Mas Riya Pringgoseno, Panji Satu Bregada Langenastra: Berkarya dalam Kerendahan Hati
Bregada Langenastra merupakan kesatuan prajurit keraton yang dibentuk kembali setelah vakum selama berdekade. Bregada Langenastra baru tampil ke khalayak umum pertama kali pada Hajad Dalem Garebeg Besar Je 1958/2025. Mereka menjadi pembawa tombak Bregada Mantrijero. Nama Langenastra berasal dari kata langen (memainkan dengan terampil) dan astra (senjata) atau pasukan yang cakap memainkan senjata. Saat ini, Bregada Langenastra memiliki lima belas anggota dan dua panji.
Salah satu ciri Bregada Langenastra yang terkenal adalah para prajuritnya melangkahkan kaki dalam gerakan tayungan, yakni menari sembari memegang tombak dalam posisi manlawung selama prosesi naik ke kompleks Siti Hinggil hingga turun ke Tratag Rambat Pagelaran. Tayungan merupakan dasar gerakan berjalan dalam tari putra yang relatif sulit untuk dikuasai. Karena panjangnya tombak, tinggi badan Bregada Langenastra disyaratkan minimal 160 cm.
Mas Riya Pringgoseno (nama asli Suwantoro) menjadi penari keraton sejak 2010. Ia bahkan pernah mewakili Keraton Yogyakarta untuk pentas di luar negeri, di antaranya ke Abu Dhabi dan Jepang. Namun, ia baru membulatkan tekad untuk menjadi Abdi Dalem pada 2020. “Memang krenteg saya penginnya jadi Abdi Dalem, tetapi ngumpulin berkas-berkas yang disyaratkan itu (tak kunjung sempat),” tuturnya.
Tak lama setelah diwisuda Abdi Dalem, Pak Toro, demikian panggilan akrabnya, diminta oleh Penghageng Kridamardawa KPH Notonegoro untuk menjadi pemucal (pengajar) para penari di kawedanan tersebut. Ini sesuai dengan profesi sehari-harinya sebagai guru tari. Perjalanan waktu membawanya menjadi prajurit Langenastra beberapa tahun kemudian.

Menjadi Prajurit
“Karena prajurit Langenastra diluncurkan, KPH Notonegoro menginginkan bahwa prajurit Langenastra menggunakan lampah macak tayungan, saya didhawuhi melatih prajurit Langenastra. Sekaligus melatih, saya juga dipatah panji satu di Langenastra,” jelasnya. Sebelumnya, ia ditanya apakah masih kuat melatih tayungan mengingat usianya yang sudah lebih dari setengah abad. Gerakan tayungan yang banyak melibatkan posisi mendhak (sikap berdiri dengan lutut menekuk) membutuhkan energi besar. Berkat latihan rutin, ia masih dapat melakukannya dengan baik.
Mas Riya Pringgoseno bersama rekan-rekan lainnya, RRy Wijayapadma, RRy Brotoatmojo, RRy Sasmintaprobo, hanya punya waktu kurang lebih sebulan untuk mengajarkan tayungan kepada Bregada Langenastra sebelum penampilan perdana mereka. Ini tentu merupakan tantangan berat mengingat sebagian besar anggota tidak pernah belajar tari secara khusus.
“Pada waktu dilatih itu, mereka belajar tayungan, bagaimana teknik-tekniknya, benar-benar dari awal. Jadi kerja kerasnya luar biasa. Apalagi tayungan sejak turun dari Siti Hinggil sampai Pagelaran itu kan relatif jauh. Itu butuh stamina yang luar biasa,” katanya. Sementara, usia para prajurit beragam. Banyak yang masih muda, tetapi yang lebih dari lima puluh tahun pun ada beberapa.
Tak pelak, para prajurit begitu kelelahan. Ia bahkan mengingat, setelah latihan pertama, semua prajurit mengeluhkan kaki mereka tak bisa digerakkan saking pegalnya. “Saya juga, awal sekali tayungan Siti Hinggil itu, karena jarang tayungan panjang, itu pegal sekali.”
Awalnya, Mas Riya Pringgoseno melatih teknik-teknik dulu, seperti posisi mendhak dan mingset yang benar. “Teman-teman itu sangat awam sekali padahal sebenarnya tayungan itu membutuhkan teknik menari yang paling matang,” lanjutnya. Setelah itu, ia melatih gerakan-gerakan yang lebih sulit, termasuk membiasakan mereka melangkah diiringi musik. Ini juga menimbulkan kerepotan sendiri. Nyaris tak pernah berjalan diiringi gendhing, para anggota kesulitan menyesuaikan diri dengan tempo iringan. “Belum saatnya turun, sudah turun,” kata Mas Riya Pringgoseno sambil tertawa kecil.
Namun, ia melontarkan pujian atas keteguhan para prajurit Langenastra. “Saya salut dengan mereka. Meskipun memang standarnya prajurit dan standarnya mataya (penari) berbeda, tapi untuk standar prajurit mereka sudah bagus sekali,” pujinya.

Mengabdikan Diri untuk Tari
Mas Riya Pringgoseno merupakan ASN pengajar di Jurusan Tari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Selain itu, warga Suryowijayan ini juga mengajar dan terlibat di berbagai sanggar tari di Yogyakarta, seperti Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, Suryo Kencono, Retno Aji Mataram, Krida Beksa Wirama, dan Semekar.
“Semua kegiatan itu saya lakukan di sore sampai malam hari, karena di pagi hari sampai pukul 15.30 WIB, saya harus mengajar di sekolah,” terangnya.
Sementara di (Lembaga Sertifikasi Profesi) Keraton Yogyakarta, ia berlaku sebagai menjadi asesor dan pernah menjabat Ketua Skema di LSP Yogyakarta (2021-2025).
Sebagai Abdi Dalem Kridamardawa, ia berkewajiban sowan seminggu sekali, yaitu tiap hari Minggu, bersamaan dengan latihan tari para kanca mataya. Selain itu, ia juga wajib berlatih setiap malam Rabu Pon, serta hadir dalam Hajad Dalem Uyon-Uyon Hadiluhung. Bila ada pementasan, tentu ada latihan tambahan sekitar tiga atau empat kali seminggu.
Selain pentas bersama Kridamardawa, ia juga sering tampil bersama sanggar-sanggar yang ia ikuti, salah satunya dalam pergelaran rutin di Museum Sonobudoyo.

Pengalaman Mengesankan
Mas Riya Pringgoseno belajar tari di SMKI. Ia lulus pada tahun 1993, lalu melanjutkan ke IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) Jurusan Pendidikan Tari. Lucunya, ia sengaja memanjangkan masa studinya karena tak ingin kehilangan beasiswa yang terhitung cukup besar pada waktu itu.
Ia menceritakan bahwa sejak kelas 3 SMK, ia sudah memenuhi kebutuhannya sendiri, meski masih tinggal bersama orang tua. “Karena saya tergolong orang miskin. Jadi orang tua kami sudah tidak kuat membiayai sekolah anak-anaknya,” kenangnya.
Lulus kuliah, ia bekerja di Bali sebagai penari kabaret. Tak sampai setahun, ia kembali ke Yogyakarta dan mengajar di sekolah almamaternya.
Berpostur tinggi tegap, ia sering mendapat peran antagonis sebagai buta (raksasa). Meski menjadi tokoh antagonis, ia menikmatinya karena merasa cocok. Di keraton, salah satu pengalaman istimewanya adalah menjadi buta Niwatakawaca dalam lakon Wayang Wong Ciptoning Mintaraga. “Itu menurut saya yang paling berkesan, seakan-akan saya menjadi berharga di keraton, lalu didapuk menjadi tokoh utamanya.”
Pengalaman tak terlupakan lainnya adalah saat ia mengalami sakit mata ketika pentas di Jepang. Sebelum berangkat, salah satu matanya terkena pinggiran naskah hingga retinanya robek dan dijahit. Sebulan kemudian, ia berangkat ke Jepang dan tak sengaja saat mandi di hotel, mata itu terkena siraman air panas saat mandi hingga kambuh kembali.
“Saya terharu dengan kepedulian Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi dengan kondisi saya. Beliau sangat berusaha untuk mencarikan dokter di Jepang. Bagaimana caranya saya bisa melihat lagi,” kenangnya. Namun, ternyata kesembuhannya memang membutuhkan waktu. Mau tak mau ia menari hanya dengan satu mata. Untung saja, tari yang dibawakan adalah tari topeng sehingga wajahnya tertutup. Namun, karena hambatan itu, ia berusaha mati-matian untuk tampil sempurna. “Justru karena pandangan hanya satu mata, penampilan saya jadi luar biasa. Ini yang mengatakan penonton.” Tak kurang-kurang Sinuwun Sri Sultan HB Ka 10 pun memujinya. “Itu siapa yang memerankan (tarian) Kelana, kok bagus sekali,” kutipnya.

Ziarah
Dengan kesibukannya yang sangat padat, waktu luangnya tidak banyak. Oleh karena itu, ia memanfaatkan betul momen libur sekolah untuk istri dan putra tunggalnya. Mereka berwisata ke mana saja yang mereka inginkan. Bila tidak bersama keluarga, ia suka berkendara motor sendiri ke kota-kota di sekitar Yogyakarta. Secara pribadi, ia menggemari ziarah ke Gua-gua Maria. Hobinya yang lain adalah menonton film dan serial kungfu.
Keluarga inti maupun keluarga besarnya memberi dukungan penuh untuk kariernya, termasuk pengabdiannya di Keraton Yogyakarta. Mereka percaya pengabdian itu mendatangkan berkah. “Waktu orang tua saya tahu saya ikut di keraton, mereka senang sekali.” Bila ia mendapatkan sesuatu dari keraton, ia sering memberikannya pada ibunya sewaktu beliau masih sugeng. Honor pertama yang ia dapatkan semasa kuliah bahkan disimpan dan tak pernah dipakai oleh sang Ibu.
Pelajaran terbesar yang ia dapatkan dari keraton adalah unggah-ungguh. “Di mana pun juga terhadap siapa pun juga kita harus tahu diri, harus empan papan. Meskipun, nuwun sewu, kadang kedudukan saya lebih tinggi daripada teman, kita tidak bisa seenaknya, lalu merasa aku lebih tinggi.”
Keraton, menurutnya, menekankan sikap rendah hati. “Kita tidak perlu meninggikan kita sendiri. Yang meninggikan kita adalah orang lain lewat sikap kita.”
Mas Riya Pringgoseno bertekad untuk mengabdi di Keraton Yogyakarta selama raganya masih mengizinkan, “Semampu saya, sekuat saya sampai umur berapa.”
PERISTIWA POPULER
- Pentas Wayang Wong Gana Kalajaya, Perkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-India
- Peringati Hari Musik Sedunia, Keraton Yogyakarta Gelar Royal Orchestra dan Rilis Album Gendhing Soran Volume 1
- Talk Show: Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta dan Launching Kendhangan Ketawang
- Bojakrama, Pameran Jamuan di Keraton Yogyakarta Usai Digelar
- Tetap Patuhi Prokes, Pembagian Ubarampe Gunungan Garebeg Besar Digelar Terbatas