Beksan Punggawa

Beksan Punggawa merupakan beksan kakung (tari putra) Yasan Dalem (karya) kelima Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Tarian bernuansa kisah Panji ini pertama kali dipentaskan pada pergelaran Uyon-Uyon Hadiluhung Selasa Wage 19 September 2022 untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. 

Beksan Punggawa mengisahkan peperangan antara Raden Jaya Wiruta dan Kiai Patih Jaya Surangga. Babak tersebut diambil dari naskah Wayang Gedhog manuskrip Serat Kandha “Kalangenan Dalem Beksan Lawung Ringgit” yang ditulis pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Naskah ini tersimpan dalam koleksi British Library bernomor MS Jav 4 dan berangka tahun 1782 (kemudian disalin kembali pada tahun 1804). Berbagai kisah Panji, termasuk pertempurannya, dimuat dalam naskah tersebut. Selanjutnya, kisah-kisah Panji tersebut diperinci kembali dalam naskah yang berjudul Serat Kandha “Kalangenan Dalem Beksan Kuda Gadhingan” pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855) dan menjadi koleksi Kagungan Dalem Kapustakan Widyabudaya bernomor W.8/B.26 dengan angka tahun 1847. 

Kata punggawa berarti prajurit, hal ini berkaitan dengan kisah Raden Jaya Wiruta sebagai senapati dari Kerajaan Kediri, sementara Kiai Patih Jaya Surangga sebagai patih dari Kerajaan Parangkencana. Peperangan antara keduanya bermuara dari penolakan Dewi Sekartaji yaitu istri Panji Asmarabangun/ ibu Panji Laleyan dari Kediri untuk menikah dengan raja dari Parangkencana, yaitu Prabu Dasakusuma. Oleh sebab itu, raja dari masing-masing kerajaan memerintahkan senapati dan patihnya untuk berperang. Peperangan tersebut kemudian dimenangkan oleh Raden Jaya Wiruta.

Beksan Punggawa 01

Penyajian Tari 

Beksan Punggawa mengacu dalam tari klasik gaya Yogyakarta dengan pengembangan ragam gerak, pola lantai, tata urutan, dan struktur dramatisasi. Tarian ini berisikan tiga bagian, yaitu bagian awal, maju gendhing; bagian isi, enjeran (adu kesaktian) sebelum dan saat berperang; serta bagian akhir, mundur gendhing. 

Penari Beksan Punggawa berjumlah sepuluh orang yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu protagonis (kinantang) dan antagonis (bapang). Dua tokoh ditonjolkan untuk melukiskan tokoh Raden Jaya Wiruta (andel kinantang) dan Kiai Patih Jaya Surangga (andel bapang). Pembagian peran kinantang ditunjukkan dengan gerakan tergolong tenang/halus namun tetap gagah, sementara peran bapang ditampilkan dengan gerakan gagah nan energik/ekspresif.

Berbeda dengan tari lain yang biasanya bertumpu pada naskah tari, Beksan Punggawa dikonstruksikan dengan interpretasi baru. Penempatan sepuluh penari juga merupakan salah satu bentuk eksplorasi dari beksan sekawanan yang dibawakan oleh empat penari. Namun, filosofi beksan sekawanan tetap melekat dengan adanya formasi dua tokoh utama yang bertemu dan bertanding, sementara delapan tokoh lainnya sebagai isi/bayangan dari tokoh utama. 

Ragam Gerak

Ragam gerak kinantang dan bapang merupakan fokus yang dihadirkan pada sajian tari kali ini. Gerak bapang dikembangkan dengan bentuk megol dan ulap-ulap untuk memberi warna baru. Fokus gerak kinantang dan bapang juga memiliki andil untuk memperjelas visualisasi dua karakter yang berbeda. Melalui ekspresi kinantang yang gagah dan tenang, sementara bapang yang lebih ekspresif, perbedaan dua sifat tokoh dapat tersampaikan dengan lebih jelas. 

Beksan Punggawa 03

Komposisi Gendhing

Komposisi iringan gendhing dalam Beksan Punggawa adalah sebagai berikut Lagon Jugag Pelog Nem sebagai pembuka, Beksan Majeng Ganjur Pelog Nem sebagai bagian awal tarian (maju gendhing) disertai Kawin Sekar Gurisa Tanon Pelog Nem, kemudian pembacaan Kandha. Selepas itu, Bubaran Wiratama Pelog Nem, Rambatan Ganjur Pelog Nem, Ladrang Punggawa Pelog Nem, Plajaran Pelog Nem, Kawin Sekar Durma Rangsang Pelog Nem, dan Ladrang Mentar Wiraga Pelog Nem sebagai gendhing persiapan perang. Kemudian, Lancaran Bandayuda Pelog Nem sebagai gendhing saat muryani busana, Ketawang Segaran Pelog Nem, Balungan Kinthilan Perang Srimpen Ganjur Pelog Nem, dan Perang Andel Ganjur Pelog Nem sebagai gendhing saat perang oleh andel (tokoh utama). Ladrang Awun-Awun Pelog Nem sebagai bagian akhir tarian (mundur gendhing) dan Lagon Panunggul Pelog Nem sebagai gendhing penutup. 

Beksan Punggawa memuat 80 % gendhing ciptaan baru. Gendhing-gendhing tersebut antara lain Kawin Sekar Gurisa Tanon Pelog Nem, Bubaran Wiratama Pelog Nem, Ladrang Punggawa Pelog Nem, Balungan Kinthilan Perang Srimpen. Selain itu, saat penari maju (maju gendhing) tidak diiringi dengan lagon ngelik seperti beksan kakung pada umumnya, melainkan diiringi dengan ganjur yang disertai dengan Kawin Sekar Gurisa Tanon Pelog Nem. Gendhing lancaran digunakan untuk mengiringi penari melakukan gerakan muryani busana, bukan menggunakan gendhing ladrang seperti biasanya. 

Tata Busana 

Pada pementasan Uyon-Uyon Hadiluhung Selasa Wage 19 September 2022, secara garis besar kesepuluh peraga Beksan Punggawa mengenakan kostum yang sama dengan sedikit perbedaan warna. Berikut bagian-bagian yang sama: nyamping bermotif parang seling gandhasuli, kamus timang untu walang berwarna cemeng (hitam), serta wangkingan/dhuwung (keris) gayaman oncen. Dua tokoh utama (andel) sebagai representasi Raden Jaya Wiruta dan Kiai Patih Jaya Surangga mengenakan sondher abrit (merah) gendhalagiri, lonthong abrit, dan celana panji abrit, serta mengenakan iket/blangkon abrit. Empat tokoh kinantang dan bapang mengenakan sondher berwarna ijem (hijau) gendhalagiri, lonthong ijem, dan celana panji ijem, serta mengenakan iket/blangkon berwarna hitam. 

Roman Panji selalu menarik untuk digali ulang. Syair kuno ini serupa tembang abadi bagi pengembangan tari baru. Tidak hanya itu, kisah-kisah Panji lain yang tertera dalam naskah kuno dapat menjadi sumber inspirasi tari kakung yang dapat dikemas lebih segar pada masa mendatang.

Beksan Punggawa, seperti halnya beksan-beksan klasik gubahan baru yang diciptakan dalam dekade terakhir, merupakan salah satu puncak karya seni keraton yang diharapkan memantik kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan lokal bernilai tinggi. Tarian ini menguatkan kharisma Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 sebagai pemimpin dan pelindung warga Yogyakarta. 

 


Daftar Pustaka 

Serat Kandha “Kalangenan Dalem Beksan Lawung Ringgit” (MS Jav 4). Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Koleksi British Library

Serat Kandha “Kalangenan Dalem Beksan Kuda Gadhingan” (W.8/B.26). Yasan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Koleksi Kagungan Dalem Kapustakan Widyabudaya

MW Susilomadyo. 2022. Naskah Iringan Yasan Dalem Beksan Punggawa: Ayahan Selasa Wagen 19 September 2022. Yogyakarta: Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Daftar Wawancara

Wawancara dengan RW Widodomondro pada 8 September 2022

Wawancara dengan KMT Suryowasesa pada 12 September 2022

Wawancara dengan ML Nalaprasetya pada 12 September 2022

Wawancara dengan R Stefanus Krisandi Setiawan pada 13 September 2022

Wawancara dengan MW Susilomadyo pada 14 September 2022

Wawancara dengan MW Dwijosuwanto pada 14 September 2022