Image page cover

Uyon-Uyon Hadiluhung Senin Pon 15 Juni 2026

Keraton Yogyakarta kembali menyelenggarakan Uyon-Uyon Hadiluhung pada Senin Pon 15 Juni 2026 atau 29 Besar Dal 1959. Pergelaran tersebut merupakan bagian dari peringatan kelahiran (Wiyosan Dalem) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Gelaran ini secara rutin dilaksanakan oleh Kawedanan Kridhamardawa, untuk menjaga kelestarian gendhing dan tarian warisan wangsa Mataram. Pertunjukan digelar di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan dan dapat disaksikan oleh pengunjung secara luring melalui sistem reservasi tanpa biaya dengan skema reservasi yang telah disediakan. Peserta luring wajib mematuhi pranatan untuk menjaga tata krama dan keluhuran suasana pertunjukan. Bagi masyarakat yang belum bisa hadir secara luring, Keraton Yogyakarta juga menyiarkan pergelaran ini melalui siaran langsung di Kanal YouTube Kraton Jogja mulai pukul 19.00 WIB. 

01 01 Small

Daftar Komposisi Gendhing Uyon-Uyon Hadiluhung 

No.

Jenis/Bagian

Judul Gending

Laras dan Pathet

1

Gendhing Pembuka

Ladrang Prabu Mataram

Slendro Pathet Sanga

2

Gendhing Soran

Gendhing Nglantak → Kendhangan Sarayuda → jangkep sadhawahipun

Pelog Pathet Lima 

3

Gendhing Lirihan I

Gendhing Pondhoh → Kendhangan Candra → dhawah Ladrang Sri Mataram

Slendro Pathet Nem

4

Gendhing Lampah Beksan

Gendhing Lampah Beksan Kasetyan Jati

Pelog Pathet Nem

5

Gendhing Lirihan II

Gendhing Plara-Lara → Kendhangan Jangga → jangkep sadhawahipun → dhawah Ladrang Madu Sadana

Slendro Pathet Sanga

6

Gendhing Lirihan III

Gendhing Winata Branta → Kendhangan Lahela → dhawah Ladrang Pamularsih → minggah Ketawang Panuluh 

Pelog Pathet Barang

7

Gendhing Penutup

Ladrang Tedhak Saking 

Pelog Pathet Barang

Kekhasan Gendhing Uyon-Uyon Hadiluhung

Rangkaian gending yang disajikan pada Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini memiliki beberapa kekhasan. Dalam Gendhing Nglantak Laras Pelog Pathet Lima mempunyai “Pangkat Dhawah (transisi menuju ke bagiah dhawah) yang panjang. Jika pada gending yang lain, pangkat dhawah terdiri dari 1 sampai 2 kenongan, namun pada gending ini pangkat dhawah terdiri dari 4 kenongan (1 gongan). Hal tersebut tentu berakibat saat garap Ngayati Ajon-Ajon yang berbeda dari biasanya. Secara umum, bagian dhawah biasanya merupakan Balungan Nibani, dengan garap imbal demung dan saron pancer. Akan tetapi pada gending ini, garap balungan adalah Balungan Mlampah. 

Selanjutnya, pada Gendhing Lirihan 1 dimainkan Gendhing Pondhoh Laras Slendro Pathet Nem yang dilanjut Ladrang Sri Mataram. Gending ini memiliki rangkaian gending yang tergolong ke dalam gending yang jarang disajikan pada Uyon-Uyon Hadiluhung. Rangkaian gending tersebut memiliki nuansa musikal yang tenang dan agung, diiringi rasa riang dikarenakan garap Lirihan Kendhang Kalih. Hal khas lainnya dijumpai pada garap gending Beksan Kasetyan Jati. Garapan ini memiliki tantangan tersendiri karena harus menampilkan suasana peperangan heroik bercampur dengan suasana sedih akibat gugurnya kedua tokoh yang berperang. Pada umumnya, suasana sedih dihadirkan dengan Laras Slendro, namun pada beksan ini dihadirkan dengan Laras Pelog. Beberapa gending yaitu Bubaran Setya Nata dan Ladrang Gangsaran Candra Lata Laras Pelog Pathet Nem dalam rangkaian iringan Beksan Kasetyan Jati ini merupakan gending ciptaan baru pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. 

