Buron Wana Menandai Dibukanya Gelaran Pameran Smarabawana
- 17-03-2026
Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya kembali menggelar pameran temporer. Gelaran pameran awal tahun ini menjadi bagian dari Mangayubagya Tingalan Jumenengan Dalem yang ke-37 Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 & GKR Hemas dalam tahun masehi, sekaligus janji Keraton Yogyakarta pada publik untuk terus menyajikan wisata edukasi berbasis budaya. Tahun ini, pameran bertajuk Smarabawana: Tata Ruang Kasultanan Yogyakarta dipilih untuk menerjemahkan tema arsitektur, tata ruang, dan wilayah dari Kasultanan Yogyakarta secara khusus.

Gagasan Pameran Smarabawana diawali dengan membaca hubungan tata ruang dan wilayah melalui pendekatan budaya material dan partisipatoris. Di tahap ini pengunjung akan diajak untuk kembali mengingat memori kolektif dari tata ruang dan wilayah Yogyakarta yang diperoleh Pangeran Mangkubumi pasca-Perjanjian Giyanti (1755). Sementara pada sisi partisipatoris, pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang berbeda di setiap ruang melalui optimalisasi panca indra.

“Narasi wilayah Yogyakarta berkaitan langsung dengan sejarah panjang dari pemerolehan wilayah Kasultanan Yogyakarta. Cikal bakal dari wilayah Yogyakarta ditandai dengan Perjanjian Giyanti, sebuah kesepakatan pelik Perang Jawa Ketiga setelah terjadinya Perang Mangkubumen sejak 1749. Di titik inilah, idiom “sawetahing praja, sak kureping langit sak lumahing bumi, estu dadi kagungane nata” begitu relevan dalam menerjemahkan praja Mataram Yogyakarta pasca-Perjanjian Giyanti,” tegas GKR Bendara.
Pendekatan sejarah dengan orientasi pembahasan pada cikal bakal Yogyakarta menjadi topik pembuka di ruang pamer. Hal ini bertujuan untuk memberi pemahaman holistik pada pengunjung bahwa wilayah Yogyakarta diperoleh atas perjuangan Pangeran Mangkubumi. Sementara ruang-ruang berikutnya akan menyajikan wilayah yang diwujudkan melalui replikasi ruang pesanggrahan, kali larangan, segaran, serta kawasan kebun raja dan alun-alun yang menjadi ruang profan-pertunjukan bagi Keraton Yogyakarta. Pada topik arsitektur, simbol hewan dalam sengkalan (penanda angka tahun), stilisasi ragam hias bangunan baik flora maupun fauna turut ditampilkan guna memberi pengalaman artistik pengunjung dengan lebih dekat.

Buron Wana, Memecah Decak Kagum Pengunjung
Sabtu sore (07/03), Pameran Smarabawana resmi dibuka oleh Sri Sultan di Bangsal Pagelaran. Pada momentum pembukaan, hadir pula GKR Hemas, GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, KPH Notonegoro, beserta Wayah Dalem untuk menyaksikan parade busana hewan Buron Wana. Pada agenda pembukaan tersebut, lebih dari 700 pengunjung disuguhi ragam busana hewan yang dekat dengan narasi kebun raja. Fauna tersebut antara lain gajah, landak, bulus, yuyu, macan, merak, burung, hingga hewan mitologi seperti kluyu. Di sisi lain, Buron Wana membawa pesan bahwa tradisi berburu bukan sekadar hiburan para Bangsawan Jawa pada masanya, tetapi sebagai stilisasi dari pelatihan militer serta proses bertahan dalam situasi perang. Dengan kata lain, tata ruang dan wilayah dalam struktur pemerintahan Yogyakarta menempati konsep fungsional strategis hingga saat ini. Sementara manusia di dalamnya bertindak sebagai subjek yang mengisi substansi konkret dari ruang tersebut.

“Hakikat manusia bukan sekadar membangun ruang, tetapi berdiam secara bermakna di dalamnya. Di dalam tata ruang keraton, nilai-nilai tersebut hadir melalui simbol-simbol kehidupan: keseimbangan arah mata angin dalam konsep “nawa dewata”, harmoni kehidupan dalam “sedulur papat lima pancer”, serta relasi spiritual manusia dengan alam semesta,” tutur Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Peragaan busana Buron Wana hadir dengan diiringi lantunan merdu Yogyakarta Royal Choir secara akapela memicu decak kagum para penonton. Meski suasana diguyur hujan, rangkaian pertunjukan tetap berjalan dengan riyuh tepuh tangan. Masyarakat terlihat hadir sejak pukul 15:00 WIB hingga menjelang buka puasa. Tepat pukul 17:30 WIB, seluruh rangkaian acara pembukaan usai. Beberapa pengunjung terlihat masih tinggal di Bangsal Pagelaran untuk menikmati buka puasa bersama hingga pukul 18:30 WIB.
Tak hanya menjadi saksi rangkaian pembuka Pameran Smarabawana, pengunjung juga menyaksikan lahirnya kanal media sosial @kratonjogja.tourism sebagai saluran resmi untuk berbagi informasi terkait unit pariwisata di Keraton Yogyakarta.

Adapun Pameran Smarabawana dapat dikunjungi di Kagungan Dalem Museum Kedhaton mulai 8 Maret – 26 Agustus 2026, sesuai waktu buka kunjungan wisata Kedhaton setiap Selasa - Minggu, pukul 08.30 – 14.30 WIB.