Tata Rakiting Wewangunan

Kraton, Karaton atau Keraton berasal dari kata ka+ratu+an yang berarti tempat bersemayam para Ratu (Raja, dalam Bahasa Jawa). Bukan sekedar bangunan, keraton memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi. Tata Rakiting Wewangunan adalah serangkaian konsep terkait tata ruang, bangunan, ragam hias, tanaman, maupun fungsi dan kegunaan ruang atau bangunan itu sendiri di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Wilayah Yogyakarta dari Giyanti Hingga Kini

Kesultanan Yogyakarta mewarisi pola kerajaan konsentris dalam mengatur tata ruang wilayahnya. Konsep tata ruang ini dikenal dengan konsep mandala dan sudah dipakai oleh kerajaan-kerajaan sebelumnya seperti Mataram Islam, Majapahit, dan Mataram Hindu. Dalam konsep mandala, keberadaan raja atau kerajaan menjadi titik pusat.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Pawon Prabeya Keraton Yogyakarta

Pawon Prabeya merupakan salah satu Pawon Ageng yang masih ada hingga sekarang. Pawon Ageng adalah dapur yang bertugas menyiapkan Dhahar Dalem atau hidangan sehari-hari untuk Sultan.  Saat ini Pawon Prabeya hanya memasak kuliner Jawa dan memiliki dua Abdi Dalem juru masak yang masing-masing mendapat Paring Dalem Nama yang diakhiri dengan nama  "bujana".

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Makam Imogiri, Peristirahatan Raja-Raja Mataram

Makam Imogiri, atau Pasarean Imogiri, adalah lokasi peristirahatan terakhir Raja-Raja Mataram dan keluarganya. Kompleks pemakaman ini terletak kurang lebih 16 km di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di wilayah Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Imogiri berasal dari kata hima dan giri. Hima berarti kabut dan giri berarti gunung, sehingga Imogiri bisa diartikan sebagai gunung yang diselimuti kabut.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Pawon Ageng

Sebagai figur utama di Keraton Yogyakarta, Sultan mendapat perlakuan istimewa dalam berbagai hal, termasuk pada hidangan yang disajikan setiap harinya. Dhahar Dalem atau hidangan untuk Sultan dan keluarga tersebut disiapkan secara khusus di dapur keraton, yang dikenal dengan sebutan Pawon Ageng.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Alun-Alun Yogyakarta

Semenjak jaman Majapahit, keberadaan alun-alun dalam ruang lingkup kerajaan selalu dipertahankan. Alun-alun adalah manifestasi ruang publik, menjadi bagian tak terpisahkan dari tata ruang ibukota kerajaan. Konsep ini kemudian diadaptasi oleh kota-kota di Indonesia, di mana sebuah ruang terbuka disediakan tepat di depan pusat pemerintahan.

Pangeran Mangkubumi, pendiri Kasultanan Yogyakarta, mahir dalam ilmu filsafat maupun arsitektur. Gabungan dari keahlian-keahlian beliau inilah yang mewarnai struktur tata ruang Kasultanan Yogyakarta dengan simbol-simbol penuh makna.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Bangunan-Bangunan Tamansari

Pada masa lalu, kompleks Tamansari menempati wilayah seluas 10 hektar dan terdiri dari 57 bangunan. Kini kompleks ini sudah jauh berkurang luasnya, sebagian besar dijadikan hunian oleh warga setelah gempa besar meruntuhnya bangunan-bangunannya. Sebagian lagi kini dilestarikan sebagai obyek wisata. Bangunan-bangunan tersebut adalah,

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Tamansari

Tamansari, yang berarti taman yang indah, pada mulanya merupakan sebuah taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta. Kompleks ini dibangun secara bertahap pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan dimulai pada tahun 1758 M, ditandai oleh candra sengkala "Catur Naga Rasa Tunggal" yang menunjuk tahun 1684 Jawa. Sengkalan yang dapat diartikan sebagai "empat naga satu rasa" ini dapat ditemukan di Gapura Panggung, Bagian-bagian penting dari kompleks bangunan diselesaikan pada tahun 1765 M, ditandai candra sengkala "Lajering Sekar Sinesep Peksi" yang menunjuk tahun 1691 Jawa. Sengkalan yang berarti "kuntum bunga dihisap burung" ini dapat ditemui di Gapura Agung dan ornamen beberapa dinding bangunan.

Tamansari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan di dalamnya. Bangunan-bangunan tersebut berbentuk gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Masa Kemasyhuran dan Keruntuhan Tamansari

Selain keraton, bangunan yang pertama-tama dibangun pada masa awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta adalah Tamansari. Tamansari didirikan di atas sebuah umbul (mata air) yang dikenal dengan nama Umbul Pacethokan. Pembangunan kompleks taman dan pemandian seluas 1.26 hektar ini diselesaikan selama hampir delapan tahun, dari tahun 1757 hingga 1765.

Proses pembangunan Tamansari yang memakan waktu panjang membuat pembangunan Benteng Vredeburg, benteng permintaan pemerintah kolonial pada Kesultanan Yogyakarta, menjadi tertunda-tunda. Oleh karenanya beberapa orang percaya bahwa pembangunan Tamansari yang berlarut-larut ini digunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk mengulur waktu.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Tugu Golong Gilig, Simbol Persatuan Raja dan Rakyat

Tugu Golong Gilig dapat ditemui di persimpangan antara Jalan Margo Utomo (dulu dikenal dengan Jalan Pangeran Mangkubumi), Jalan A.M. Sangaji, Jalan Jendral Sudirman, dan Jalan P. Diponegoro. Tugu ini berada di utara keraton, menjadi bagian dari sumbu filosofis yang membentang dari Gunung Merapi, Tugu Golong Gilig, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Laut Selatan. Karena bentuknya yang panjang dan warnanya yang putih, orang Belanda menyebutnya sebagai white paal (tiang putih). Oleh sebab itu hingga kini, Tugu Golong Gilig kadang masih disebut sebagai Tugu Pal Putih.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Kagungan Dalem Masjid Gedhe

Masjid Raya Yogyakarta, atau lebih dikenal sebagai Kagungan Dalem Masjid Gedhe, merupakan bagian tak terpisahkan dari Kesultanan Yogyakarta. Keberadaan Masjid Gedhe menegaskan keberadaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam.

Masjid Gedhe dibangun di sisi barat Alun-Alun Utara dan barat daya Pasar Beringharjo, tidak jauh dari bangunan keraton. Tata ruang ibu kota kerajaan yang menempatkan keraton sebagai pusat pemerintahan, pasar sebagai pusat ekonomi, dan tempat peribadatan sebagai pusat agama dalam posisi seperti ini, telah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan Jawa semenjak era Majapahit.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Pohon Beringin di Keraton Yogyakarta

Pohon beringin (Ficus Benjamina) memiliki posisi istimewa bagi Kesultanan Yogyakarta. Sebagai tanaman kerajaan, pohon beringin yang besar dan rimbun melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya. Ada puluhan pohon beringin yang ditanam di kawasan Keraton Yogyakarta, beberapa di antaranya bahkan memiliki nama.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Toponim Kampung Prajurit di Yogyakarta

Kota Yogyakarta kaya dengan toponim. Banyak nama kampung yang berkaitan erat dengan asal-usul keberadaan kampung tersebut. Salah satunya adalah nama kampung yang muncul dari nama-nama kesatuan prajurit keraton yang pernah bermukim di sana. Penempatan pemukiman prajurit tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah prajurit keraton itu sendiri.

Kasultanan Yogyakarta telah memiliki kesatuan-kesatuan prajurit yang kuat sejak awal berdirinya. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) dan Hamengku Buwono II (1792-1812), terdapat 15 perangkat Abdi Dalem Prajurit, 6 perangkat Abdi Dalem Prajurit Kadipaten (pengawal putra mahkota), dan 5 perangkat Abdi Dalem Prajurit Pangrembe.

Para prajurit keraton ini tinggal di sekitar keraton, di dalam benteng baluwarti. Dengan demikian kesatuan-kesatuan prajurit tersebut memiliki posisi strategis dalam mempertahankan benteng keraton.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Toponim Kampung Abdi Dalem Njaba Beteng

Keraton Yogyakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus kediaman raja beserta keluarga kerajaan. Guna menjalankan kedua fungsi tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu Keraton Yogyakarta memiliki Abdi Dalem yang memiliki tugas-tugas tertentu. Tiap kelompok Abdi Dalem mendapatkan pemukiman sendiri yang tidak jauh dari area keraton, termasuk di area-area di luar tembok benteng keraton. Area-area ini tersebar memanjang dari utara sampai selatan, dari Tugu sampai Panggung Krapyak. Di sisi timur dibatasi oleh Sungai Winongo, sedang di sebelah barat dibatasi Sungai Code.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Toponim Kampung Abdi Dalem Njeron Benteng

Keraton Yogyakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus kediaman raja beserta keluarga kerajaan. Guna menjalankan kedua fungsi tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu Keraton Yogyakarta memiliki Abdi Dalem yang memiliki tugas-tugas tertentu. Tiap kelompok Abdi Dalem mendapatkan pemukiman sendiri yang tidak jauh dari area keraton. Beberapa di antaranya ditempatkan di dalam benteng keraton yang menjadi pusat dari perkembangan kota Yogyakarta.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Benteng Keraton Yogyakarta

Kota-kota kerajaan di pulau Jawa tidak dapat dipisahkan dari benteng. Demikian juga kota-kota kerajaan pada masa Mataram Islam. Semua ibukota kerajaan Mataram Islam mulai dari Kota Gedhe, Plered, Kartasura, Surakarta, hingga Yogyakarta memiliki tembok pertahanan yang mengelilingi keraton. Bahkan dalam bahasa sansekerta, kata kota memiliki makna yang sama dengan benteng.

Keraton Yogyakarta memiliki dua lapis tembok. Lapisan dalam berupa tembok cepuri yang mengelilingi kedhaton, atau kawasan keraton. Tembok berikutnya jauh lebih luas dan kuat, disebut dengan tembok Baluwarti, atau lebih sering disebut hanya sebagai Beteng. Selain kedhaton, tembok Baluwarti juga melingkupi kawasan tempat tinggal kerabat Sultan dan pemukiman Abdi Dalem, area yang kini sering disebut sebagai kawasan Jeron Beteng.

Tata Rakiting SELANJUTNYA

Tata Ruang dan Bangunan Kawasan Inti Keraton Yogyakarta

Kawasan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bangunan cagar budaya yang terdiri dari serangkaian ruang dan bangunan yang memiliki nama, fungsi, pelingkup serta vegetasi tertentu. Serangkaian ruang-ruang terbuka di dalam keraton disebut plataran. Setiap plataran dihubungkan dengan regol atau gerbang yang merupakan pembatas antara plataran satu dengan yang lainnya.
Tata Rakiting SELANJUTNYA

Masjid Pathok Negara Sebagai Pilar Kasultanan Yogyakarta

Keberadaan masjid menjadi salah satu pilar bagi berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Selain Masjid Gedhe yang berada di pusat pemerintahan, Kasultanan Yogyakarta juga membangun masjid di empat penjuru mata angin. Keempat masjid ini disebut sebagai Masjid Pathok Negara.

Secara makna kata, pathok berarti sesuatu yang ditancapkan sebagai batas atau penanda, dapat juga berarti aturan, pedoman ,atau dasar hukum. Sementara negara berarti negara, kerajaan, atau pemerintahan. Sehingga pathok negara bisa diartikan juga sebagai batas wilayah negara atau pedoman bagi pemerintahan negara.

Tata Rakiting SELANJUTNYA