Warisan Budaya Tak Benda

Gendhing Kurmat Dalem

518 | Kamis, 23 Juli 2020 admin

Gendhing Kurmat Dalem dilantunkan khusus untuk menghormati Sri Sultan saat beliau Miyos Dalem, berjalan keluar dari kediaman untuk menghadiri upacara adat atau menyambut tamu di keraton, dan Jengkar Dalem, beranjak dari dhampar (singgasana) untuk kembali ke kediaman atau kondur kedhaton. Gendhing-gendhing terlantun dari perangkat Gangsa Ageng. Ada empat gendhing penghormatan, dua diantaranya yakni Prabu Mataram dan Sri Kondur digubah oleh KRT Wiroguno, ahli karawitan pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

1. Gendhing Prabu Mataram Laras Slendro, Pathet Sanga, Kendhangan Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Prabu Mataram
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Sanga
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran dan Lirihan
Deskripsi Naratif

Gendhing Prabu Mataram adalah salah satu gendhing penghormatan yang mengiringi miyosnya Sri Sultan. ‘Prabu’ berarti raja, sedangkan ‘Mataram’ merupakan dinasti cikal bakal Keraton Yogyakarta. Gendhing ini dibunyikan apabila Sri Sultan miyos tanpa didampingi siapa pun. Pada awalnya, gendhing penghormatan yang dibawakan adalah Ketawang Gajah Endra, laras slendro, pathet sanga.

Apabila Sri Sultan telah hadir dalam suatu upacara di keraton, seorang Abdi Dalem akan berseru “Rausss!” yang berarti ‘muncul’. Ini menjadi aba-aba dimulainya Gendhing Prabu Mataram; diawali dengan buka bonang, disusul lantunan irama I pada bagian umpak gendhing, lalu berubah rep menjadi irama II ketika Sri Sultan telah ‘lenggah dhampar’ atau duduk di singgasana. Bagian ngelik dengan syair koor menyusul sampai suwuk (berhenti). Barulah upacara dimulai.

Saat pertama kali diciptakan oleh KRT Wiroguno pada 1865 Wawu/1934 Masehi, Gendhing Prabu Mataram berpola kendhangan monggang, irama ketawang, kendhang kalih. Kemudian atas kehendak Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, gendhing tersebut digubah oleh KRT Purbaningrat menjadi pola kendhangan ladrang. Gendhing ini dibunyikan secara soran dan lirihan.

2. Gendhing Raja Manggala, Laras Pelog, Pathet Nem, Kendhangan Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Raja Manggala
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Nem
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran dan Lirihan
Deskripsi Naratif

Gendhing Raja Manggala juga mengiringi Sri Sultan pada saat miyos. ‘Raja Manggala’ berarti pemimpin atau raja utama. Gendhing ini mengalun ketika Sri Sultan miyos untuk menerima tamu kerajaan. Penyajiannya serupa Gendhing Prabu Mataram.

Apabila Sri Sultan telah hadir untuk menerima tamu kerajaan, seorang Abdi Dalem akan berseru “Rausss!” dan Gendhing Raja Manggala segera mengalun. Gendhing ini diawali dengan buka bonang, kemudian dilantunkan dengan irama I pada bagian umpak gendhing, lalu berubah rep menjadi irama II ketika Sri Sultan telah lenggah dhampar. Setelah itu bagian ngelik dilantunkan dengan syair koor sampai suwuk (berhenti). Gendhing ini dibunyikan secara soran dan lirihan.

3. Gendhing Tedhak Saking, Laras Pelog, Pathet Barang, Kendhangan Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Tedhak Saking
Nama Laras Pelog
Nama Pathet Barang
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Tedhak Saking mengiringi Sri Sultan pada saat jengkar. Kata ‘Tedhak Saking’ mempunyai arti ‘beranjak dari’. Apabila Sri Sultan telah beranjak dari singgasana, maka Abdi Dalem Wiyaga (penabuh gamelan) segera melantunkan Gendhing Tedhak Saking sampai selesai. Gendhing yang dibunyikan secara soran ini berperan sebagai penutup dan menjadi satu rangkaian dengan Gendhing Raja Manggala sebagai pembuka.

4. Gendhing Sri Kondur, Laras Slendro, Pathet Manyura, Kendhangan Ladrang, Kendhang Kalih.

Nama Gendhing Sri Kondur
Nama Laras Slendro
Nama Pathet Manyura
Jenis Kendhangan Ladrang
Jenis Kendhang Kalih
Cara Menabuh Soran
Deskripsi Naratif

Gendhing Sri Kondur juga diperdengarkan untuk mengiringi Sri Sultan jengkar. ‘Sri’ berarti raja, sedangkan ‘kondur’ berarti pulang. Apabila Sri Sultan telah beranjak dari singgasana, maka Abdi Dalem Wiyaga segera melantunkan Gendhing Sri Kondur sampai selesai. Gendhing ini diciptakan oleh KRT Wiroguno pada 1851 Alip/1920 Masehi. Dibunyikan secara soran, gendhing ini menjadi penutup berpasangan dengan Gendhing Prabu Mataram sebagai pembuka.


Sumber : Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 30 Juli 2018

TATA PEMERINTAHAN