Image page cover

Kereta Kiai Jong Wiyat dan Beringin Kembar Dijamas dalam Prosesi Siraman Pusaka Tahun Be 1960/2026

Lebih dari 200 tahun berdiri, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mengalami banyak dinamika, baik politik dan kultural. Selama itu pula, Keraton Yogyakarta berkewajiban merawat tradisi dan menjaga warisan para leluhur, salah satu caranya dengan Hajad Dalem Siraman Pusaka.

Siraman Pusaka, atau disebut juga Jamasan Pusaka, merupakan upacara rutin yang dilaksanakan oleh keraton setiap bulan Sura dalam kalender Jawa. Kata “siraman” maupun “jamasan” berasal dari bahasa Jawa, yang berarti memandikan atau membersihkan. Tujuan dari prosesi ini adalah membersihkan benda-benda pusaka atau relikui milik Keraton Yogyakarta agar bersih dan terawat. Siraman Pusaka dilaksanakan selama dua hari, baik di dalam dan di luar keraton. 

Jamasan Kereta 2 01 Small

Upacara Siraman Pusaka ini melibat hampir seluruh komponen keraton, mulai dari Abdi Dalem Keparak Para Gusti, Abdi Dalem Pawon, Widya Budaya, Halpitapura, Purayakara, Kaji, Puraraksa, Kridamardawa, dan Reksa Suyasa untuk menyiapkan jalannya upacara dan ubarampe (sarana upacara), seperti aneka sesaji, air, jeruk nipis, minyak harum, aneka bunga, kain-kain, dan beragam perkakas.

Pada Selasa Kliwon (07/07) atau 21 Sura 1960, sekitar pukul 09.00 WIB, Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 miyos di Kagungan Dalem Gedhong Prabayeksa. Hadir pula Permaisuri GKR Hemas, Putra Dalem Putri, Mantu Dalem, dan Abdi Dalem berpangkat Bupati. Suasana khidmat segera menyelimuti keraton, sesaat kemudian, Sri Sultan memulai dengan hanyirami (membersihkan) Pusaka Dalem yang berpangkat Kanjeng Kiai Ageng. Setelah Pusaka Dalem Kanjeng Kiai Ageng dibersihkan, barulah proses siraman pada pusaka bersejarah lainnya bisa dimulai. Agenda ini digelar tertutup dan hanya dilakukan oleh Abdi Dalem yang bertugas.

Jamasan Kereta 4 03 Small

Sekitar pukul 10.00 WIB, usai memperoleh kabar bahwa prosesi Siraman Kanjeng Kiai Ageng telah dilakukan, KMT Rotodiwiryo selaku pengirid Kanca Rata beserta segenap Abdi Dalem Rotowijayan bergegas melakukan Siraman Rata (kereta). Prosesi ini berlangsung di Kagungan Dalem Wahanarata (Museum Kereta). Sesuai tradisi, setiap tahunnya terdapat dua kereta pusaka yang disirami atau dijamas. Kereta utama yang selalu dijamas adalah Kanjeng Nyai Jimat. Kereta tersebut merupakan kereta tertua milik Keraton Yogyakarta, yang digunakan dalam prosesi penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III. Prosesi jamasan untuk Kanjeng Nyai Jimat ini dilaksanakan di halaman selatan Kagungan Dalem Wahanarata.

Jamasan Kereta 8 07 Small

Selain kereta utama, terdapat satu rata pandherek (kereta pendamping) yang turut dicuci setiap tahun. Kereta pandherek yang dijamas di halaman selatan, Kiai Jong Wiyat, merupakan kereta peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang dibuat di Den Haag, Belanda, pada tahun 1880. Pada masa itu, kereta ini digunakan oleh para Manggala Yudha atau panglima perang untuk bertempur, memeriksa pasukan, maupun aktivitas lainnya. Menurut KMT Rotodiwiryo tidak ada kriteria spesifik tentang pemilihan kereta pandherek, setiap tahun kereta pandherek selalu digilir untuk menjadi pengiring Siraman Rata Kanjeng Nyai Jimat.

Begitu prosesi siraman kedua kereta usai, masyarakat yang telah memadati lokasi sejak pagi langsung berbondong-bondong mendekat demi mengambil air jamasan. Tak sekadar menampungnya ke dalam botol untuk dibawa pulang, sejumlah warga juga terlihat langsung membasuh tangan, wajah, dan kaki mereka di tempat. Salah seorang warga asal Sleman, Supardi (54), mengaku sengaja datang sejak pukul 08.00 WIB demi membawa pulang air tersebut. "Setiap tahun saya usahakan datang ke sini. Air sisa jamasan ini bagi kami dipercaya membawa berkah, ketenteraman, dan keselamatan untuk keluarga di rumah,” ungkapnya. 

Jamasan Pohon Beringin 6 16 Small

Pada saat yang bersamaan, dua pohon beringin pusaka (Ficus benjamina) di tengah Alun-Alun Utara Yogyakarta, Kiai Dewadaru dan Kiai Jayadaru, juga menjalani tradisi penjamasan dengan dipangkas hingga membentuk tajuk bundar menyerupai payung. Bentuk payung ini melambangkan pengayoman Keraton Yogyakarta terhadap rakyatnya. Usai kedua beringin pusaka selesai dipangkas, proses pemangkasan dilanjutkan ke pohon-pohon beringin lain di sekeliling alun-alun.

Ritual tahunan Siraman Pusaka menjadi wujud penghormatan sekaligus pelestarian terhadap peninggalan bersejarah Keraton Yogyakarta. Upacara pembersihan ini juga berfungsi sebagai tindakan preventif, memastikan setiap gejala kerusakan pada artefak bersejarah dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. 

Jamasan Pohon Beringin 2 12 Small

Guna menjaga kesakralannya, tradisi ini selalu digelar pada hari pilihan, seperti Selasa Kliwon atau bila pada bulan Sura tidak dijumpai hari tersebut, maka prosesi akan dilakukan pada hari Jumat Kliwon.