Garebeg Sawal Dal 1959: Hadirkan Kembali Revitalisasi dan Inovasi
- 25-03-2026
Pada 1 Sawal Dal 1959 dalam kalender Jawa Sultanagungan yang bertepatan dengan Jumat Legi (20/03) dalam kalender Masehi, Keraton Yogyakarta kembali melangsungkan Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959 untuk merayakan Idulfitri 1447 Hijriah. Seperti prosesi Garebeg sebelum-sebelumnya, keraton kembali berupaya untuk menghadirkan sejumlah revitalisasi.
“Komitmen kami memang setiap prosesi Garebeg selalu menghadirkan hal yang baru, baik itu berupa inovasi maupun yang sifatnya revitalisasi. Hal ini sejalan dengan semangat pelestarian kebudayaan di Keraton Yogyakarta,” imbuh KPH Notonegoro, Penghageng II Kawedanan Kaprajuritan sekaligus Manggala Prajurit Keraton Yogyakarta.

Sebab bertepatan dengan hari Jumat, terdapat pula sejumlah penyesuaian waktu untuk pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal Dal 1959. Bagi yang merayakan Idulfitri pada Jumat (20/03), maka digelar terlebih dahulu Salat Id yang diikuti segenap Prajurit serta Abdi Dalem yang bertugas pada Garebeg Sawal di pelataran Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul sejak pukul 05.30 WIB. Usai Salat Id, segenap bregada atau prajurit keraton segera melakukan prosesi Nyadong Dwaja pada pukul 06.00 WIB.
Iring-iringan bregada prajurit yang mengawal gunungan/pareden mulai menuruni Siti Hinggil di kompleks Pagelaran Keraton Yogyakarta sekitar pukul 08.30 WIB. “Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor, akan dibawa oleh Kanca Abang melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Di Masjid Gedhe, setelah didoakan, akan ada gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan pareden yang dibawa ke Kompleks Kepatihan serta ke Ndalem Mangkubumen,” ujar KRT Kusumanegara.

Total ada 14 kesatuan prajurit keraton yang hadir dalam Garebeg Sawal Dal 1959. Diawali dari Prajurit Jager, kesatuan yang bertugas sebagai penjaga istana mengawali iring-iringan dari dalam kompleks Kedhaton menuju Masjid Gedhe. Disusul Prajurit Suranata yang usai ngurung-urung margi (menjadi pembuka jalan) di dalam Kedhaton, kemudian mengawal Abdi Dalem Pengulon dan Kanca Kaji menuju Masjid Gedhe untuk menyambut gunungan/pareden.

“Pada kesempatan Garebeg Sawal Dal 1959 ini, kami mencoba melakukan revitalisasi pada ageman atau busana Kanca Kaji saat menghadiri upacara besar seperti Garebeg ini. Jika busana padintenan atau sehari-harinya menggunakan atela berwarna putih, busana kebesarannya akan berbeda. Untuk pangkat Wedana menggunakan sikepan berwarna hitam, sedangkan untuk pangkat Bekel dan Jajar menggunakan jubah berwarna kehijauan,” ungkap Nyi RP Lukitaningrumsumekto yang menjadi penanggungjawab revitalisasi busana Prajurit dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.

Berbaris kemudian Prajurit Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero dan Langenastra, Nyutra, Langenkusuma, serta Sumahatmaja. Langenkusuma sebagai kesatuan prajurit perempuan dan Sumahatmaja sebagai satuan prajurit khusus Keraton Yogyakarta pertama kali direvitalisasi pada Garebeg Mulud Dal 1959 pada 5 September 2025 lalu. Kedua prajurit ini menjadi pagar betis dan pembuka jalan bagi gunungan di area Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Ada hal yang tampak berbeda saat Prajurit Dhaeng berbaris menuruni Siti Hinggil. Tepat di tengah Tratag Bangsal Pagelaran, barisan tiba-tiba terhenti, musik tiba-tiba berganti. Keraton Yogyakarta kembali menghidupkan tradisi tari Makanjar/Beganjaran yang dilakukan pleh Prajurit Dhaeng. Hal tersebut merupakan tarian yang diiringi gendhing khusus, diadaptasi dari musik pakanjara asal Makassar, sebagai bentuk penghormatan. Fragmen ini pun menarik perhatian masyarakat yang langsung mengabadikannya melalui gawai masing-masing.

Dalam pelaksanaan Garebeg Sawal 2026, Abdi Dalem Palawija sebagai kesatuan Abdi Dalem yang terdiri dari pribadi dengan kondisi fisik khusus dengan ketugasan mengiringi upacara penting kembali hadir tepat di belakang Manggala Prajurit. Begitu pula dua Abdi Dalem Lurah Tledhek yakni Citralata dan Pralata mengawal iring-iringan Garebeg dengan menghadirkan Songsong Bawat serta Titihan Klangenan Dalem berupa Turangga (kuda).
Sembari menanti gunungan atau pareden diarak menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe, sebuah atraksi kembali hadir dari dua kelompok prajurit dari Bregada Wirabraja dan Mantrijero. Keduanya menampilkan kolone senapan atau atraksi kombinasi baris-berbaris dan ketangkasan memainkan senjata (senapan) yang dilakukan secara kompak. Kridha Bramastra—sebutan untuk kelompok kolone senapan ini—tampil perdana pada Garebeg Sawal Dal 1959 dan menjadi salah satu inovasi.

Tak lama kemudian, lima jenis gunungan Garebeg Sawal melintas. KRT Rinta Iswara menjelaskan kelima jenis itu adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Gunungan tersebut dikeluarkan secara berurutan. Terdapat dua Gunungan Kakung, peruntukannya masing-masing untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman. Sedangkan untuk Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen menerima bagian dari gunungan berupa pareden wajik. Sementara Gunungan Pawuhan, selanjutnya dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.
Pareden yang dibawa ke Ndalem Mangkubumen dikawal oleh Bregada Surakarsa, yang kemudian diterima oleh GKR Mangkubumi dan GKR Hayu sebelum akhirnya dibagikan ke Abdi Dalem yang bertugas di Ndalem Mangkubumen. Sementara itu Bregada Bugis mengawal pareden menuju Kepatihan, sedangkan gunungan untuk Pura Pakualaman dikawal oleh dua Prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir.

Terdapat perbedaan yang signifikan dalam prosesi pengawalan gunungan menuju Pura Pakualaman. Pada Garebeg yang lalu-lalu, terdapat empat liman (gajah) milik keraton yang mengawal jalannya kirab. Dalam Garebeg Sawal Dal 1959 dan selanjutnya, gajah-gajah tersebut tidak lagi diikutsertakan dalam kirab. Hal ini selaras dengan Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Wahanarasa: Hadirkan Kuliner Tradisional Jawa
Bersamaan dengan momentum Garebeg Sawal sekaligus libur Lebaran 2026, Museum Wahanarata menyelenggarakan agenda Wahanarasa: Gelar Kuliner Tradisional Jawa di halaman Museum Wahanarata selama tiga hari, Jumat-Minggu, 20-22 Maret 2026 mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB. Festival kuliner ini menghadirkan kembali berbagai cita rasa kuliner tradisional Jawa yang jarang dijumpai seperti jamu, lempeng juruh, jenang, apem, brongkos, hingga es dawet maupun es puter jadul serta berbagai agenda lainnya.
Pada hari pertama terdapat mini gelar wicara kuliner bersama BRAy Joyokusumo dan Dje Djak Rasa, serta penampilan akustik live oleh La Petang. Pada hari kedua (Sabtu, 21/03) terdapat penampilan tarian dari Sanggar Gendhis Luwes, wisata turangga, serta siaran langsung demo memasak kuliner Prawan Kenes. Sedangkan pada hari ketiga yaitu pada Minggu (22/03) menghadirkan senam pagi Bersama Perwosi, pertunjukan tari oleh Naisila Azzuhri, mini gelar wicara kuliner gastronomi oleh Dje Djak Rasa, serta penampilan akustik dari La Petang.

Melalui perpaduan antara edukasi gastronomi dan hiburan seni, agenda ini diharapkan mampu menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap warisan kuliner autentik Jawa di tengah era modernisasi.