Image page cover

Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon - 26 Januari 2026

Keraton Yogyakarta kembali menyelenggarakan Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon 26 Januari 2026 atau 7 Ruwah Dal 1959, sebagai bagian dari peringatan kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Gelaran ini dilangsungkan oleh Kawedanan Kridhamardawa, yang secara rutin menggarap dan menjaga kelestarian gendhing serta tarian warisan wangsa mataram. Pertunjukan digelar di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan dan dapat disaksikan oleh pengunjung secara luring melalui sistem reservasi tanpa biaya dengan kuota terbatas. Selain itu, bagi masyarakat yang belum bisa hadir secara luring, diberikan kesempatan dapat menyaksikan pagelaran ini melalui siaran langsung di Kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.00 WIB. 

3 03 Small

Daftar Komposisi Gendhing Uyon-Uyon Hadiluhung 

No.

Jenis/Bagian

Judul Gendhing

Laras dan Pathet

1

Gendhing Pembuka

Ladrang Raja Manggala

Pelog Pathet Nem

2

Gendhing Soran

Gendhing Dandhun Kendhangan Kendhang Candra, jangkep sadhawahipun

Slendro Pathet Nem

3

Gendhing Lirihan I

Gendhing Sri Rejeki Kendhangan Sarayuda → Dhawah Ladrang Sri Rejeki 

Pelog Pathet Nem

4

Gendhing Lampah Beksan

Gendhing Lampah Beksan Senorananggono

Slendro Pathet Manyura

5

Gendhing Lirihan II

Gendhing Irim-Irim Kendhangan Sarayuda → jangkep sadhawahipun → minggah Ketawang Aji Saka

Pelog Pathet Barang

6

Gendhing Lirihan III

Bawa Swara Sekar Macapat Dhandanggula Majatsih → Ketampen Ladrang Sekar Sepasang → Kalajengaken Plajaran Suka Rena → Kaseling Gendhing Dolanan: 

  1. Sar-Sur Kulonan
  2. Lindri
  3. Kidang Talun
  4. Kembang Jagung
  5. Aja Ngewa-ewake
  6. A-B-C Laras Slendro Pathet Manyura

Slendro Pathet Manyura (Gendhing Dolanan A-B-C)

7

Gendhing Penutup

Ladrang Sri Kondur

Slendro Pathet Manyura

 

2 02 Small

Kekhasan Gending Uyon-Uyon

Gendhing Dhandun yang dibawakan secara soran ini merupakan gendhing yang memiliki watak gagah, agung, dan berwibawa. Gendhing Dhandhun tersebut dibunyikan dengan teknik khas gaya Yogyakarta, yaitu Demung Imbal dan Saron Pancer Laras Barang Ageng. Sementara Gendhing Sri Rejeki merupakan rangkaian gendhing dari bentuk Kendhangan Sarayuda, lalu menjadi Kendhangan Ladrang. Pada bagian Ladrang merupakan salah satu gendhing yang populer di masyarakat. Untuk bagian Gendhing Sri Rejeki Kendhangan Sarayuda, tergolong sangat jarang dimainkan di luar tembok keraton.

Bagian khas lainnya dari rangkaian gendhing ini adalah Gendhing Irim-Irim, yang merupakan bagian dari Ketawang Ajisaka. Gendhing tersebut memiliki koor vokal yang mengisahkan perjalanan akhir dari siklus hidup manusia, yang dihubungkan dengan 20 aksara Jawa. Konon, aksara Jawa adalah ciptaan dari Prabu Ajisaka. Kekhasan yang lain adalah garap Ketawang Ajisaka menggunakan jenis Kendhang Ketawang Bedhugan Lamba dan diakhiri dengan Suwuk Gropak. Sajian Suwuk Gropak adalah gendhing yang makin cepat, hingga pada akhirnya berhenti setelah irama yang makin klimaks. Ketawang Ajisaka ini merupakan gendhing ciptaan baru di era Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Sementara itu, terdapat Bawaswara Sekar Macapat Dhandhanggula Majatsih Laras Slendro Pathet Manyura. Bawaswara tersebut jarang dibunyikan karena biasanya digunakan dalam adegan Gara-Gara dalam pertunjukan Wayang Kulit. Ladrang Sekar Sepasang termasuk salah satu jenis ladrang yang jarang dimainkan di luar tembok Keraton Yogyakarta. Gendhing ini memiliki watak ceria, gembira, serta menggambarkan keindahan seorang perempuan yang sedang menari. Plajaran Sukarena adalah jenis Gendhing Plajaran/Playon yang merupakan ciptaan baru di era Hamengku Bawono Ka 10. 

Penata Gendhing Mas Riya Susilomadyo menerangkan bahwa terdapat rangkaian Gendhing Dolanan yang dibawakan oleh Paguyuban Karawitan Mahasiswa Jurusan Karawitan Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY) pada sajian Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini.

“Terdapat Rangkaian Gendhing Dolanan dalam sajian kali ini. Gendhing-gendhing yang dimainkan yaitu; Sar-Sur Kulonan, Lindri, Kidang Talun, Kembang Jagung, dan Aja Ngewak-Ewakake. Laras Slendro Pathet Manyura adalah gendhing dolanan yang tergolong jarang ditampilkan dalam sajian Uyon-Uyon. Rangkaian gendhing tersebut menjadi istimewa karena disajikan oleh Grup Karawitan dari luar Keraton Yogyakarta, yaitu dari Paguyuban Karawitan Mahasiswa Jurusan Karawitan Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY).

4 04 Small

Pimpinan Produksi Mas Bekel Pronomatoyo mengungkap bahwa pertunjukan kali ini mengedepankan inklusivitas Keraton Yogyakarta terhadap sanggar/organisasi/institusi seni untuk turut terlibat langsung pada kegiatan keraton. 

Tahun 2026 ini, Uyon-Uyon Hadiluhung hadir secara lebih inklusif karena memberikan kesempatan kepada sanggar/organisasi/institusi seni untuk ikut terlibat langsung dalam semuan. Pada bulan Januari 2026, Akademi Komunitas Negeri Seni Budaya Yogyakarta mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat. Dengan dibukanya kesempatan seperti ini, harapannya masyarakat dapat belajar dan mempraktikkan secara langsung gendhing-gendhing Yogyakarta beserta unggah-ungguh, trapsila, maupun subasita ketika berada di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.”

Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon - 26 Januari 2026 menghadirkan rangkaian komposisi gendhing pilihan, disertai pertunjukan tari putra Beksan Sena Rananggana yang sekaligus menjadi sajian pembuka pada permulaan tahun 2026. Tarian ini mengisahkan pertarungan antara Bratasena (Werkudara) dengan Dhandhunwacana saat membuka hutan angker bernama Wanamarta. 

1 01 Small

Sekilas Beksan Sena Rananggana

Babat Alas Wanamarta/Babad Alas Mertani dinukil dari epos Mahabharata dan merupakan salah satu episode penting kisah berdirinya kerajaan besar dan makmur yang dipimpin oleh Pandawa Lima. Alkisah, Pandawa bersaudara, yaitu Bratasena, Yudhistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa kembali ke Astina setelah lolos dari jebakan musuh mereka, para Kurawa. Atas saran Patih Sengkuni, Destarata, ayah para Kurawa kemudian memberi wilayah kepada Pandawa berupa hutan yang bernama Mertani atau Wanamarta.

Dikisahkan, Wanamarta merupakan keraton kajiman atau kerajaan jin. Pemberian wilayah ini merupakan ide licik Sengkuni untuk menyingkirkan Pandawa. Sengkuni berharap Pandawa akan takluk diserang pasukan jin saat melakukan babat alas Wanamarta.

Sebetbyar wauta, Raden Bratasena ingkang harsa majeng ing sura madilaga, kapapak jim Dhandhunwacana.

 “Aku Dhandhunwacana kang duweni Alas Wanamarta iki, Bratasena kowe ora keno ngrusak Alas Wanamarta, sebab iki wis dadi Kraton Mertani, kang nglenggahi aku sakadang.”

(Syahdan, Raden Bratasena yang hendak maju di medan laga dihadang oleh jin Dhandhunwacana. “Aku Dhandhunwacana penguasa Hutan Wanamarta. Hei Bratasena, kau tidak boleh merusak Hutan Wanamarta sebab ini adalah Kerajaan Mertani, tempat tinggalku beserta seluruh saudaraku.”) 

Dipimpin Bratasena, Pandawa bertarung habis-habisan melawan prajurit jin tak kasat mata yang dipimpin oleh raja jin Arya Dhandhunwacana. Kedua pemimpin itu sama-sama perkasa dan sakti. Namun, berkat Minyak Jayengkaton pemberian Begawan Wilawuk, Pandawa dapat melihat makhluk halus tersebut dan menaklukkan mereka. Setelah, kalah raga dan jiwa Dhandhunwacana merasuk dalam tubuh Bratasena. Bersama saudara-saudaranya, ia memberikan segala yang dimilikinya untuk kebaikan dan keselamatan Kerajaan Mertani. 

Kisah kondang pertarungan Bratasana dan Dhandhunwacana ini juga termuat dalam Serat Kandha lan Pocapan Beksan Pethilan: Dhandhunwecana Mengsah Wijasena milik Kawedanan Widyabudaya bernomor K.215 T.29. Naskah setebal 11 halaman ini berisi teks kandha, pocapan, dan petunjuk iringan gendhing serta merupakan catatan pethilan wayang wong adegan perang antara Dhandhunwecana dan Bratasena.

Selama beberapa waktu lalu, gelaran Uyon-Uyon Hadiluhung dilaksanakan di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul dan Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti karena keperluan revitalisasi Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan. Mulai bulan Januari 2026, Uyon-Uyon Hadiluhung kembali dilaksanakan di Bangsal Kasatriyan. Pengunjung dapat menonton secara luring melalui skema reservasi yang telah disediakan dengan wajib mematuhi pranatan untuk menjaga tata krama dan keluhuran suasana pertunjukan. 

Tim Pendukung Pertunjukan

Untuk menghadirkan pementasan yang tertib dan selaras, pertunjukan ini melibatkan sejumlah Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang teknis, serta peran panggung, berikut di antaranya:

Paraga Beksa (Penari)

  1. RB Putramatoyo
  2. Rizal Maulana
  3. Oksi Kurniawan
  4. Margantara

Penggarap Teknis

  1. Pamucal Beksa: KMT Suryowaseso dan MRy Pringgoseno
  2. Panata Gendhing Beksan: MRy Susilomadyo
  3. Panata Gendhing Uyon-Uyon: MRy Susilomadyo
  4. Pemaos Kandha: KMT Dwijosupadmo
  5. Keprak: KMT Suryowaseso
  6. Panata Busana: MRy Dirjomanggolo
  7. Pimpinan Produksi: RB Pronomatoyo

Selamat menyaksikan!