Ragam

GKR Condrokirono, Putri Tangguh Pengelola Sekretariat Keraton Yogyakarta

4323 | Selasa, 09 Juni 2020 admin GKR Condrokirono dalam upacara Ngapem sebagai rangkaian acara Tingalan Jumenengan Dalem

GKR Condrokirono dalam upacara Ngapem sebagai rangkaian acara Tingalan Jumenengan Dalem

Dilahirkan dalam keluarga berstatus tinggi berarti memikul tanggung jawab yang tinggi juga. Demikian pula yang dialami kelima Putra Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Masing-masing memiliki peran dan tugas sosial yang tidak enteng, di dalam maupun di luar keraton. 

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, sang putri kedua, tak terkecuali. Beliau menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, semacam sekretariat negara Keraton Yogyakarta. 

Pada masa sekarang, komunikasi keraton dengan pihak luar dilaksanakan lewat satu pintu. Semua surat, termasuk yang ditujukan kepada unit yang lebih kecil, kawedanan atau tepas, akan diterima oleh Panitrapura sebelum kemudian didisposisikan kepada unit terkait. 

Tak pelak perempuan yang bernama lahir Raden Ajeng Nurmagupita ini ibarat manajer utama yang harus mengetahui semua hal yang terjadi di keraton. “Kenapa begitu? Agar saya bisa melaporkan secara utuh apa yang terjadi. Saya yang bertanggung jawab langsung ke Ngarsa Dalem,” tuturnya. 


Perempuan Pemimpin

“Tidak mudah bagi perempuan untuk menjadi penghageng,” ujar ibu satu putra ini. “Ada beberapa yang tidak setuju perempuan menjabat.” Namun, sebagai Putra Dalem, Gusti Kirono, demikian panggilan akrabnya, menyadari jabatan tersebut merupakan kewajiban yang harus diemban sehingga beliau menjalani dengan sepenuh hati.

Perlahan-lahan GKR Condrokirono terlibat dalam urusan keraton. Kesulitan demi kesulitan dialami, terutama pada masa-masa awal, meski sudah terlatih beberapa tahun sebelumnya. Sejak 2011 Gusti Kirono dan Putra Dalem lainnya sudah diangkat menjadi Wakil Penghageng Kawedanan. “Setelah Gusti Jaya seda, saya menjadi Penghageng.” GBPH Jayakusuma merupakan Penghageng Panitrapura sebelumnya. Dari 2005, Gusti Kirono mengurusi seluruh keperluan rumah tangga nDalem kilen. Tempat tinggal keluarga sultan tersebut menjadi gelanggang untuk mengasah kemampuannya sebelum terjun ke lingkup keraton yang lebih luas.  

Tahun 2014 GKR Condrokirono secara resmi menjabat Penghageng dan tantangan terbesarnya adalah ngemong rasa (menjaga perasaan).  Ini disebabkan oleh banyaknya Abdi Dalem yang sudah sepuh. Gusti Kirono mengaku kesulitan menyeimbangkan kebiasaan lama dan mengadopsi perkembangan terbaru. “Awal-awal sampai frustrasi sendiri,” kenangnya. Selain itu, selayaknya kehidupan, beliau menghadapi karakter Abdi Dalem yang beranekaragam, ada yang lucu, ada yang keras kepala, ada pula yang mudah iri. Ini semua dianggap sebagai pengalaman menarik. Namun, Gusti Kirono selalu tersentuh melihat pengabdian mereka yang nyaris seumur hidup.  “Bagi saya itu ada nilai tersendirilah. (Mereka) Mau nguri-uri kebudayan sampai seperti itu.”

Mengatur operasional keraton, mau tak mau GKR Condrokirono masuk ke ranah politik, seperti mengikuti pembahasan draft Undang-Undang Keistimewaan. Beliau mengaku belajar banyak dari para senior dalam hal misalnya, aturan dan sejarah pertanahan keraton. Termasuk memahami banyak hal hingga ke inti permasalahannya. “Kalau dulu tahunya sudah siap, tinggal datang (ke upacara). Tapi sekarang kita terjun langsung. Kita bisa mengerti mengapa upacara ini diselenggarakan, mengapa sajen ini yang dibuat.”

Masa Kecil

Keluwesan dan kerendahhatian Gusti Kirono mungkin sedikit banyak bermula dari kebahagiaan masa kecilnya saat masih tinggal di kompleks perumahan Pabrik Gula Madukismo. Beliau berangkat sekolah naik bus kompleks, ikut karnaval bersama para tetangga dan bermain bersama mereka, termasuk nglorot tebu dari lori berjalan. 

Dengan kakak adiknya, putri yang suka tertawa ini menjalani masa belia yang seru layaknya keluarga kebanyakan. “Aku berantem terus (dengan Gusti Maduretno) dan ia selalu menang karena ia lebih besar walaupun aku kakak.” Sementara dengan Gusti Mangkubumi, beliau mengaku menjadi pengekor karena menurutnya aktivitas sang kakak yang sudah duduk di bangku SMA kala itu lebih menarik daripada aktivitas teman-teman sebayanya yang masih SMP. 

“Nah kalau aku nggak boleh ngikut (oleh Mbak Mangku), aku wadul sama ibuk. Nanti Mbak Mangku dimarahi ibu,” kenangnya. 

Kehangatan sang ayah pun melekat padanya lewat kegiatan merawat tanaman bersama. Sementara ketegasan dan keadilan sang ibu tercermin dari ketidakseganan beliau untuk membiarkan anak-anaknya menanggung konsekuensi kesalahan mereka. 


Pembela anak-anak dan perempuan

Di luar keraton, GKR Condrokirono aktif berkiprah dalam bidang perlindungan perempuan dan anak-anak. Perempuan yang memiliki hobi kuliner ini menjabat sebagai direktur LSM Rekso Dyah Utami dan pengawas di Lembaga Perlindungan Anak. Selain itu, beliau juga membantu rekan-rekannya mengurusi anak-anak terlantar dan korban kekerasan. 

Selama dua periode GKR Condrokirono menduduki kursi ketua Karang Taruna DIY. Di bawah kepemimpinannya, organisasi ini terus mempertahankan prestasi sebagai juara nasional. Lewat karang taruna, lulusan Charles Sturt University, Australia ini melihat masih banyak pekerjaan di bidang kepemudaan. Gusti Condro prihatin anak-anak muda kurang memelihara kebudayaan, termasuk bahasa daerah mereka. “Padahal anak muda adalah cerminan negara ke depan.”  Menurutnya kebanggaan terhadap budaya serta nasionalisme harus ditanamkan. Pengalamannya di luar negeri membuat Gusti Condrokirono makin mencintai Indonesia. “(Kalau ada yang) melecehkan Indonesia, saya marahnya seperti apa.”  

Membangun Keraton

Dengan kemajuan yang sudah dirintis oleh para Putra Dalem, wajar kiranya bila Gusti Kirono berharap keraton bisa menjadi pusat edukasi bagi masyararakat sekitar bahkan manca negara. “Istilahnya wong jawa aja lali jawane. Keraton bisa menjadi titik agar orang tahu akarnya.”

Beliau juga berupaya agar Yogyakarta bisa berdiri tegak melintas zaman dengan keunikannya. “Jogja itu satu-satunya kasultanan (yang masih tegak berdiri di Indonesia) dan ini tidak ada di propinsi lain.” Beruntung lima putri Sultan kompak, saling membantu, dan sering bertukar pikiran demi menata keraton sesuai keahlian masing-masing. 

Sementara untuk dirinya sendiri, Gusti Condrokirono nyaris tidak memiliki ambisi, kecuali menjadi perempuan tangguh. “Semua cita-citaku sudah tidak ada setelah aku menjabat di keraton. Bagiku mengurusi keraton, mengabdi pada keraton itu sudah luar biasa.” Dalam menjalani keseharian, beliau lebih suka mengikuti ke mana aliran membawanya. Ini dibuktikan dengan segera pulang setelah kuliahnya selesai, walau sebenarnya ingin tinggal. “Aku mau coba kerja di Aussie setahun, tetapi (Bapak memerintahkan) 'kamu pulang. Saya menyekolahkan kamu untuk membangun Jogja dan negara'.”

Merawat Anugerah

GKR Condrokirono senantiasa berpikir positif. Beliau menganggap kehidupan adalah anugerah dari Yang Kuasa. Dalam keyakinannya, cobaan yang diberikan merupakan persiapan untuk melangkah lebih maju. “Itu yang kualami sekarang. Kalau berpikir (tentang) yang dulu. Oh aku dulu itu ditempa keadaan seperti itu sampai terpuruk, ternyata disiapkan untuk ini.” Bisa jadi, sambungnya, hasil tempaan itu baru akan kita petik lima atau sepuluh tahun mendatang.  

Gusti Kirono juga sangat menghargai para Abdi Dalem atas ketulusan mereka merawat keraton. Beliau berharap generasi Abdi Dalem muda memiliki visi lebih panjang karena, “Kita tidak hanya berpikir untuk sepuluh atau dua tahun ke depan, tapi lima puluh atau seratus tahun. Bagaimana kita tetap eksis,” pungkasnya.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN