Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, Tradisi Memperingati Isra Mikraj Tahun Dal 1959
- 30-01-2026
Sebagai kerajaan yang bernapaskan Islam, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Yasa Peksi Burak setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa. Dilaksanakan di Bangsal Sekar Kedhaton kompleks Keputren Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, prosesi ini digelar pada Kamis (15/01), pukul 09.00 – 16.00 WIB.
Yasa Peksi Burak
Menjelang peringatan Isra Mikraj, Keraton Yogyakarta membuat (Yasa) representasi Peksi Burak atau Burung Buroq yang menjadi wahana suci Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perjalanan rohani (Isra) dari Masjidilharam di Kota Mekah menuju Masjidilaksa di Kota Yerusalem, kemudian (Mikraj) dinaikkan ke langit ketujuh guna menerima wahyu untuk menjalankan ibadah salat.
Prosesi Yasa Peksi Burak ini dihadiri oleh Putra Dalem Putri yakni GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, GKR Bendara, dan menyusul juga GKR Mangkubumi. Selain itu hadir pula GBRAy Riya Kusuma (kakak kandung Sri Sultan HB Ka 10), BRAy Joyokusumo, juga kurang lebih belasan Wayah Dalem Putri dan Sentana Dalem Putri dari sultan-sultan yang pernah bertakhta sebelumnya.

Sejak pagi, Abdi Dalem Keparak telah sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan, meronce bunga dan daun pandan, juga membuat representasi pohon-pohon yang berbunga. Pada pukul 09.30 WIB, Putri Dalem tiba di Bangsal Sekar Kedhaton, kemudian berbagi tugas untuk meronce bunga melati, mengupas jeruk bali, membersihkan satu persatu jeruk bali dari kulit arinya, dan memasang tujuh macam buah pada kerangka bambu yang nantinya menjadi sarang Peksi Burak. Seluruh Sentana Dalem dan Abdi Dalem Keparak yang hadir semuanya memiliki ketugasan masing-masing dalam pembuatan Peksi Burak, sarang burung, dan juga representasi pohon-pohon pelengkap.
“Meski Yasa Peksi Burak ini berdekatan tanggalnya dengan Tingalan Jumenengan Dalem Sinuwun (Sultan HB Ka 10) yang sekarang (yakni) ada di 29 Rejeb, tapi bukan satu rangkaian,” ungkap Nyi KRT Tejakusuma. Sebanyak empat pohon bunga, sepasang Burung Burak, dan juga sepasang sarangnya selesai dibuat pada pukul 15.00 WIB. Empat representasi pohon ini dibuat dari dedaunan pacar cina (Aglaia odorata) yang dirangkai dengan hiasan bunga kamboja putih dan merah, bunga patra manggala, serta roncen bunga mawar, kenanga, daun pandan, dan batang daun singkong. Sepasang burung atau Peksi Burak (jantan dan betina) dibuat dari kulit jeruk bali berbentuk menyerupai leher, kepala, sayap, serta ekor. Sedangkan untuk sepasang sarang burung dibuat dengan rangkaian tujuh jenis buah-buahan sesuai musim, di puncak kerangkanya berhiaskan daun pacar cina dan bunga patra manggala serta Peksi Burak yang telah dibuat.
Tujuh buah yang tahun ini dipergunakan adalah pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, sawo, apel dan juga salak. Di atas buah-buahan ini tertata pula tebu yang telah dikupas dan dipotong pendek. “Tahun ini tidak membeli rambutan, karena (berasal) dari area kompleks Kedhaton dan Keputren yang digunakan. Tapi pernah juga karena di Jawa tidak ketemu rambutan, (Gusti) Kanjeng Ratu Hemas mendatangkan dari Medan,” jelas Nyi KRT Tejakusuma.

Serah Terima Peksi Burak
Sekitar pukul 15.30 WIB, Kanca Abrit bergegas menuju Bangsal Sekar Kedhaton untuk mengangkut keseluruhan Peksi Burak menuju ke Masjid Gedhe. Selain itu, hadir pula Kanca Urusan Pengulon yang akan memimpin iring-iringan. Pada tahun ini terdapat hal yang berbeda dari tahun sebelumnya, yakni hadirnya Kanca Prajurit Suranata untuk ngurung-urung (mengawal) Peksi Burak dari dalam Kedhaton menuju ke Kagungan Dalem Masjid Gedhe. Sebelum prosesi serah terima dimulai, Kanca Prajurit Suranata keluar dari Kompleks Kamandungan Kidul, menuju Kedhaton dan bersiap di area Keben.
GKR Mangkubumi memimpin jalannya prosesi serah terima Peksi Burak, kemudian dilanjutkan Kanca Kaji memimpin doa. Usai doa bersama, seluruh ubarampe diserahkan oleh GKR Mangkubumi kepada KRT Sindurejo, Wakil Penghageng II Sriwandawa. Setelah diterima oleh KRT Sindurejo, seluruh Kanca Abrit kemudian membawa empat representasi pohon bunga dan sepasang Peksi Burak menuju ke Masjid Gedhe melalui kompleks Keben (Kamandungan Lor) dan Jalan Rotowijayan.

Selepas keluar dari Regol Keben, kemudian Kanca Suranata mengawal (ngurung-urung) Peksi Burak menuju ke Masjid Gedhe. Sesampainya di Masjid Gedhe, Peksi Burak dan seluruh ubarampenya kemudian diletakkan di tengah Serambi Masjid Gedhe, untuk selanjutnya selepas Isya digunakan dalam kajian dan pembacaan riwayat Isra Mikraj.

Pembacaan Riwayat Isra Mikraj
Keraton Yogyakarta melalui Urusan Pengulon menggelar acara kajian dan pembacaan Riwayat Isra Mikraj pada pukul 19.30 WIB (15/01) di Serambi Masjid Gedhe. Acara ini dihadiri oleh Abdi Dalem Pengulon, Abdi Dalem Kanca Kaji, Kanca Suranata, dan Abdi Dalem perwakilan-perwakilan dari berbagai kawedanan (divisi) di Keraton Yogyakarta. Riwayat Isra Mikraj dibacakan oleh Abdi Dalem Pengulon, ML Amat Taufik Arifin S.Sos.
Selesai acara kajian dan pembacaan Riwayat Isra Mikraj, satu Peksi Burak kemudian dibawa ke Kantor Urusan Pengulon, untuk selanjutnya dibagikan kepada seluruh Abdi Dalem Pengulon. Satu lagi, Peksi Burak dibagikan kepada seluruh jemaah yang hadir di Masjid Gedhe.