Nyi Mas Jajar Rasmiwaditro, Abdi Dalem Musikan: Emansipasi Perempuan di Panggung Orkestra
Hingga awal abad ke-20, orkestra masih didominasi oleh musikus laki-laki. Kini, partisipasi perempuan dalam grup musik besar semacam itu sudah jauh lebih besar, beberapa bahkan sudah menduduki posisi tinggi.
Cahya Simphoni Fabiola merupakan salah satu perempuan muda musikus orkestra yang bintangnya mulai bersinar. Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) merupakan salah satu laga emansipasinya. Bergabung pada 2021, Cahya tak hanya berperan sebagai pemain, tetapi juga pemimpin produksi yang diandalkan.
Cahya terlahir dalam keluarga pemusik. Ayahnya pemain biola. Dua kakak perempuannya mengikuti jejak sang ayah, masing-masing bermain biola dan selo. Alih-alih menekuni alat musik gesek seperti mereka, Cahya mengambil jalan berbeda. Ia memilih mengakrabi alat musik tiup, yaitu flute.
Sejak kecil Cahya memang suka menyanyi dan menikmati musik, tetapi ia baru serius berlatih memainkan alat musik sebulan sebelum mendaftar Sekolah Menengah Musik Yogyakarta (SMKN 2 Kasihan). Setelah menuntaskan pelajaran musik formal di sekolah tersebut, ia meneruskan studinya di ISI Yogyakarta, jurusan Pendidikan Musik.

Abdi Dalem Musikan
Memasuki semester lima, Cahya merasakan kegalauan karena kuliah praktiknya sudah selesai. Ia ingin gairah yang didapat selama kuliah praktik tetap menyala. Kebetulan saat itu, tahun 2021, Keraton Yogyakarta meluncurkan Yogyakarta Royal Orchestra, unit musik baru di bawah Kawedanan Kridhamardawa. Dosen musiknya yang juga Abdi Dalem Musikan, Mas Lurah Widyotantomardowo, mendorong Cahya mengikuti audisi terbuka perekrutan pemain baru. Setelah berdiskusi beberapa kali dengan ibunya (ayahnya sudah meninggal pada saat itu), Cahya mendapatkan restu.
Ia dinyatakan lolos audisi daring dan luring. “Di audisi kedua dikasih pawiyatan (penataran) dalam waktu sehari. Dari situ langsung ikut ayah-ayahan,” tuturnya. Tugas-tugas dari keraton ia jalani sembari berkuliah.
Awalnya, Cahya mendapat status calon magang. Dua tahun kemudian, ia diwisuda menjadi magang, lalu tahun berikutnya, November 2024, ia diwisuda menjadi Abdi Dalem dengan Nama Paring Dalem serta pangkat, yakni Nyi Mas Jajar Rasmiwaditro.
Selain menjadi anggota YRO, Nyi MJ Rasmiwaditro juga berkiprah sebagai anggota prajurit putri Langenkusuma. “Aku di situ sebagai pemain musik yang mengiringi jalannya prajurit, tim ungel-ungelan.” Langenkusuma merupakan bregada baru yang dibentuk kembali pada 2025, merevitalisasi bregada putri yang pernah eksis pada masa awal pendirian Keraton Yogyakarta.
Tak pelak, sang ibu pun berbangga atas pencapaiannya. “Dia support banget karena di sini aku merasa banyak hal yang aku dapat, walaupun kadang Ibu marah kalau aku pulang malam gara-gara aku ngayahi atau gara-gara misalnya rapat, harus berangkat pagi dan segala macam, tetapi di sisi lain, senang banget, sih. Cukup banggalah.”

Dari Pemain ke Pemimpin
Keputusan Nyi MJ Rasmiwaditro untuk bergabung dengan YRO berakar dari keinginan untuk mengenal budaya Yogyakarta lebih dalam. “Sebenarnya aku kan Jogja banget, lahir dan besar di Sleman, cuma selama ini aku tidak tahu soal Jogja, soal Jawa itu bagaimana. Juga bahasa Jawa tidak diajarkan di rumah.”
