Tari sebagai Sarana Pendidikan di Keraton Yogyakarta

Selain olah gerak, tari klasik gaya Yogyakarta juga menuntut olah rasa yang disesuaikan dengan falsafah hidup yang dirumuskan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Maka tak mengherankan apabila kemudian latihan tari klasik gaya Yogyakarta juga digunakan sebagai sarana membentuk karakter.

Sultan Hamengku Buwono, Sang Maestro Tari

 

Sejak awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Sultan yang berkuasa selalu memberi perhatian khusus pada perkembangan seni tari. Tidak sekadar mendukung, mereka juga bertindak langsung sebagai penari dan pencipta tari. Pada Babad Prayut (Giyanti Pungkasan) diketahui bahwa Sultan sendiri yang mengajarkan Putra Mahkota untuk menari Beksan Sekar Medura. Bahkan di dalam kesempatan lain, Sultan dan Putra Mahkota menari Beksan Jebeng secara bersama. Menari kemudian menjadi kewajiban bagi Putra Dalem, Sentana Dalem, Wayah Dalem, hingga para Abdi Dalem Prajurit . Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I juga memiliki kesatuan prajurit berisi penari-penari cakap, yaitu Bregada Nyutra, yang selain menjadi kesatuan militer juga bertugas menampilkan pertunjukkan tari.

 
 
Beksan Jebeng dalam Uyon-uyon Selasa Wagen 4 Maret 2019

 

Kawruh Joged Mataraman

Tari klasik gaya Yogyakarta dijiwai oleh Joged Mataraman, suatu falsafah sekaligus ilmu dalam menari. Apabila tari gaya Yogyakarta adalah wujud dari teknik lahiriah, maka Joged Mataram adalah jiwa yang menghidupinya. Landasan sikap dan gerak dari Joged Mataram didasakan pada orientasi sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Empat prinsip dasar tersebut dikenal sebagai kawruh Joged Mataraman yang selanjutnya menjadi sebuah pendidikan rasa bagi para penari.

Sawiji berarti konsentrasi yang total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. Greget dimaknai sebagai semangat yang menjiwai, sedangkan sengguh adalah sikap percaya diri tanpa mengarah pada kesombongan. Terakhir adalah ora mingkuh yang berarti tidak menyerah dan takut menghadapi kesulitan. Falsafah Joged Mataram apabila diterapkan dalam seni tari akan memberikan keseimbangan lahir dan batin.

Ds C09849
Postur tubuh mencerminkan falsafah Joged Mataram

 

Pendidikan Karakter

Keberadaan seni tari sebagai bagian dari pendidikan di dalam Keraton Yogyakarta sudah dimulai sejak awal. Saat keraton membangun Sekolah Tamanan pada tahun 1756, segera setelah keraton difungsikan sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan, seni tari menjadi salah satu pelajaran wajib yang berkaitan dengan kebudayaan.

Sesaat setelah mengakhiri sembilan tahun masa peperangan, tidak mengherankan jika semangat keprajuritan yang kental muncul dalam falsafah Joged Mataram. Sri Sultan Hamengku Buwono I secara sadar memang memasukkan nilai-nilai ksatria, olah keprajuritan, dan semangat kepahlawanan seperti dalam kisah pewayangan. Bahkan beliau mengangkat latihan ketangkasan bermain tombak dalam olah keprajuritan sebagai salah satu tari pusaka Beksan Lawung Ageng yang kadang juga dikenal sebagai Beksan Trunajaya.

Pemaknaan terhadap pendidikan karakter dalam tari klasik gaya Yogyakarta terus berkembang seiring dengan perkembangan tari ini sendiri. BPH Suryobrongto, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang menjadi seorang empu tari, menyebutkan bahwa menari adalah mendidik diri tentang rasa.

Menari adalah pendidikan jasmani dan estetika. Bahkan menari menjadi upaya membangun rasa kesucian bagi para putri, sekaligus sebagai senjata untuk menolak sifat-sifat yang kasar. Pendidikan karakter dalam seni tari ini digunakan sebagai media memperhalus budi.

Oleh karenanya, Suryobrongto kemudian menerjemahkan falsafah Joged Mataram sebagai konsep pedoman hidup. Sawiji dimaknai sebagai upaya keras dalam mewujudkan cita-cita yang didukung dengan konsentrasi terarah pada tujuan utama. Greget merupakan perwujudan dari semangat dan dinamika yang terarah melalui saluran yang wajar. Sengguh merupakan rasa percaya diri penuh pada kemampuan pribadi. Ora mingkuh adalah bentuk semangat juang tanpa menyerah meskipun menghadapi rintangan. Bahkan ia menyatakan bahwa pada masa lalu, seseorang dianggap sebagai under educated apabila belum dapat memahami makna Joged Mataram.

Joged Mataram memang dapat dimaknai secara luas, bahkan termasuk dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam falsafah ketuhanan, kawruh Joged Mataraman dimaknai bahwa setiap umat hendaknya mengesakan Tuhannya. Di samping itu, penanaman rasa syukur dalam diri merupakan hal terpenting dalam menjalani hidup. Bahkan dalam prinsip dari tari klasik gaya Yogyakarta terdapat unsur kesusilaan yang menanamkan rasa dalam menari agar tidak melanggar norma susila. Termasuk pula pendidikan untuk berlaku disiplin dan teguh pendirian.

 

 
Beksan Lawung Ageng dalam Malam Resepsi Mangayubagya 30 Tahun Jumeneng Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X

 

Daftar Pustaka:
B.P.H. Suryobrongto. 1976. Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta.
Dinusatomo. 1993. Filsafat Joged Mataram, Perkembangan dan Korelasinya. Makalah Sarasehan Tari, Taman Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan pada 26 Juli 1993.
Dwi Ratna Nurhajarini. 2017. “Dari Kraton untuk Kemajuan: Pendidikan di Yogyakarta Akhir Abad XIX- Awal Abad XX” dalam Meneguhkan Identitas Budaya, Sejarah Pendidikan di Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Fred Wibowo. 1981. Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Dewan Kesenian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. __________. 2002. Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Hughes, Felicia-Freeland. 2009. Komunitas yang Mewujud,Tradisi Tari dan Perubahan di Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Ki Hadjar Dewantara. 2004. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. 
Pramutomo. 2009. Tari, Seremoni, dan Politik Kolonial (I). Surakarta: ISI Press Solo. Soedarsono. 1997. Wayang Wong: Dramatari Ritual Kenegaraan di Karaton Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Susanto. 1996. Wayang Wong dan Tahta, Suatu Kajian Tentang Politik Kesenian Hamengku Buwono VIII 1921-1939. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.