Image page cover

Tingalan Jumenengan Dalem Dal 1959: Rasa Syukur Tandai 38 Tahun Sri Sultan Bertakhta

Tahun Dal selalu memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Jawa, termasuk bagi Keraton Yogyakarta. Terhitung sejak 29 Rejeb Wawu 1921, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dan GKR Hemas merayakan 38 tahun bertakhta dalam kalender Jawa Sultanagungan. Pada 29 Rejeb Dal 1959 atau bertepatan dengan 18 Januari 2026, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem sebagai ritual penanda peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta sang Sultan, yang telah dimulai beberapa hari sebelumnya dan berakhir beberapa hari sesudahnya.

Ds C00525 01 Bucalan

Bucalan

Rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem diawali pada tanggal 27 Rejeb. Jumat (16/01) pagi, Abdi Dalem Keparak bertugas mengawal jalannya bucalan di seputar keraton, hingga ke empat titik mata angin di luar benteng keraton. Prosesi ini esensinya merupakan perwujudan doa di tempat-tempat khusus sebagai simbol permohonan keselamatan dan kelancaran untuk seluruh rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan.

Wujudnya, bucalan berupa sesaji yang terdiri antara lain tumpeng kecil dengan lima warna, buah-buahan, serta bunga. Empat titik yang menjadi tempat peletakan bucalan di luar tembok keraton adalah Tugu Pal Putih, Panggung Krapyak, Kali Code, dan Kali Winongo. Sedangkan di dalam keraton ada sekitar puluhan titik meliputi sudut-sudut, seperti sumber mata air, dapur, dan regol (pintu gerbang).

Img 3680 02 Ngebluk

Ngebluk dan Ngapem

Bersamaan dengan berlangsungnya bucalan, berlangsung prosesi ngebluk yang mengawali seluruh rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem. Bertempat di Bangsal Sekar Kedhaton, kompleks Keputren, Jumat (16/01) mulai pukul 10.00 WIB, GKR Mangkubumi memimpin prosesi yang identik dengan suara “bluk, bluk” yang berasal dari adukan adonan apem. Agenda ini dihadiri pula oleh GKR Hemas, GKR Condrokirono, GBRAy Riyo Kusuma, BRAy Joyokusumo serta Abdi Dalem Keparak. Inti prosesi ini adalah membuat adonan yang akan dibuat menjadi kue apem keesokan harinya. 

Adonan yang terdiri dari tepung beras, tape singkong yang telah dilumat, gula pasir, gula jawa cair, dan air secukupnya tersebut dicampur merata di dalam pengaron. Setelah tercampur dengan baik, adonan dimasukkan ke dalam dua enceh pusaka untuk didiamkan selama satu malam agar mengembang.

Img 3679 01 Ngebluk

Barulah keesokan harinya pada Sabtu (17/01) atau bertepatan dengan tanggal 28 Rejeb, dilaksanakan prosesi ngapem. Inti dari prosesi ini adalah membuat dua macam apem, yakni apem alit (kecil) yang dibuat Permaisuri dan Putri Dalem, serta apem mustaka (besar) yang hanya dapat dibuat oleh Sentana Dalem Putri yang telah menopause. Hadir pada prosesi ini yakni GKR Hemas yang mengawali upacara ngapem, para Putri Dalem GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara, serta para Sentana Dalem Putri (kerabat perempuan Sultan). 

Meski memakan waktu seharian, namun keseluruhan proses ngapem berjalan lancar dengan diselingi canda tawa yang hangat. Total 75 apem mustaka dan sekitar 300 tangkep (600 buah) buah apem alit (kecil) pun berhasil dibuat dari tangan Prameswari Dalem, para Putri Dalem, dan Sentana Dalem Putri dibantu para Abdi Dalem Keparak. Setelah apem dibuat, apem yang telah jadi nantinya disusun sedemikian rupa sesuai dengan ketentuan. Untuk apem mustaka, disusun seperti tinggi badan Sultan. Apem-apem ini selanjutnya akan menjadi salah satu ubarampe yang dilabuh saat dilaksanakannya upacara Labuhan.

Ds C00196 01 Ngapem

Persiapan Ubarampe Labuhan

Sementara kompleks Keputren riuh dengan hiruk pikuk ngapem, di Gedhong Kawedanan Widya Budaya dilaksanakan rangkaian untuk mempersiapkan ubarampe Labuhan. Seluruh ubarampe dipindahkan menuju Bangsal Manis guna diteliti kembali kelengkapannya. Selanjutnya, ubarampe diinapkan satu malam di Gedhong Prabayeksa untuk keesokan harinya dipindahkan ke Bangsal Srimanganti sebelum dilabuh.

