Image page cover

Melestarikan Warisan Agung: Kereta Mandra Juwala Jalani Uji Kelayakan

Pada Senin siang (20/07), kawasan Kagungan Dalem Wahanarata riuh oleh berbagai persiapan. Hangatnya sinar matahari pertengahan tahun menjadi saksi berlangsungnya agenda rutin bagi koleksi kereta bersejarah milik Keraton Yogyakarta, Kereta Mandra Juwala, menjalani uji kelayakan jalan. Bagi Keraton Yogyakarta, pusaka peninggalan leluhur bukan sekadar benda mati yang dipajang di balik lemari kaca pameran. Kereta-kereta kuda koleksi kerajaan merupakan salah satu entitas kebudayaan yang memiliki fungsi historis, spiritual, dan mekanis yang terus dirawat secara berkelanjutan. Uji kelayakan ini menjadi komitmen nyata Museum Wahanarata untuk memastikan bahwa wujud kebudayaan bernilai tinggi tersebut tidak hanya anggun sebagai objek pamer (layak pamer), melainkan juga tetap tangguh dan aman ketika difungsikan (layak guna).

Keberhasilan prosesi jalan kereta ini tentu tidak diraih dalam hitungan menit. Sejak pagi hari, denyut aktivitas di Museum Wahanarata telah berdetak kencang. Para Abdi Dalem Kanca Rata—satuan khusus yang mengemban tugas mengurus, merawat, dan mengemudikan kereta-kereta kerajaan—telah sibuk menyiapkan segala kebutuhan teknis maupun kelengkapan ritual ubarampe. Ketenangan dan ketelitian menjadi kunci utama, mulai dari memeriksa keutuhan struktur kayu, keandalan sumbu roda, pelumasan, hingga kelengkapan busana adat yang akan dikenakan para Abdi Dalem. Tidak ketinggalan, berbagai printilan ornamen penanda kebesaran yang melekat pada Kereta Mandra Juwala dipasang dengan penuh kecermatan. Ketelitian ini menggambarkan dedikasi tulus para Abdi Dalem, di mana penyiapan ubarampe bukan sekadar rutinitas kerja teknis, melainkan wujud bakti dan rasa hormat yang mendalam terhadap warisan para leluhur Mataram.

Kyai Mandra Juwala 1

Semarak Uji Jalan Kereta Mandra Juwala di Jantung Kota

Tepat pukul 13.00 WIB, gerbang Museum Wahanarata perlahan terbuka dan Kereta Mandra Juwala bergerak keluar menuju medan uji di seputaran Alun-Alun Utara Yogyakarta. Kereta dari era Sri Sultan Hamengku Buwono III (buatan tahun 1814) ini ditarik oleh 6 ekor kuda. Kereta kuda ini mengitari Alun-Alun Utara sebanyak dua kali putaran penuh. 

“Uji kelayakan ini rutin bergilir untuk semua kereta setiap Senin Pon. Untuk rute keliling Alun-Alun Utara dipilih untuk memantau langsung stabilitas kerek, fleksibilitas suspensi, ketahanan roda kayu berbalut besi, serta koordinasi respons kuda penarik terhadap arahan kusir saat melintasi berbagai kondisi permukaan jalan,” terang KRT Candrakusuma, Kepala Unit Kagungan Dalem Wahanarata.

Kyai Mandra Juwala 3

Pemandangan langka di sore hari tersebut tak ayal menyedot perhatian khalayak luas. Masyarakat umum di sekitar alun-alun, para pengendara yang tengah melintas, hingga wisatawan yang berkunjung mendadak tertegun menyaksikan derap langkah kuda dan anggunnya laju Kereta Mandra Juwala. Banyak di antara mereka yang antusias mengabadikan momen berharga tersebut menggunakan gawai masing-masing. Salah satu wisatawan asal Temanggung, Subroto (30 tahun), yang kebetulan sedang menikmati suasana sore di Alun-Alun Utara, mengaku kagum saat menyaksikan prosesi tersebut dari jarak dekat.

"Saya merasa beruntung sekali, karena bisa menyaksikan uji coba kelayakan ini, karena tidak setiap hari bisa menyaksikan kereta yang ada di museum itu digunakan," ujar Subroto dengan penuh rasa takjub.

Kyai Mandra Juwala 4

Menjaga Denyut Kebudayaan Mataram di Era Modern

Peristiwa uji kelayakan Kereta Mandra Juwala menjadi bukti sahih bahwa tradisi Keraton Yogyakarta tidak pernah membeku ditelan zaman. Sebagai bagian dari unit wisata yang dinaungi oleh Keraton Yogyakarta, Kagungan Dalem Wahanarata memikul amanah besar melalui pendekatan konservasi yang dinamis dan aktif. Pengujian secara berkala seperti ini memungkinkan tim teknis museum bersama Kanca Rata untuk mendeteksi dini sekecil apa pun kelelahan material pada kayu maupun logam kereta, sehingga langkah perawatan preventif dapat segera dilakukan sebelum terjadi kerusakan permanen.

Kyai Mandra Juwala 6

Melalui program uji kelayakan yang konsisten, Museum Wahanarata berhasil membuktikan bahwa nilai sejarah tidak harus terkurung dalam narasi masa lalu. Di tengah arus modernisasi, derap langkah kuda dan berputarnya roda kayu Kiai Mandra Juwala di Alun-Alun Utara menyuarakan pesan kuat bahwa kebudayaan adalah entitas yang hidup dan senantiasa dirawat dengan kasih sayang. Museum Wahanarata tidak sekadar menyimpan kenangan kejayaan masa lalu, melainkan terus merawat dan menghidupkan sejarah tersebut pada masa kini agar tetap dapat disaksikan, dipelajari, dan dibanggakan oleh generasi mendatang.