04 04 Small

Gendhing Plara-Lara Kendhangan Jangga yang dilanjut dengan dhawah Ladrang Madu Sadana Laras Slendro Pathet Sanga yang dimainkan sebagai Gendhing Lirihan II, merupakan rangkaian gending yang tergolong jarang disajikan dalam Uyon-Uyon Hadiluhung. Ladrang Madu Sadana Laras Slendro Pathet Sanga menjadi spesial karena merupakan gending ciptaan baru pada masa Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Rangkaian Gending tersebut memiliki nuansa musikal yang riang. Sementara itu, pada Gendhing Lirihan III, Ladrang Pamularsih bernuansa musik khas gaya Yogyakarta dengan sisipan isian balungan pada bagian Dhawah Ladrang. Pada Ketawang Panuluh Laras Pelog Pathet Barang memiliki kekhasan yaitu Sesegan Ketawang Bedhugan digarap dengan teknik Suwuk Gropak. Ketawang Panuluh juga merupakan gending ciptaan baru pada masa Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10.

Gending Penutup Uyon-Uyon Hadiluhung yaitu Ladrang Tedhak Saking Pelog Barang biasa dimainkan sebagai Gendhing Kurmat Dalem untuk raja Keraton Yogyakarta, yang hendak mengakhiri atau meninggalkan suatu acara atau upacara. 

Sajian Ladrang Prabu Mataram yang digunakan untuk mengiringi pembukaan Uyon-Uyon Hadiluhung dibawakan oleh Grup Karawitan Omah Gamelan dari Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari sebuah komunitas karawitan yang dibentuk warga setempat, Omah Gamelan kini tumbuh menjadi pusat seni dan budaya yang aktif melestarikan serta mengembangkan berbagai kesenian tradisional, salah satunya karawitan. Pimpinan Produksi Mas Bekel Harismatoyo mengungkap bahwa pertunjukan kali ini juga didukung oleh Omah Gamelan sebagai sanggar seni yang turut terlibat langsung dalam pergelaran. 

“Pada pertengahan tahun ini, Omah Gamelan sebagai salah satu kelompok masyarakat yang bergelut pada bidang karawitan di Daerah Istimewa Yogyakarta berkesempatan untuk bertugas dalam Uyon-Uyon Hadiluhung. Omah Gamelan ini menjadi institusi keempat yang berkesempatan menjadi tamu untuk memainkan gendhing-gendhing pada Uyon-Uyon Hadiluhung, setelah Akademi Komunitas Yogyakarta, SMKI, dan SMK Negeri 3 Yogyakarta. Kami berharap, partisipasi Omah Gamelan pada Hajad Dalem kali ini dapat memperluas upaya pelestarian budaya kepada generasi selanjutnya dan memperkuat perannya sebagai ruang belajar, berkarya, dan berkolaborasi dalam pelestarian seni karawitan Jawa.”

Uyon-Uyon Hadiluhung kali ini menghadirkan rangkaian komposisi gendhing pilihan, disertai pertunjukan tari putra Beksan Kasetyan Jati sebagai sajian istimewa. Tarian ini mengambil inspirasi dari legenda Aji Saka dan asal-usul aksara Jawa Hanacaraka. 

03 03 Small

Penampilan Beksan Kasetyan Jati

Catatan mengenai kisah Beksan Kasetyan Jati tersimpan di Perpustakaan Widya Budaya bernomor W.48b A.1 berangka tahun 1477. Kisah ini termuat dalam naskah Babad Tanah Jawi : Ajisaka Dumugi Demak yang berisi tentang sejarah legendaris kerajaan-kerajaan Jawa, mulai dari terciptanya dunia, kisah Ajisaka, pencipta aksara dan penanggalan Jawa, sampai dengan pendirian Masjid Demak oleh sembilan Wali (menurut h.626, bertarikh 1399 Jawa, yaitu 1477 Masehi). Penyalinan naskah dilakukan oleh Raden Wiryasastra, pada Jumat Pahing, 25 Pasa Jimawal 1869 (18 November 1938).

Beksan Kasetyan Jati mengangkat kisah kesetiaan, darma, dan pengabdian dua abdi setia Prabu Aji Saka, yaitu Dora dan Sembada. Alkisah, Prabu Aji Saka datang ke tanah Jawa untuk menumpas angkara murka Prabu Dewata Cengkar yang menebarkan ketakutan di Medang Kamulan. Dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya, Aji Saka berhasil membawa kedamaian dan peradaban bagi masyarakat Jawa.

Legenda ini bermula dari seorang pemuda bernama Aji Saka, bersama dua pelayannya yaitu Sembada dan Dora mengembara ke berbagai negeri, untuk memperluas ilmu dan pengalaman. Perjalanan panjang mereka membawa mereka ke Nusantara, wilayah yang subur dan kaya akan keindahan alam. Di Pulau Majeti, tempat pertama kali mereka mendarat, Aji Saka memutuskan untuk meninggalkan salah satu pelayannya, yaitu Sembada untuk menjaga keris pusaka dan melarang siapa pun yang mengambil selain dirinya sendiri. Aji Saka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jawa bersama dengan Dora.

