Ragam

KPH Suryahadiningrat, Sang Penjaga Keamanan Keraton Yogyakarta

5157 | Selasa, 27 Oktober 2020 admin

Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa dan salah satu bangunan paling bersejarah di Indonesia membutuhkan pengamanan serius. Tidak hanya terkait fisik, namun juga seluruh aktivitas sosial di dalamnya. KPH Suryahadiningrat, Penghageng II Kawedanan Hageng Punakawan Puraraksa, adalah pimpinan yang bertanggung jawab atas keamanan keraton berikut setiap acara di lingkupnya.

Terlahir sebagai cucu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, RM Aning Sunindyo merupakan salah satu dari dua belas orang yang mendapat gelar KPH (Kanjeng Pangeran Haryo) pada era Sri Sultan Hamengku Buwono X. Semasa kecil beliau akrab dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX muda. “Main di kali Winongo. Dulu seperti kawan sendiri. Setelah (beliau) jumeneng, ada batasan-batasan tertentu,” kenangnya penuh kebahagiaan.

Meski tumbuh dalam keluarga bangsawan, Kanjeng Suryo –panggilan beliau setelah mendapat Nama Paring Dalem—terbiasa bekerja keras sejak kecil. Kanjeng Suryo tidak pernah mendapat keistimewaan. Alih-alih, nyaris seluruh pencapaiannya beliau dapatkan melalui perjuangan mandiri sebagaimana masyarakat kebanyakan. Ini termasuk saat beliau diterima sebagai anggota TNI Angkatan Darat lewat jalur olahraga.

Sejak muda, Kanjeng Suryo mengakrabi olahraga dan seni. Beliau sendiri akhirnya memilih cabang hockey mengikuti jejak sang ayah, GBPH Suryobrongto, yang menjabat sebagai Ketua Hockey Yogyakarta. Tidak main-main, beliau menjadi atlet daerah sejak SD, ikut sebagai kontingen PON DIY, lalu meningkat sebagai atlet nasional dan mengharumkan nama Indonesia pada Asian Games.

Kecintaan pada olahraga rupanya terbentuk oleh keluarga. Kakak dan adik-adiknya pun menjadi pemain hockey. “Kudangan ayah (begini), kamu harus sehat. Kalau kamu sehat, apa pun yang kamu inginkan pasti bisa (tercapai). Yang kedua, orang bodoh itu tidak ada. Yang ada (adalah) orang yang tidak mau belajar.”  Sementara wejangan sang kakek, Sri Sultan HB VIII, yang paling diingatnya adalah, “Kamu harus bisa menari dan berkuda.” Tak heran, Kanjeng Suryo juga piawai menari, bahkan menjadi salah satu penari klasik istana. 

Beliau mengakui latihan yang dijalaninya saat remaja cukup berat. Setelah selesai latihan hockey di sore hari, beliau masih harus belajar menari di keraton. “Itu berat, tapi harus. Guru yang megang saya ada lima orang, termasuk ayahnya sendiri.  Sampai stres, tidak pernah merdeka. Di rumah dan di tempat latihan selalu dilatih.” Berhubung Kanjeng Suryo sering berperan sebagai Arjuna, beliau pun membeli wayang Arjuna dan mempelajarinya demi menjiwai peran. Selain harus memahami karakter tokoh, beliau juga belajar mendengarkan kandha –narasi yang dilantunkan saat pertunjukan--. “Kandha menggambarkan situasi pada masa itu. Secara otomatis kejiwaan akan keluar. Tanpa itu, (jiwa penari) kosong dan penonton akan tahu.”

Dua puluh satu tahun berkarier sebagai penerbang angkatan darat dan ditugaskan ke berbagai wilayah RI bahkan luar negeri, Kanjeng Suryo tertempa sebagai sosok tangguh. Tahun 2000, setelah purnatugas dengan pangkat kolonel, beliau masih dikaryakan sebagai Ka Mawil Hansip DIY. Pada saat itulah beliau diminta kembali ke keraton menjadi Abdi Dalem. Pengalaman kemiliteran dan kepala dinginnya membuat beliau berhasil mengamankan event-event besar, termasuk pelantikan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gurbernur DIY serta Pawiwahan Ageng Putri-putri Dalem. Strategi pengamanan selalu beliau terapkan tanpa terlihat mencolok. Kanjeng Suryo memilih pendekatan efisien, tanpa banyak rapat, dan taktik halus agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada pihak-pihak yang diamankan, termasuk tamu-tamu agung, seperti presiden atau duta negara lain. “Pengamanan keraton seharusnya seperti itu, tidak kelihatan, tapi aman,” jelasnya.

