Kagungan Dalem

Secara harfiah berarti milik atau kepunyaan Sultan. Pada bagian ini akan menjelaskan tentang warisan budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat baik yang sifatnya benda maupun tak benda. Lebih khusus lagi, pada bagian ini akan membahas aset atau ragam budaya yang tidak termasuk ke dalam kategori upacara adat (hajad dalem) maupun tata ruang dan bangunan (tata rakiting wewangunan).

Gangsa Pakurmatan

Selain Gangsa (gamelan) Ageng untuk mengiringi berbagai pergelaran seni budaya, Keraton Yogyakarta juga memiliki Gangsa Pakurmatan yang khusus dimainkan untuk mengiringi prosesi penting dan sakral. Gangsa Pakurmatan terdiri dari Kanjeng Kiai Guntur Laut, Kanjeng Kiai Kebo Ganggang, Kanjeng Kiai Sekati, dan Gamelan Carabalen.

Benda SELANJUTNYA

Mengenal Gamelan Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta memiliki berbagai benda pusaka, salah satunya berupa alat musik gamelan. Gamelan merupakan seperangkat ansambel tradisional Jawa, yang memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem tangga nada slendro dan pelog. Masyarakat Jawa menyebut gamelan sebagai gangsa yang merupakan jarwa dhosok (akronim) dari tiga sedasa (tiga dan sepuluh). Tiga sedasa merujuk pada elemen pembuat gamelan berupa perpaduan tiga bagian tembaga dan sepuluh bagian timah. Perpaduan tersebut menghasilkan perunggu, yang dianggap sebagai bahan baku terbaik untuk membuat gamelan.

Instrumen yang dimainkan dalam seperangkat gamelan antara lain kendang, bonang, panerus, gender, dan gambang. Selain itu ada suling, siter, clempung, slenthem, demung, dan saron. Juga tidak ketinggalan gong, kenong, kethuk, japan, kempyang, kempul, dan peking.

Keraton Yogyakarta memiliki sekitar 21 perangkat gamelan yang dikelompokkan menjadi dua, yakni Gangsa Pakurmatan dan Gangsa Ageng.

Benda SELANJUTNYA

Ladosan Dhahar Dalem

Terdapat tata cara khusus bagi hidangan Sultan dan keluarga, baik dalam pembuatan maupun penyajian. Setelah hidangan selesai dibuat, beberapa Abdi Dalem datang ke dapur keraton untuk memulai prosesi penyajian hidangan bagi Sultan. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, prosesi yang telah menjadi tradisi harian sejak dahulu hingga sekarang ini dikenal dengan istilah Ladosan Dhahar Dalem.

Benda SELANJUTNYA

Perangkat Minum Teh Upacara Ngabekten

Menjelang bulan Sawal menurut perhitungan kalender Jawa, kegiatan di Patehan terlihat lebih sibuk dari hari-hari biasa. Para Abdi Dalem Patehan sibuk mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan dalam upacara Ngabekten atau yang biasa dikenal dengan upacara Sungkeman. Beberapa peralatan seperti, nampan, teko, cangkir, cawan, dan sendok mulai dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Termasuk juga sebuah kotak kayu yang berisi satu set rampadan (perlengkapan minum) teh khusus Ngabekten untuk Sultan .
Benda SELANJUTNYA

Perlengkapan Minum Teh Pisowanan Malem Garebeg / Muludan

Memasuki bulan Mulud, Patehan kembali bersiap diri untuk menyambut Pisowanan Malem Garebeg yang berlangsung setiap tanggal 11 Mulud malam di Masjid Gedhe. Acara yang dihadiri oleh Sultan, Paku Alam, kerabat, dan tamu undangan ini meliputi pembacaan riwayat Nabi Muhammad S.A.W. dan prosesi penyebaran udik-udik oleh Sultan.
Benda SELANJUTNYA

Kereta-Kereta Pusaka Keraton Yogyakarta

Salah satu pusaka keraton yang dapat dilihat secara terbuka oleh masyarakat umum adalah kereta. Saat ini Keraton Yogyakarta mengoleksi 23 kereta. Kereta-kereta tersebut hanya digunakan untuk upacara-upacara penting dan disimpan di Museum Kereta Keraton.

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Bontit

Berikut kisahnya. Pertunjukan yang digelar ini. Pertunjukan tari Bedhaya Bontit ciptaan Ngarsa Dalem, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang bertakhta di Ngayogyakarta Hadiningrat. Dipersembahkan oleh Kawedanan Kridhamarawa, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun inspirasi cerita diambil dari Wayang Purwa (epos Mahabharata). Saat Raden Suryatmaja, mengadu kekuatan melawan Raden Permadi di Pura Mandaraka. Urutan kisahnya telah dipaparkan lengkap dalam buku syair yang dilantunkan sinden. 

Benda SELANJUTNYA

Beksan Dasakusuma

Beksan Dasakusuma merupakan beksan kakung (tari putra) keempat Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Tari ini menggambarkan pertempuran antara Prabu Dasakusuma dan Raden Panji Laleyan. Kisah tersebut menukil dari narasi Wayang Gedhog dalam manuskrip Serat Kandha: Kalangenan Dalem Beksan Lawung karya Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) yang mengurai runtutan pertempuran dan kisah Panji terutama dari zaman Kediri hingga penaklukan kerajaan-kerajaan di Bali. Pada bagian akhir serat, Prabu Dasakusuma dari Kerajaan Parangkencana dikisahkan ingin menikahi Dewi Sekartaji (Dewi Condrokirono), istri Raden Panji Laleyan dari Kerajaan Kediri. Namun, Dewi Sekartaji tidak menyanggupi permintaan tersebut. Terjadilah pertempuran antara Prabu Dasakusuma dan Raden Panji Laleyan. Tidak ada yang menang atau kalah dalam pertempuran itu karena keduanya sama-sama sakti. Perseteruan mereka diakhiri dengan suka-suka (perjamuan) antara kedua kerajaan sebagai klimaks cerita

Benda SELANJUTNYA

Beksan Surengrana

Beksan Surengrana merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Tarian ini merupakan beksan kakung (tari putra) ketiga yang diciptakan sejak beliau bertakhta. Nama “Surengrana” sendiri berasal dari dua kata yakni “sureng” atau “sura” yang berarti berani dan “rana” atau “rananggana” yang berarti medan perang. Surengrana menjadi perlambang prajurit yang memiliki keberanian perang di medan laga. 

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Durma Kina

Sebet byar wauta, anenggih ingkang kakersakaken kawiyosaken punika, Kelangenan Dalem Bedhaya Durma, Iyasan Dalem Eyang Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan ingkang jumeneng kaping tiga, duk jumeneng ing Kadospaten Dalem.

Benda SELANJUTNYA

Wayang Wong, Drama Tari Kenegaraan Keraton Yogyakarta

Pertunjukan Wayang Wong yang disajikan secara lengkap adalah pertunjukan drama tari akbar. Pada masa puncaknya di bawah pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1239), sebuah pertunjukan Wayang Wong di Keraton Yogyakarta mampu melibatkan 300 sampai 400 penari, dipentaskan selama tiga sampai empat hari berturut-turut dari pukul 06.00 sampai 23.00 tanpa istirahat, menarik sekitar 30.000 penonton tiap harinya, menghabiskan biaya 15.000 gulden untuk produksi, dan 200.000 gulden untuk pembuatan busana. Sebagai perbandingan, gaji tertinggi seorang Abdi Dalem pada masa itu hanyalah 150 gulden sebulan.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Panji Laleyan

Beksan Panji Laleyan merupakan Yasan Dalem atau karya Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Kisah dalam tarian ini merupakan cuplikan dari roman Panji yang dipertunjukkan dalam wayang gedog, menggambarkan perjalanan Raden Panji Laleyan atau Raden Panji Jayengresmi saat dipanggil kembali oleh sang kakek untuk bertapa dan menimba ilmu di Gunung Rasamulya. 

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Mintaraga

Bedhaya Mintaraga merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Tari ini diilhami Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sri Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). Mintaraga adalah nama yang disandang tokoh pewayangan Raden Harjuna, saat sedang bertapa di Gua Indrakila. Penyematan gelar Mintaraga kepada Raden Harjuna tidak lepas dari mesu budi, yang bermakna usaha mengendalikan hawa nafsu jasmani maupun rohani. 

Benda SELANJUTNYA

Golek Jangkung Kuning

Golek Jangkung Kuning adalah salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh KRT Wiroguno pada tahun 1931. KRT Wiroguno merupakan seorang seniman besar pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Beksan (tari) Golek lahir di luar cepuri keraton dan berkembang di Ndalem-ndalem Pangeran. Beksan Golek semula dipentaskan sebagai penutup pertunjukan Langendriya, kemudian tarian ini berdiri sendiri. Beksan Golek dibawakan oleh penari putri tunggal, namun bisa juga ditarikan secara berkelompok.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Ajisaka

Beksan Ajisaka merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka10. Beksan ini merupakan Beksan Kakung (tari putra) pertama yang diciptakan sejak beliau bertakhta. Tari ini diilhami dari Serat Ajisaka yang ditulis sendiri oleh Ngarsa Dalem sebagai esensi pemaknaan dibalik aksara Jawa (Ha Na Ca Ra Ka, dst). Aksara Jawa yang sarat makna ajaran luhur selanjutnya dijadikan edukasi jati diri manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna. Disamping itu juga dijadikan penanda atas peristiwa masa lalu sebagai refleksi untuk saat ini dan masa yang akan datang. Pertunjukan perdana Beksan Ajisaka digelar oleh KHP Kridhomardowo Keraton Yogyakarta pada 5 Desember 2020 dalam Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran.

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Lambangsari

Bedhaya Lambangsari merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921), yang kemudian dikembangkan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Lambangsari berarti bertukarnya cinta kasih.  Beksan ini mengambil cerita dari Serat Babad Nitik yang mengisahkan pertemuan antara Panembahan Senopati dengan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu Panembahan Senopati dan keturunannya. Pada akhirnya Panembahan Senopati berhasil mendirikan sebuah kerajaan, yaitu Mataram dan Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan penerusnya.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Panji Sekar

Beksan Panji Sekar diciptakan pada era kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Beksan Panji Sekar diciptakan dalam kurun waktu yang sama dengan lahirnya beksan-beksan lain seperti Trunajaya, Guntur Segara, Nyakrakusuma dan Tugu Wasesa. Dalam masa sepuluh tahun (1755-1765), Sri Sultan Hamengku Buwono I menggarap tarian-tarian tersebut bersama Putra Mahkota, Patih Dalem dan seorang Abdi Dalem (setingkat bupati) kepercayaan sultan.

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Sapta

Bedhaya Sapta merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). ‘Sapta’ berarti tujuh, hal ini merujuk pada jumlah penari Bedhaya Sapta –tujuh penari–, tidak seperti lazimnya tari bedhaya yang dibawakan oleh sembilan penari.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Kuda Gadhingan

Beksan Kuda Gadhingan merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1855). Diciptakan pada 29 September 1847, beksan ini terinspirasi dari karya Sri Sultan Hamengku Buwono I, seperti Beksan Lawung, Guntur Segoro, dan Tugu Waseso. Beksan Kuda Gadhingan merupakan salah satu karya unggulan Sri Sultan Hamengku Buwono V selain Srimpi Renggawati. Berikut ini sepenggal bait dari kandha (narasi) yang dibawakan sebagai pembuka beksan dan menggambarkan awal mula penciptaan Beksan Kuda Gadhingan.

Benda SELANJUTNYA

Srimpi Muncar

Srimpi Muncar merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877), diciptakan pada 1857, dan disempurnakan pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). ‘Muncar’ berarti gemilang atau bersinar.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Etheng

Beksan Etheng merupakan Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Diciptakan pada 1763, periode awal masa damai setelah peperangan melawan penjajah, tari ini bertujuan mengendalikan situasi sosial di negara yang sudah sah berdiri dan berdaulat. Beksan tersebut menggambarkan pertandingan dan taruhan etheng, adu ketangkasan yang mengharuskan pemain menyentuh tubuh lawan untuk menjadi pemenang. Pemain yang kalah tidak boleh mengikuti babak selanjutnya.

Benda SELANJUTNYA

Srimpi Teja

Srimpi Sekar Teja atau lebih dikenal dengan nama Srimpi Teja merupakan tari klasik Keraton Yogyakarta Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Srimpi Teja pada awalnya merupakan pengembangan dari Srimpi Cina yang muncul pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Srimpi Teja dibawakan dengan anggun oleh empat penari putri dengan diiringi empat penari dhudhuk.

Benda SELANJUTNYA

Bedhaya Tirta Hayuningrat

Bedhaya Tirta Hayuningrat merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Tari ini diilhami dari Serat Lenggahing Harjuna yang ditulis sendiri oleh Sultan sebagai bentuk piwulang (pengajaran). Tirta berarti air, sementara Hayuningrat berarti keselamatan dunia. Kedua makna tersebut dimanifestasikan dalam filosofi Lenggahing Harjuna, sebuah pemaknaan tentang diri sebagai manusia.

Benda SELANJUTNYA

Langendriya, Opera Tari Gaya Yogyakarta

Langendriya adalah salah satu genre drama tari gagasan KGPA Mangkubumi, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877) yang pernah menjabat sebagai Lurah Pangeran serta Ajudan Gubernur Jenderal. Penyusunan drama tari opera Langendriya berawal dari tradisi macapatan di Dalem Mangkubumen atau yang sebelumnya dikenal sebagai Dalem Kadipaten. Macapatan, atau waosan macapat, atau pembacaan macapat, biasa dilakukan tiap bulan Pasa/Ramadhan sebagai pengganti kegiatan latihan menari yang dihentikan selama masa puasa.

Benda SELANJUTNYA

Langen Mandra Wanara

Langen Mandra Wanara adalah salah satu genre drama tari Jawa yang diciptakan oleh KPH Yudonegoro III pada sekitar tahun 1890. Drama tari yang mengambil cerita Ramayana ini berkembang di kompleks Kepatihan. Gerakannya dibawakan dengan joged jengkeng (posisi duduk di atas kaki) dan dialognya dinyanyikan dengan tembang macapat.

Benda SELANJUTNYA

Beksan Lawung Ageng

Salah satu tarian pusaka yang dimiliki oleh Keraton Yogyakarta adalah Beksan Lawung Ageng, tari yang menggambarkan adu ketangkasan prajurit bertombak. Beksan Lawung Ageng diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) yang terinspirasi perlombaan watangan. Watangan adalah latihan ketangkasan berkuda dan memainkan tombak yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem Prajurit pada masa lalu.

Benda SELANJUTNYA

Srimpi Pandhelori

Srimpi Pandhelori adalah salah satu tari klasik Keraton Yogyakarta yang diperkirakan diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855-1877). Pandhelori berasal dari istilah “pandhe”, pembuat perkakas dari besi, dan “lori”, gada berukuran kecil. Srimpi Pandhelori dibawakan dengan anggun oleh empat penari putri yang mengenakan senjata berupa pistol. Selain pistol digunakan pula jemparing (panah), jebeng (tameng), atau cundrik (keris kecil). Srimpi Pandhelori mengambil cuplikan kisah Serat Menak yang bercerita tentang pertarungan Dewi Kadarwati melawan Dewi Ngumyumadikin. Dalam versi lain juga disebutkan pertarungan Dewi Sudarawerti melawan Dewi Sirtupilaeli. Karena keduanya sama-sama kuat, pertarungan yang berlangsung sengit itu berakhir damai.
Benda SELANJUTNYA

Srimpi Rangga Janur

Srimpi Rangga Janur adalah salah satu tari klasik gaya Yogyakarta yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Sultan Agung (1613-1645). Srimpi Rangga Janur dibawakan dengan anggun oleh empat penari putri dengan diiringi empat penari dhudhuk yang membawakan perlengkapan berupa jebeng atau tameng. Jebeng yang digunakan berwarna hitam dengan hiasan bulu merak bergambar tokoh wayang. Dua buah jebeng mewakili Dewi Srikandhi dan dua buah jebeng mewakili Dewi Larasati.
Benda SELANJUTNYA

Srimpi, Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Srimpi atau Serimpi merupakan genre tari klasik gaya Yogyakarta yang diperkirakan telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Agung, era Mataram Islam. Di Keraton Yogyakarta, istilah Srimpi merujuk pada tari putri yang umumnya dibawakan dengan anggun oleh empat penari. Pada awalnya, Srimpi merupakan tarian sakral yang dibawakan hanya pada saat tertentu, seperti pada peringatan kenaikan takhta, resepsi pernikahan, atau upacara kenegaraan.
Benda SELANJUTNYA

Tari sebagai Sarana Pendidikan di Keraton Yogyakarta

Selain olah gerak, tari klasik gaya Yogyakarta juga menuntut olah rasa yang disesuaikan dengan falsafah hidup yang dirumuskan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792). Maka tak mengherankan apabila kemudian latihan tari klasik gaya Yogyakarta juga digunakan sebagai sarana membentuk karakter.
Benda SELANJUTNYA

Tari Golek Menak

Beksan (tari) Golek Menak adalah sebuah genre drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988). Gagasan penciptaan tari ini dicetuskan Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941. Apabila dramatari Wayang Wong menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, dramatari Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak.
Benda SELANJUTNYA

Tari Klasik di Keraton Yogyakarta

Seni tari menempati posisi sangat terhormat di Keraton Yogyakarta. Sejarah seni tari gaya Yogyakarta membentang sepanjang sejarah kesultanan ini sendiri. Keberadaannya menyatu dengan dinamika kehidupan di keraton dan menjadi pegangan hidup para pelakunya.
Benda SELANJUTNYA

Kendhangan Ketawang Gaya Yogyakarta

Dalam karawitan gaya Yogyakarta, kendhangan merujuk keterangan untuk menunjuk pola ritme tabuhan kendhang. Kendhangan Ketawang merupakan salah satu pola tabuhan kendhang yang digunakan pada struktur Gendhing Ketawang. Sementara Gendhing Ketawang merupakan salah satu bentuk Gendhing Alit, sebuah bentuk gendhing kecil. Penyebutan nama gendhing dalam seni karawitan biasanya disertai keterangan kendhangan, misalnya Gendhing Gajah Hendra, Laras Slendro, Pathet Sanga, Kendhangan Ketawang.

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Soran Volume 1

Dalam karawitan gaya Yogyakarta, gendhing diklasifikasikan menjadi dua berdasarkan teknik  memainkannya, yakni Gendhing Lirihan dan Gendhing Soran. ‘Soran’ berasal dari ‘sora’, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti lantang. Teknik soran merupakan cara menyajikan gendhing dengan volume keras. Karawitan gaya Yogyakarta berpedoman pada prinsip prasaja yang berarti sederhana, greget (semangat), mungguh (serasi), dan agung (berwibawa). Sifat-sifat itulah yang tersaji dalam gendhing-gendhingnya. 

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Gati volume 2

Gendhing Gati merupakan gendhing khusus yang biasa ditabuh untuk mengiringi penari Bedhaya atau Srimpi saat berjalan masuk dan keluar ruang pementasan (pendapa atau bangsal), proses berjalan ini disebut ‘lampah kapang-kapang’. Gendhing Gati memiliki motif kendhangan ladrang sabrangan.­ Begitu sampai bagian akhir, gendhing-gendhing ini bisa diulang dari awal berkali-kali sesuai kebutuhan.

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Gati Taruna dan Gati Bhinneka

Sri Sultan Hamengku Buwono X kembali memprakarsai Gendhing Gati Yasan Dalem baru dalam rangka menyambut peringatan ke-92 Hari Sumpah Pemuda. Ngarsa Dalem kemudian Paring Dhawuh kepada KPH Notonegoro, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhomardowo, untuk menindak lanjuti dhawuh tersebut.

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Gati volume 1

Gendhing Gati merupakan gendhing khusus yang ditujukan untuk mengiringi penari Bedhaya atau Srimpi saat berjalan masuk dan keluar ruang pementasan (pendapa atau bangsal), proses berjalan ini disebut ‘lampah kapang-kapang’.

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Gati Mardika

Gendhing Gati mencapai puncak perkembangannya pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Sekitar 48 gendhing telah diciptakan. Setelah era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, tidak ada penciptaan Gendhing Gati di lingkungan Keraton Yogyakarta. Hal ini kemudian membuat Sri Sultan Hamengku Buwono X memprakarsai Gendhing Gati Yasan Dalem yang baru.

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Sekaten

Gendhing Sekaten merupakan gendhing-gendhing yang dilantunkan selama Hajad Dalem Sekaten; perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan Sekaten berlangsung dari tanggal 5 hingga 12 Mulud (Rabi’ul Awal). Dua perangkat gamelan, yaitu Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga mengalunkan gendhing-gendhing khusus di Bangsal Pagongan, Kagungan Dalem Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta. Terdapat 68 gendhing dalam ragam gendhing sekaten, 16 diantaranya lazim dilantunkan selama prosesi Sekaten oleh Abdi Dalem Wiyaga KHP Kridhomardowo

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Kurmat Dalem

Gendhing Kurmat Dalem dilantunkan khusus untuk menghormati Sri Sultan saat beliau Miyos Dalem, berjalan keluar dari kediaman untuk menghadiri upacara adat atau menyambut tamu di keraton, dan Jengkar Dalem, beranjak dari dhampar (singgasana) untuk kembali ke kediaman atau kondur kedhaton. Gendhing-gendhing terlantun dari perangkat Gangsa Ageng. Ada empat gendhing penghormatan, dua diantaranya yakni Prabu Mataram dan Sri Kondur digubah oleh KRT Wiroguno, ahli karawitan pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Benda SELANJUTNYA

Gendhing Pahargyan

Di Keraton Yogyakarta, setiap upacara tak lepas dari gendhing, iringan musik khas yang dihasilkan oleh gamelan. Sesuai pranatan, gendhing-gendhing tertentu diperuntukkan bagi prosesi atau upacara adat. Gendhing Pahargyan contohnya. Sesuai sebutannya yang berarti perayaan, gendhing jenis ini diperdengarkan untuk mengiringi upacara perayaan, seperti pernikahan, khitanan, tetesan, menyambut tamu dan lain sebagainya.

Benda SELANJUTNYA

Patehan, Tempat Minuman Keraton Yogyakarta Berasal

Setiap hari pada pukul 06.00 dan 11.00 WIB, selalu tampak iring-iringan kecil dari lima orang Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem perempuan) di lingkungan Keraton Yogyakarta. Prosesi ini dimulai dari sebuah bangunan di sisi selatan Plataran Kedhaton Keraton Yogyakarta. Tempat yang dikenal sebagai Gedhong Patehan itu merupakan tempat Abdi Dalem Patehan bertugas menyiapkan minuman bagi keperluan keraton.
Benda SELANJUTNYA

Kesusastraan Islam di Keraton Yogyakarta

Puncak perkembangan kesusastraan Islam keraton di Jawa terjadi selama kolonialisasi Belanda masuk ke jantung Mataram dan memecahnya menjadi Keraton Surakarta, Yogyakarta, dan Pura Mangkunegaran. Perhatian dan kegiatan istana yang semakin lemah kekuasaannya tersebut diarahkan bagi perkembangan kebudayaan rohani. Periode perkembangan sastra Islam di keraton-keraton Jawa tersebut berlangsung selama 130 tahun, antara tahun 1757-1881. Di Keraton Yogyakarta, setidaknya berlangsung hingga masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823-1826; 1828-1855), produksi sastra Islam terjadi secara besar-besaran.

Benda SELANJUTNYA

Jenis-Jenis Gunungan Keraton Yogyakarta

Upacara Garebeg yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta selalu ditandai dengan munculnya gunungan. Gunungan merupakan sebutan untuk beragam jenis makanan dan hasil bumi yang disusun menyerupai bentuk sebuah gunung. Pada acara tersebut gunungan didoakan oleh para Abdi Dalem untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

Bahan utama pembuatan gunungan berasal dari ketan. Ketan yang bersifat lengket mengandung makna bahwa Garebeg dan gunungan dapat membuat rakyat dan raja dapat saling erat terikat.

Benda SELANJUTNYA

Jemparingan Gaya Mataram

Jemparingan merupakan olah raga panahan khas Kerajaan Mataram. Berbeda dari panahan pada umumnya yang dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dengan duduk bersila. Hingga kini jemparingan masih lestari, baik di Yogyakarta maupun di Surakarta.

Asal usul jemparingan di Kesultanan Yogyakarta, atau juga dikenal sebagai jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta, dapat ditelusuri sejak awal keberadaan Kesultanan Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), raja pertama Yogyakarta, mendorong segenap pengikut dan rakyatnya untuk belajar memanah sebagai sarana membentuk watak kesatria.

Benda SELANJUTNYA

Sengkalan: Rangkaian Kata Penanda Masa

Sengkalan adalah penanda waktu, berwujud rangkaian kata yang memiliki makna berupa bilangan-bilangan. Tiap kata dalam sengkalan mewakili sebuah bilangan, dan jika rangkaian kata tersebut dibaca terbalik maka didapati bilangan tahun yang dimaksud.

Sebagai contoh adalah sengkalan yang menandai runtuhnya kerajaan Majapahit, Sirna Ilang Kertaning Bumi. Kata sirna mewakili bilangan 0, ilang juga mewakili bilangan 0, kerta mewakili bilangan 4, sedang bumi mewakili bilangan 1. Jika dibalik maka akan terbaca 1400 sebagai bilangan tahun.

Kata sirna sendiri berarti lenyap, ilang berarti hilang, kerta dapat diartikan sebagai kemakmuran, bumi berarti dunia. Dengan demikian maka Sirna Ilang Kertaning Bumi dapat diartikan sebagai "lenyapnya kemakmuran di dunia". Penggunaan kata-kata sebagai pengganti bilangan membuat sengkalan tidak hanya menjadi penanda waktu, namun juga memiliki kemampuan untuk menghadirkan semboyan, harapan, gambaran situasi, atau suasana batin atas peristiwa yang ditandai.

Benda SELANJUTNYA

Batik Gaya Yogyakarta

Batik merupakan karya seni yang tumbuh sebagai manifestasi dari tradisi dan kekayaan budaya di daerah tempatnya berkembang. Setiap batik mampu merefleksikan nilai dan karakteristik yang dianut wilayah tersebut. Hal ini yang kemudian mendasari lahirnya kekhasan corak yang dimiliki tiap – tiap wilayah tempat berkembang batik, seperti Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Garut, Madura, Lasem, Sukoharjo, dan daerah sentra batik lainnya.

Yogyakarta, sebagai salah satu wilayah tempat berkembangnya batik, tentu saja juga memiliki ciri khas batiknya sendiri yang muncul karena nilai dan kearifan budaya yang dianut.

Benda SELANJUTNYA

Motif Batik Larangan Keraton Yogyakarta

Batik larangan Keraton Yogyakarta, atau kadang disebut Awisan Dalem, adalah motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-aturan tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh memakainya.

Benda SELANJUTNYA

Sejarah Batik Yogyakarta

Kata batik dalam bahasa Jawa berasal dari akar kata tik yang merujuk pada pekerjaan tangan yang halus, lembut, dan detil, yang mengandung unsur keindahan (seni). Kata tik juga merujuk pada proses pembuatan corak kain dengan ‘"menitikkan’" malam (lilin) dengan alat bernama canting sehingga membentuk corak yang terdiri atas susunan titikan dan goresan.

Dalam penjelasan lain, disebutkan bahwa makna batik sendiri bisa mengacu pada dua hal. Mengacu pada teknik pembuatan, batik adalah teknik pewarnaan yang menggunakan malam sebagai perintang bahan pewarna pada kain (wax-resist dyeing). Mengacu pada motif dan pola, batik adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, dan memiliki motif-motif tertentu yang khas.

Benda SELANJUTNYA

Ageman Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X

Ageman jumenengan adalah busana yang dikenakan oleh calon raja Keraton Yogyakarta dalam prosesi penobatan. Busana jumenengan setiap sultan memiliki pakem tertentu, namun pemilihannya disesuaikan dengan kehendak calon raja yang akan bertakhta.Demikian pula, Ageman Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwono X disiapkan dan disesuaikan dengan pilihan beliau. 

Benda SELANJUTNYA

Pranakan, Busana Abdi Dalem Jaler

Pengangge (busana) Abdi Dalem merupakan busana adat yang dikenakan para Abdi Dalem dalam melaksanakan tugas di Keraton Yogyakarta. Salah satu busana dinas harian yang dikenakan para Abdi Dalem jaler (Pria) adalah busana pranakan. Pakaian bercorak lurik berwarna biru gelap ini wajib dipakai para Abdi Dalem jaler selama menjalankan tugas, baik di dalam keraton, maupun di luar keraton.

Benda SELANJUTNYA

Ragam Busana Adat Abdi Dalem Estri

Seperti halnya Abdi Dalem jaler, Abdi Dalem estri (perempuan) juga mengenakan busana adat dalam menjalankan tugas dan kewajiban untuk Keraton Yogyakarta. Pengangge atau busana ini memiliki beberapa ragam, baik untuk melaksanakan tugas harian maupun upacara. Masing-masing memiliki aturan baik dalam penggunaan maupun cara pemakaian.

Benda SELANJUTNYA

Keris Bagi Masyarakat Jawa

Keris adalah sejenis senjata tajam yang memiliki tempat terhormat dalam masyarakat Jawa. Ia tidak hanya berfungsi sebagai senjata, namun juga sebagai perlengkapan busana, simbol status, pemberi kewibawaan, dan sebagai perlengkapan dalam upacara adat. Bahkan keris, atau juga disebut sebagai curiga, menjadi sebagai salah satu dari lima kelengkapan yang diperintahkan oleh Sultan Agung harus dimiliki oleh seorang pemuda Mataram/Jawa. Kelimanya yaitu curiga (keris), wisma (rumah), turangga (kuda), wanita (istri), dan kukila (burung).
Benda SELANJUTNYA

Samir, Selempang Khas Penanda Tugas

Samir merupakan kelengkapan busana Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Berbentuk menyerupai pita atau selempang kecil dengan hiasan gombyok di kedua sisi. Sekilas samir hanya berfungsi sebagai aksesori semata, namun samir merupakan kelengkapan yang sangat penting dan tidak sembarang orang boleh memakainya.

Di Keraton Yogyakarta, samir adalah tanda, bahwa Abdi Dalem yang memakainya sedang menjalankan tugas, atau disebut ayahan. Tugas itu dapat berupa tugas di dalam lingkungan keraton seperti membawa pusaka, membawa makanan untuk Sultan, memberi sesaji, menabuh gamelan, ataupun ketika mengajar dalam forum resmi keraton. Juga ketika menjalankan tugas di luar lingkungan keraton, seperti menjadi utusan dalam upacara Labuhan atau Garebeg.

Benda SELANJUTNYA