Setibanya di Jawa, mereka menemukan kerajaan yang diperintah oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang raja lalim yang sewenang-wenang dan kejam. Aji Saka berhasil menaklukkan Prabu Dewata Cengkar dan menjadi raja di Medang Kamulan. Oleh sebab itu, Dora diutus untuk mengambil pusaka tersebut. Namun Sembada tetap memegang teguh memegang amanat Aji Saka. Terjadilah perbedaan tafsir terhadap titah Aji Saka yang menyebabkan keduanya terlibat dalam perselisihan yang berujung pada perang tanding. Keduanya dikisahkan memiliki kekuatan seimbang yang sama-sama sakti. Pada akhirnya, Dora dan Sembada gugur bersama demi mempertahankan kesetiaan dan kehormatan pengabdian. 

Sebagai penghormatan terhadap pengorbanan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan aksara Jawa yang memiliki makna mendalam. 

06 06 Small

Ha Na Ca Ra Ka

Ana utusan (Ada utusan)

Da Ta Sa Wa La

Padha kekerengan (Saling berselisih)

Pa Dha Ja Ya Nya

Padha didhayane (Sama-sama sakti) 

Ma Ga Ba Tha Nga

Padha dadi bathange (Sama-sama menjadi mayat)

Konsep dan Penyajian Tari

Sajian tari Beksan Kasetyan Jati ini memiliki konsep beksan sekawanan. Tarian ini dilakukan oleh delapan orang penari yang dibagi menjadi Rakit 1 dan Rakit 2. Empat penari (Rakit 1) berperan sebagai tokoh Dora dan Sembada, kemudian empat penari lainnya (Rakit 2) merepresentasikan ‘pusaka’ Aji Saka dalam cerita tersebut. Beksan Kasetyan Jati memiliki urutan majeng gendhing (awal tarian), enjeran (persiapan perang), perang, dan mundhur gendhing (akhir tarian). Pada bagian perang, tokoh Dora dan Sembada menggunakan senjata dhuwung (keris).

Tokoh Dora dan Sembada diceritakan memiliki sifat setia, jujur, dan amanah. Karakter ini diterapkan dalam ragam gerak kalang kinantang. Ragam gerak ini menggambarkan penokohan yang gagah, berwibawa namun tetap lincah dan luwes. Pada penggunaannya, karakter gerak ini ditujukan untuk tokoh kesatria, prajurit, atau panglima perang yang memerlukan gerakan yang lebih tegas, energik, dan berkarakter kuat. 

Pada gelaran Uyon-Uyon Hadiluhung ini, para penari menggunakan busana gladhen (latihan). Busana yang digunakan yaitu nyamping Parang Seling Gondosuli, lancingan abrit (merah), lonthong abrit (merah), sondher sutra abrit (merah), kamus untu walang brodir, lalu dilengkapi dengan gegaman (senjata) dhuwung wingking gayaman yang dipakai oleh semua penari (diselipkan di belakang) dan dhuwung pun anggar branggah dipakai oleh Rakit 2 sebagai visualisasi pusaka yang diperebutkan (terletak di depan).

Kini, Uyon-Uyon Hadiluhung tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, namun juga menjadi jembatan yang menghubungkan warsan budaya masa lalu dengan masa kini. Kegiatan ini diharapkan dapat terus menjadi wadah bagi tumbuh dan kembangnya seni tradisional sebagai bagian dari identitas budaya bangsa. 

02 02 Small

Tim Pendukung Pertunjukan

Untuk menghadirkan pementasan yang tertib dan selaras, pertunjukan ini melibatkan sejumlah Abdi Dalem yang bertugas dalam bidang teknis, serta peran panggung, berikut di antaranya:

Paraga Beksa (Penari)

  1. Caesar Jamal Tistama
  2. Yusli Putra
  3. ⁠⁠Irvan Ananta
  4. Muhamad Koiludin
  5. Rizky Alfaris
  6. Angger Purnama jati
  7. Bambang Handoko
  8. Wulung Asidiq

Penggarap Teknis

  1. Pamucal Beksa: RRy Dwijosoeharto, RRy Wijoyopadmo, MB Reksomatoyo
  2. Panata Gendhing Beksan: MRy Susilomadyo
  3. Panata Gendhing Uyon-Uyon: MRy Susilomadyo
  4. Panata Busana: MRy Dirjomanggolo
  5. Pimpinan Produksi: MB Harismatoyo (Mataya) & MRy Srikawuryan (Wiyaga)

Selamat Menyaksikan!