Image page cover

Mas Bekel Kusolomatoyo, Abdi Dalem Lurah Citralata: Menempa Diri dan Menebar Manfaat Lewat Tari

Yuliyanto alias Ical menekuni banyak profesi, tetapi semuanya berpusat pada satu hal yang sangat ia cintai: tari. 

Ia menggeluti tari sejak kanak-kanak dengan mengikuti grup Jatilan di kampungnya. Selanjutnya ia belajar di grup kesenian Rewe-Rewe, Jomegatan, dan tampil di berbagai agenda bergengsi, termasuk di Jakarta dan Bali. Di sanggar ini pula ia digembleng dengan dasar-dasar tari klasik gaya Yogyakarta. Kemampuannya makin terasah setelah ia bersekolah di Jurusan Tari SMK N 1 Kasihan atau SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia).

Di sekolah itulah, ia mendapat panggilan “Ical” yang kemudian menjadi nama bekennya. Awal mulanya, ia sering menghilang (“ical” dalam bahasa Jawa) dari kelompoknya sewaktu masa orientasi.  Sebelumnya, ia sering dipanggil Ikal karena postur dan rambutnya yang mirip Ikal, salah satu karakter di film Laskar Pelangi. 

1 01 Small

Keraton

Ical menari di Keraton Yogyakarta sejak 2010. Pada tahun 2017, ia ikut tampil dalam Festival Keraton Nusantara di Cirebon sebagai penari Lawung. Saat itulah GBPH Yudhaningrat, salah satu penghageng, menawarinya posisi di Sedhahan, unit yang bertanggung jawab mempersiapkan dan merawat kostum-kostum pertunjukan. Ical menyambutnya dengan senang hati. Namun, karena kesibukannya, ia baru sanggup menjadi Abdi Dalem pada 2018. Setelah diwisuda menjadi Abdi Dalem Matoyo (penari) di Kawedanan Kridamardawa, ia mendapat Nama Paring Dalem Kusolomatoyo. Makin lama, amanah yang ia dapatkan makin besar. Juli 2020, ia diangkat sebagai pengajar tari anak. Pada bulan tersebut, juga bertepatan dengan peringatan bulan Anak, Keraton Yogyakarta menggelar peluncuran Beksan Anak Putra Laras Raga dan Beksan Putri Puspasari racikan Nyi MB Sarimataya. Pada Juli 2021, ia juga ditugaskan untuk meracik Wayang Wong Anak lakon Sang Mintaraga. Saat itu seiring dengan kenaikan pangkatnya, ia diangkat sebagai asisten pengajar tari dewasa. 

Berkarya di Keraton Yogyakarta laksana mimpi yang terwujud bagi Mas Bekel (Sepuh) Kusolomatoyo. Sewaktu kecil, ia sering diajak oleh pamannya yang Abdi Dalem untuk berkeliling keraton. Sedikit-sedikit ia diajari unggah-ungguh yang berlaku di sana. “Besok kalau sudah dewasa, ndherek di keraton,” pesan sang Paman.  

Saat bersekolah di SMKI, bila ia melihat guru pulang dari keraton mengenakan jarik dan blangkon, dalam pikirannya terbetik, betapa luar biasanya penari keraton itu. Kini, ia telah menjelma menjadi salah satunya. 

“Bagi saya, kalau kita sudah memiliki keahlian terutama di bidang tari, kita harus mengabdikan keahlian itu, paling tidak untuk kemanfaatan,” tuturnya. 

Sembari mengabdi, ia manfaatkan kesempatan untuk memperdalam seluk beluk tari klasik gaya Yogyakarta dari pusatnya. “Ternyata yang saya dapatkan di sini bukan sekadar ilmu tari, tetapi juga tata busana, unggah-ungguh, bahasa sampai hal-hal yang di luar dugaan saya sebagai penari.” 

2 02 Small

Citralata dan Pralata

Pada 2024, ia mendapat tugas istimewa, yaitu menjadi Lurah Ledhek Citralata dalam upacara Garebeg Besar. Lurah ledhek adalah sepasang Abdi Dalem laki-laki yang berjulukan Citralata dan Pralata. Mereka tampil paling depan sebagai pembuka arak-arakan Garebeg. Dengan dandanan yang lucu, mereka menari dan membanyol sepanjang jalan. Keberadaan mereka dipercaya sebagai penolak bala. Namun, penampilan konyol mereka tentu menjadi hiburan yang menarik. MB (Mas Bekel) Kusolomatoyo bermitra dengan Raden Bekel Paksimatoyo yang berperan sebagai Lurah Pralata untuk menciptakan interaksi-interaksi yang segar baik dengan prajurit maupun masyarakat. 