Cahya memulai masa baktinya sebagai pemain instrumen flute dan piccolo. Menjelang akhir 2023, ia mulai dilibatkan dalam proses produksi. Tugas pertamanya sebagai tim produksi adalah menjadi naradamping untuk bintang tamu dari Amerika. Setelah dua kali bertugas sebagai naradamping, ia dipercaya menjadi pemimpin produksi (pimpro) sebuah Pentas Musikan Kamardikan ensambel tiup di area Bangsal Kamandungan. “Itu ayahan kecil, jadi seperti uji coba, bisa atau nggak,” jelasnya. Setelah uji coba tersebut, ia menerima tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menjadi asisten pimpro dalam Konser A Tribute to Giacomo Puccini (September 2024). Setelah beberapa kali menjadi asisten, keterampilan manajerialnya makin terasah hingga ia dipercaya untuk memimpin gelaran akbar, salah satunya A Tribute to Giuseppe Verdi (Oktober 2025).
Momen pertama menjadi pimpro begitu berkesan baginya. “Itu dar der dor. Aku baru tahu, oh ternyata jadi tim produksi itu seberat ini karena selama aku belum masuk. Aku (sebelumnya) player, datang, latihan, pulang. Nggak ikut sebelum acara harus ngapain, setelah acara harus ngapain.” Pengalaman itu membuatnya lebih memahami kerja tim produksi dan sebisa mungkin memberi dukungan pada mereka.
Kenangan istimewa lainnya terukir saat ia ditunjuk menjadi solis dalam Konser “Warawaditra -- Women Orchestra Concert” di Bangsal Pagelaran. Warawaditra adalah sebutan untuk pemain musik putri di Keraton Yogyakarta. Konser Warawaditra menampilkan pemain yang nyaris seluruhnya perempuan.
Saat itu sebenarnya, ia dicalonkan sebagai pimpro. Namun, karena ia satu-satunya pemain flute perempuan, ia juga diandalkan untuk menjadi solis. Oleh KPH Notonegoro, Penghageng Kridhamardawa, ia ditawari untuk memilih menjadi pimpro atau solis. “Karena aku belum pernah jadi solis yang diiringi orkestra, ini kesempatan banget, sih. Akhirnya aku jadi solis aja.”
Pilihan itu membuahkan kenangan tak terlupakan. Konser tersebut disaksikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, GKR Hemas, dan keluarga. KPH Notonegoro pun memberikan ucapan selamat langsung kepadanya. “Waktu itu KPH Notonegoro cerita bahwa (Permaisuri) GKR Hemas minta videoku karena beliau senang mendengarnya,” kisahnya bangga.
April 2025, dilema yang sama kembali terjadi. Ia kembali diberi amanah untuk memimpin Konser Warawaditra Untukmu Kartiniku. “(Dalam konser) Warawaditra itu semuanya cewek, kaya semua (tim perempuan) dikerahkan di situ, dari kondekturnya, pemain orkestranya, cokekan-nya, sindennya, solis-solisnya, semuanya cewek.” jelasnya. Peragaan busana yang ditampilkan dalam konser tersebut juga dijalankan oleh perempuan seluruhnya.
Dalam hati, Nyi MJ Rasmiwaditro ingin menjadi solis, tetapi ternyata tidak mudah untuk mencari pimpro perempuan, sementara KPH Notonegoro menginginkan jabatan tersebut dipegang perempuan sebagai penghormatan terhadap perjuangan Kartini. “Terus akhirnya ada rapat besar di Kridhamardawa, terpilihlah aku sebagai pimpro,” tuturnya. Tak tanggung-tanggung, dalam konser tersebut asisten pimpro, kru panggung, hingga pemandu dijabat oleh perempuan.
