Linuwih Ing Tafakur: Keraton Sambut Malam Lailatulqadar
Kanjeng Pangeran Harya Wironegoro memasuki kompleks Bangsal Srimanganti tepat pada pukul 16.30 WIB. Sementara Abdi Dalem Kanca Kaji dan Abdi Dalem Urusan Pengulon telah bersiap di Bangsal Srimanganti. Selain itu seluruh Penghageng dan Wakil Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan, Penghageng II dan Wakil Penghageng II Kawedanan, Carik dan Kahartakan di Kawedanan Hageng dan Kawedanan, serta para Pengajeng dari seluruh divisi di Keraton Yogyakarta juga telah bersiap di area yang sama.
Perkumpulan ini menjadi sebuah momentum untuk melaksanakan Hajad Dalem Malem Selikuran. Prosesi yang dilaksanakan pada 20 Pasa Dal 1959 atau Senin Kliwon (9/30) merupakan tradisi untuk menyambut datangnya malam Lailatulqadar. Mas Lurah Amat Taufik sebagai Abdi Dalem Urusan Pengulon menerangkan bahwa, “Kegiatan ini menjadi salah satu tunduk atas ajaran Nabi Muhammad SAW untuk mencari malam Lailatulqadar dalam malam hitungan ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sesuai Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.”

Malem Selikuran diambil dari kata ‘selikur’ yang mengandung makna sing linuwih ing tafakur. Sebuah ajakan untuk lebih intensif meraih rida Gusti Allah. “Kata Malam Lailatulqadar telah disebutkan dalam Surat Al-Qadr yang menerangkan malam di mana turunnya Al-Quran sebagai malam yang penuh kemuliaan dan lebih baik dari seribu bulan,” ujar Mas Lurah Amat Taufik.
Sesaat setelah lonceng waktu dibunyikan sebanyak lima kali, KPH Wironegoro membuka Hajad Dalem Malem Selikuran dan mempersilakan Abdi Dalem Suranata untuk memimpin jalannya upacara. Sebagai awalan, Mas Wedana Ngabdul Achmad Yusuf sebagai Abdi Dalem Kaji membacakan ayat suci Al-Quran Surat Ali Imran ayat 133 -134. Kemudian prosesi dilanjutkan dengan pembacaan Risalah Selikur oleh Abdi Dalem Urusan Pengulon.

Mas Lurah Amat Taufik menambahkan bahwa Risalah Selikuran merupakan pengingat kepada kita semua untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa dalam melaksanakan perintah Allah dan Nabi Muhammad.
Sesaat sebelum Azan Magrib berkumandang, pembacaan Risalah Selikur telah usai dan ditutup dengan doa untuk kesejahteraan dan panjang usia bagi Sri Sultan, Keluarga, Abdi Dalem, masyarakat, dan Nagari Ngayogyakarta. Setelah itu Abdi Dalem Patehan menyajikan secangkir teh manis dan besek berisi nasi berkat hasil olahan Pawon Sekulanggen untuk berbuka puasa.

Mas Bekel Hudyanamardawa dari Kahartakan Sri Danardana mengaku antusias mengikuti Hajad Dalem Malem Selikuran, “Sudah tiga tahun menjadi Abdi Dalem dan setiap tahun tidak pernah absen mengikuti Malem Slikuran, ini menjadi momentum sakral di tengah Bulan Ramadan.”
Sementara itu Abdi Dalem Keparak juga telah bersiap menyalakan lilin setiap fajar telah terbenam pada setiap malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lilin ini menjadi sebuah penerang bagi arwah leluhur yang datang.

Selama bulan puasa, segala aktivitas yang melibatkan tabuhan gamelan untuk sementara waktu di-suwuk (dihentikan). Sebagai gantinya, ada tradisi khusus yang dilakukan oleh Abdi Dalem Lebdaswara Kawedanan Kridhamardawa. Secara bergantian mulai pukul 20.00 WIB hingga purna, Abdi Dalem yang bertugas membacakan tembang macapat dari salinan manuskrip milik keraton di teras Bangsal Kencana, pada malam-malam ganjil.
Sebelum bertugas dalam prosesi Malem Selikuran, Abdi Dalem Kaji beserta Urusan Pengulon telah melangsungkan doa bersama untuk Khaul Sri Sultan Hamengku Buwono V di Pendapa Kawedanan Pengulon.
PALING BANYAK DIBACA
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas