Labuhan Dlepih: Kembali Napak Tilas Laku Leluhur Kasultanan Yogyakarta
Prosesi Labuhan Ageng di Dlepih terbilang hampir sama dengan ketiga tempat lainnya. Pada Senin (19/01) atau 30 Rejeb Dal 1959 lalu, tepat pukul 11.00 WIB, Utusan Dalem KRT Wiraguna dan KRT Sinduhadiningrat beserta ubarampe labuhan tiba di Petilasan Dlepih Khayangan. Setibanya di lokasi, Utusan Dalem beriringan menyusuri jalan setapak yang berada di tepi atas Sungai Wiraka melewati Sela Penangkep yaitu dua buah batu alam di tepi sungai. Kedua batu alam tersebut berukuran besar dan tinggi dengan posisi berdampingan, bagian atasnya berimpitan, sementara bagian bawahnya terpisah.
Rombongan diterima oleh Juru Kunci Petilasan Dlepih Mas Bekel Surakso Warihmoyo. Usai dicek kelengkapannya, ubarampe kemudian didoakan bersama di Sela Payung. Setelah didoakan, ubarampe kemudian dilabuh/diletakkan di Sanggar Labuhan Dlepih Khayangan yang berjarak sekitar 300 meter dari petilasan. Hal ini sebagai wujud rasa syukur atas kekayaan alam dan pengharapan untuk kesejahteraan masyarakat. Menurut penuturan Juru Kunci, ubarampe labuhan tidak dibagikan kepada masyarakat, namun disimpan dan hanya dikeluarkan sekali dalam setahun yaitu pada Hari Raya Idulfitri untuk menjaga agar barang tetap dalam kondisi baik.

“Siang dinten menika, Senin Legi, kawula ngaturaken Hajad Dalem Labuhan ingkang awujud ageman jangkep, mugi sageda sedaya Kulawarga utawi Putra Wayah Dalem saking Ngayogyakarta dhumateng sedaya Abdi Dalem mugi saged ndadosaken kemajengan, ayem tentrem.”
Lantunan doa dari Juru Kunci tersebut menyampaikan Hajad Dalem Labuhan dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menganugerahkan kemajuan serta kedamaian bagi segenap keluarga besar Keraton Yogyakarta hingga seluruh Abdi Dalem.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa KRT Kusumonegoro menuturkan bahwa prosesi Labuhan kali ini digelar sedikit berbeda dari biasanya, karena bertepatan dengan Tahun Jawa Dal. Jika pada tahun-tahun biasanya, Keraton Yogyakarta mengadakan Labuhan Alit (Patuh) di tiga tempat (Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu), maka khusus pada tahun Dal 1959, Keraton Yogyakarta menambah lokasi labuhan di Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah. “Apabila dalam prosesi Labuhan Alit (selain tahun Wawu dan Dal) lokasi labuhan hanya di tiga tempat, yaitu Pemancingan Parangkusumo, Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Khusus Labuhan Ageng, lokasi labuhan selain tiga tempat tersebut, masih ada satu tempat lagi yaitu Dlepih Khayangan di Kabupaten Wonogiri,” tambah Kanjeng Kusumo.

Seperti halnya Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Parangkusumo, KRT Kusumonegoro menegaskan bahwa keberadaan Petilasan Dlepih senantiasa mengingatkan Panjenengan Dalem Nata Ingkang Jumeneng Ing Karaton Ngayogyakarta (raja yang bertahta di Keraton Yogyakarta) untuk menjaga marwah para leluhur. Tak terkecuali Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 untuk senantiasa melestarikan prosesi dan mengingat/napak tilas tempat-tempat di mana pendiri Wangsa Mataram, Panembahan Senopati berkhalwat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum mendirikan Kerajaan Mataram. Selain Panembahan Senopati, tempat ini juga pernah digunakan untuk laku kontemplasi raja-raja Mataram dan raja Kasultanan Yogyakarta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).
PALING BANYAK DIBACA
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas