Image page cover

Arsip Gumuk Pasir Parangtritis Ditetapkan Sebagai Memori Kolektif Bangsa, Keraton Terima Penghargaan

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menerima penghargaan tingkat nasional di bidang pelestarian dokumentasi sejarah. “Arsip Gumuk Pasir Parangtritis Yogyakarta Tahun 1921-2025” resmi ditetapkan dan dianugerahkan sebagai Memori Kolektif Bangsa (MKB) Periode I Tahun 2026 oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sesuai dengan Keputusan Kepala ANRI Nomor 180 Tahun 2026 dengan nomor register 46. Penghargaan ini diserahkan dalam perhelatan Rapat Koordinasi Nasional Kearsipan 2026 yang bertepatan pada Hari Kearsipan Nasional ke-55 dengan mengusung tema "Empowering the Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan Menuju Indonesia Emas Tahun 2045".

Penerimaan penghargaan tersebut didelegasikan kepada Carik Kawedanan Hageng Punakawan Datu Dana Suyasa KMT Yudawijaya. Prosesi penyerahan sertifikat penghargaan berlangsung khidmat di Ruang Serbaguna Noerhadi Magetsi, Gedung C Lantai 2, Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu pagi (20/05).

01 01 Small

KMT Yudawijaya menjelaskan bahwa Keraton Yogyakarta berpartisipasi dalam pengusulan Memori Kolektif Bangsa, berupa peta dan manuskrip terkait Gumuk Pasir. “Kasultanan Yogyakarta berkolaborasi bersama Badan Informasi Geospasial dengan menjadi bagian dari pihak pengusul berdasarkan keberadaan arsip-arsip yang disimpan di Kawedanan Panitikisma (peta) dan Widya Budaya (manuskrip).”

Arsip Gumuk Pasir Parangtritis yang mencakup kurun waktu lebih dari satu abad (1921-2025) merupakan salah satu rujukan penting dalam melihat dinamika spasial, geologis, serta interaksi sosial-budaya masyarakat Yogyakarta. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) menjadi instansi yang mendokumentasikan serta mengusulkan arsip bernilai tinggi ini agar diakui dalam skala nasional. Selain itu, kolaborasi tersebut melibatkan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Bappeda Kabupaten Bantul, Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan Setda DIY selaku Badan Pengelola Geopark Jogja, serta Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY.

Diah Faradia dari Unit Kearsipan BIG menerangkan bahwa Arsip Gumuk Pasir Parangtritis (GPP) merupakan himpunan arsip yang merekam proses pengenalan, penelitian, pemetaan, dan pengelolaan kawasan pesisir selatan Jawa melalui pendekatan ilmiah dan geospasial yang berkelanjutan. “Arsip tersebut tidak hanya mendokumentasikan aspek teknis dan ilmiah, tetapi juga merekam dinamika hubungan manusia dengan kawasan Gumuk Pasir dari masa ke masa termasuk aspek sejarah dan budaya. Dalam hal ini, Keraton Yogyakarta merupakan salah satu peradaban yang turut merekam dinamika GPP melalui ritual adat dan keberadaan petilasan atau tempat-tempat bersejarah.”

02 02 Small

Gumuk Pasir Parangtritis merupakan bentang alam geologi yang khas dan bernilai ilmiah tinggi di pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini dikenal sebagai fenomena gumuk pasir tipe barchan yang terbentuk di lingkungan iklim tropis basah—suatu kondisi geomorfologis yang langka karena pada umumnya bentukan serupa berkembang di wilayah arid atau gurun. Keberadaannya merupakan hasil interaksi kompleks proses geologi modern yang melibatkan suplai material vulkanik dari Gunung Merapi, transportasi sedimen melalui sistem fluvial Sungai Opak dan Sungai Progo, dinamika gelombang laut, serta proses eolian (hembusan angin) yang membentuk morfologi gumuk pasir secara berkelanjutan. Sebagai bentang alam yang masih aktif, Gumuk Pasir Parangtritis menjadi rekaman proses geologi yang utuh dari hulu hingga hilir, sekaligus menunjukkan keterkaitan antara sistem vulkanik, pesisir, dan atmosfer dalam satu kesatuan proses alam yang dinamis. 

Diah Faradia menambahkan bahwa Gumuk Pasir Parangtritis memiliki fungsi strategis sebagai laboratorium alam untuk penelitian kebumian, geomorfologi pesisir, mitigasi bencana, hidrologi, serta konservasi ekosistem pesisir. “Kawasan ini menyediakan bukti ilmiah mengenai proses pembentukan bentang alam tropis yang langka, sehingga menjadi rujukan penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan studi geospasial di Indonesia.”

Di sisi lain, Gumuk Pasir Parangtritis juga menyimpan memori kolektif bangsa melalui keterkaitannya dengan sejarah ruang budaya masyarakat pesisir Yogyakarta. Lanskap geologi ini tidak berdiri sendiri sebagai fenomena alam, tetapi hidup berdampingan dengan tradisi, ritus budaya, pengetahuan lokal, dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi. “Setiap tahunnya, Keraton Yogyakarta rutin menyelenggarakan upacara Labuhan, sebuah ritus yang diselenggarakan tepat di pesisir Samudra Hindia, sehubungan dengan keseimbangan alam semesta,” imbuh KMT Yudawijaya.

Dengan demikian, Gumuk Pasir Parangtritis merupakan warisan bentang alam yang merepresentasikan hubungan integral antara proses kebumian, pengetahuan ilmiah, fungsi ekologis, dan nilai budaya, sehingga keberadaannya layak dipandang sebagai bagian dari memori dokumenter dan identitas kolektif bangsa yang harus dijaga keberlanjutannya.

04 04 Small

Melalui penghargaan ini, dokumentasi sejarah Gumuk Pasir Parangtritis diharapkan dapat diakses secara lebih luas oleh masyarakat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pelestarian lingkungan, sekaligus memperkokoh identitas kultural dan sejarah bangsa.

Kepala ANRI, Mego Pinandito juga menegaskan bahwa arsip yang telah ditetapkan sebagai MKB memiliki kedudukan penting dan harus dikelola sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap pihak dilarang melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan, keamanan, maupun nilai guna arsip, termasuk penguasaan secara tidak sah atau pemusnahan arsip yang memiliki nilai kesejarahan.