KRT Surya Satriyanto, Abdi Dalem Berwawasan Global yang Kuat Mengakar

Pergaulan dengan orang asing justru membawa kesadaran akan pentingnya mencintai kebudayaan sendiri. Inilah yang terjadi pada RM Adwin Surya Satriyanto. Saat remaja, ia mengikuti pertukaran pelajar ke Australia. Hingga kini, ia masih aktif berkecimpung di kegiatan pertukaran budaya. Sebelum pandemi, keluarganya beberapa kali menjadi host family bagi pelajar pertukaran yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Tak pelak, ia memiliki banyak relasi dengan warga mancanegara. Mereka sering bertanya mengapa sebagai orang Jawa, ia tidak bisa berbahasa Jawa, tidak bisa menabuh gamelan, tak pandai menari tradisional, dan sebagainya. 

Figur SELANJUTNYA

Mas Riya Sarihartakadipura, Kunci Kelancaran Kegiatan Keagamaan

Mas Riya Sarihartakadipura adalah gambaran khas kebanyakan Abdi Dalem keraton yang mengabdi semata karena panggilan hati. Busaeri, demikian nama aslinya, tidak kekurangan materi –malah dapat dibilang berkelimpahan–, menduduki banyak jabatan, serta memiliki berderet tugas dan kegiatan. Namun, itu semua tak mampu meredam keinginan sanubarinya untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dan keahlian demi pelestarian budaya. 

Figur SELANJUTNYA

KRT Zhuban Hadiningrat, Menegakkan Syiar Agama di Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta merupakan salah satu kerajaan Islam nusantara yang masih lestari hingga kini. Pusat budaya Jawa ini senantiasa aktif mensyiarkan ajaran agama Islam lewat program-program religius yang digawangi terutama oleh Abdi Dalem Pengulon. Kata “pengulon” berasal dari “pengulu” atau “penghulu”, yaitu Abdi Dalem yang bertugas menikahkan putra-putri keraton. Posisi semacam itu sekarang sudah tidak ada lagi. Namun, Abdi Dalem Pengulon tetap eksis untuk membangun agama Islam di keraton dan sekitarnya. 

Figur SELANJUTNYA

Mas Bekel Ngabdul Haq, Selarasnya Budaya dan Agama

“Keraton sampai sekarang bisa eksis tidak terlepas dari dua hal, donga dan loma.” Doa dan kedermawanan punya andil besar dalam menjaga kelestarian keraton hingga sekarang. Itulah kesimpulan Mas Bekel Sepuh Ngabdul Haq, salah seorang Abdi Dalem Kanca Kaji Selusin yang bergabung sejak 2014. Pria bernama asli Mashurori ini takjub menyadari bahwa setiap kegiatan keraton, bahkan yang terlihat sepele, seperti menanam rumput atau mengganti lampu, selalu diawali doa dan sedekah. Kedermawanan dan sedekah disimbolkan dengan sesaji serta berkatan yang senantiasa dihidangkan dalam setiap upacara lalu dibagikan kepada hadirin. Hal ini membuat Mas Ngabdul Haq yakin bahwa keraton jauh dari hal-hal klenik. Alih-alih, jiwa spiritual dan keagamaan senantiasa menjadi roh dalam tiap langkah.

Figur SELANJUTNYA

Mas Wedana Perwitowiguno, Totalitas Empu Wayang Kulit Gaya Yogyakarta

November 2003, wayang kulit ditetapkan UNESCO sebagai Adikarya Warisan Budaya Tutur dan Takbenda. Walau wayang kulit kini tak sepopuler dahulu, karya seni nan luhur ini tetap bertahan dan memiliki banyak penggemar. Kelestariannya tak luput dari ketekunan para seniman yang terus merawat keberadaan wayang kulit. Pak Sagio, empu wayang gaya Yogyakarta, merupakan salah satunya. 

Figur SELANJUTNYA

Nyi Raden Wedana Noorsundari, Edukator Wisata di Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta disangga dan digerakkan oleh ribuan Abdi Dalem yang berkarya penuh ketulusan. Dengan keahlian masing-masing, mereka saling melengkapi dan bersama-sama melestarikan pusat kebudayaan Jawa ini. 

Nyi Raden Wedana Noorsundari (RA Siti Amieroel Noorsoendari) adalah salah satu Abdi Dalem yang turut andil dalam pengembangan pariwisata dan museum keraton. Bergabung sejak 2003 sebagai pemandu wisata atau edukator, perempuan yang akrab dipanggil Mbak Ami, kini menjadi carik Tepas Museum Keraton Yogyakarta. 

Figur SELANJUTNYA

Mas Bekel Sastro Danu Triyono, Kesetiaan Prajurit Bugis untuk Kebudayaan Jawa

Kegagahan dan keelokan bregada prajurit Keraton Yogyakarta menimbulkan kekaguman dalam sanubari Pak Triyana. Inilah titik awal yang mendorongnya melamar menjadi bagian pasukan kerajaan ini. Pada masa itu, tahun 1990-an, prosesnya sangat sederhana. Pak Triyana langsung diterima dan ditempatkan sebagai jajar –pangkat prajurit terendah— di kesatuan Bregada Bugis. Masa magang diisi dengan latihan berbaris, membawa senjata, dan sebagainya. 

Figur SELANJUTNYA

KRT Puspodiningrat, Melestarikan “Tosan Aji” sebagai Warisan Budaya Takbenda

KRT Puspodiningrat (Dr. RM Kunyun Marsindra) tak pernah membayangkan akan menggeluti tosan aji –senjata tradisional Jawa dari logam—. Meski ayah dan kakeknya mengoleksi benda-benda pusaka tersebut. Demikian pula, tak pernah tebersit dalam benaknya untuk mengikuti jejak mereka masuk ke keraton menjadi Abdi Dalem. Namun, itulah yang terjadi. Sudah sekitar dua dekade Kanjeng Puspo mengabdi di keraton dan merawat pusaka yang sudah diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO ini. 

Figur SELANJUTNYA

Nyi Mas Jajar Teluhwatu Samiyem, Pengabdian dalam Lembaran Batik

Lahir di Kapanewon Pandak, Bantul, Bu Samiyem akrab dengan canting dan lilin malam sepanjang hidupnya. Perjalanan waktu membawanya menjadi salah satu perajin wastra bagi keluarga dan kerabat Keraton Yogyakarta. 

Membatik di keraton sejak 1999 dan di bawah koordinasi (alm) GBRAy Murdokusumo, Bu Samiyem akhirnya ditarik menjadi Abdi Dalem Kanca Batikan pada 2016. Bu Samiyem kemudian mendapat nama Paring Dalem Nyi Mas Jajar Teluhwatu Samiyem.

Figur SELANJUTNYA

Nyi Mas Penewu Hamong Hadiharsono, Memayungi Tradisi

Nyi Mas Penewu Hamong Hadiharsono merupakan salah satu Abdi Dalem sepuh yang setia mengabdi di keraton hingga kini, di usianya yang menjelang senja. Perempuan bernama asli Partilah ini bergabung dengan keraton sejak 1994 atas ajakan seorang kenalan Abdi Dalem. Walau belum pernah menjejakkan kaki di keraton, hal ini tidak sepenuhnya asing bagi Partilah kecil. Mendiang kakeknya pernah menjadi Abdi Dalem empu keris. Tak heran, kisah tentang keraton kerap didengarnya.  

“Bila sudah sore (bapak) bercerita (tentang kakek). Kok ndilalah, saya ternyata bisa masuk keraton,” ujarnya bangga.  

 

Figur SELANJUTNYA

Nyi Raden Bekel Hamong Hadisukoco, Abdi Dalem Keparak yang Mengabdi Sepenuh Hati

Kemauan akan menemukan jalan. Adagium ini dialami secara nyata oleh Nyi Raden Bekel Hamong Hadisukoco, Abdi Dalem Keparak di Keraton Yogyakarta. 

Perempuan bernama asli Maria Sukoco ini mengikuti intuisinya saat melihat seorang Abdi Dalem sepuh berbusana pranakan melintas di depan rumahnya. Bu Maria meminta kakek tersebut untuk mampir ke rumahnya dan melihat silsilah keluarga yang dia miliki. “Saya katakan, saya belum bisa membaca Bahasa (aksara) Jawa. Saya minta dibacakan.” Setelah membacanya, kakek tadi berseru bahwa Bu Maria masih terhitung keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II. “Apa kamu mau jadi Abdi Dalem?” Sang kakek bertanya sekaligus menawari. 

Figur SELANJUTNYA

Nyi Mas Lurah Hamong Hadidiharjo, Dedikasi Tinggi Pelaksana Domestik di Keraton Yogyakarta

Di Keraton Yogyakarta, Abdi Dalem Keparak berperan penting dalam berjalannya aktivitas istana sehari-hari. Didominasi oleh perempuan, Abdi Dalem Keparak pada dasarnya bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas-tugas domestik, seperti membersihkan ruangan tertentu dan menyajikan hidangan untuk Sultan serta keluarga. Tugas lainnya, membuka menutup pintu gedhong, meronce bunga untuk sesaji, mengganti bunga penghias pusaka, membawa kelengkapan yang harus disertakan saat Sri Sultan miyos, dan menyiapkan sesaji atau ubarampe upacara adat.

Figur SELANJUTNYA

Mas Jajar Kusworogo, Merawat Budaya Lewat Olah Suara

Lebdaswara mungkin belum sepopuler sindhen, padahal keduanya mengacu pada profesi yang sama, yakni pelantun tembang Jawa dan bersinergi dengan irama karawitan. Perbedaannya, lebdaswara digunakan untuk menyebut penembang putra. 

Mas Jajar Kusworogo adalah salah satu pelaku profesi lebdaswara, yang mengawali karier ini tanpa direncanakan. Sering diajak teman-temannya mengisi suara untuk iringan pertunjukan beksan atau tari, Mas Kus –panggilan akrabnya—mulai berlatih vokal dan mempelajari lagon-lagon beksan. Dengan latar belakang pendidikan pedalangan, lagu-lagu Jawa tak asing baginya. Mas Kus dengan cepat menyesuaikan diri.

Figur SELANJUTNYA

Raden Penewu Ngeksibrongto, Penjaga Kelestarian Irama Karawitan

Jalan takdir. Raden Penewu Ngeksibrongto percaya jalan takdir telah menuntun ke bidang yang ditekuninya hingga kini; karawitan. 

RP (Raden Penewu) Ngeksibrongto menyebut-nyebut takdir saat mengenang dirinya tertolak dari SMK Jurusan Otomotif. “Daripada tidak sekolah, saya didaftarkan oleh kakak ke SMKI.” Awalnya berada di posisi cadangan, Agung Harwanto –nama asli RP Ngeksibrongto— akhirnya diterima di sekolah menengah seni itu. Di sanalah Agung mengasah keterampilan bermain alat musik tradisional yang sudah diakrabinya sejak belia. Memang, sewaktu SMP, Agung sudah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler gamelan. “Tetapi saya sudah senang (pada gamelan) dari dahulu karena simbah saya Abdi Dalem, pengendang, dan pemain suling juga. Kakak saya almarhum juga pengendang RRI, bagus sekali.” RP Ngeksibrongto begitu mengagumi sang kakak, Suhirjan, yang telah menginspirasinya mencintai instrumen perkusi ini. 

Figur SELANJUTNYA

Mas Bekel Widyoyitnomardowo dan Nada-Nada Kebersamaan dari Keraton Yogyakarta

Eksistensi Musikan, korps musik barat Keraton Yogyakarta, tercatat pertama kali pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Meski tak diketahui pasti kapan terbentuk, keberadaannya diduga merupakan respons perkembangan musik barat di keraton pada masa itu. Dokumentasi menunjukkan orkes ini tampil untuk keperluan seremonial dan hiburan dalam acara-acara yang melibatkan pemerintah kolonial, misalnya penyambutan tamu-tamu berkebangsaan Belanda.

Figur SELANJUTNYA

Nyi Mas Bekel Penilaras, Dendang Keselarasan

“Saya hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat.” Itulah angan-angan Siswati sejak kecil. Bahwa Siswati kemudian menebar manfaat lewat profesi sindhen tak pernah terlintas dalam benaknya. Padahal, sejak kecil sudah akrab dengan tembang-tembang Jawa karena Siswati cucu seorang dalang yang tenar di desanya. Ayahnya pun sering membuat wayang dan beberapa kali pentas sebagai dalang.

Figur SELANJUTNYA

KRT Kusumonegoro, Pelestari Benda Pusaka dan Cagar Budaya

Sebagai cagar budaya, bangunan keraton dan artefak di dalamnya mutlak dipelihara sebagai upaya merawat sejarah bangsa. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumonegoro menjadi salah satu Abdi Dalem yang setia menjalankan tugas penting tersebut. Bergabung dengan keraton sejak dua puluh tahun lalu, saat ini beliau menjabat sebagai Penghageng II Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Wahana Sarta Kriya yang bertanggung jawab atas pemeliharaan infrastruktur keraton, seperti bangunan dan kendaraan, termasuk kereta pusaka.

Figur SELANJUTNYA

GKR Hemas, Kekuatan Perempuan untuk Kebaikan

Sejak awal berdiri, Kasultanan Yogyakarta menempatkan perempuan sebagai mitra setara dalam pemerintahan maupun pengembangan kebudayaan. Sejarah mencatat beberapa permaisuri yang berperan besar mengatur negara dan berkarya untuk masyarakat luas. Ratu Kencana Wulan, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono II, contohnya, mahir dalam mengelola keuangan negara. Sementara, Ratu Emas, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono III, merupakan cendekiawan yang memprakarsai penyusunan naskah-naskah keraton. Ratu Ageng, permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VI, memperkaya khasanah sastra dengan menyusun delapan naskah keraton. 

Figur SELANJUTNYA

KPH Yudahadiningrat,'Prajurit' yang Tak Berhenti Mengabdi

Brigjen (Purn) RM Nuryanto, SH dapat dibilang telah mencapai segalanya. Sebagai prajurit TNI AD, beliau sudah meraih pangkat tertinggi di korpsnya. Di Keraton Yogyakarta, beliau telah menyandang gelar KPH (Kanjeng Pangeran Haryo), pangkat tertinggi untuk Abdi Dalem. Keempat anaknya pun telah mapan dengan karier cemerlang masing-masing. Namun, beliau tak berniat berleha-leha, justru makin bersemangat mengabdi di keraton untuk memberi manfaat pada masyarakat. Kaya pengalaman tak membuat mantan Staf Ahli Kepala Staf AD ini tinggi hati. Kanjeng Yuda merasa harus terus belajar dan menjadikan keraton sebagai sumber pengetahuan tanpa batas. 

Figur SELANJUTNYA

KPH Suryahadiningrat, Sang Penjaga Keamanan Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa dan salah satu bangunan paling bersejarah di Indonesia membutuhkan pengamanan serius. Tidak hanya terkait fisik, namun juga seluruh aktivitas sosial di dalamnya. KPH Suryahadiningrat, Penghageng II Kawedanan Hageng Punakawan Puraraksa, adalah pimpinan yang bertanggung jawab atas keamanan keraton berikut setiap acara di lingkupnya.

Figur SELANJUTNYA

KPH Notonegoro, Pengusung Kebudayaan Keraton ke Panggung Dunia

Muda, cerdas, berintegritas, dan berwawasan internasional. Sosok Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro seolah mewakili citra generasi Keraton Yogyakarta saat ini. Jabatan Penghageng KHP Kridhomardowo sungguh pas disandang oleh suami Gusti Kanjeng Ratu Hayu ini. Selain memiliki kecintaan besar terhadap budaya tradisional, beliau juga menguasai manajemen modern yang mampu mengangkat divisi kebudayaan keraton tersebut ke tataran internasional. 

Figur SELANJUTNYA

GKR Mangkubumi, Penjaga Inti Kebudayaan Keraton Yogyakarta

Menjadi anak sulung, terlebih dari keluarga raja, tentu dilekati tantangan luar biasa. “Banyak beban dan tugas yang dipikul,” tutur Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, putri pertama Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan permaisuri GKR Hemas. Di sisi lain, beliau menyatakan bahwa tanggung jawab sebesar apa pun bisa dijalani dengan baik asal didasari ketulusan. 

Figur SELANJUTNYA

GKR Condrokirono, Putri Tangguh Pengelola Sekretariat Keraton Yogyakarta

Dilahirkan dalam keluarga berstatus tinggi berarti memikul tanggung jawab yang tinggi juga. Demikian pula yang dialami kelima Putra Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Masing-masing memiliki peran dan tugas sosial yang tidak enteng, di dalam maupun di luar keraton. 

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Condrokirono, sang putri kedua, tak terkecuali. Beliau menjabat sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, semacam sekretariat negara Keraton Yogyakarta. 

Figur SELANJUTNYA

GKR Maduretno, Putri Tengah Yang Dekat Dengan Sang Ayah

Bernama kecil Gusti Raden Ajeng Nurkamnari Dewi, putri ketiga Sultan Hamengku Buwono X ini mendapat gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Maduretno setelah menikah dengan Kanjeng Pangeran Haryo Purbodiningrat. Saat ini beliau menjabat Penghageng ll Kawedanan Hageng Punakawan Parasraya Budaya dan Penghageng Tepas Danartapura

Figur SELANJUTNYA

Gusti Kanjeng Ratu Hayu, Menjaga Tradisi dengan Teknologi

Putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan GKR Hemas ini sejak kecil akrab dengan teknologi. Sosok yang tegas dan sederhana ini kerap dijuluki sebagai putri keraton era milenial. Tugasnya sebagai Penghageng di Tepas Tandha Yekti, Keraton Yogyakarta mempunyai misi untuk menjaga kekayaan tradisi melalui pemanfaatan teknologi. Sesaat sebelum menikah dengan Angger Pribadi Wibowo (kelak Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro) pada tahun 2013, nama Gusti Kanjeng Ratu Hayu (GKR Hayu) resmi disematkan kepadanya.

Figur SELANJUTNYA

GKR Bendara, Sosok Pembaharu Wisata Budaya Keraton Yogyakarta

Berpendidikan tinggi, lincah berorganisasi, gigih berbisnis, cermat mengelola kegiatan keraton, dan sepenuh kasih mengurus keluarga. Demikianlah karakter putri keraton pada era milenial ini. Kelima putri Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki banyak sekali urusan di dalam dan di luar tembok keraton. GKR Bendara, sang putri bungsu tak terkecuali.

Figur SELANJUTNYA

KRT Jayaningrat, Garda Terdepan Syiar Agama dan Budaya

Sebagai kerajaan Islam, Keraton Yogyakarta memiliki banyak masjid yang tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk memelihara pusaka-pusaka tersebut, dibutuhkan tim dan manajemen khusus. 

KRT Jayaningrat, Penghageng Kawedanan Ageng Pengulon, merupakan pucuk pimpinan yang menangani urusan masjid, makam, dan petilasan milik keraton. Tercatat lebih dari 100 masjid dan 150 makam berstatus sebagai Kagungan Dalem yang masih lestari hingga kini. 

Figur SELANJUTNYA

Mas Riyo Dwijo Suwarno, Panji Prajurit yang Menjunjung Budaya

Mengabdi sejak 1989, Mas Riyo Dwijo Suwarno merupakan salah satu Abdi Dalem tertua yang masih aktif, bahkan bersemangat mengemban tugasnya. Pria bernama asli Dalidjo ini menjabat panji satu (pemimpin pasukan tertinggi) bergada prajurit Nyutra

Di era sebelumnya, Bergada Nyutra merupakan pengawal pribadi Sultan. Pasukan ini sempat nonaktif, kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1970an. Sebagai pengawal, sosok Mas Riyo Dwijo Suwarno banyak ikut tertangkap kamera media pada saat penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana X 1989. 

Figur SELANJUTNYA

Nyi Raden Wedana Probo Sekardhatu, Abdi Dalem Tepas Pariwisata yang Mencintai Budaya Jawa

Sebagai lembaga budaya Jawa, keraton Yogyakarta tak putus menjalankan adat dan tradisi. Seiring perkembangan zaman, modernitas tak ditolak; justru dirangkul. Nyi Raden Wedana Probo Sekardhatu merupakan salah satu Abdi Dalem muda yang menyadari perkembangan teknologi harus diikuti dan dimanfaatkan untuk pengembangan budaya.  Bekerja di tepas Pariwisata, ia menangani banyak urusan yang kurang bisa ditangani oleh Abdi Dalem sepuh, terutama terkait administrasi berbasis komputer dan internet. 

Figur SELANJUTNYA

Oki Priajitama, Yang Muda Yang Melanggengkan Budaya

Seragam indah menawan mata, musik eksotis, cara berbaris unik, senjata tradisional, serta panji-panji megah. Ada banyak alasan bregada prajurit keraton begitu memikat dan dipuja banyak orang. Pawai prajurit keraton dalam tiap upacara Garebeg sangat dinanti dan menjadi salah satu jiwa perhelatan itu sendiri.

Figur SELANJUTNYA

Mas Penewu Susilomadya, Pembaharu Karawitan Keraton Yogyakarta

Sumanto, demikian nama asli Mas Penewu Susilomadya, tidak terlahir di keluarga seniman atau Abdi Dalem. Bersekolah di STM Pembangunan jurusan konstruksi, ia tak punya bayangan bakal menjadi pengrawit. Namun justru di situlah ia pertama kali jatuh cinta pada gamelan. Di sekolahnya, ia mengikuti ekstrakurikuler karawitan dan semenjak itu jalan hidupnya berbelok. Selulus STM, alih-alih bekerja di industri seperti bayangan orangtuanya, ia justru memilih kuliah di ISI jurusan karawitan. Orangtuanya sempat menentang, namun ia tak berhenti.

Figur SELANJUTNYA

Mas Jajar Cermogupito, Dalang Muda Pewaris Nilai Budaya

Sebagai pusat kebudayaan Jawa Mataram, keraton Yogyakarta menyimpan banyak benda budaya bernilai tinggi. Salah satunya, wayang kulit yang ribuan jumlahnya. Menyadari pentingnya penyelamatan pusaka ini, keraton Yogyakarta memulai proyek besar pendokumentasian wayang kulit dengan membentuk tim dokumentasi yang dimotori oleh para dalang.

Figur SELANJUTNYA

Mas Bekel Surakso Hargolawu, Pelestari Tradisi di Gunung Lawu

Gunung Lawu di Karanganyar merupakan salah satu petilasan yang punya pertalian historis dengan Keraton Yogyakarta. Gunung ini dipercaya sebagai tujuan terakhir Raja Majapahit, Brawijaya V, ketika menyingkir dari serbuan musuh. Raja tersebut dianggap salah satu leluhur pendiri keraton Yogyakarta. Untuk itulah setahun sekali, menurut kalender Jawa, diadakan Labuhan di sebuah petilasan yang teletak di gunung ini. Upacara tersebut dilaksanakan dalam rangka peringatan Jumenengan Dalem atau penobatan sultan.

Figur SELANJUTNYA

KRT Purwowinoto, Tangan Dingin bagi Rumah Tangga Keraton Yogyakarta

Pengorganisasian yang rapi sangatlah vital agar seluruh kegiatan mereka berjalan lancar. Salah satu yang berperan penting di balik kelancaran kegiatan Sultan dan keluarganya adalah tangan dingin KRT. Purwowinoto. Beliau merupakan Penghageng II Tepas Purwoajilaksana, bagian dari keraton yang menangani kesekretariatan, protokoler, dan rumah tangga. Dapat dibilang, beliau adalah kepala urusan rumah tangga keluarga Sultan.

KRT Purwowinoto lahir tahun 1958 dengan nama Ronni Mohamad Guritno. Pak Ronni, demikian beliau biasa disapa, lulus dari Fakultas Hukum UGM dan melanjutkan jenjang S2 di Magister Manajemen perguruan tinggi yang sama.

Figur SELANJUTNYA

KRT Condrowasesa, Mengajar Tari dan Menghidupkan Budaya

Memadukan budaya, manajemen modern, dan dunia akademis bukan perkara mudah. Beruntung Keraton Yogyakarta memiliki KRT Condrowasesa, Abdi Dalem KHP Kridamardawa yang bisa memadukan ketiganya.

Meski ayahnya berstatus sebagai penari keraton, Kuswarsyanto, demikian nama aslinya, awalnya tidak bercita-cita menjadi penari. “Sebenarnya saya ingin jadi sarjana hukum,” tuturnya. Kuliah di APMD (Akademi Pemerintahan Masyarakat Desa), ia mendapat tawaran bekerja di Kalimantan Tengah, namun sang ibu menangis tidak rela ia pergi.

Figur SELANJUTNYA

Mas Bekel Ngabdul Wahab, Pemelihara Nilai-Nilai Islam Keraton Yogyakarta

Jiwa sosial yang tinggi membuat Noor Edy Hidayatullah tak pernah jauh-jauh dari dunia kemanusiaan dan kerelawanan. Inilah yang membuatnya memilih menjadi sukarelawan dan kemudian pegawai Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta. Tetapi mengapa ia juga terpanggil menjadi Abdi Dalem Kanca Kaji?

Kanca Kaji merupakan bagian yang menangani bidang keagamaan di Keraton Yogyakarta. Mereka terlibat dalam hampir semua upacara dan bertugas membacakan doa, baik yang berupa dawuh khusus dari Sultan atau yang merupakan bagian acara keraton secara umum. Selain itu mereka mengurus masjid-masjid keraton dan melaksanakan amalan-amalan kewajiban keraton.

Figur SELANJUTNYA

Hardo Wijoyopadmo Matoyo, Antep dalam Tekad dan Kosong dalam Pamrih

Raden Jajar Hardo Wijoyopadmo Matoyo belum lama menjadi Abdi Dalem di Kawedanan Hageng Punokawan Kridamardhawa, namun pengabdiannya pada keraton dan seni klasik gaya Yogyakarta telah ia lakoni jauh sebelumnya. Hardo merupakan penari tradisi Yogyakarta yang telah menyemarakkan puluhan panggung nusantara maupun mancanegara.

Figur SELANJUTNYA

KRT Pujaningsih, Sang Penjaga Tari Pusaka

Keraton Yogyakarta memiliki pusaka berharga yang tak terhitung banyaknya. Pusaka-pusaka itu tak hanya berupa materi ragawi, namun juga intangible asset, seperti karya seni. Tari klasik yang diciptakan secara khusus oleh raja-raja dan bangsawan Jawa di masa lampau adalah salah satunya. Tari-tari adiluhung tersebut begitu rumit sehingga tak sembarang penari dapat membawakannya, apalagi memahami nilai historis dan filosofisnya. Pelestarian pusaka semacam ini menjadi tugas sejarah bagi keberlangsungan pusaka itu sendiri.

KRT Pujaningsih mencintai tari sejak belia. Kini, di usianya yang sudah berkepala tujuh, ia menjadi salah satu dari beberapa penjaga warisan budaya tersebut. Perempuan yang bernama asli Theresia Suharti ini bertugas sebagai pamucal –pengajar- tari di keraton. Namun, pengabdiannya pada tari sudah dimulai jauh sebelum itu.

Figur SELANJUTNYA

Nyi Mas Bekel Larasati, Sinden Muda yang Terus Belajar dan Berbagi

Menjadi Abdi Dalem adalah panggilan jiwa. Mungkin itulah yang dialami oleh Sri Wahyuningsih, pesinden profesional yang memilih untuk bergabung dengan keraton dan membaktikan diri meski ia sudah cukup sibuk dengan berbagai macam kegiatan.

Sri Wahyuningsih, atau biasa dipanggil Mbak Wahyu, diwisuda menjadi Abdi Dalem pada tahun 2016 dengan pangkat jajar, pangkat paling awal, setelah sebelumnya magang selama kurang lebih setengah tahun. Ia menjadi salah satu Abdi Dalem di Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Kridha Mardawa dan bertugas sebagai pesinden. Nyi Mas Larasati adalah nama Paring Dalem untuknya. Saat ini ia telah berpangkat bekel.

Figur SELANJUTNYA

Pengaruh Eropa dalam Musik Keraton Yogyakarta

Persinggungan dengan budaya Eropa selama berabad-abad telah memberi pengaruh pada Keraton Yogyakarta. Tidak terkecuali pada bidang musik. Pengaruh ini tampak jelas pada musik prajurit, musik pengiring tarian, dan musik protokoler. Tangga nada pentatonik gamelan yang berlaras slendro dan pelog, bertemu dengan tangga nada diatonik yang berasal dari Eropa.

Figur SELANJUTNYA

KRT Pakukusuma, Penjaga Pustaka Keraton Yogyakarta

Banjar Wilapa, perpustakaan Keraton Yogyakarta, memiliki nilai penting dan strategis sebagai ‘penjaga’ khazanah sejarah dan kebudayaan Jawa. Berisikan koleksi buku-buku lama maupun baru, baik dalam bahasa Jawa, Indonesia, dan bahasa asing, perpustakaan ini harus dipelihara oleh orang yang benar-benar peduli pada budaya literasi. Kanjeng Raden Tumenggung Pakukusuma, atau lebih akrab disapa Kanjeng Paku, merupakan salah satu Abdi Dalem yang setia menjaga harta tak ternilai itu.

Figur SELANJUTNYA

Mas Ngabehi Surakso Budoyo, Penjaga Situs Dlepih

Labuhan merupakan upacara adat yang secara rutin dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Upacara ini dilakukan di tempat-tempat tertentu yang dikenal sebagai Patilasan. Tempat-tempat yang memiliki arti khusus bagi keraton hingga perlu dirawat.

Tempat-tempat tersebut adalah Pantai Parangkusuma, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih. Labuhan dilaksanakan setiap tahun untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem, peringatan kenaikan takhta Sultan berdasar kalender Jawa. Khusus di Dlepih, tepatnya di Kahyangan, Labuhan hanya diselenggarakan saat Labuhan Ageng (besar) yang jatuh tiap sewindu atau delapan tahun sekali yang bertepatan pada tahun Dal.

Figur SELANJUTNYA

KPH Pujaningrat, Duta Yogyakarta di Pentas Dunia

KPH Pujaningrat tak bisa dilepaskan dari kesenian, khususnya tari. Sejak usia belia ia menggeluti kesenian, dan kini di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun perhatiannya terhadap bidang ini tak surut.

“Waktu SMP saya sudah menjadi ketua bagian kesenian,” tutur Penghageng II Kawedanan Hageng Sri Wandawa ini. “Di SMA juga begitu. Bahkan di UGM saya termasuk yang mendirikan unit kegiatan tari, Swagayugama.”

