Menelusuri Jejak Modernisasi Yogyakarta: Visi Arsitektur Sri Sultan HB VIII dalam Public Lecture 2 Pameran Pangastho Aji
- 30-01-2026
Kompleks Kedhaton Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menjadi pusat perhatian publik melalui kegiatan Public Lecture #2 Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan Pembangunan Yogyakarta yang digelar pada Sabtu lalu (10/01) di Kompleks Kagungan Dalem Wahanarata. Acara ini merupakan rangkaian pendukung dari pameran temporer "Pangastho Aji" yang digelar hingga 23 Januari 2026. Sebagai kelas diskusi yang dirancang untuk membedah topik spesifik berkaitan dengan isi pameran, public lecture edisi kedua secara khusus menyoroti kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan peran Sultan yang monumental dalam pembangunan fisik serta tata kota di Yogyakarta. Kehadiran para pakar dan praktisi dalam diskusi ini bertujuan untuk memberikan perspektif yang lebih luas bagi masyarakat mengenai bagaimana wajah Yogyakarta modern dibentuk melalui kebijakan yang progresif pada masanya.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni KRT Kusumonegoro selaku Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta dan Dr. Ir. Revianto Budi Santoso, M.Arch., seorang akademisi dan dosen arsitektur dari Universitas Islam Indonesia (UII). Jalannya acara dipandu oleh Arum Ngesti Palupi, Koordinator Riset Pameran Pangastho Aji, yang bertindak sebagai moderator. Sinergi antara praktisi internal keraton dan akademisi eksternal ini menciptakan ruang dialog yang kaya, membedah pembangunan era Sultan Kedelapan baik dari sisi internal tembok keraton maupun dampaknya bagi masyarakat luas di luar lingkungan istana.

KRT Kusumonegoro mengawali paparan dengan memfokuskan pembahasan pada pembangunan dan peninggalan bangunan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang berada di dalam tembok benteng. Kanjeng Kusumo menjelaskan bahwa masa pemerintahan Sultan Kedelapan merupakan periode krusial bagi estetika arsitektur keraton yang kita kenal hari ini. Banyak bangunan di dalam kompleks kedhaton yang mengalami renovasi besar-besaran, penyempurnaan detail, hingga penguatan struktur di bawah pengawasan Sultan secara langsung.
"Sri Sultan Hamengku Buwono VIII adalah sosok yang sangat teliti terhadap estetika dan kekuatan struktur. Banyak bangunan di dalam Kedhaton yang kita lihat sekarang merupakan hasil renovasi besar-besaran atau penyempurnaan di era beliau," ujar Kanjeng Kusumo.

Kanjeng Kusumo juga memaparkan secara mendalam mengenai proses revitalisasi bangunan keraton yang menyandang status sebagai bangunan cagar budaya. Dalam konteks ini, peranan Kawedanan Reksa Suyasa menjadi sangat vital sebagai divisiyang membidangi pemeliharaan dan perawatan seluruh aset fisik keraton. Beliau menekankan bahwa setiap proses perbaikan tidak hanya bicara soal fisik, tetapi juga menjaga marwah dan nilai filosofis yang terkandung di setiap sudut bangunan. Revitalisasi di Keraton Yogyakarta mengikuti prinsip keberlanjutan. “Dalam melakukan renovasi dan revitalisasi, kita menggunakan material yang sedapat mungkin mendekati aslinya, namun tetap mengadaptasi teknologi konservasi modern agar bangunan ini bisa bertahan ratusan tahun lagi," tambahnya.
Beralih ke cakupan yang lebih luas, Dr. Revi membedah transformasi Yogyakarta di luar tembok keraton yang terjadi pada masa kepemimpinan Sultan yang sama. Dr. Revi memaparkan betapa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII merupakan sosok pemimpin yang sangat masif dan progresif dalam menghadapi kemajuan zaman di awal abad ke-20. Beliau bukan hanya seorang raja tradisional, melainkan juga seorang perencana kota yang visioner. Sultan Kedelapan terlibat aktif dalam penataan tata kota Yogyakarta agar mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat modern kala itu.
“Sultan Kedelapan adalah seorang visionary urban planner. Beliau menyadari bahwa kemajuan masyarakat tidak bisa hanya berpusat di dalam istana. Beliau melakukan ekspansi infrastruktur publik yang sangat masif di luar tembok keraton," ungkap Dr. Revi.
Dalam paparannya, Dr. Revi menyoroti bagaimana Sultan sangat memprioritaskan fasilitas publik yang kebermanfaatannya masih bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat hingga hari ini. Beberapa warisan fisik yang menjadi sorotan dalam paparan Dr. Revi antara lain adalah pembangunan Pasar Bringharjo sebagai pusat ekonomi rakyat dan Jembatan Kewek yang menjadi penghubung transportasi penting. Selain infrastruktur, perhatian Sultan terhadap kesejahteraan sosial dibuktikan dengan pembangunan Rumah Sakit Panti Rapih dan Sanatorium Pakem yang melayani kebutuhan kesehatan warga. Di bidang kebudayaan dan edukasi, Sultan Kedelapan juga menunjukkan perhatian melalui hibah tanah serta berbagai koleksi pribadi untuk pendirian Museum Sonobudoyo. Tidak berhenti di situ, beliau juga memprakarsai pembangunan berbagai pasar rakyat di wilayah Yogyakarta untuk memperkuat fondasi ekonomi kelas menengah ke bawah. Visi pembangunan ini menunjukkan bahwa Sultan Kedelapan sangat memahami pentingnya fasilitas umum dalam menunjang kemajuan peradaban sebuah daerah.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara berlangsung, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Para peserta, yang terdiri dari berbagai kalangan mulai dari mahasiswa hingga pengamat sejarah, melontarkan berbagai pertanyaan kritis mengenai teknis pelestarian bangunan hingga relevansi visi pembangunan Sultan Kedelapan dengan tantangan tata KotaYogyakarta saat ini. Diskusi ini berhasil menjembatani pemahaman bahwa pameran Pangastho Aji bukan sekadar memajang artefak masa lalu, melainkan upaya refleksi atas nilai-nilai kemajuan yang telah diletakkan oleh para leluhur. Melalui public lecture ini, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai setiap bangunan bersejarah yang mereka lalui di jalanan Yogyakarta sebagai bagian dari warisan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang luhur.