Raden Bekel Pronomatoyo, Mataya dan Prajurit Sumoatmaja: Semangat Syiar Budaya dari Keraton Yogyakarta
Prajurit Sumoatmaja merupakan bagian dari Bregada Nyutra yang bertugas khusus mengawal Miyos Dalem (prosesi kehadiran sultan dalam ruang upacara). Kesatuan prajurit ini sempat vakum beberapa dekade sebelum dihidupkan kembali dalam revitalisasi prajurit keraton tahun 2025. Sumoatmaja berasal kata kusuma yang bermakna luhur dan atmaja yang berarti anak, dengan kata lain mereka adalah prajurit-prajurit keturunan bangsawan dan orang-orang terpandang.
Pada saat prosesi, mereka akan berjajar di sisi kanan dan kiri singgasana Sri Sultan dan memberikan penghormatan menghadap Sri Sultan dengan sikap jengkeng khas seperti gerak tari Wayang Wong. Tak heran, anggota Bregada Sumoatmaja saat ini banyak direkrut dari penari-penari keraton, salah satunya adalah Putra Jalu Pamungkas, Abdi Dalem Mataya Kawedanan Kridamardawa.

Jalu bergabung sebagai penari magang di keraton pada 2015, saat ia masih menjadi mahasiswa. Pada saat itu, gladhen beksan atau latihan menari dilaksanakan setiap hari Minggu di Bangsal Kasatriyan. Sebelumnya, ia berlatih tari di Sanggar Siswa Among Beksa. Ia kemudian memperdalam keterampilannya secara formal di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) dan berlanjut kuliah di program S1 dan S2 (Tata Kelola Seni) ISI Yogyakarta.
Akhir 2018, Jalu bersama rekan-rekan penari membentuk perkumpulan Setamaya (Seniman Tari Muda Yogyakarta). Pertunjukan mereka disaksikan oleh GKR Mangkubumi. “Alhamdullilah pergerakan dari kami para seniman tari muda, direspons positif oleh beliau,” ujarnya. Tak lama kemudian ia dan rekan-rekannya ditimbali oleh KPH Notonegoro, Penghageng Kawedanan Kridamardawa untuk ikut andil melestarikan seni tari di keraton. “Saat itulah saya dan rekan-rekan bisa dikatakan magang di Kawedanan Kridamardawa.”
Januari 2019, untuk pertama kalinya pertunjukan Uyon-Uyon Hadiluhung di keraton menerapkan sistem reservasi daring. Jalu didhawuhi (ditugaskan) oleh KPH Notonegoro untuk membantu mengelola pergelaran tersebut dengan pendekatan manajemen pertunjukan modern.
Tanggal 17 Juni 2019, untuk pertama kalinya ia ikut menari dalam pertunjukan Uyon-Uyon Hadiluhung dengan penampilan Beksan Lawung Alit. Keesokan harinya ia diwisuda sebagai Abdi Dalem dengan Nama Paring Dalem, Raden Jajar Jalu Pronomatoyo. Kini ia berpangkat Bekel Anom dan tugasnya melebar. Ia tak lagi sekadar menari di atas panggung, melainkan masuk ke dalam tim produksi atau Pangarsa Palakerti. Kini ia juga magang pamucal (pelatih) tari putra di Kridamardawa. “Misalnya dipersentase, menari dan palakerti itu bisa dikatakan persentasenya lebih banyak di palakerti, di produksinya.”

Bregada Sumoatmaja
Pada tahun 2021, beberapa Kanca Mataya ditarik untuk menjadi anggota Bregada Nyutra, termasuk RB Pronomatoyo. Empat tahun kemudian, ia didhawuhi untuk liyer (pindah tugas) ke prajurit Sumoatmaja dan bertugas untuk pertama kalinya dalam Garebeg Mulud Taun Dal 1959, yang berlangsung pada September 2025.
Sebagai prajurit Nyutra maupun Sumoatmaja, RB Pronomatoyo diwajibkan sowan menjelang pelaksanaan upacara garebeg. “Sekitar tiga atau empat kali pertemuan, geladi baris berbaris, juga geladi untuk defile,” jelasnya.
Baru-baru ini, RB Pronomatoyo dan beberapa anggota prajurit Nyutra mendapat tugas untuk melatih anggota bregada baru Langenastra melakukan ragam gerak tayungan sebagai langkah khas dalam barisan mereka. Bregada Langenastra merupakan bagian Bregada Mantrijero yang bersenjata tombak. Bersama Bregada Sumoatmaja, kesatuan prajurit ini sama-sama menarikan tayungan, dengan perbedaan karakteristiknya. “Kalau didekatkan ke tari klasiknya Yogyakarta itu, prajurit Langenastra menggunakan tayungan gagah, sementara prajurit Nyutra bersama Sumoatmaja menggunakan tayungan alus,” lanjutnya.

Berkah yang Hanya Bisa Dirasakan
Secara silsilah, RB Pronomatoyo merupakan keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Kakeknya dari pihak ibu, Raden Bekel Natakahana, adalah buyut sultan kedua tersebut. Semasa hidup, sang kakek mengabdi sebagai petugas listrik di keraton dan diberi tempat tinggal Magersari di Ndalem Kaneman, kompleks yang dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono V dan ditempati oleh kerabat keraton. Tempat tersebut juga digunakan sebagai sanggar tari Siswa Among Beksa, salah satu pusat latihan tari klasik tertua di Yogyakarta. Masa kecil RB Pronomatoyo dihabiskan di kompleks ini sebelum keluarganya pindah ke Mejing, Gamping, saat ia berusia sekitar sembilan tahun. Namun, RB Pronomatoyo masih sering berkunjung ke Ndalem Kaneman untuk membantu kegiatan di sanggar. Bahkan, sejak 2023 ia dipercaya untuk menjabat sekretaris di sanggar tersebut.
Nyaris seluruh waktu RB Pronomatoyo dedikasikan untuk tari. Ia merupakan dosen ASN di ISI Yogyakarta yang terutama mengajar mata kuliah Tari Klasik Gaya Yogyakarta dan Manajemen Produksi. Sementara, di luar kampus, ia terus aktif sebagai pelaku seni, baik di depan layar sebagai penari, maupun di belakang layar sebagai koreografer, stage manager, ataupun tim artistik. Juli 2026 misalnya, ia dipercaya oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengelola pertunjukan lima hari penuh selama agenda Road To Inacraft berlangsung. Bulan berikutnya, ia mendapat amanah untuk menggarap tari kolosal yang dipertunjukkan dalam upacara penurunan bendera pada hari Kemerdekaan di Istana Negara Yogyakarta.
Bersama Keraton Yogyakarta, ia sering mengikuti muhibah kebudayaan yang dilaksanakan atas kerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Ia pernah melanglang ke berbagai kota, mulai dari Sragen, Ponogoro, Madiun, Tulungagung, Trenggalek, hingga Banjarmasin. Selain itu, ia juga mengikuti misi kesenian di luar negeri, Promote Tourism Indonesia – Jepang, Sanriku Internatioal Arts Festival di Jepang, International Folklore Danca Festival di Turki, dan masih banyak lagi.
Meski keahliannya sebagai penari dan penyelenggara pertunjukan tak diragukan lagi, ia terus belajar. Sebagai pamucal magang, misalnya, ia ingin memperdalam keterampilan bermain keprak (ketukan pengatur tata gerak). Menurutnya, keprak sangat penting untuk menjaga keselarasan tari.
Walau sangat sibuk, pengabdian sebagai Kanca Mataya dan Kanca Prajurit tidak pernah ia kesampingkan karena dari situlah ia mendapatkan berkah yang tak bisa dilihat dan hanya bisa dirasakan. “Di dalam keraton saya menemukan satu kenyamanan yang sebenarnya,” ujarnya. Dalam pandangannya, mendapat kesempatan untuk mengabdi adalah anugerah. Ia dapat melihat secara langsung fenomena dan perkembangan sejarah keraton.

Terpesona Malioboro
Bila tidak sedang bertugas, RB Pronomatoyo lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan menonton video di aplikasi daring. Namun, saat bepergian, tempat refreshing favoritnya adalah Malioboro. Sering ia sengaja melewati jalan legendaris itu atau duduk-duduk di sana sambil menyaksikan orang-orang beraktivitas. Penggemar klub sepak bola Real Madrid (Madridista) ini memandang Malioboro sebagai titik kebudayaan nan dinamis.
Di jalan ini pula, salah satu kenangan paling berkesan tertoreh, yaitu keikutsertaannya dalam flash mob tari Wanara bersama Kridamardawa. Flash mob yang dilaksanakan 18 Juni 2019 sore itu kemudian viral dan mendapat respons positif di dunia maya.
Kebetulan, paginya ia baru saja diangkat menjadi Abdi Dalem. “Saya membaca di bawah nama saya, ada kata-kata (yang kemudian) saya menyimpulkan bahwa saya bertugas untuk semacam syiar budaya dari keraton ke publik.” Pesan itu begitu menyentuh hatinya sampai-sampai ia kehabisan kata untuk menggambarkan perasaannya. “Dari sana saya mencoba untuk menata kembali. Bagaimana saya harus bersikap, di kehidupan saya sehari-hari.”

Momen berkesan lainnya ia dapatkan ketika menghadiri semuan di Bangsal Kencana. Acara tanpa pemandu itu berjalan otomatis dengan lancar, mulai dari berkumpulnya Abdi Dalem, kehadiran Ingkang Sinuwun, penyajian tari, hingga jengkar-nya Sinuwun. Dari perspektif seni pertunjukan, ia menganggap acara tersebut estetik. “Acara tidak perlu dikomando, tetapi semua sudah berjalan dengan sendirinya.”
Salah satu pelajaran paling berharga yang ia dapatkan dari keraton adalah penerapan sopan santun. “Trapsila maupun suba sita yang menjadi suatu teori orang Jawa pada umumnya, dengan setiap hari diaplikasikan sehingga menjadi kebiasaan.” Menurutnya, hal tersebut adalah privilege, seperti halnya kesempatan belajar bahasa Jawa dari pusatnya. Ia mengamati banyak anak muda yang tidak bisa berbahasa Jawa halus dengan lancar. “Saya menyimpulkan, kalau ingin lancar bahasa krama, minimal harus melakukan itu terus-menerus.”
Rasa syukurnya makin besar karena dapat memberikan rasa bangga pada keluarga. “Dulu Eyang pernah tayungan di Kasatriyan, malah mongkog-nya orang tua ketika ada yang melanjutkan aktivitas yang ada di keraton,” katanya lagi.
Dengan demikian, ia mendambakan Keraton Yogyakarta tak hanya berhenti menjadi museum peninggalan leluhur, melainkan abadi sebagai ruang kebudayaan yang terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.
PERISTIWA POPULER
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas