Image page cover

Pameran Pangastho Aji Resmi Ditutup: 260 Ribu Pengunjung Hidupkan Kembali Marwah Sultan Kedelapan

Riuh antusiasme masyarakat memenuhi kompleks Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta pada Sabtu malam (24/1). Ribuan pasang mata menjadi saksi berakhirnya perjalanan panjang pameran temporer "Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan" yang telah berlangsung sejak 27 September 2025. Puncak acara penutupan ini ditandai dengan kehadiran Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 beserta keluarga besar Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepat pada pukul 19.30 WIB. Kehadiran Ingkang Sinuwun disambut hangat oleh masyarakat yang bahkan sudah mulai mengantre di depan gerbang sejak pukul 16.00 WIB, meskipun pintu masuk baru resmi dibuka pukul 18.00 WIB.

Dalam pidato penutupan, GKR Bendara selaku Ketua Penyelenggara melaporkan jika pameran ini berhasil menarik perhatian lebih dari 260.000 pengunjung. Angka ini menunjukkan betapa besarnya minat generasi muda dan masyarakat luas terhadap sejarah "Jawa Baru" yang dibawa oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII melalui pendekatan positivisme sejarah yang edukatif. 

Img 3966 05 Small

“Proses mewarisi budaya bukan sekadar menjaga kemurnian semata, melainkan melestarikannya sekaligus mengembangkan dalam satu jalan yang bersamaan. Potret alih fungsi bangunan keraton hingga kontinuitas institusi pendidikan yang diinisiasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII menjadi potret yang terus dijaga hingga saat ini. Ruang-ruang pendidikan seperti Kridha Beksa Wirama, Habirandha, dan beberapa institusi lain yang dikelola pemerintah maupun swasta, memberi gambaran nyata tentang pelestarian nilai dan pengembangan ilmu, serta pemanfaatan ruang bagi masyarakat agar terus bertumbuh. Semangat beradaptasi dengan zaman secara nyata mewujud dalam setiap gelaran pameran,” jelas GKR Bendara dalam sambutan penutupan pameran.

Pameran ini berhasil memotret sosok Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sebagai tokoh pembaru. Di bawah kepemimpinan Sultan Kedelapan, Keraton Yogyakarta bertransformasi secara visual melalui pemugaran bangunan yang megah serta penguatan institusi pendidikan seni seperti Kridha Beksa Wirama dan Habirandha. Melalui pameran ini, Keraton Yogyakarta menegaskan bahwa mewarisi budaya bukan sekadar menjaga kemurnian semata, melainkan melestarikan sekaligus mengembangkan dalam satu jalan yang bersamaan.

Img 3962 04 Small

Sepanjang masa penyelenggaraannya, Pameran Pangastho Aji tidak hanya menyuguhkan koleksi statis di ruang pamer. Berbagai agenda publik turut memperkuat ekosistem budaya pameran ini, di antaranya Tur Kuratorial dan Sungging Wayang, Dining Experience, Napak Tilas Ngeksigondo, Lokakarya Membatik Twilly Scarf, dan kelas Public Lecture yang diikuti total 125 peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Antusiasme ini salah satunya dirasakan oleh Sujiono (29 tahun), yang rutin mengikuti berbagai acara keraton. “Meskipun agenda pameran temporer ini rutin dilaksanakan setiap awal dan akhir tahun, tapi setiap agendanya selalu menarik untuk diikuti. Rasanya menyesal jika melewatkan momentum pameran, mulai dari pembukaan hingga penutupan, serta berbagai agenda pendukung yang diselenggarakan. Karena setiap rangkaian acara selalu menawarkan hal menarik dan ilmu baru yang bisa didapatkan, sehingga pengalaman berkunjung ke pameran keraton tidak pernah terasa membosankan.”

Ds C03266 01 Small

Malam penutupan kali ini dimeriahkan dengan pementasan seni pertunjukan yang menjadi representasi kejayaan masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Sebagai persembahan pamungkas bagi pengunjung yang memadati Bangsal Pagelaran, disajikan Repertoar Fragmen Gathotkaca-Setija yang menampilkan karakter kuat dan teknik tari yang matang, serta ditutup dengan Bedhaya Bontit yang dibawakan secara apik sebagai penutup agung seluruh rangkaian gelaran. Dengan berakhirnya pementasan tersebut, rangkaian Pameran Pangastho Aji resmi dinyatakan berakhir. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa literasi sejarah yang dikemas secara artistik mampu membangun ekosistem wisata budaya yang berkelanjutan di Yogyakarta.