Penghageng II Kawedanan Widya Budaya, KRT Rintaiswara mengatakan bahwa setiap ubarampe memiliki makna dan filosofi masing-masing, namun secara umum merupakan perwujudan akan ungkapan rasa syukur dan doa untuk kesejahteraan Ingkang sinuwun, keluarga, dan para Abdi Dalem, serta seluruh masyarakat kawula Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ds C09903 02 Ngapem

Pada tahun Dal 1959, terdapat beberapa ubarampe yang tampak berbeda dari tahun-tahun biasanya. Untuk Labuhan Parangkusumo, telah disiapkan ubarampe tambahan berupa songsong gilap (payung). Ubarampe tambahan berupa 2 buah songsong juga menjadi hal yang berbeda pada Labuhan Lawu. Sementara untuk Labuhan Merapi, terdapat ubarampe kambil watangan atau pelana kuda yang menjadi pembeda dari tahun-tahun berikutnya.

“Apabila dalam prosesi Labuhan Alit (selain tahun Wawu dan Dal) lokasi labuhan hanya di tiga tempat, yaitu Pemancingan Parangkusumo, Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Khusus Labuhan Ageng, lokasi labuhan selain tiga tempat tersebut di atas, masih ada satu tempat lagi yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri,” ungkap KRT Kusumonegoro, Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa yang menjadi salah satu Utusan Dalem untuk Hajad Dalem Labuhan.

Img 3802 01 Sugengan

Sugengan

Tepat di Hari Ulang Tahun Penobatan Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 dalam tahun Jawa, Minggu (18/01) atau 29 Rejeb Dal 1959 digelar upacara Sugengan. Prosesi Sugengan yang dilaksanakan di Tratag Bangsal Kencana ini dimulai sekitar pukul 11.00 WIB, dipimpin oleh GKR Mangkubumi dan dihadiri GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, RAj Arti Ayya Fatimasari Wironegoro, serta Abdi Dalem Kanca Kaji, Abdi Dalem Suranata, dan Abdi Dalem Pengulon. Turut hadir pula para penghageng, carik, dan hartakan dari berbagai kawedanan dan urusan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Persiapan sugengan dimulai sejak pukul 05.00 WIB, saat GKR Mangkubumi meletakkan 3 buah Apem Mirunggan di Gedhong Prabayeksa. Tepat pukul 07.00 WIB, seluruh sesaji dan hidangan sugengan dari Pawon Gebulen dan Pawon Sekullanggen telah siap disediakan oleh Abdi Dalem Boja di Tratag Bangsal Kencana sayap selatan. Selanjutnya GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara dan RAj Arti Ayya Fatimasari Wironegoro mulai menyiapkan apem serta ubarampe labuhan di dalam Gedhong Prabayeksa. Kemudian, semuanya beriringan keluar menuju Bangsal Kencana, barisan paling depan oleh Abdi Dalem Keparak pembawa pedupaan. Diikuti Abdi Dalem Keparak yang membawa ± 600 biji apem alit dan 75 biji apem mustaka.

Usai lonceng di Kagungan Dalem Bangsal Kamagangan dan Kamandungan Lor berbunyi sebelas kali, GKR Mangkubumi mempersilakan Mas Lurah Amat Taufik Arifin S.Sos, untuk memimpin doa permohonan kesehatan dan kecemerlangan takhta Sri Sultan, serta doa untuk keselamatan dan kemakmuran untuk masyarakat Yogyakarta. Apem-apem yang telah dimasak sehari sebelumnya akan turut didoakan oleh Kanca Kaji, sebagai simbol permohonan maaf atau ampunan, untuk selanjutnya dibagikan kepada kerabat, Abdi Dalem, serta keluarga Sultan.

Usai doa dilantunkan pertanda pelaksanaan Sugengan telah usai berjalan, Abdi Dalem Widya Budaya kemudian memindahkan ubarampe Labuhan yang sudah didoakan dari Gedhong Prabayeksa menuju Bangsal Srimanganti. Ubarampe tersebut diinapkan selama satu malam untuk selanjutnya dilabuh melalui upacara Labuhan di empat lokasi yang merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan.