu rendah hati. 

Dalam mengemban tugas GKR Maduretno tak pernah merasakan hambatan yang berarti selain perubahan zaman yang harus direspon oleh keraton, baik itu kemajuan teknologi atau perkembangan nilai-nilai sosial yang berkembang di masa sekarang. “Keraton harus terbuka,” beliau berpendapat. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah perubahan aturan berkebaya yang dulu dijalankan setiap saat di dalam keraton. Kini kewajiban mengenakan busana tradisional itu hanya diterapkan pada momen-momen tertentu. 

Harapan terbesarnya adalah keraton dapat terus lestari dan menjadi pangayom rakyat Yogyakarta. Sebaliknya, GKR Maduretno menginginkan masyarakat provinsi ini selalu belajar dan ikut melestarikan budaya agar tidak tercabut dari akar dan nilai luhur bangsa. 



Related Articles

TATA PEMERINTAHAN