MJ Suraksa Uut Diansaputra, Anggota Prajurit Suranata: Menjaga Jejak Sejarah Mataram Islam
Uut Dian Saputra telah akrab dengan dunia peziarahan sejak kecil. Ayahnya merupakan Abdi Dalem Pengulon yang sering mengajaknya mengunjungi makam-makam leluhur dan pepunden keraton. Sang ayah juga sering mengajaknya melihat upacara-upacara Hajad Dalem, seperti garebeg dan labuhan, sehingga ia pun familier dengan adat istiadat keraton tersebut.
“Sejak kecil saya sering membantu Ayah membersihkan area makam dan menyiapkan ubarampe atau semacam sarana untuk menghadapi acara di makam,” ujarnya. Acara yang ia maksud antara lain nyadran, suronan, dan slametan rutin setiap malam Jumat Legi yang diadakan di area makam Pleret, tempat ayahnya bertugas.
Lahir dan tumbuh di Kecamatan Pleret, situs Keraton Kerto dan Keraton Pleret, Uut memiliki ketertarikan alami pada sejarah Kerajaan Mataram Islam. Dua situs keraton itu merupakan leluhur atau generasi pendahulu Keraton Yogyakarta yang masih eksis hingga sekarang.
“Yang menjadikan saya ingin mendalami sejarah dan merawat peninggalan ini,” ujarnya.
Suatu hari ayahnya bertanya apakah Uut berminat menjadi Abdi Dalem. Uut mengiyakan, apalagi ia memang sudah memiliki ketertarikan pada sejarah dan budaya itu tadi. Begitu lulus SMK, keinginan tersebut mewujud. Ia mulai magang pada 7 Sept 2020, saat usianya sekitar delapan belas. Sama dengan ayahnya, ia ditugaskan untuk menjaga Makam Pleret. Ia kemudian diangkat menjadi Abdi Dalem dengan pangkat jajar pada 7 Juli 2022 dan mendapat Nama Paring Dalem Mas Jajar Suraksa Uut Diansaputra.
Yang membedakannya dengan Abdi Dalem Pengulon lainnya, Uut juga merangkap sebagai Abdi Dalem prajurit. Tahun 2025, Keraton Yogyakarta merevitalisasi tatanan prajurit keraton. Beberapa kesatuan prajurit yang sempat dibubarkan pada masa pendudukan Jepang, dibentuk kembali. Salah satunya adalah Bregada Suranata. “Yang saya tahu, prajurit Suranata merupakan prajurit khusus yang berada di bawah Kawedanan Pengulon yang bertanggung jawab atas urusan keagamaan,” Uut menjelaskan.

Sejarah Prajurit Suranata
Abdi Dalem Prajurit Suranata merupakan kesatuan khusus yang berada di bawah Urusan Pengulon. Catatan mengenai Prajurit Suranata dimuat dalam Serat Ngayugyakarta Panggelaran yang ditulis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Abdi Dalem Suranata dahulu merupakan Abdi Dalem dari golongan santri yang merangkap tugas menjadi prajurit dan berjaga (caos) di Masjid Suranata—kini berganti nama menjadi Masjid Rotowijayan—yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Namun, akibat gejolak politik yang berlangsung pada awal masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988), tempat pecaosan (berjaga) Abdi Dalem Prajurit Suranata kemudian dipindahkan ke Kagungan Dalem Masjid Panepen yang berada di dalam kompleks keraton. Di luar tugasnya sebagai satuan prajurit Keraton Yogyakarta, Abdi Dalem Suranata juga memiliki tanggung jawab untuk merawat Masjid-masjid dan Makam Kagungan Dalem serta melaksanakan Hajad Dalem yang berhubungan dengan keagamaan.
Pada saat upacara Garebeg, Prajurit Suranata berbaris berhadap-hadapan di depan Kagungan Dalem Tratag Bangsal Kencana untuk ngurung-urung margi atau menjadi pembuka jalan sekaligus pagar betis masuknya rombongan prajurit dari kompleks Magangan menuju kompleks Srimanganti. Naskah Ngayugyakarta Panggelaran merinci struktur tata rakit Abdi Dalem Prajurit Suranata yang terdiri dari pangkat Panewu dan pangkat Jajar berdasarkan perbedaan busana yang dikenakannya.
Busana yang digunakan Bregada Suranata berpangkat Panewu terdiri dari; kuluk berwarna putih, busana sikepan laken berwarna hijau dengan lis renda di leher dan lengan, dan celana kesting panjang berwarna hitam, memakai kampuh, serta mengenakan keris branggah.
Sementara Bregada Suranata berpangkat Jajar mengenakan busana; kuluk hitam, sikepan berwarna putih, celana putih panjang, memakai kampuh, dan mengenakan keris branggah. Senjata yang digunakan Prajurit Suranata yakni berupa tombak.
Selama proses rekonstruksi, unsur santri dalam Bregada Suranata tetap dipertahankan. Saat ini, kesatuan prajurit tersebut memiliki sekitar tiga puluh anggota, sebagian besar diambil dari Abdi Dalem Pengulon. Komposisinya nyaris merata, mulai dari juri kunci Merapi hingga Parangkusuma. Kesatuan ini bersenjatakan tombak dengan tugas utama antara lain mengawal Gunungan Garebeg dan mengarak Peksi Burak.
Pada usia 25, Uut merupakan prajurit termuda. Ia menjabat sebagai sersan satu yang posisinya berada di belakang pasukan.
Menjaga Makam Bersejarah
Berada di belakang Situs Masjid Kauman Pleret Bantul, Makam Pleret menjadi tempat peristirahatan terakhir para tokoh yang berasal pada masa Susuhunan Amangkurat I (1646-1677), termasuk sang istri, Kanjeng Ratu Pelabuhan. Ratu Labuhan merupakan ibu kandung Sri Susuhunan Paku Buwono I, leluhur dari Trah Catur Sagotra Mataram. Sang ratu wafat di tengah amukan pemberontakan Trunajaya yang menghancurkan Keraton Pleret pada tahun 1677. Salah seorang abdi kinasih (orang kepercayaan) beliau yang bernama Kiai Rawit memberitahukan bahwa Ratu Labuhan sewaktu masih hidup pernah berpesan bila sewaktu-waktu meninggal hendaknya dimakamkan di tempat wafatnya, bukan di tempat lain.
Tokoh lain yang dimakamkan di sini antara lain Senipati Suronoto, Tumenggung Singoranu, Kiai Tunggul Wulung, Kiai Norokusumo, Kiai Cinde Amoh, Kiai Rawit, dan Nyai Rawit.
Sebagai juru kunci makam, tugas utama MJ Suraksa Uut Diansaputra adalah menjaga kebersihan dan ketertiban makam. Tugas rutinnya diawali dengan membuka gerbang, membersihkan seluruh area makam, hingga menutup kembali gerbang makam. Di antara kesibukan tersebut, ia juga menerima dan mendampingi pengunjung yang berziarah di sana, hingga menjelaskan sejarah serta serba-serbi makam. Di makam Pleret, terdapat empat Abdi Dalem yang bertugas secara bergantian.
Hampir setiap hari MJ Suraksa Uut Diansaputra berangkat ke makam yang berjarak hanya sekitar 200 m dari rumahnya. Jadwalnya fleksibel. Ia biasanya menjalankan tugasnya sebagai juru kunci selepas menuntaskan pekerjaan formalnya sebagai petugas keamanan di Badan Diklat Provinsi DIY.
Selain merawat makam setiap hari, para juru kunci ini diwajibkan sowan ke Kantor Urusan Pengulon untuk piket jaga malam setiap sebulan sekali. Mereka juga turut bertugas bila ada acara semakan dan garebeg di Masjid Gedhe.
Sebagai lulusan SMK Jurusan Kelautan, MJ Suraksa Uut Diansaputra pernah menjadi pelaut. Ia pernah bekerja di kapal barang yang berlayar hingga Kalimantan dan Papua. Setelah itu, ia bekerja di stasiun pengisian bahan bakar LPG untuk rumah tangga. Saat ini, selain menjadi penjaga keamanan, ia membantu orang tua mengurus warung kelontong.
Bila ada waktu luang, ia lebih suka mengisinya dengan berolahraga. Kegemarannya adalah lari, berenang, dan berlatih kebugaran. Ia juga suka mendaki gunung serta berkemah. Ia pernah mendaki Gunung Prau, Sindoro, dan Merbabu. “Selain hobi olahraga, saya suka beternak unggas, burung sama ikan. Hasilnya saya jual,” terangnya.
Ia mengakui, salah satu kesulitannya adalah mengatur jadwal antara kegiatan keraton dan pekerjaannya di instansi. Terkadang, ia terpaksa absen geladi prajurit karena waktunya bertabrakan dengan jadwal kerja. Ia pun mesti cermat untuk membuat prioritas.
Menimba Kebijaksanaan
Bregada Suranata buah rekonstruksi tampil perdana di depan publik dalam Hajad Dalem Garebeg Mulud Dal 1959, September 2025.
MJ Suraksa Uut Diansaputra merasa terhormat menjadi bagian dari peristiwa bersejarah tersebut. “Awalnya (saya) ditawari sama pihak Urusan Pengulon untuk gabung ke prajurit Suranata. Saya ingin bergabung dan ingin tahu mengenai prajurit Suranata tersebut.”
Keingintahuan itu juga sudah terpupuk sejak lama. “Karena dahulu sejak kecil sudah seneng lihat prajurit, seneng juga sama pusaka-pusaka itu, entah itu tombak, keris. Jadi kan lebih ingin memahami.”
Di rumahnya, MJ Suraksa Uut Diansaputra mengoleksi sekitar tiga puluh pusaka yang sebagian merupakan ia dapatkan dari kakek dan ayahnya.
Menurutnya, sisi paling menyenangkan dari posisinya sekarang adalah bisa berbincang dengan Abdi Dalem senior. “Istilahnya tukar kawruh atau tukar pengalaman. Karena pengalaman itu bagi saya sendiri adalah guru terbaik.”
Momen paling berkesan ia dapatkan saat bertemu dengan Sinuwun dan putra-putrinya dalam upacara garebeg atau Hajad Dalem lainnya. Termasuk kenangan saat ia mendapatkan koin udhik-udhik yang dilemparkan oleh Sinuwun dalam malam Kondur Gangsa, selalu ia simpan dalam benak.
Sementara hal lucu ia alami saat lupa memberi aba-aba. “Untuk melewati gapura harusnya (sersan satu memberi aba-aba) maniyung. Saya kelupaan, terus teman-teman ada yang tombaknya tersangkut.”
Belajar Tata Krama
Menjadi Abdi Dalem pada usia muda, MJ Suraksa Uut Diansaputra tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri. “Berkat pengalaman dan bimbingan di keraton, saya bisa mendapat ilmu entah itu tata krama, tata bicara yang tetara, dan bersikap unggah-ungguh dengan yang lebih tua dan memiliki rasa tanggung jawab, menghargai, memahami orang lain.”
Ia juga dapat bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. “Ya, lebih banyak bertemu dengan teman-teman dari keprajuritan. Jadi tambah ilmu dan tambah saudara.”
Kepada anak-anak muda seusianya, ia menyampaikan anjuran untuk tidak malu mencintai budaya daerah sendiri. “Karena budaya adalah identitas kita. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan, terus siapa lagi. Jangan sampai budaya kita diakui negara lain.”
PERISTIWA POPULER
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas