Tata Rakiting Wewangunan

Makam Imogiri, Peristirahatan Raja-Raja Mataram

110 | Selasa, 26 November 2019 admin

Makam Imogiri, atau Pasarean Imogiri, adalah lokasi peristirahatan terakhir Raja-Raja Mataram dan keluarganya. Kompleks pemakaman ini terletak kurang lebih 16 km di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di wilayah Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Imogiri berasal dari kata hima dan giri. Hima berarti kabut dan giri berarti gunung, sehingga Imogiri bisa diartikan sebagai gunung yang diselimuti kabut.

Pemilihan bukit sebagai lokasi makam tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat Jawa pra Hindu yang memandang bukit, atau tempat yang tinggi, sebagai suatu tempat yang sakral dan menjadi tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Selain itu, pemilihan lokasi di tempat yang tinggi pun merupakan salah satu bentuk kepercayaan masyarakat Hindu yang menganggap semakin tinggi tempat pemakaman, maka semakin tinggi pula derajat kemuliaannya.


Pasarean Imogiri dibangun pada tahun 1632, pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645). Pembangunan kompleks makam dipimpin oleh Kiai Tumenggung Citrokusumo, arsitekturnya merupakan perpaduan antara Hindu dan Islam. Bata merah yang mendominasi area makam bagian atas merupakan ciri utama arsitektur Islam Jawa atau arsitektur Islam Hindu pada abad ke-17. 

Batu bata yang menyusun bangunan Pasarean Imogiri tidak direkatkan menggunakan spesi khusus seperti semen. Diduga batu-batu bata tersebut disusun dengan metode kosod. Permukaan bata yang satu digosokkan dengan permukaan bata yang lain dengan diberi sedikit air hingga keluar semacam cairan pekat. Cairan pekat inilah yang kemudian melekatkan satu bata dengan bata lainnya. Metode ini dimungkinkan karena adanya campuran khusus pada bata masa itu yang tidak lagi terdapat pada bata masa kini. 

Lokasi yang berada di atas bukit membuat jalan menuju Pesarean Imogiri memiliki ratusan anak tangga. Anak-anak tangga ini dibuat pendek, kemungkinan untuk memudahkan para peziarah yang  mengenakan pakaian adat. Aturan untuk mengenakan pakaian adat tesebut masih berlaku sampai saat ini untuk area-area tertentu.


Garis anak tangga dan posisi antar gapura menuju pemakaman, dari bawah hingga ke atas, membentuk sebuah garis lurus. Gapura-gapura tersebut menjadi batas wilayah bagi area-area dalam pemakaman. 

Area pertama merupakan ruang publik yang ditandai dengan adanya gapura supit urang sebagai jalan masuk menuju kompleks Kasultanagungan. Area kedua adalah area semi sakral bernama Srimanganti yang ditandai dengan gapura paduraksa. Berbeda dengan gapura supit urang, gapura paduraksa memiliki atap. Semua gapura paduraksa pada Pasarean Imogiri memiliki daun pintu yang bisa dibuka tutup dan ornamen sayap pada kedua sisinya. Ornamen sayap ini melambangkan sayap burung yang menjadi lambang lepasnya burung dari sangkar, sebuah filosofi jawa dalam memandang arwah yang lepas dari badan. Di atas area semi sakral tersebut terdapat area sakral yang disebut sebagai Kedhaton. Di area sakral dan semi sakral inilah terdapat makam para Raja dan keluarga terdekatnya.

Raja yang pertama kali disemayamkan pada Pasarean Imogiri adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pemakaman ini kemudian digunakan oleh Raja-Raja penerusnya, bahkan ketika Kerajaan Mataram dibagi menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pembagian kerajaan ini kemudian turut membagi wilayah pemakaman. 

Saat ini Pasarean Imogiri terdiri dari beberapa kompleks utama yaitu Kasultanagungan, Pakubuwanan, Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta. Di kompleks makam Raja-raja Kasultanan Yogyakarta, terdapat tiga Astana atau Kedhaton sebagai ruang inti pemakaman Sultan,  yaitu:

  1. Kedhaton Kasuwargan, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Sri Sultan Hamengku Buwana III.
  2. Kedhaton Besiyaran, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana IV, Sri Sultan Hamengku Buwana V, dan Sri Sultan Hamengku Buwana VI.
  3. Kedhaton Saptarengga, sebagai makam Sri Sultan Hamengku Buwana VII, Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, Sri Sultan Hamengku Buwana IX.

Sementara Sri Sultan Hamengku Buwana II yang wafat pada tahun 1828 dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Mataram Kotagede.


Ratusan tahun berdiri di puncak bukit, Pasarean Imogiri menjadi saksi kejayaan dan pasang surut Mataram beserta kerajaan-kerajaan penerusnya. Meski ibu kota kerajaan berpindah berkali-kali dan bahkan kerajaan terbagi, namun Raja-Raja pada masa lalu tersebut tetap berpulang pada satu tempat peristirahatan terakhir yang sama. Kebesaran nama, warisan kearifan, dan kisah perjuangan mereka terpahat abadi di puncak Imogiri.


Daftar Pustaka:

Arif Gunawan, et.al, 2013. Spatial Analysis to Predict Conservation Heritage’s Damage of “Imogiri Graves” by using Microtremor Measurements, Jurnal Tata Kota dan Daerah Volume 5. 
Danapratapa. Episode “Abadi di Puncak Imogiri” produksi Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta 2017
Sektiadi, SS, M.Hum., 2012, http://sektiadi.staff.ugm.ac.id/2012/09/makam-imogiri/ diakses pada 07 November 2017
Wawancara dengan RAy Norma Saptawati, RM Ari Setowahyono, RW Purwosemantri, KRT Mandyakusuma pada 2016

Related Articles

TATA PEMERINTAHAN