Bel Canto: The Italian Voice, Harmoni Yogyakarta Royal Orchestra dan Musisi Italia kembali Bergema
- Minggu, 26 Juli 2026
Selama lebih dari dua jam, repertoar karya para komponis Italia mengalun di kawasan Museum Benteng Vredeburg pada Sabtu (18/07) malam. Dipimpin konduktor asal Italia Aurelio Canonici, Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) dan Yogyakarta Royal Choir (YRC) berkolaborasi dengan para musisi asal Italia dalam konser Bel Canto: The Italian Voice. Pertunjukan yang digelar melalui kolaborasi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kedutaan Besar Italia di Indonesia, dan Istituto Italiano di Cultura (IIC) Jakarta ini kembali diselenggarakan untuk ketiga kalinya sebagai ruang perjumpaan budaya.

Melanjutkan konser penghormatan kepada Giacomo Puccini pada 2024 dan Giuseppe Verdi pada 2025, Yogyakarta Royal Orchestra tahun ini menghadirkan karya-karya Bel Canto dari Gioachino Rossini, Vincenzo Bellini, dan Gaetano Donizetti. Menurut KPH Notonegoro selaku Penghageng Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, tingginya antusiasme masyarakat pada dua konser sebelumnya menjadi dorongan luar biasa untuk kembali menghadirkan kolaborasi tersebut.
Besarnya sambutan masyarakat telah terlihat sejak masa reservasi tiket yang dibuka pada 03 – 05 Juli 2026. Seluruh kuota reservasi sebanyak 1.300 tiket, baik melalui jalur daring maupun luring, habis dipesan dalam waktu singkat. Selain kuota yang dibuka untuk umum tersebut, panitia juga menyediakan sekitar 150 kursi bagi tamu undangan, mitra kedua institusi, serta penonton prioritas seperti penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil.

Perhelatan pada malam tersebut turut dihadiri oleh Putri Dalem GKR Mangkubumi, Wayah Dalem RM Drasthya Wironegoro, Duta Besar Italia untuk Indonesia H.E. Roberto Colamine, Direktur Istituto Italiano di Cultura Michele Cavallaro, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D., Kepala Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) Laksamana Madya TNI Dr. Irvansyah, S.H., M.Tr.Opsla., serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.
Maestro Aurelio Canonici selaku pengaba memimpin jalannya konser yang terbagi ke dalam dua babak. Babak pertama dibuka dengan L'Italiana in Algeri: Overture karya Gioachino Rossini yang menghadirkan melodi ringan, dinamis, sekaligus penuh semangat, mengajak penonton memasuki tradisi opera Italia sejak nada-nada pertama dimainkan. Selanjutnya, para solois Italia bergantian tampil membawakan repertoar dari opera-opera karya Rossini, Bellini, dan Donizetti. Tenor Daniele Falcone mengawali penampilan solo dengan Quanto è bella, quanto è cara dari opera L'elisir d'amore, disusul baritone Matteo Mancini lewat Ah! Per sempre io ti perdei dari opera I Puritani. Sementara itu, soprano Eva Polimeni menghadirkan Ah! Non credea mirarti dari opera La Sonnambula.

Memasuki babak kedua, penampilan kolaboratif antara Yogyakarta Royal Orchestra, Yogyakarta Royal Choir, dan para solois makin mendominasi jalannya konser. Rangkaian repertoar yang disajikan membawa penonton menyusuri beragam suasana, mulai dari kisah cinta yang romantis, kesedihan, haru, dan pergulatan batin, hingga nuansa jenaka yang ringan sebelum berpuncak pada karya-karya yang membangkitkan semangat. Salah satu yang paling menyita perhatian penonton adalah Guerra, Guerra! dari opera Norma karya Vincenzo Bellini. Repertoar berdurasi singkat tersebut menghadirkan ritme yang energik dengan seruan "Guerra!" yang berulang sehingga membangun suasana penuh semangat di area pertunjukan. Seusai repertoar tersebut dibawakan, tepuk tangan riuh dari para penonton berlanjut menjadi standing ovation terpanjang sepanjang konser.

Setelah repertoar terakhir dari babak kedua dibawakan, para penonton tampak belum rela meninggalkan area pertunjukan. Menjawab sambutan hangat tersebut, para penampil kembali naik ke atas panggung untuk mempersembahkan sebuah encore berupa Tutto cangia, il ciel s'abbella dari opera Guglielmo Tell. Penampilan kejutan itu mempertemukan Yogyakarta Royal Orchestra dan Yogyakarta Royal Choir bersama Eva Polimeni, Daniele Falcone, Matteo Mancini, Widya Kurniawati Zuhroh, dan Mikeista Rut Sabatia di bawah arahan Aurelio Canonici. Tepuk tangan dan seruan "bravi" kembali terdengar dari berbagai sudut area pertunjukan, menutup rangkaian konser malam itu. Seusai konser berakhir, sejumlah penonton tampak tetap bertahan di sekitar area panggung. Antrean pun mengular ketika para solois dan musisi menyempatkan diri menyapa serta berfoto bersama penonton.
Menurut KPH Notonegoro, penyelenggaraan Bel Canto: The Italian Voice untuk ketiga kalinya merupakan bagian dari komitmen Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam merawat hubungan kebudayaan melalui musik. Kanjeng Noto berharap kolaborasi tersebut terus menjadi ruang yang mempererat hubungan lintas budaya. "Harapan besar kami, kolaborasi ini dapat menjadi semangat dan inspirasi untuk terus memperkuat jalinan sinergi antarkedua budaya dalam satu harmoni," ungkap KPH Notonegoro.

Apresiasi juga datang dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie. Ia mengaku senang melihat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menghadirkan perjumpaan dengan budaya Italia melalui sebuah sajian musik yang luar biasa. "Semoga di lain kesempatan kita bisa terus menikmati kehangatan dan keindahan budaya Karaton Yogyakarta yang dipertemukan dengan budaya-budaya lain," harapnya.
Pengalaman berkesan juga dirasakan Hima (19) dan Bintang (19), dua mahasiswa baru asal Bantul yang tidak pernah absen mengikuti seluruh konser kolaborasi Yogyakarta Royal Orchestra bersama musisi Italia sejak pertama kali digelar. Demi memperoleh tiket reservasi luring, keduanya rela mengantre sejak sekitar pukul 03.00 WIB pada hari pembukaan reservasi. Bagi Hima, konser kali ini yang diselenggarakan di ruang terbuka menghadirkan suasana yang berbeda dari dua konser sebelumnya. "Secara ambience lebih dekat pemain orkestra dan penyanyi," ujarnya. Kesan serupa disampaikan Bintang yang menikmati kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan para musisi setelah pertunjukan berakhir. "Seru, bisa lebih dekat dan bisa foto bersama," tuturnya.

Melalui Bel Canto: The Italian Voice, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menunjukkan bahwa musik bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan ruang yang mempererat hubungan antarmanusia dan antarbudaya. Kolaborasi Yogyakarta Royal Orchestra, Yogyakarta Royal Choir, dan para musisi Italia menghadirkan harmoni yang melampaui perbedaan bahasa, tradisi, dan latar belakang budaya.