Nyi Raden Wedana Kartiutami: Peran Ibu dalam Pewarisan Nilai-Nilai Budaya
- 30-12-2025
Erwita Danu Gondohutami memiliki berbagai peran dalam hidupnya. Ia perempuan pekerja sekaligus Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Namun, terutama, ia adalah seorang istri dan ibu.
Dengan berseloroh, ia menyebut dirinya menjadi Abdi Dalem lewat “jalur skripsi”. Beberapa tahun lalu, untuk tugas akhir kuliahnya di Jurusan Komunikasi, Universitas Gadjah Mada, ia meneliti media sosial Keraton Yogyakarta. Seusai riset, Carik Kawedanan Tandha Yekti (KTY) bertanya apakah ia bersedia membantu di keraton. Kebetulan Kawedanan Kridamardawa membutuhkan tambahan Abdi Dalem. “Waktu itu dipandang kalau saya bantu di Krida tidak begitu kagok karena sudah kenal dengan orang-orangnya,” tutur Wita. Wajar, semasa remaja Wita pernah berlatih menari di Kridamardawa, mengikuti para kerabatnya yang banyak menjadi penari keraton.

Akhir tahun 2018, Wita mulai magang di kawedanan kesenian tersebut. Ia bertugas menangangi manuskrip terkait seni pertunjukan yang tersimpan di Perpustakaan Kridamardawa. Tahun berikutnya, ia diwisuda dengan pangkat jajar dan dianugerahi Nama Paring Dalem Erwitakartiutami. Ia diangkat sebagai Pangarsa Urusan Pariwara yang bertanggung jawab atas publikasi dan dokumentasi kegiatan seni. Karenanya, ia menjadi jembatan komunikasi antara Kawedanan Kridamardawa dan Kawedanan Tandha Yekti yang mengelola data dan informasi.
Sekitar 2022, seiring dengan meredanya pandemi, Kridamardawa menggelar banyak agenda. GKR Hayu, Penghageng KTY, menerbitkan instruksi untuk membuat akun medsos khusus sebagai media publikasi, salah satunya akun Instagram kratonjogja.event. Wita ditunjuk sebagai admin akun tersebut. Besarnya peran Wita dalam publikasi agenda membawanya liyer atau pindah tugas secara penuh ke KTY per Januari 2026. Di posisi barunya, ia diamanahi tugas sebagai Pengajeng Hudyanawara, yaitu Pengajeng laman website, media sosial, dan media center. Ia kemudian memperoleh Nama Paring Dalem baru, Nyi Raden Wedana Kartiutami Guritno.

Corong Keraton untuk Masyarakat
Selama bertugas, Wita gesit mengoordinasikan pesan antara pengelola pertunjukan Kridamardawa dan juru dokumentasi Tandha Yekti. Agenda pertunjukan dalam setahun biasanya sudah disusun sejak awal, tetapi dalam perjalanannya bisa terjadi perubahan. Karenanya setiap masuk bulan baru, ia mencermati daftar kegiatan dalam bulan tersebut, lalu menghubungi Pangarsa Palakerti atau pemimpin produksinya. “Dirinci kebutuhannya apa. Ada yang kebutuhannya live streaming, ada yang kebutuhannya siaran tunda dan kira-kira nyuwun tulung ke Kawedanan Tandha Yekti-nya apa, lalu dikomunikasikan. Misal, kalau ada yang kebutuhannya live streaming, saya bilang event-nya ini, tanggal segini, pimpronya ini, kebutuhannya ini.”
Wita juga membuat pengumuman di media sosial. Ia dan tim bekerja sama untuk membuat desain, menyusun takarir (caption), serta mengatur jadwal penayangannya. “Kira-kira ayahan mana dulu yang dipromosikan. Kalau waktunya berdempetan, ya berarti tinggal mengatur jadwal postingan.” Bila ada event besar, tim publikasi akan menerbitkan press release serta mengundang media.
Tim riset Kridamardawa dan Kawedanan Tandha Yekti secara insidental juga menerbitkan infografis, buku program, leaflet, dan lain sebagainya. Beberapa buku yang telah mereka hasilkan di antaranya; Awisan Dalem Bathik Vol. 1 - Motif Parang, TRUNAJAYA: Rias dan Busana Kagungan Dalem Beksan Trunajaya (Lawung Alit, Lawung Ageng, Sekar Medura), Katalog Busana Aparatur Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat, Yasan Dalem Enggal Bedhaya Mintaraga, dan Beksan Ajisaka: Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. “Terutama kalau Sinuwun ada yasa beksan baru, kadang-kadang kita dokumentasikan,” Wita menambahkan.