Kepiawaiannya dalam menari gagrak Yogyakarta telah membawanya melanglang Nusantara bahkan dunia. Ia pun terlibat dalam momen-momen penting, seperti penyerahan kedaulatan Irian Barat dari Belanda ke Indonesia.

Figur SELANJUTNYA

Nyi ML Hamong Harjomulyo Sarjoyo, Cermin Perempuan Indonesia di Keraton Yogyakarta

Sama seperti pekerja di bidang lain, Abdi Dalem keraton seringkali harus mengkompromikan tugas mencari nafkah dan mengurus keluarga. Tak heran beberapa Abdi Dalem kerap membawa anak atau cucu mereka saat bertugas. Keraton yang menghargai nilai-nilai keluarga dan memperhatikan kesejahteraan Abdi Dalem-nya tidak mempermasalahkan hal ini selama tak ada tata krama yang dilanggar.

Nyi Mas Lurah Hamong Harjomulyo Sarjoyo atau biasa dipanggil Bu Tutik, karena nama aslinya adalah Semi Astuti, adalah salah satu Abdi Dalem yang sering membawa anaknya bertugas di keraton. Mela, putri kecilnya, menjadi sumber kelucuan dan keceriaan di lingkungan kerja ibunya. Gadis cilik berusia delapan tahun ini tak pernah rewel bila mengikuti sang bunda bekerja. Malah sebaliknya, bila libur sekolah tiba, ia tak sabar meminta ibunya agar diajak ke keraton. Rupanya bocah ini sangat menikmati suasana keraton yang tenang dan menyenangkan.

Figur SELANJUTNYA

Nyi KRT Hamong Tedjonegoro, Tekun Menjaga Tradisi

Keraton Yogyakarta sebagai pusat tradisi, administrasi, sekaligus kediaman Sultan memerlukan pengelolaan rumah tangga yang tidak sederhana. Setiap kegiatan, baik kegiatan sehari-hari maupun upacara yang bersifat ritual memiliki aturan yang tak boleh diabaikan. Setiap hal mulai dari sesajen hingga penyajian makanan dan minuman sehari-hari harus dilakukan dengan tata cara yang tepat.
 
 
Nyi Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hamong Tedjonegoro, atau lebih akrab disapa Bu Kanjeng, adalah salah satu figur penting di balik kelangsungan tradisi tersebut. Ia adalah Pengageng Kalih Keparak Para Gusti, semacam kepala bagian rumah tangga tertinggi di keraton yang berada di bawah Kawedanan Keputren (urusan keputrian) yang dikepalai langsung oleh Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, putri tertua Sultan.
 
Figur SELANJUTNYA

KRT Widyawinata, Penjaga Kekayaan Pengetahuan Keraton

Kapustakan atau perpustakan merupakan salah satu kelengkapan utama keraton dalam menjaga kekayaan pengetahuan dan budaya. KRT Widyawinata merupakan salah satu penjaga kelestarian itu. Ditugaskan sebagai Abdi Dalem Kapustakaan Kridamardhawa, ia menerimanya sebagai suratan takdir yang telah digariskan. Selain memiliki ayah dan kakek Abdi Dalem, beberapa pertanda yang ia alami meneguhkan keyakinan tersebut.
 
 
Lahir 27 Juli 1952, ia diberi nama Sutarno. Setelah ia periksa dalam kamus bahasa Kawi, ia ketahui namanya berarti “anak yang punya kelebihan.” Ia dipermandikan dengan nama Antonius. Nama tersebut ia pandang sebagai pertanda karena Antonius digambarkan sebagai santo yang memegang buku dan memancarkan sinar.
Figur SELANJUTNYA

RM Pramutomo

Mengabdi pada keraton merupakan panggilan hati. Tak heran, para pengabdi ini datang dari berbagai latar belakang kondisi dan profesi. Salah satu yang terpanggil untuk mengabdikan diri adalah RM Pramutomo. Pria kelahiran tahun 1968 ini adalah penari, dosen dengan gelar doktor, dan penulis buku dengan berbagai jabatan di sana sini.

Pramutomo telah menjadi bagian keraton sejak usia 17 tahun. Saat itu ia tergerak melihat lima sepupunya telah bergabung dengan pasukan keprajuritan keraton. Ia mengaku bergabung dengan keprajuritan keraton karena ingin bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Baginya itu semua adalah sumber ilmu, dan ilmu-ilmu itu hanya bisa didapatkan bila dijalani.

Figur SELANJUTNYA