Siklus Hidup

Upacara Mitoni, Tradisi Memuliakan Calon Ibu

663 | Selasa, 01 Februari 2022 admin

Upacara Mitoni disebut juga tingkeban. Mitoni berasal dari kata pitu—tujuh—, dalam Bahasa Jawa. Tradisi Mitoni dijalankan untuk calon ibu pada kehamilan pertama saat janin memasuki usia tujuh bulan. 

Masyarakat umum biasa melaksanakan Mitoni pada hari Rabu atau Sabtu tanggal ganjil berdasarkan penanggalan Jawa sebelum bulan purnama muncul. Sementara di lingkungan Keraton Yogyakarta, upacara Mitoni digelar pada hari Selasa atau Sabtu.


Prosesi Mitoni khas Keraton Yogyakarta

Secara garis besar, rangkaian Mitoni terdiri dari prosesi siraman, ganti busana, brojolan, dan slametan. Sebagian masyarakat masih melaksanakan upacara tersebut sesuai pakem, sedangkan sebagian lainnya menyederhanakan.

Di keraton, tradisi Mitoni terus dilestarikan bagi Putri Dalem (putri Sultan dan Permaisuri) dengan pranatan atau aturan khusus. Berikut rangkaian prosesi Mitoni yang lazim dilaksanakan pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Miyos Dalem, hadirnya Sri Sultan dan Permaisuri (Garwa Dalem) di sasana upacara menandai dimulainya upacara Mitoni. Pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, pendopo Ndalem Kilen Keraton Yogyakarta dipilih sebagai tempat penyelenggaraan. Kemudian digelar pembacaan doa yang dipanjatkan oleh Abdi Dalem Kanca Kaji. Disusul Ngabekten, penghaturan sungkem pangabekti dari Putri Dalem dan Mantu Dalem kepada Sri Sultan, Permaisuri, dan Besan Dalem.


Setelah berganti busana, Putri Dalem bersiap menjalani prosesi Siraman. Prosesi Siraman dilakukan di kerobongan, sebuah bilik upacara berhias aneka tanaman seperti tebu, pisang, dan kelapa cengkir. 

Sementara Putri Dalem berganti busana untuk Siraman, Garwa Dalem dan besan putri menuju kerobongan untuk melakukan Sileman Cengkir. Masing-masing membenamkan sebuah kelapa cengkir bergambar tokoh wayang Kamajaya dan Kamaratih ke dalam air. Garwa Dalem meracik air dan ubarampe yang akan digunakan untuk Siraman (Ngrantun Toya), seperti kelapa ijem, air tujuh sumber, sekar setaman, konyoh manca warna, dan siwur bathok bolong. Selain itu Garwa Dalem dan besan putri juga Nata Lemek Lenggah atau menata alas yang akan diduduki Putri Dalem saat Siraman. Alas ini terdiri atas daun apa-apa, kain letrek, dan klasa bangka. Menurut catatan lain, saat era Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), alas ini disusun dari daun kluwih, daun dadap serep, daun beringin, daun kara, daun andong, daun alang-alang, daun elo, daun maja, daun apa-apa yang ditumpuk jadi satu, kemudian ditutup kain letrek, gadhung mlathi, bango tulak, sembagi (kain cita), mori pali,dan paling atas lurik pliwatan.


Tujuh orang akan mengguyurkan air ke tubuh calon ibu, yaitu Garwa Dalem, besan putri, serta lima orang sesepuh perempuan yang sudah memiliki cucu. Sepanjang prosesi, doa-doa dipanjatkan, memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi. Setelah Siraman, Putri Dalem melakukan Muloni, berwudu dengan air yang dikucurkan dari klenthing oleh Nyai Penghulu (sesepuh putri). Klenthing itu kemudian dibanting ke lantai hingga pecah oleh Garwa Dalem dan besan putri sembari mengucapkan “Saiki wis pecah pamore”. Prosesi ini disebut Mecah Pamor.

Selepas Siraman, Putri Dalem berganti Busana Kering dan rambutnya ditata dengan model ukel tekuk. Mantu Dalem mengenakan busana pranakan lurik pangeran dengan kain nyamping (kain jarik) senada. Keduanya bersiap menjalani prosesi Pantes-pantes. Putri Dalem akan mencoba nyamping dan kain semekan sebanyak tujuh kali. Setiap kali Putri Dalem berganti nyamping dan semekan, para tamu akan ditanyai, “Sampun pantes dereng?” (Apakah busana tersebut sudah pantas?). Para tamu akan berseru untuk nyamping dan semekan pertama hingga ke enam dengan jawaban “Dereng,” (Belum pantas). Sedangkan yang ketujuh, yaitu kain lurik, dianggap paling pantas sehingga hadirin menjawab, “Sampun pantes,” (Sudah pantas).

Busana kain lurik yang dikenakan Putri Dalem ditambahi ikat pinggang dari janur kuning untuk prosesi Nigas Janur, yaitu memotong janur kuning yang dilingkarkan di perut calon ibu. Mantu Dalem akan memotong janur itu dengan keris dhapur brojol yang bagian ujungnya diberi kunir/kunyit. Mantu Dalem kemudian mundur tiga langkah dan berbalik cepat untuk lari lurus ke luar pintu.

Dua buah kelapa berukir gambar Kamajaya dan Kamaratih ditelusupkan di antara perut dan rongga kain lurik yang dikenakan Putri Dalem lalu diterima oleh Garwa Dalem serta besan putri. Prosesi Brojolan ini menyimbolkan harapan agar calon bayi lahir dengan mudah. Kelapa cengkir yang berada di tangan Garwa Dalem dan besan putri kemudian digendong dengan cara ‘diemban’, seperti menggendong bayi, menuju kamar Putri Dalem. Prosesi ini dinamakan Boyong Cengkir.

Kain-kain yang dianggap kurang pantas dikenakan saat acara Pantes-pantes sebelumnya dijatuhkan bertumpuk di lantai. Putri Dalem diminta duduk  di atas tumpukan kain itu sambil menyantap jenang procot. Prosesi ini disebut Lenggah Petarangan. Selepas itu, Putri Dalem dan suami bersama-sama Boyong Petarangan, yaitu membawa tumpukan kain tersebut ke kamar.

Saat Putri Dalem dan Mantu Dalem kembali berganti busana, Dhahar Rogoh dilaksanakan sebagai prosesi terakhir. Sembilan orang sesepuh diminta mengambil nasi dan sebutir telur dari dalam klenthing. Sembilan melambangkan banyaknya bulan yang dilalui bayi dalam rahim sebelum dilahirkan. Selesai berganti pakaian, Putri Dalem dan Mantu Dalem selaku penyelenggara upacara menyambut serta mempersilakan hadirin menyantap hidangan (Handrawina). 


Mitoni, Pengharapan Keselamatan Ibu dan Calon Bayi

Filosofi Jawa menempatkan kehamilan sebagai tahap penting dalam daur hidup. Setiap prosesi dalam upacara Mitoni secara langsung maupun simbolik bertujuan memohon rahmat dan keselamatan bagi ibu serta calon bayi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga pengharapan agar proses kelahiran berlangsung dengan lancar tanpa hambatan.




Daftar Pustaka
Albiladiyah, S. Ilmi . 1980/1981. Ruwatan Sebuah Upacara Adat Di Jawa: Upacara Inisiasi Dalam Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Balai Penelitian Sejarah dan Budaya.
Bratawidjaja, Thomas Wiyasa. 2000. Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 
Gardjito, Murdijati., dkk. 2017. Kuliner Yogyakarta – Pantas dikenang Sepanjang Masa.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Herawati, Isni. 2007. Makna Simbolik Sajen Slametan Tingkeban. Jantra – Jurnal Sejarah dan Budaya. Vol. II, No.3, 145-151
Pranatan Lampah-Lampah Upacara Tingkeban/Mitoni GKR Hayu & KPH Notonegoro Tahun 2019.
Sumarno & Titi Mumfangati. 2016. Potret Pengasuhan Anak Sejak dalam Kandungan Hingga Remaja pada Masyarakat Jawa: Kajian Serat Tata Cara. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Wawancara dengan Nyi KRT Hamong Tedjonegoro pada Juni 2019 yang bersumber dari buku/catatan R.A. Retno Winardi (Garwa Ampeyan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VII).  

TATA PEMERINTAHAN