Sebagaimana pekerjaan apa pun, menjadi publisis memiliki sisi-sisi menantang. Mengatur alur publikasi pada periode padat kegiatan adalah salah satunya. “Itu cukup challenging membaginya. Yang mana dulu, nih yang mau dipromosikan. Terus juga karena event-event-nya (terkadang) mirip, kalau nggak hati-hati, bisa tertukar.” Warganet yang tidak sabar seringkali melontarkan pertanyaan atau pendapat dan menuntut respons cepat, “Padahal kita tuh sebenarnya sedang mempersiapkan dan menggodok itu. Jadi kayak (harus bersikap) … sabar.”
Pengelolaan emosi sangat vital bagi publisis seperti Wita karena ia dan tim tidak hanya berkomunikasi dengan masyarakat lewat dunia maya, tetapi juga dunia nyata. Ibu muda satu anak ini misalnya pernah harus menghadapi calon penonton yang mengantre tiket konser YRO berjam-jam sebelum loket dibuka saking antusiasnya. “Bagaimana caranya agar kita bisa meng-handle orang yang mengantre dari jam 12 dan jam 6 baru dapat,” kenangnya. Terkadang ia juga harus menghadapi calon penonton yang kecewa karena tidak mendapat tiket, padahal sudah datang dari jauh. Meski sedih dan bersimpati, Wita harus tetap ramah dan profesional. “Lebih ke maintain dan handle untuk stres, emosi. Sama bagaimana caranya kita tetap memberikan pelayanan yang baik pada masyarakat dengan keterbatasan kami,” ujarnya lebih jauh.

Pembawa Acara Istana
Wita tak pernah menyangka menjadi Abdi Dalem mengantarnya ke berbagai kesempatan istimewa, salah satunya adalah menjadi pewara di berbagai agenda keraton. Memandu acara merupakan tugas tambahan yang tak pernah ini sangka. Namun, hal ini tak lepas dari keterampilan dan pengalaman Wita dalam public speaking.
Wita gemar menjadi MC sejak kecil. Dengan cerdas, ia mengaplikasikan hobi itu sebagai profesi. Sejak kuliah, ia sudah bekerja sebagai penyiar radio di JIZ FM dan pembaca berita di Jogja TV pada 2019. Meski sudah sering membawakan acara, Wita tetap tak percaya ketika pertama kali didhapuk menjadi MC di keraton. Ia mengingatnya sebagai pengalaman paling berkesan selama menjadi Abdi Dalem. Sewaktu kecil ia sering melihat pertunjukan di keraton dan ketika remaja, beberapa kali ikut pementasan tari, tetapi ia tak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di panggung sebagai MC.
Debutnya sebagai MC keraton terlaksana pada Pameran Sekaten 2019. “Waktu itu pertama kali berpatner dengan KRT Widyo Pranasworo yang sudah bertahun-tahun menjadi MC, MC senior. Rasanya seperti, wah, beneran ini aku.” Kehadiran Sri Sultan Hamengku Bawano Ka 10 membuat pengalaman tersebut makin istimewa bagi Wita. “Di kemudian hari jadi MC lagi, MC lagi, rasanya kayak, wah nggak pernah membayangkan sebelumnya akan jadi seperti ini. Ada speechless-nya. Wah, benar-benar jalan hidup seseorang itu nggak ada yang tahu.”
Multiperan Perempuan
Wita lahir dan besar di Balikpapan, tetapi kini ia dan keluarga kecilnya tinggal di Gedongkiwo. Kedua kampung tersebut tak jauh dari keraton. Ia terbiasa berangkat ke keraton dengan sepeda motor atau transportasi lain sesuai kebutuhan. Jadwal kerjanya berlangsung dari Senin-Sabtu dengan kombinasi bekerja di keraton dan dari rumah. Ia mendapat kelonggaran dari KPH Notonegoro, Penghageng Kridamardawa, setelah melahirkan putranya pada 2021, “Karena tepas (kantor) itu kan wajibnya marak sowan seminggu empat kali. Ya udah, ke keraton empat kali, tetapi yang lainnya tetap kerja remote,” kata Wita mengutip lilah yang diberikan oleh KPH Notonegoro.
Tugasnya di radio dan televisi ia jalani selepas jam kerja di keraton dan pada akhir pekan. Dengan dukungan keluarga, Wita dapat menjalankan semua perannya dengan baik. Ia mengatur jadwal bersama suaminya yang berprofesi sebagai dosen hingga anak mereka sebisa mungkin diasuh oleh orang tuanya. Bila jadwal kerja mereka berbarengan, Anan, putranya dititipkan kepada kakek-neneknya. Bila itu pun tidak memungkinkan, Anan mereka ajak ke tempat kerja, termasuk ke keraton. Wita ingat ia membawa putranya ke keraton pertama kali saat ia masih bayi enam bulan untuk menghadiri rapat. “Kanjeng Noto (menyampaikan) nggak papa dibawa saja. Karena sudah mendapat izin, akhirnya saya bawa.”
