Arif Afandi, Prajurit Surakarsa: Menemukan Teman dan Kebahagiaan Lewat Jalan Keprajuritan
Terpesona keindahan konser Yogyakarta Royal Orchestra, Arif Afandi tergerak untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya Jawa di Keraton Yogyakarta. Juni 2024, kelompok orkestra Keraton Yogyakarta menggelar konser Paramaswara di Taman Bendungan Kamijoro, Kulon Progo. Arif Afandi, warga setempat, kehabisan tiket. Namun, pesona orkestra istana itu tetap menjeratnya. “Mau registrasi tapi nggak dapat, terus mikir, kayaknya asyik juga jadi Abdi Dalem,” kenangnya.
Arif mengutarakan keinginan tersebut kepada temannya yang kebetulan sudah menjadi Abdi Dalem. Dari temannya tersebut ia mendapat informasi pembukaan bregada prajurit. “Akhir tahun 2023 sudah dikasih tahu ada pembukaan untuk prajurit, tapi belum masukkan (lamaran), soalnya harus ada rekomendasi dari bregada rakyat. Tahun berikutnya tidak harus pakai rekomendasi, jadi lebih mudah.”
Setelah memasukkan berkas pada akhir 2024, Arif mengikuti seleksi dan diterima. Saat itu, pengetahuannya tentang keraton nyaris nol. Ia juga tak punya satu kerabat pun yang pernah menjadi Abdi Dalem. Masuk sambil belajar, akhirnya itulah yang ia lakukan. “Sebelumnya aku nggak tahu sama sekali, lihat garebeg saja sampai umur sekarang itu baru dua atau tiga kali,” ujarnya. Ia bahkan tidak tahu bahwa Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan-kesatuan prajurit atau bregada, mulai dari Wirabraja sampai Surakarsa.
Arif termasuk dalam Rambah IV (angkatan empat) yang dihitung sejak 2024 hingga awal 2025, sebulan sebelum Ramadan, rambah empat mulai berlatih. Arif ditempatkan di Bregada Surakarsa. Mereka diharapkan untuk tampil perdana pada Garebeg Sawal tahun tersebut.
Selain dilatih baris-berbaris, Arif juga belajar membawa waos (tombak) sesuai dengan tugasnya di bregada tersebut. “Rambah IV itu dipisah-pisah. Ada yang jadi pendherek, ada yang jadi arahan di Kamandungan, ada yang di Magangan, ada yang di Pagelaran, Mangkubumen, dan Kedhaton. Aku mendapat bagian di Mangkubumen, stand by di sana.”
Aba-aba yang dalam bahasa Jawa yang terasa asing di telinga Arif menjadi hambatan terbesarnya pada awal latihan. Ia harus membiasakan diri dengan istilah-istilah baru, seperti nikung nekuk, nikung balik kanan dan kiri.
Tantangan lainnya adalah komitmen waktu setiap akhir pekan. “Kita harus meluangkan waktu setiap Sabtu – Minggu untuk proses seleksi masuk bregada dan itu ada 13 pertemuan.”
Pada penugasan pertamanya, Arif bertugas sebagai arahan atau prajurit jaga. “Semacam Liaison Officer, lah,” terangnya. Untuk tugas ini, ia mengenakan busana pranakan, bukan seragam prajurit.
Sekitar dua bulan kemudian, dalam Garebeg Besar, masih dalam status magang, ia ditempatkan sebagai pendherek (pengikut) di Bregada Nyutra. Ia mendapat tugas membawa kotak regalia.

Lincah Membagi Waktu
Arif bekerja sebagai resepsionis hotel di Prawirotaman. Baginya, situasi ini menguntungkan karena jarak dari tempat kerjanya ke keraton terhitung dekat, sementara jarak rumahnya di Kulon Progo ke pusat kota lumayan jauh, sekitar lima puluh menit perjalanan dengan motor. Kemudahan akses perjalanan dari tempat kerja ke keraton ini menjadi salah satu pendorongnya untuk mengabdikan diri menjadi prajurit. Jam kerjanya yang berlangsung dari pukul 07.00 – 15.00 WIB memungkinkannya untuk menghadiri latihan keprajuritan di keraton yang biasanya berlangsung sore pada akhir pekan. Ia juga bisa menghadiri latihan rutin jemparingan (panahan tradisi) sebagai olah keprajuritan pilihan serta tugas penjagaan keraton setiap dua puluh hari sekali.
Bila ada kegiatan lain di luar rutinitas, ia akan mengatur waktunya sebaik mungkin, termasuk menukar jadwal kerja bila memungkinkan. “Sebelum mulai latihan, dari keraton sudah pengumuman (jadwal), tanggal ini, tanggal ini. Aku menyesuaikan jadwal.”
Waktu luangnya ia manfaatkan untuk refreshing bersama istri, “Di rumah saja sama istri, kadang ya jalan-jalan.” Untuk menjaga kebugaran, Arif memilih jalan kaki seminggu dua atau tiga kali.

Viral
Meski belum lama mengabdi, Arif sudah merasa nyaman berada di lingkungan Keraton. Ia menemukan teman-teman yang menyenangkan dan mendapat berbagai pengalaman mengesankan.
Salah satunya adalah momen Ngabekten (upacara penghormatan kepada Sri Sultan) selama berlangsungnya Garebeg Sawal di Kedhaton (area inti keraton). “Itu yang paling memorable,” tuturnya.
Yang juga istimewa adalah berfoto bersama GKR Bendara. “Pas Garebeg Sawal di Mangkubumen, saya dan teman-teman arahan yang bertugas di sana langsung diajak foto sama GKR Bendara. Teman-teman pada iri, kan diupload di IG-nya GKR Bendara juga. (Mereka berkomentar) rambah papat wis diajak foto.”
Namun, yang paling berkesan adalah tugas untuk menjadi peraga dalam Pentas Musikan Kamardikan: Gending & Busana Prajurit yang diselenggarakan di Bangsal Pagelaran, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Dalam acara ini seragam prajurit keraton yang sudah direstorasi sesuai langgam aslinya ditampilkan di hadapan khalayak. Yang diperbarui tak hanya busana keprajuritan, tetapi juga senjata tombak (waos) yang dulunya tidak ada bendera, sekarang ditambah dengan bendera.
Arif membawakan seragam Bregada Surakarsa yang baru. Beberapa perbedaan yang terdapat pada busana Surakarsa yang baru antara lain penutup kepala yang sekarang merupakan kombinasi antara udheng cekok tanpa linciran dan topi pet. Warna kemejanya juga sedikit berbeda. Bila sebelumnya berwarna putih gading, kini putih tulang. Motif kain sinjang sapit urang yang dulu kotak-kotak hitam, sekarang diganti menjadi motif Parang Seling. Bentuk celana juga mengalami perubahan, yang dulunya celana panji pendek, kini diubah menjadi celana panjang putih.
Arif mengingat momentum lucu saat KPH Notonegoro menggodanya sewaktu ia hendak memasuki panggung. KPH Notonegoro berseloroh, “Nanti, nek ndompo (mbagong), diuncali sandal.” (Kalau menunduk, dilempar sandal). Ujaran itu akhirnya menjadi menjadi candaan internal yang sering diulang untuk saling menggoda, “Kalau ndompo, dilempar sandal.”
Pada Garebeg Mulud (September 2025), Arif mengunggah fotonya saat bertugas pawai di medsos yang menuai banyak likes. KPH Notonegoro pun menyampaikan komentar bahwa keviralannya bisa jadi disebabkan oleh seragam baru yang lebih menarik. “Lebih bagus sekarang kan (seragamnya). Kalau yang dulu pasti kamu nggak viral,” ujar beliau bercanda.

Bangga Berbusana Jawa
Setelah menjadi prajurit, Arif belajar untuk makin disiplin terkait waktu. “Bagi waktunya harus tepat, soalnya kalau nggak, ajur semua. Nanti kerjaan keteteran, di keraton juga keteteran.”
Ia juga mendapatkan wawasan lebih mengenai budaya Jawa, termasuk kebiasaan mengenakan busana tradisional. Terkait hal ini, ia merasa termakan omongan sendiri. Sebelumnya, ia tidak menyukai pakaian adat Jawa. “Aku pakai baju Jawa selain waktu menikah itu pas perpisahan (sekolah) dan peringatan Hari Kartini, dan itu rasanya kayak terpaksa. Di luar itu nggak pernah. Satu kali itu pas udah mau daftar di keraton, karena ada acara bersih dusun. Itu kan ada danais, terus harus memakai pakaian Jawa itu aku juga aneh rasanya, kurang sreg.”
Setelah masuk keraton, Arif justru mendapati memakai pakaian tradisional memiliki sensasi tersendiri. “Ternyata kayak begini. Asyik juga pakai kayak begini, bangga juga pakai jarik wiru, pakai busana pranakan.” Ia bahkan mulai mengoleksi sedikit demi sedikit peranti busana Jawa, seperti blangkon.
Karenanya, ia menganjurkan agar anak muda tak perlu malu atas budaya sendiri. Ia juga mengajak warga Yogya untuk ikut serta dalam berbagai kegiatan. “Ikutlah kegiatan apa pun, bermasyarakat yang baik.”
Alumni SMK Perhotelan Pengasih, Kulon Progo ini mengaku tidak memiliki keinginan yang terlalu muluk. “Nyantai saja, pokoknya hidup sehat.”
Pengabdiannya di Keraton Yogyakarta didukung oleh istri beserta keluarga besarnya. Kebanggaan mereka diperlihatkan dengan menghadiri Hajad Dalem Garebeg saat Arif bertugas. “Orang tua dan mertua senang karena pas Garebeg Mulud itu mereka berkesempatan untuk melihatku (bertugas) di tengah padatnya penonton.”
Arif pun makin bersemangat menjalani kewajibannya di keraton. Setiap kali datang ke keraton ia seolah mendapat suntikan energi. Sang istri pun sempat menggodanya bahwa meski capek bekerja, Arif tak capek bertugas di keraton. “Soalnya seneng bertemu teman-teman, di sini nggak saklek, asyik saja lah, nggak yang menuntut banyak.” Ia menikmati berbincang santai dengan rekan-rekan prajurit dari segala usia dan mendengar cerita-cerita yang aneh serta lucu.
Anggota bregada angkatan baru telah menjalani Permaten Sarageni, yakni ujian keterampilan memegang senapan pada 9 Januari 2026, serta Permaten Sarahastra atau uji keterampilan senjata tombak pada 10 Februari 2026 (tertulis) dan 11 Februari 2026 (praktik). Kedua ujian ini menjadi syarat-syarat untuk diwisuda resmi menjadi prajurit keraton. Ujian semacam ini merupakan kebijakan baru yang diterapkan bagi calon prajurit dan untuk memastikan seluruh anggota bregada memiliki kompetensi yang mumpuni sebagai satuan pertahanan serta abdi budaya.
PERISTIWA POPULER
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas