Tamanan Seri Ke-13, Mengenal Bagian Rumah - Kamar Mandi Basah dan Kering

Rubrik TAMANAN seri ketiga belas hadir dalam bentuk video edukasi. Video ini mengajak Sahabat Keraton Yogyakarta untuk mengenal bagian rumah, yakni kamar mandi basah dan kamar mandi kering. Dibawakan dalam bahasa Jawa, Sahabat Keraton Yogyakarta diajak untuk mengenal perabot yang lazim terdapat di kamar mandi. https://youtu.be/ACAu4HW9AWI

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri Ke-12, Gambar Cetak Kebun Binatang

Rubrik TAMANAN seri kedua belas kembali menghadirkan konten bermain dan belajar ramah anak. Kali ini, instrumen tersebut dikemas dalam model yang berbeda, yakni gambar cetak/ printable. Gambar cetak dalam seri kedua belas mengambil tema kebun binatang. Melalui instrumen ini, Sahabat Keraton Yogyakarta dapat praktik mendongeng bebas dalam bahasa Jawa kepada anak, murid, atau adik. Sahabat Keraton Yogyakarta dapat mengakses contoh cerita yang disampaikan dalam dua bahasa melalui lampiran audio. Selain itu, contoh kosakata hewan dalam bahasa Jawa juga terdapat dalam rubrik Tamanan seri satu dan dua.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri X, Belajar Bilangan

Rubrik TAMANAN seri kesepuluh mengusung tema Belajar Bilangan Angka dari 1-100. Konsep bilangan merupakan salah satu proses belajar yang penting dikuasai oleh anak. Tujuan belajar konsep bilangan antara lain untuk merangsang kemampuan numerik yang berkaitan dengan pemahaman simbol angka dan konsep bilangan. Dengan mengunakan kartu angka, anak dirangsang untuk berpikir, memusatkan perhatian, serta menumbuhkan minat belajar matematika sejak dini. Dalam konten kali ini, anak diajak berkenalan dengan bilangan, sekaligus mengenal kembali istilah bilangan dalam bahasa Jawa.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri IX, Mengenal Bagian Rumah Jawa - Ruang Makan dan Dapur

Rubrik TAMANAN seri kesembilan menghadirkan video edukasi sebagai media belajar. Pada kesempatan ini, rubrik Tamanan mengajak Sahabat Keraton Yogyakarta untuk mengenal bagian rumah, yakni ruang makan dan dapur. Dibawakan dalam bahasa Jawa, Sahabat Keraton Yogyakarta diajak untuk mengenal benda apa saja yang lazim terdapat di ruang makan dan dapur.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri VIII, Kata Kerja II

Seri kedelapan dari rubrik TAMANAN mengusung kembali tema kata kerja sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Tema ini merupakan kelanjutan dari seri keenam. Kata kerja merupakan golongan kata yang mempunyai makna aktivitas, tindakan, kejadian, atau proses. Fungsi dari kata kerja adalah untuk memberikan penjelasan mengenai suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Pemilihan tema kata kerja sederhana bertujuan untuk mengajak anak belajar melalui hal-hal terdekat yang mereka lalui dalam kehidupan sehari-hari. Tema kata kerja dapat dikenalkan kepada anak usia 1 tahun dan dimatangkan pada jenjang usia selanjutnya. Makin sering bahasa dipelajari dan digunakan, anak akan makin baik penguasaan bahasanya. Hal ini sejalan dengan mematangkan kemampuan anak dalam mengingat (memori) dan berkomunikasi (bahasa).

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri VII, Mengenal Bagian Rumah Jawa

Rubrik TAMANAN seri ketujuh menghadirkan video edukasi sebagai sarana belajar. Pada kesempatan ini, rubrik Tamanan mengajak Sahabat Keraton Yogyakarta untuk mengenal singkat mengenai rumah Joglo sebagai hunian masyarakat Jawa. Dibawakan dalam Bahasa Jawa, Sahabat Keraton Yogyakarta diajak untuk mengenal bagian-bagian dan benda apa saja yang lazim terdapat di Joglo dan ruang tamu.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri VI, Kata Kerja I

Seri keenam dari rubrik TAMANAN mengusung tema kata kerja sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Kata kerja merupakan golongan kata yang mempunyai makna aktivitas, tindakan, kejadian, atau proses. Fungsi dari kata kerja adalah untuk memberikan penjelasan mengenai suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang. Pemilihan tema kata kerja sederhana bertujuan untuk mengajak anak belajar melalui hal-hal terdekat dalam kehidupan sehari-hari. Tema Kata Kerja dapat dikenalkan pada anak usia 1 tahun dan dimatangkan pada jenjang usia selanjutnya. Makin sering dipelajari dan digunakan, anak akan makin baik penguasaan bahasanya.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri V, Kalimat Sopan Santun

Kalimat Sopan Santun menjadi tema rubrik TAMANAN seri kelima. Tema tersebut mengambil empat kategori kalimat, yakni kalimat minta maaf, kalimat minta tolong, kalimat terima kasih, dan kalimat minta izin. Orang tua dapat melatihkan kalimat ini kepada anak sejak usia dini, saat anak mulai berkembang kemampuan bahasanya. Mengucapkan kalimat tersebut tidaklah sulit, asal anak dibiasakan sejak kecil dan orang dewasa di sekitarnya memberikan contoh perilaku serupa. Bagaimana cara agar proses belajar kalimat sopan santun menjadi lebih mudah dan menyenangkan? Tentu orang tua dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah kebiasaan di rumah. 

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri IV, Petunjuk Letak dan Waktu

Rubrik TAMANAN seri keempat menghadirkan kartu bergambar dengan tema petunjuk letak dan petunjuk waktu. Kedua tema ini dapat digunakan untuk anak mulai usia 1 tahun hingga 5 tahun atau bahkan lebih. Kartu keterangan waktu sederhana seperti siang-malam dapat diajarkan pada anak usia 1 tahun dengan mengidentifikasi kenampakan alam seperti matahari dan bulan. Saat anak sudah memasuki usia 3 tahun, mereka mulai dapat mengenal pembagian waktu pagi, siang, sore, dan malam. Hal ini mengacu aktivitas yang biasa dilakukan pada waktu-waktu tersebut. Sedangkan anak usia lebih dari tiga tahun dapat mulai dikenalkan petunjuk waktu lain yang lebih kompleks.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan Seri III, Mengenal Warna dan Arah Mata Angin

Rubrik TAMANAN seri ketiga menghadirkan kartu bergambar dengan tema warna dan arah mata angin. Kartu bergambar kali ini menyajikan 11 macam warna serta 8 penjuru mata angin dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa Ngoko dan Bahasa Jawa Krama. Sementara untuk penulisan aksara latin pada Bahasa Jawa menggunakan pedoman Javanese General System of Transliteration (JGST).

Ragam SELANJUTNYA

Digitalisasi Koleksi, Upaya Merawat Kekayaan Budaya di Keraton Yogyakarta

Sketsa Alun-Alun Utara lengkap dengan sepasang pohon beringin di tengahnya bertahun 1771 diperkirakan sebagai dokumentasi visual tertua Keraton Yogyakarta. Sketsa itu merupakan karya Johannes Rach, prajurit penembak VOC. Dokumentasi visual tentang keraton pada masa awal pemerintahan sepanjang abad ke-18 jumlahnya terbatas. Pada pertengahan abad-19, kegiatan dokumentasi visual mulai berkembang. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), Raden Saleh, pelukis realis pertama dan terkemuka, aktif melukis keluarga keraton dan meninggalkan banyak artefak visual.

Ragam SELANJUTNYA

Pedoman Transliterasi Aksara Jawa Latin

Babak baru aksara Jawa dimulai ketika aksara tersebut mendapat tempat di Konsorsium Unicode (Unicode Consortium), korporasi nirlaba yang membuat serta menjaga standar internasional khusus teks pada produk-produk peranti lunak. Setelah diajukan melalui proposal pada 2005, aksara Jawa akhirnya resmi mendapat slot di tabel unicode pada 1 Oktober 2009. Sejak itu, aksara Jawa secara resmi masuk ke dunia digital.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan, Kartu Bergambar Seri II

Rubrik TAMANAN merupakan upaya Keraton Yogyakarta dalam memfasilitasi konten edukatif. Masyarakat dapat mengakses rubrik ini secara mudah dan bebas. Pada Agustus 2021, Tamanan kembali meluncurkan seri kartu bergambar (flashcard) untuk anak balita (bawah usia 5 tahun). Meski demikian, konten ini juga dapat digunakan untuk semua kategori usia yang ingin mengenal atau mengingat kembali budaya Jawa dari tahap awal.

Ragam SELANJUTNYA

Tamanan, Rubrik Ramah Anak dari Keraton Yogyakarta

Peringatan Hari Anak Nasional pada tanggal 23 Juli tahun ini terasa berbeda. Kondisi pandemi membatasi berbagai aktivitas, sehingga berdampak pada perkembangan anak untuk mengeksplorasi dunia luar. Melihat kondisi demikian, Keraton Yogyakarta meluncurkan rubrik baru sebagai media alternatif bermain dan belajar di rumah. 

Ragam SELANJUTNYA

Rincian dan Jadwal Acara Sekaten 2019

Setiap tahun, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Sekaten pada tanggal 6 hingga 12 Mulud berdasarkan Kalender Jawa Sultan Agungan. Hajad Dalem Sekaten dibuka dengan prosesi Miyos Gangsa dan ditutup dengan prosesi Kondur Gangsa. Pagi hari berikutnya, yang merupakan tanggal lahir Nabi Muhammad SAW dalam Tahun Jawa, diperingati dengan Hajad Dalem Garebeg Mulud.

Ragam SELANJUTNYA

KRT Wiroguno, Seniman Besar Keraton Yogyakarta

Menciptakan lebih dari seratus gending, merancang kostum Langendriya, menggeluti photo painting (pewarnaan foto hitam putih), dan berbagai kesenian lainnya, KRT Wiroguno rasanya layak disebut sebagai salah satu seniman besar Keraton Yogyakarta. Tak hanya berkarya, ia juga dengan rapi mendokumentasikan berbagai hal terkait pemerintahan dan kesenian keraton pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) dan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Hingga saat ini, hampir satu abad sepeninggal beliau, karya-karyanya masih dimainkan dan namanya masih sering dikutip. 
Ragam SELANJUTNYA

Kalender Jawa Sultan Agungan

Terdapat dua sistem penanggalan yang digunakan oleh Keraton Yogyakarta, kalender Masehi dan kalender Jawa. Kalender Masehi digunakan agar urusan administrasi keraton dapat selaras dengan kegiatan sehari-hari masyarakat umum, sedang kalender Jawa digunakan sebagai patokan bagi upacara-upacara adat yang diselenggarakan oleh keraton.
Ragam SELANJUTNYA

Geger Sepehi

Kurun waktu 1808 sampai dengan 1812 adalah tahun-tahun yang banyak mengubah wajah Yogyakarta. Gelombang Revolusi Perancis diikuti oleh masa “Peperangan era Napoleon”. Kecamuk di Eropa tersebut membawa dampak tak terlupakan bagi salah satu kerajaan Jawa yang ada pada masa itu, Kesultanan Yogyakarta. Setelah Kerajaan Belanda jatuh ke tangan Perancis, Bataafsche Republiek yang berkuasa di Nusantara dihapus dan digantikan dengan Koninkrijk Holland di bawah pimpinan Raja Louis Napoleon Bonaparte.
Ragam SELANJUTNYA

Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta

Kasultanan Yogyakarta merupakan kerajaan yang meneruskan gaya pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Salah satu ciri utamanya adalah keberadaan patih atau juga dikenal sebagai Pepatih Dalem, sebuah jabatan kerajaan setingkat perdana menteri. Patih Kesultanan Yogyakarta memakai gelar Danureja dan berkedudukan di sebuah wilayah yang disebut Kepatihan.

Kasultanan Yogyakarta berdiri berdasarkan Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Oleh karenanya Kasultanan Yogyakarta pun meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh Kerajaan Mataram sebelumnya. Sebelum dikukuhkan sebagai raja, Sultan harus menandatangani kontrak politik dengan pihak pemerintah kolonial. Salah satu bagian dari kontrak tersebut mengatur keberadaan patih. Selain sebagai pembantu Sultan, Pepatih Dalem juga menjalankan fungsi sebagai penghubung kesultanan dengan pihak pemerintah kolonial.
Ragam SELANJUTNYA

Sejarah Dokumentasi Visual Keraton Yogyakarta

Dokumentasi visual mengenai keraton yang pertama diketahui berasal seorang prajurit penembak VOC bernama Johannes Rach. Johannes Rach merupakan pelukis kelahiran Denmark yang kemudian pindah ke Belanda. Pada tahun 1762 ia mulai bekerja sebagai prajurit karena mengalami kesulitan keuangan. Rach kemudian dikirim ke Asia. Di Jawa, Rach menghasilkan banyak gambar. Salah satunya gambar yang memperlihatkan Keraton Yogyakarta dari arah Alun-Alun Utara, sekitar tahun 1771. Rach tidak sendiri, ia memiliki beberapa murid yang memiliki gaya gambar serupa. Hasil kerja Rach dan beberapa muridnya ini menjadi sumber informasi penting tentang suasana Indonesia pada pertengahan abad 18. Rach melakukan ini dengan tujuan menjual karya-karyanya.
Ragam SELANJUTNYA

Takhta Yogyakarta dan Gelombang Zaman

Kesultanan Yogyakarta telah mengarungi pasang surut gelombang zaman selama lebih dari dua setengah abad. Yogyakarta lahir di masa kekuasaan VOC. Jatuh bangun dalam kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, Perancis, dan Inggris. Bertahan di masa pendudukan Jepang. Bergabung sekaligus menyelamatkan Republik Indonesia. Kemampuan Kesultanan Yogyakarta untuk senantiasa menjaga kedaulatan politiknya sekaligus mengembangkan kebudayaan Jawa tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para Sultan yang bertakhta.
Ragam SELANJUTNYA