Hingga hari ini terkadang Wita mengajak anak laki-lakinya tersebut bekerja di keraton. Anan yang lahir di keluarga besar Abdi Dalem bertambah akrab dengan lingkungan keraton. Secara alamiah, ia tumbuh mencintai seni tradisional. Kebetulan suami Wita sempat mengikuti pendidikan di Habirandha (sekolah pedalangan Keraton Yogyakarta) sehingga mereka memiliki beberapa buah wayang di rumah. Anan pun bersemangat bila ke keraton dan mendengar lantunan gamelan atau menonton pertunjukan wayang kulit. Otomatis, ia juga belajar mengenai unggah-ungguh keraton.

Ibu sebagai Madrasah Utama
Praktik mengasuh anak dan bekerja tentu tak selalu semudah dan seindah bayangan. Wita pun merasakan demikian. “Sebenarnya tantangan tersendiri karena namanya juga anak, tidak mau pisah sama ibunya. Kalau aku masih harus mengerjakan sesuatu kadang dia udah capek, Ibuk ayo pulang padahal kerjaan belum selesai. Kadang dia (mengeluh) bosan-bosan karena aku banyak kerja administratif dengan komputer. Kadang-kadang (dia bilang), Ibuk aku ingin nonton prajurit di komputernya Ibu. Waduh.” Namun, ia bersyukur karena Abdi Dalem lainnya menyambut mereka dengan terbuka dan sering membantunya mengasuh Anan.
Wita berpendapat bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua, tetapi ia meyakini ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. “Jadi peran ibu sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai budaya untuk pertama kalinya pada anak. Sesimpel mengenalkan tata krama, unggah-ungguh, suba sita sejak dini,” jelasnya. Itulah mengapa, bagi Wita, dari sekian peran yang ia emban, menjadi ibu adalah prioritas baginya. “Memang selalu aku tekankan, yang aku full time adalah menjadi ibu dan istri. Yang lain adalah sampiran.”
Ia mengakui, terkadang ia mengalami dilema saat harus memilih antara kepentingan keluarga dan pekerjaan. Ia harus bernegoisasi agar semuanya tetap berjalan baik. Tak dimungkiri perasaan bersalah pun kadang terselip bila harus mengajak putranya ke tempat kerja, “Kayak aduh bagaimana ya, kok aku begini amat jadi ibu, tapi di sisi lain dianya kooperatif, nggak rewel, malah senang, malah dia merasa dapat kegiatan baru.”
Sabar dan Teguh
Mengabdi di keraton mendatangkan banyak pelajaran bagi Wita dan pelajaran terbesarnya adalah bagaimana bersikap sareh, semeleh, dan teguh. Ini bukan hal yang mudah karena sebagai admin media sosial, ia dituntut bergerak cepat mengikuti ritme budaya online. “Di keraton itu, kalau kita serba kesusu, wis gek ndang ngene-ngene, itu malah hasilnya nggak maksimal. Jadi aku banyak belajar untuk sabar, sareh, semeleh, nggak kesusu.”
Sementara, keteguhan ia pelajari dari bertemu dengan banyak orang yang tak selalu memiliki pandangan sejalan. “Ada satu masa di mana saya sempat memusingkan hal itu, tapi lama-lama sambil jalan jadi banyak belajar. Mereka yang senior bisa tetap jalan di jalannya dengan baik tanpa memusingkan hal lain. Berarti aku harus bisa belajar itu juga,” simpulnya. Filosofi keteguhan khas keraton “greget nyawiji sengguh ora mingkuh” langsung terinternalisasi dalam dirinya walau tak pernah dengan sengaja ia pelajari.
Wita menyampaikan ada banyak jalan untuk nguri-nguri atau melestarikan budaya, tanpa harus menjadi Abdi Dalem. “Bahkan dengan datang mengapresiasi acara keraton, nonton orkestra, wayang wong, wayang kulit, atau bikin konten pas nonton Uyon-uyon Hadiluhung misalnya, itu sudah jadi bagian dari melestarikan budaya.” Ia pun menyatakan kegembiraan atas meningkatnya antusiasme penonton muda yang tergolong generasi Z atau malah lebih muda.
Bila ada kesempatan, Wita berharap untuk bisa kuliah di jenjang yang lebih tinggi, bila memungkinkan di luar negeri, “Karena aku suka belajar. Sejak kecil suka belajar. Rasanya tuh nggak puas, ingin belajar lagi, sekolah lagi.” Di tangan ibu yang memiliki kecintaan terhadap budaya dan pengetahuan, generasi mendatang akan memiliki karakter tangguh dan potensi tanpa batas.