Image page cover

Mas Jajar Widiyatmosuwito, Prajurit Jager: Dari Tosan Aji Menjadi Pemelihara Tradisi

Pada tahun 2025, Keraton Yogyakarta kembali melakukan revitalisasi berbagai kesatuan prajurit dan kelompok Abdi Dalem. Kesatuan-kesatuan prajurit yang sempat hilang sepanjang pasang surut sejarah Kasultanan Yogyakarta, dihidupkan kembali. Bregada atau prajurit yang direvitalisasi antara lain Jager, Suranata, dan Langenkusuma. 

Arry Widiatmoko menjadi salah satu anggota Bregada Jager. Diwisuda sebagai Abdi Dalem Kawedanan Puraraksa pada 2025, ia bisa dibilang sebagai Abdi Dalem baru. Namun, persinggungannya dengan Keraton Yogyakarta telah berlangsung lama. Sebelumnya, ia bertahun-tahun aktif berkegiatan di Pametri Wiji, komunitas pemerhati tosan aji (seni tempa senjata tradisi Jawa) tertua di Yogyakarta. Banyak anggotanya adalah Abdi Dalem dan kerabat keraton. Sebelum 2018, komunitas tersebut secara rutin diminta oleh Keraton Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam pameran perayaan Sekaten. Arry sering bertugas sebagai penjaga stan dan mengenakan pakaian yang sama dengan busana Abdi Dalem. Keinginan untuk menjadi Abdi Dalem yang sudah tertanam sejak saat itu.

Tumbuh di kampung Ratmakan yang tak jauh dari keraton, Arry kecil sering bermain-main di lingkungan keraton. Ia juga sering diajak ayahnya menonton upacara Garebeg dan pertunjukan wayang kulit di istana tersebut. “Di situ, dari kecil saya sudah melihat simbah-simbah, bapak-bapak sepuh (Abdi Dalem) itu, wah kok bagus ya. Besok semoga aku menjadi seperti simbah-simbah itu,” kenangnya. 

Dalam satu kesempatan, ia bertanya kepada KRT Kusumonegoro (salah satu Sentana Dalem). “Kanjeng kalau ingin mengabdi, syaratnya apa? Satu jawaban beliau, hanya niat. Hanya itu aja. Saya berpikir kalau cuma niat saya tentu sudah punya.”

1 01 Small

Menjaga Regol Istana

Setelah mendaftar dan mengumpulkan berkas, Arry dipanggil untuk langsung menjalani sowan bekti. Setelah setahun menjalani sowan bekti, ia pun diwisuda dan mendapat pangkat serta Nama Paring Dalem Mas Jajar Widiyatmosuwito. Ia ditempatkan di Kawedanan Puraraksa dengan tugas utama berjaga di Regol Gadhung Mlati (biasa disebut Pecaosan Kamandungan) setiap sepuluh hari sekali. 

Gadhung Mlati merupakan gerbang yang menghubungkan Pelataran Kamandungan Kidul dengan Pelataran Kamagangan. Kedua kawasan yang terletak di sebelah selatan kompleks Kedhaton ini merupakan kawasan keraton yang berdampingan dengan permukiman warga. Selain wisatawan, warga setempat banyak berlalu lalang di area ini. “Jadi kita benar-benar mengawasi ekstra. Karena inventaris prajurit ada di situ, ada kegiatan masyarakat, PKK juga di situ. Kalau ada sripah (lelayu), masyarakat ambil kursi juga di situ. Keluar masuk yang ada di dalam itu juga kita harus tahu. Mungkin tidak seperti regol-regol lain yang lebih slow (terletak di dalam keraton), karena berbaurnya langsung dengan masyarakat,” jelasnya. 

Pelataran Kamandungan Kidul saat ini merupakan kawasan tertutup karena digunakan oleh Kawedanan Keprajuritan. Namun, ada kalanya wisatawan tetap datang ke sana. “Lalu kita harus bagaimana? (Kami) nyuwun agar mereka tidak ke sini, tapi dengan bahasa (asing) yang macam-macam,” kata MJ Widiyatmosuwito sambil tertawa kecil mengingat kebingungan para penjaga regol bila kebetulan harus berkomunikasi dengan wisatawan, apalagi bahasanya tak mereka kuasai. “Kalau Inggris bisa dipahami, kalau bahasa Spanyol, Meksiko, wah agak (sulit). Tapi dengan bahasa isyarat mereka paham.”

Prajurit Jager

Tak lama setelah diangkat menjadi Abdi Dalem, sekitar bulan Mei 2025, MJ Widiyatmosuwito mendapat perintah untuk menggenapi Bregada Jager yang baru dibentuk. Garebeg Sawal tahun itu menjadi ayahan pertamanya. 

Menurut catatan sejarah, Jager merupakan pasukan khusus yang terdiri atas Abdi Dalem dan bertugas mengawal sultan saat berburu di Hutan Krapyak. Kata jager berasal dari bahasa Belanda yang berarti pemburu. Dulu, mereka menempati kampung di dekat kawasan Krapyak, yang hingga saat ini dikenal sebagai Kampung Jageran. Pada saat keraton melaksanakan Hajad Dalem seperti Garebeg, kesatuan ini bertugas menjaga keraton saat bergada-bergada lain melaksanakan kirab mengawal gunungan. Itulah mengapa, mereka juga disebut prajurit Puraraksa yang berarti penjaga istana. 

Tak banyak data mengenai kesatuan ini. Rute yang mereka lalui dalam upacara Garebeg masih berubah-ubah karena catatan pasti mengenai hal tersebut belum ditemukan.  Kesatuan yang baru juga belum memiliki jadwal latihan reguler. Semuanya masih bersifat insidental.  

“Selama ini, Jager belum ada jadwal geladi, tapi kita mandiri, krida sendiri. Kita minta izin kepada Tepas Keprajuritan, (bila) kita mau mengikuti krida jemparingan, (atau krida lain) yang berkaitan dengan krida keprajuritan,” jelas MJ Widiyatmosuwito. 

Seperti kesatuan lain, di Bregada Jager juga ada kapten, panji, sersan, jajar senjata/senapan, dan jajar waos. Ketika kesatuan-kesatuan prajurit mulai berbaris keluar dari keraton untuk mengawal Hajad Dalem Garebeg, para Prajurit Jager mulai melaksanakan tugas penjagaan di setiap regol-regol keraton yang mereka lewati. Sisanya mengikuti kirab hingga ke Masjid Agung. Kedepannya, kesatuan ini akan dilengkapi dengan korps ungel-ungelan atau pemain musik. 

“Pertama kali memang (semua) ngayahi jaga regol. Yang defile belum ada. Baru tahun ini, ada yang defile. Revitalisasi bertahap,” jelasnya lebih lanjut. Di masa awal, mereka mengundi untuk menentukan siapa berjaga di regol mana. Regol-regol yang mereka lewati dan jaga secara berturut-turut adalah Kamandungan Kidul, Gadhung Mlati, Magangan, Regol Gapura, Danapratapa, Keben, Brajanala, dan Pacikeran. 

“Yang menjaga regol 16 orang, di delapan titik, sisanya defile,” tambahnya. 

Saat awal revitalisasi, kesatuan Jager mengenakan sikepan (kemeja) abu-abu, tetapi kini mereka memakai sikepan cokelat keemasan dengan penutup kepala kuluk dan bawahan kain kampuh. Berbeda dari prajurit lain, mereka tidak memiliki klebet atau bendera kesatuan. “Klebet tidak ada karena menurut kisahnya, jager kan Abdi Dalem, lalu di zaman mendiang HB V dimasukkan kesatuan. Mungkin memang tidak diberi klebet.”

Selama bertugas menjadi prajurit, tak ada hal yang memberatkan bagi MJ Widiyatmosuwito, tetapi karena Jager merupakan kesatuan baru yang belum memiliki pola jalan baku, terkadang formasi mereka masih berantakan. “Jadi mungkin diberi ungel-ungelan agar bisa seragam.” 

Narasumber  

Lama berkutat dengan tosan aji dan bergabung di Pametri Wiji, MJ Widiyatmosuwito kemudian menjadi salah satu narasumber Gelar Wicara di Radio Republik Indonesia Programa 4 terkait bidang tersebut. “Sebulan sekali. Kalau dulu seminggu sekali. Programnya (berjudul) Pendopo,” katanya. Komunitas Pametri Wiji juga secara teratur diminta melakukan Siraman pusaka di berbagai lembaga, seperti Balai Kota Yogyakarta, Pemda Bantul, dan Pemda Sleman. 

Hobi lain MJ Widiyatmosuwito adalah memelihara burung berkutut. Ia bahkan beberapa kali diberi kepercayaan oleh GBPH Yudhaningrat untuk menjadi Ketua Panitia Kompetisi Perkutut Piala KGPAA Pakualam. Terkait perkutut, MJ Widiyatmosuwito sering membuat konten dan menyebarkannnya di media sosial. 

Seakan tak pernah kehabisan energi, di kampung, ia menjabat sebagai sekretaris. Ditambah, ia aktif pula di Persatuan Gerak Badan Seni Pernapasan. “Kebetulan saya pelatih pusat dari Putra Margaluyu.” 

Nafkah pokok ia dapatkan dari bekerja sebagai teknisi utama di perusahaan variasi mobil 45 atau yang lebih dikenal dengan Padma. Tugas-tugas di keraton bisa ia tunaikan tanpa mengganggu pekerjaan tersebut karena atasannya memberi kelonggaran. “Mungkin baginya, kalau mengizinkan anak buahnya untuk mengabdi di keraton, sama seperti beliau mengabdi secara tidak langsung.” Pekerjaannya di bidang variasi mobil tidak berhubungan dengan pendidikan formal yang pernah ia kenyam, yaitu STM jurusan audio-video. Namun, berkat ketekunannya belajar, bidang itu pun bisa ia kuasai. 

Di antara padatnya kegiatan, ia selalu meluangkan waktu untuk keluarga. “Apa yang bapak saya lakukan, saya lakukan juga ke anak-anak saya. Saya ajak muter-muter di lingkungan keraton. Siapa tahu mereka besok bisa mengikuti (jejak saya),” tutur laki-laki yang tinggal di Jetis, Bantul ini. 

Ia merasa bangga kedua putrinya sering meraih juara di kelas. Sebaliknya, istri, anak, serta keluarga besarnya juga membanggakan pencapaiannya sebagai Abdi Dalem.  

3 03 Small

Obah Sembah

Pengabdian di Keraton Yogyakarta mendatangkan banyak hikmah bagi MJ Widiyatmosuwito, terutama dalam mengasah ketajaman rasa dan kehati-hatian dalam bertutur kata. Menurutnya, Abdi Dalem harus bisa menerapkan suba sita (tata krama) keraton dalam kehidupan sehari-hari. “Kita di sini dituntut obah sembah,” ujarnya. Obah sembah merupakan ungkapan yang kurang lebih bermakna memberi hormat dalam setiap gerakan. Ia memaknai filosofi tersebut secara luas, yaitu menempatkan diri sendiri serta menghormati sesama dalam setiap perilaku. “Yang sering kita lakukan di keraton, sebisa mungkin dalam keseharian juga kita lakukan.” 

MJ Widiyatmosuwito berkeinginan untuk mengabdi di keraton selamanya. Ia berharap warga Yogyakarta tidak meninggalkan budaya Jawa. “Sebisa mungkin kita menularkan budaya pada generasi yang mendatang biar budaya tidak terputus, apalagi budaya Yogyakarta Hadiningrat yang adiluhung.”