Sepanjang karier kemiliterannya, Kanjeng Suryo pernah menjabat Kasi Operasi Korem Makutoromo Salatiga, lalu menjadi Dandim Sleman, Yogyakarta, dan selanjutnya Wakil Asisten Perencana di Kodam IV, Diponegoro, Semarang. Setelah itu jabatan demi jabatan di Yogyakarta dan Jawa Tengah beliau emban hingga terakhir menjabat sebagai Kadit Sospol DIY. “Karena saya putra daerah, orang keraton, dan Sri Paduka (Pakualaman VIII, Gubernur DIY saat itu) sudah sepuh. Saya harus selalu mendampingi beliau.” Kadit Sospol adalah jabatan yang harus diemban oleh lulusan Sesko (Sekolah Staff Komando AD) yang waktu itu masih sangat sedikit. “Panglima dulu bilang, kalau kita diminta oleh masyarakat, kasih yang terbaik.” Prinsip itu dipegangnya sampai sekarang.

Di luar bidang kerjanya, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Taekwondo Jawa Tengah dan Jakarta. Pengalaman luas membuatnya piawai mengelola organisasi, termasuk saat ditunjuk oleh kesatuannya untuk mengelola koperasi di Kodam Semarang. Pada masa itu beliau mengetuai pembangunan rumah bagi 200 orang anggotanya. Untuk dirinya pribadi, beliau memilih untuk tidak mendapatkannya, ”Saya tidak mau dituduh (korupsi) karena ketua koperasi,” ujarnya. Filosofi tari klasik Yogyakarta nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh rupanya beliau pegang erat demi fokus mencapai tujuan tanpa tergoda pada kebendaan duniawi.

Nilai-Nilai Kemiliteran di Keraton Yogyakarta

Bagi Kanjeng Suryo, struktur organisasi di keraton memiliki kemiripan dengan kemiliteran, misalnya aturan kepangkatan. Dalam memimpin Puraraksa, otomatis nilai-nilai kemiliteran beliau terapkan, seperti kedisiplinan dan konsentrasi pada satu komando. Namun, beliau mengembangkan sikap fleksibel dan terbuka pada perubahan. Dengan demikian, Kanjeng Suryo berhasil memimpin sekitar 400 tenaga keamanan di bawah Tepas Security Puraraksa. “Berkarya bisa di mana saja. Saya berusaha untuk tidak (tampil) sebagai militer di sini, tapi kadang timbul juga militernya,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi peraih penghargaan Bintang kehormatan Kartika Eka Paksi Nararya ini, berkarya di keraton merupakan panggilan hati, “Kalau saya masih bisa bermanfaat untuk keraton, mengapa tidak?”. Beliau mendukung perkembangan modern yang kini sedang terjadi di keraton, seturut kehendak Sri Sultan Hamengku Buwono X agar keraton menjangkau kaum milenial. “Menurut saya kita go saja. Kita sudah (menjangkau) keluar dari lingkungan keraton sendiri. Kita bisa berkomunikasi soal tari, karawitan, dan lain-lain. Ada kekurangan ya, tapi perkembangannya luar biasa.”


Menuju Keraton yang Lebih Baik

Kanjeng Suryo menikah dengan Tuti Asfriani, putri KSAD pada masa itu. Mereka memiliki satu putri dan tiga putra yang kesemuanya menekuni olahraga selain bidang profesional yang mereka geluti. “Saya tidak pernah mengikat anak-anak saya, yang penting bisa berinteraksi dengan baik dengan lingkungan.”

Kanjeng Suryo menghayati pesan almarhum mertuanya yang menyatakan kesuksesan ada di tangan kita masing-masing. “Sekolah secara formal itu bekal, tapi yang mensukseskan kamu itu ya kamu sendiri,” beliau mengutip petuah ayah mertua. Kini Kanjeng Suryo merasa sudah mencapai apa pun yang beliau inginkan, “Jadi penerbang sudah, sekolah tertinggi di angkatan sudah. Saya sudah merasa cukup.” Beliau begitu menikmati kehidupan sebagai tentara meski hal itu tidak memberinya kekayaan berlebih. “Jadi tentara kaya raya itu saru. Wong gajinya kurang, kok kaya. Pandawa lima hanya kalung aja aksesorinya. Biar sederhana tapi kesatria. Tentara itu keras, tapi hatinya baik.”

Untuk keraton beliau memiliki harapan besar. “Saya ingin keraton lestari, paling tidak seperti yang sekarang. Syukur lebih baik lagi.” Kanjeng Suryo memang menyaksikan perbaikan yang terus berlangsung. Dalam pandangannya, ini berarti Keraton Yogyakarta sudah berada di jalur yang benar.

Nasihat Ngarsa Dalem yang beliau pegang teguh adalah merangkul semua kalangan. “Kamu harus bisa mengakomodir (semua orang), walaupun orang tersebut tidak kamu senangi.”

Di bidang kebudayaan, Kanjeng Suryo mendorong agar anak-anak muda fokus pada tujuan. Ini menurutnya, memang sulit dijalani. “Intinya jangan cepat patah di tengah jalan kalau tujuan belum tercapai. Kalau kamu yakin dengan tujuanmu, ya fokus. Ada seribu jalan menuju Roma.” Beliau bahkan memberi tips praktis, seperti menempelkan target-target kita. “Cita-cita harus kita kejar, apa saja,” pungkasnya.

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN