Takhta, Darma, dan Karsa: Menghidupkan Kembali Warisan Pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX
- Senin, 24 Agustus 2026
Sebuah upaya untuk menelusuri kembali pemikiran, karya, dan keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX hadir melalui peluncuran buku Takhta, Darma, & Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Buku tersebut diluncurkan pada Kamis (13/08) di Auditorium Sukarman, Lantai 2, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Peluncuran buku ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kembali gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini. Tidak sekadar mengenang sosok dan perjalanan hidupnya, buku ini berusaha menelusuri gagasan, karya, serta filosofi kepemimpinan yang menjadi landasan pengabdian beliau bagi masyarakat dan bangsa.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY) ini ditulis oleh Dr. Harto Juwono, M. Hum. dan Anis Ilahi Wahdati, M.Si. Penyusunannya turut didukung oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia, Masyarakat Sejarawan Indonesia, serta Penerbit Andi Offset Yogyakarta.
Hadir dalam kesempatan tersebut Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso, Ketua Kwarda DIY GKR Hayu, Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri, serta sejumlah undangan dari Kwartir Nasional, Kwartir Daerah se-Indonesia, BPIP, Lemhanas, Arsip Nasional Republik Indonesia, dan berbagai lembaga terkait.

Takhta sebagai Tanggung Jawab
Takhta, Darma, & Karsa menempatkan tiga kata tersebut sebagai gagasan utama untuk memahami laku kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Takhta tidak semata-mata dipahami sebagai kedudukan atau kekuasaan, melainkan sebagai amanah dan instrumen untuk mengabdi. Darma menjadi wujud pengabdian, sementara karsa merupakan kehendak luhur yang menggerakkan keduanya bagi kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa.
Pemaknaan tersebut menjadikan warisan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tetap memiliki relevansi dalam kehidupan masa kini. Kekuasaan tidak ditempatkan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sebagai sarana untuk menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 menyampaikan bahwa warisan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak cukup hanya dijaga dalam bentuk-bentuk lama. Nilai dan semangat yang melandasinya perlu terus dihidupkan dan dimaknai kembali sesuai dengan perkembangan zaman.
Bagi Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, buku pada hakikatnya merupakan salah satu cara untuk menahan peradaban agar tidak segera berlalu. Melalui dokumentasi pemikiran dan laku tersebut, generasi masa kini dapat kembali melihat keteladanan seorang manusia Jawa yang telah memberikan pengabdian luas bagi bangsa dan negara.

Takhta, dengan demikian, bukanlah privilege, melainkan tanggung jawab. Demikian pula karsa bukanlah ambisi pribadi, melainkan kehendak untuk mengabdi dengan tulus.
Dari Pramuka untuk Pengabdian kepada Masyarakat
Pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengenai Gerakan Pramuka juga menjadi bagian penting yang ditelusuri dalam buku ini.
Dalam pidatonya di Tokyo pada 1971 yang bertajuk Scout Action for Community Development, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menekankan pentingnya Gerakan Pramuka untuk hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Pendidikan kepanduan tidak berhenti pada kegiatan rekreatif dan petualangan, tetapi diarahkan menjadi bagian dari upaya pembangunan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan.

Gagasan tersebut kemudian mendapatkan pengakuan internasional melalui penganugerahan Bronze Wolf Award pada 1973, penghargaan tertinggi dalam Gerakan Kepanduan Dunia.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan kepramukaan yang digagas Sri Sultan Hamengku Buwono IX memiliki dimensi yang lebih luas. Pramuka bukan semata-mata tentang kegiatan dan simbol, melainkan tentang pembentukan karakter, kepedulian sosial, serta kesediaan untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jalan Mukti dan Takhta untuk Rakyat
Putri Dalem yang juga menjabat sebagai Ketua Kwarda DIY GKR Hayu dalam kesempatan tersebut turut menegaskan salah satu warisan moral penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yakni filosofi “Takhta untuk Rakyat” melalui pilihan “Jalan Mukti”.
Dalam pandangan tersebut, takhta merupakan instrumen pengabdian (darma) yang digerakkan oleh kehendak luhur (karsa) demi kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan bangsa.

Nilai tersebut juga tercermin dalam semangat pengabdian di Gerakan Pramuka. Pengabdian tidak semestinya ditempatkan sebagai ruang untuk mengejar tanda jasa, kedudukan, ataupun kehormatan, tetapi sebagai ruang kerelawanan untuk menempa karakter dan membangun ketahanan generasi muda.
Dengan demikian, warisan Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah Gerakan Pramuka Indonesia, tetapi juga dapat dibaca sebagai sumber pembelajaran mengenai bagaimana kekuasaan, pengabdian, dan kehendak luhur ditempatkan dalam hubungan yang saling menguatkan.

Menghidupkan Keteladanan
Peluncuran buku Takhta, Darma, & Karsa menjadi momentum untuk kembali mempertemukan generasi masa kini dengan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, nilai-nilai mengenai tanggung jawab, pengabdian, keberpihakan kepada masyarakat, dan keteguhan karakter menjadi makin penting untuk terus diwariskan.
Upaya tersebut tidak berhenti pada penerbitan buku. Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas juga merencanakan pembentukan “Bapak Pramuka Indonesia Fellowship” sebagai wadah untuk melestarikan nilai-nilai keteladanan, darma, dan karsa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Program tersebut rencana akan diluncurkan pada 12 April 2027.
Pada akhirnya, peluncuran Takhta, Darma, & Karsa bukan sekadar peristiwa penerbitan sebuah buku. Sebab, keteladanan yang hanya dikenang akan menjadi kenangan, sedangkan keteladanan yang dihayati dan dijalankan dapat terus tumbuh menjadi bagian dari peradaban.