Kemunculan kembali Lurah Ledhek pada upacara tersebut merupakan bagian dari revitalisasi prajurit dan Abdi Dalem. Menurut MB Kusolomatoyo, sejarah Lurah Ledhek berawal dari banyaknya Tledhek (penari keliling) yang datang ke Yogyakarta pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pertunjukan mereka di desa-desa sering menyebabkan keributan rumah tangga sehingga Sri Sultan menugaskan Lurah Citralata dan Pralata untuk mendata serta membina mereka. Mereka harus membayar pajak dan sebagai imbal balik mendapat fasilitas tempat tinggal di Kampung Gendhingan. Mereka juga dilatih secara profesional dan yang berkemampuan bagus bisa ditarik menjadi waranggana atau wiyaga di keraton. Posisi Lurah Ledhek ini terhapus pada era Sri Sultan HB IX dalam situasi sosial politik yang penuh gejolak. 

Segelintir dokumentasi video dan sketsa hitam putih menjadi acuan untuk merekonstruksi sosok mereka, termasuk busana hingga payung dan tongkat jalan yang mereka bawa.   

“Dalam video itu, Citralata dan Pralata ikut manggala (panglima) naik kuda dan ada (senjata) wedhung-e juga,” jelas MB Kusolomatoyo, “jadi memang kedudukan Lurah Ledhek cukup tinggi sehingga tidak heran saat keluar dari keraton disongsongi (dipayungi).”

Minimnya referensi menyebabkan rekonstruksi dua tokoh tersebut berkali-kali mengalami penyempurnaan. Salah satunya, payung yang awalnya berwarna merah muda diganti menjadi biru, karena di kemudian hari diketahui payung merah muda dikenakan oleh pejabat dengan level demang. Menyesuaikan zaman, Citralata dan Pralata masa kini mengenakan terompah, meski dalam dokumentasi mereka tampak bertelanjang kaki. 

Awalnya, langkah sepasang lurah ini tidak disertai musik, tetapi kemudian, disusunlah gending pengiring yang sekaligus menjadi aba-aba penonton untuk bersorak. Garebeg pun seperti ditegaskan ulang sebagai upacara yang penuh kemegahan sekaligus kemeriahan. Humor, sorak-sorai, bunyi gamelan, ungel-ungelan prajurit, hingga gemuruh tembakan salvo berlomba mengajak masyarakat gembira. 

MB Kusolomatoyo menerangkan dalam prosesi Garebeg, Lurah Ledhek menunggu Sri Sultan miyos di Siti Hinggil dan memberi perintah memulai prosesi. Setelahnya, mereka akan menari di Tratag Siti Hinggil lalu turun ke area Pacikeran. Di sini mereka menari perang-perangan dengan properti tongkat. Tari itulah yang berfungsi sebagai penolak bala. “Baru setelahnya, berjalan sampai Masjid Gedhe (bersama prajurit) ngirit pareden.”

4 04 Small

Percaya Diri 

MB Kusolomatoyo tak menampik pada awal menjalani tugas sebagai Citralata, ada perasaan gamang mengingat vitalnya peran tersebut. “Tapi karena ini sudah ketugasan, oke kita pegang teguh. Yen wedi, aja wani-wani. Yen wani, aja wedi-wedi– Kalau takut, jangan berani (menerima tugas). Kalau berani jangan sampai ada rasa takut.” 

Keberhasilannya membawakan peran Citralata tak lepas dari kepribadiannya yang ramah dan suka bercanda, selain tentu saja upayanya mempersiapkan diri sebaik mungkin, termasuk merancang lawakan yang akan dibawakan. Kadang ia sampai tertawa sendiri sebelum tampil. Tantangannya adalah membuat lawakan baru setiap kali tampil. “Kalau dulu kan belum ada media sosial, dagelan dibawakan di sini, dipindah sana, masih oke. Sekarang, ada media sosial, direkam, wah (orang kan berkomentar) hanya itu-itu saja sehingga dituntut untuk terus berkembang.” 

Mengabdi di Keraton Yogyakarta dan menjalani banyak peran, MB Kusolomatoyo mendapatkan berbagai pengalaman mengesankan. Salah satunya adalah memerankan Batara Narada dalam pertunjukan Wayang Wong Gana Kalajaya (2021). Batara Narada, dewa bijaksana yang selalu mendampingi Batara Guru. Saat itu karakter Batara Guru yang diperankan oleh KPH Notonegoro, menantu Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. “Lucunya beliau mengaku naskah Narada dibuat panjang agar beliau tidak banyak pocapan.”  

Peran Batara Narada ia idamkan sejak ia kecil, tepatnya sejak ia melihat karakter itu saat diajak ayahnya menonton Wayang Wong di keraton dengan lakon lahirnya Gatotkaca. “Sudah empat belas Batara Guru saya dherekke,” ujar MB Kusolomatoyo, “peran itu saya coba ejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.” Maksudnya, ia selalu berusaha menjadi pengiring bagi siapa pun yang membutuhkannya.

Pengalaman mengesankan lainnya adalah saat ia pentas tari Lawung di depan Sinuwun. Ketika masih bersekolah, ia pernah membawakan tarian tersebut diiringi musik digital. Ia pun bertekad untuk membawakan tari Lawung dengan gamelan langsung di Tratag Bangsal Kencana. “Pas awal nari Lawung itu saya menangis, saking terharunya, padahal tarinya heroik. Agak kontras, heroik cengeng.” Konyolnya, karena terlalu bersemangat, lawung (tombak) yang ia mainkan terlempar hingga menyentuh atap dan nyaris jatuh ke depan.  

Guru Tari

Saat ini pekerjaan utama MB Kusolomatoyo pelatih tari profesional. Ia terutama mengajar di SMKI dan Sanggar Tari Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (Pujokusuman). Sebelumnya, jadwalnya sangat padat tanpa jeda libur dalam seminggu. Kini ia memilih membatasi kegiatan. “Usia tiga puluh, merasa mengajar melelahkan karena bicara dan bergerak. Ada beberapa yang kemudian saya alihkan ke yang lebih muda, mbibiti-lah.” 

Selian itu, ia menjalankan bisnis jual-beli barang-barang antik, khususnya yang berhubungan dengan tari, seperti timang, suweng, jarik, dan tosan aji. Media sosial ia gunakan sebagai tempat berjualan.  “Kalau sowan, jangan dikira cuma sowan, saya pamer batik juga,” katanya sambil tertawa. Tak jarang busana yang ia kenakan pun ditaksir dan dibeli oleh orang yang melihatnya. Ia bercerita, saat mengikuti misi menari di Malay Heritage Centre Singapura, aksesori berupa jarik, timang, hingga setagen yang ia kenakan laku dibeli. 

Untuk menyegarkan diri, ia memilih berolahraga seperti renang dan bulu tangkis serta memelihara satwa unik, seperti burung hantu, lingsang, dan musang. 

Selain itu, ia juga gemar berziarah ke petilasan atau tempat wisata rohani, seperti Sendang Sono, Ganjuran, atau makam Syekh Jumadil Kubro.  

5 05 Small

Narima Ing Pandum

Dari pengabdian di Keraton Yogyakarta, MB Kusolomatoyo mendapatkan banyak filosofi luhur, di antaranya berani mengalah dan narima ing pandum, “Ngalah bukan berarti kalah, tapi ada sesuatu yang lebih baiknya kita tahan dulu.” Sementara narima ing pandum menurutnya adalah menerima apa yang diberikan Tuhan sebagai sesuatu yang sesuai dengan kapasitas kita. “Kadang-kadang kita merasa mampu, tapi Tuhan lebih tahu.” 

Keraton Yogyakarta telah menjadi tempat pulang bagi MB Kusolomatoyo. “Kalau sowan keraton itu jarang banget nggak senyum. Pasti langsung senyum, bercanda, interaksi, (guyonan) receh tuh di keraton sering terjadi.” Ia menyadari tak semua orang beruntung memiliki rumah kedua. 

Menurut pemuda yang tinggal di Nitiprayan ini, bila kita masih menghirup udara Jogja dan meminum air Jogja, kita wajib turut menjaga Jogja. Namun, ia menegaskan, tak harus menjadi Abdi Dalem untuk melakukannya. “Nggak. Jadilah dirimu sendiri dalam bidang yang kamu geluti dan berkiprah dalam ranah yang kamu kuasai, untuk Yogyakarta.” 

Dapat dibilang, MB Kusolomatoyo sudah menggapai nyaris semua impiannya. Dalam berkarier, ia sudah bersyukur bisa menjadi guru. Salah satu tari ciptaannya, “Yoga Nuraga” kini menjadi salah satu tari klasik yang populer bagi penari putra pemula. 

Namun, ia masih ingin meningkatkan kemampuannya. Ini tak lepas dari prinsip yang ia pegang, “menari itu ibadah”. Itu berarti ia harus mengupayakan yang terbaik dalam semua aspek, mulai dari performa hingga detail terkecil dalam busana misalnya, tanpa menjadikan profesi penari klasik menjadi bisnis yang terlewat komersial.