Pengalaman lucu ia dapatkan ketika menjadi naradamping bagi tamu dari British Military Band, Inggris yang pentas di Kepatihan. Ia ternyata mengalami kesulitan memahami logat bahasa Inggris si tamu. “Waktu itu yang menjadi konduktor Pak Joko. Pak Joko minta tolong aku buat menerjemahkan. Akhirnya, KPH Notonegoro yang maju. Beliau yang translate langsung.”
Sementara itu, Konser Paramaswara di Bendung Kamijoro Kulon Progo menyisakan cerita konyol untuk Nyi MJ Rasmiwaditro. “Aku kesal karena sepatuku jebol pas naik ke panggung. Wah, udah bad mood banget.” Untung ada rekan yang membawa sepatu cadangan dengan ukuran yang pas untuknya.

Mengisi Ulang Energi
Sebagai Abdi Dalem Musikan, Nyi MJ Rasmiwaditro berkewajiban marak sowan seminggu sekali, selain tentu saja mengikuti latihan dan pentas. Sementara, di luar keraton, gadis yang tinggal di Pakem, Sleman ini bekerja sebagai musikus profesional dan pengajar. Ia beberapa kali terlibat dalam pementasan-pementasan besar, seperti Serenade Bunga Bangsa (Agustus 2023), Orchestra Jawa (Juli 2024), dan The Twilite Orchestra (November 2024). Ia bahkan pernah dikontrak oleh orkes di Jakarta serta berkesempatan tampil di luar Jawa, di antaranya, Balikpapan dan Tidore.
Apabila punya waktu luang, ia lebih suka menghabiskannya dengan tidur di rumah demi mengisi ulang energi yang terkuras oleh jam-jam latihan panjang. Untuk menyegarkan diri, ia memilih berolahraga di pusat kebugaran, menonton drama Korea, bermain gim, atau membaca novel. Ia menyukai novel-novel bergenre thriller dan misteri. Baru-baru ini ia mendapatkan kegemaran baru, yaitu menari Jawa klasik.
Ketertarikannya pada seni tari sebenarnya telah bercokol beberapa waktu. “Aku melihat penari itu indah banget dan nari itu kaya sabar banget.” Ketika menonton pertunjukan Uyon-Uyon Hadiluhung di Keraton Yogyakarta, minatnya makin memuncak. Ia pun mendaftar sebagai murid Sanggar Tari Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (Pujokusuman). “Aku coba, ternyata benar, butuh kesabaran ekstra, butuh keseimbangan ekstra, dan me-manage diri sendiri dari segi emosi, badan.”
“Kalau kamu nggak bisa mengontrol dirimu sendiri bahkan badanmu sendiri, bagaimana kamu bisa mengontrol orang lain sebagai pimpro?” katanya mengutip kalimat yang dilontarkan Ibu Retnaningsih, penari senior keraton yang memberinya wawasan terkait filosofi tari keraton.
Perempuan dalam Orkestra
Nyi Mas Jajar Rasmiwaditro memandang peran dan posisi perempuan dalam orkestra di Indonesia saat ini sangat baik. “Sudah banyak pemain orkestra perempuan yang secara power pun melebihi laki-laki dan memang ditempatkan di posisi principle, bahkan concert master,” terangnya. Selama menjadi pemusik, ia tak pernah mengalami diskriminasi, alih-alih ia justru mendapatkan dukungan dari rekan laki-laki. Namun, ia tak memungkiri tenaga perempuan tidak sebesar laki-laki sehingga di beberapa instrumen, termasuk tiup, perempuan harus mengerahkan tenaga esktra. “Selebihnya, seperti skill, memang itu tantangan semua orang yang ada di orkestra, tidak melihat perempuan atau laki-lakinya.” Oleh karena itu, menurutnya, setiap upaya perempuan untuk menyetarakan diri dengan laki-laki patut diapresiasi.
Salah satu prinsip yang ia pegang dalam bekerja adalah melakukan semua dari hati. “Ikhlas saja gitu dan tidak melihat nominal.” Ia telah membuktikan bekerja fokus dengan hati senang justru mendatangkan peluang lebih banyak.
PERISTIWA POPULER
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas